Sabtu, 15 Desember 2012

Hujan

Ia memicingkan matanya menghadap langit, mengamati peredaran awan gelap yang kini telah menutupi cahaya matahari. Ia semakin yakin jika hujan akan turun nantinya.
Ia melanjutkan langkah kakinya menuju ke sebuah rumah kecil di dekatnya, rumah dengan teras dan halaman yang luas, juga tanaman-tanaman dalam pot kecil yang membuat rumah tersebut terlihat.

Ia memutuskan untuk masuk ke halaman rumah, berdiri dekat kursi bambu dan menunggu hujan turun.
Balutan sweater dekil berwarna putih yang menutupi baju hitam, dengan celana jeans hitam panjang yang dilengkapi dengan sepatu cats berwarna putih. Topi hitam dan ransel sedang yang digendongnya senada dengan warna pakaian yang dikenakannya, membuat ia menjadi salah satu perhatian para pejalan kaki ya melintas.

"Apa yang salah denganku?" gumamnya kecil sembari menunduk, memperhatikan pakaiannya sendiri karena sedikit merasa malu menjadi salah satu objek yang dilihat pejalan kaki.

"Hi" sapa seseorang dari arah pintu, yang menggenggam cangkir kecil berisi teh hangat.
Ia menoleh, langsung membungkukan diri tanpa melihat siapa yang ada dihadapannya.

"Maaf, maaf, saya hanya pejalan kaki yang ingin berteduh" ucapnya sambil membungkuk.
Orang itu tertawa kecil, melenggang ke kursi dan duduk sembari menaruh cangkir putih di meja.

"It is fine, you don't disturb me" ujar orang itu sambil memandanginya.

"Take a sit boy" ia tegap, lalu duduk dengan malu-malu.

"You hate rain do you?" tanya orang itu, ia mengangguk kecil. Ia masih belum berani, mengangkat kepalanya, ia masih menunduk menyembunyikan wajahnya.

"Ah, its funny, I think just someone in this world who don't like a rain" lanjut orang itu.

"You remind me about someone, my litlle brother. He's don't like a rain, even the rain not pouring yet" orang itu terkekeh, lalu meminum teh hangat dan orang itu kembali memandanginya dengan seksama.

"Oh hey, how about tea? Do you want some?"

"Ah, ga usah, ga usah, ngerepotin mister aja" ia menolak tawaran orang itu.

"Don't call me mister, saya orang indonesia, hanya saja, saya orang yang suka berbicara menggunakan bahasa inggris" ia mengangguk.

"Well, are you blackjack huh?" ia mengangguk lagi.

"Hm, lucu sekali. Setelah kau mengingatkan ku tentang seseorang, ternyata topimu pun mengingatkan ku pada orang itu..." ia mengangkat kepalanya, sedikit mengintip untuk melihat siapa yang ada disampingnya.

"Well, selagi menunggu hujan turun, saya ingin bercerita padamu, kau tak keberatan kan?" orang itu kembali meminum tehnya dan mulai bercerita.

-***-

Yoga, nama panggilanku disekolah. Kini, aku menduduki kelas akhir disekolah, yang artinya aku harus bisa lebih konsentrasi karena masa depan yang pasti ditentukan setelah lulus sekolah nanti.
Semester pertama di kelas akhir ini, aku disibukan oleh kegiatan theater yang akan diadakan pertengahan tahun oleh sekolah. Bertepatan dengan ulang tahun sekolah yang ke-50 tahun, umur yang berkilau seperti emas.

Sekolahku memang bukanlah sekolah favorit, namun prestasi akademik maupun non-akademik yang dibuat sekolah ini mendapat acungan jempol dari para petinggi dikotaku.
Kelasku mendapat bagian theater, sedangkan kelas lain ada yang mendapat bagian untuk 'kur', penari latar, figuran yang menggunakan properti, bahkan ada kelas yang sama sekali tak mendapat bagian.
Kelasku dibantu oleh beberapa junior-satu tahun dibawahku, junior-junior yang memang mengikuti ekstrakulikuler kesenian. Para junior itu pula membantu sekolah menoreh prestasi dibidang non-akademik. Lebih dari lima kali-pada tahun ini mereka memenangkan lomba menari dan theater tingkat kota, mereka selalu menduduki juara satu disetiap perlombaannya. Maka dari itu, para wali kelas mengandalkan mereka untuk menjadi mentor para senior.

Angga, salah satu junior yang kukenal. Ia membantuku dalam hal 'mendalami peran'. Ia termasuk junior yang 'hyperaktif', tak sering para senior tertawa melihat tingkahnya yang 'nyeleneh' dan konyol.
Angga pula lebih sering terlihat dilayar kaca, walaupun hanya sebagai pemeran pembantu di beberapa serial ftv dan iklan-iklan lokal. Namun, aku mengacungkan dua jempolku untuknya. Bukan hanya wajahnya yang manis, namun karena prestasi yang diraihnya.

"Ka, berhenti ngomong pake bahasa inggris napa" ucapnya padaku yang menikmati mie instan buatannya. Waktu itu, aku dan dia sedang beristirahat setelah melakukan latihan theater.

Aku tersenyum mendengar kalimatnya, ia selalu berkata dengan mimik wajah yang membuat orang tertawa.

"Why? Its already been setted in my life" jawabku.

"Ya, tapi kan kaka itu orang indonesia, seengganya EYD harus dipake dong"

"Okay, if this for you I will do it"

"Ngomong okenya jangan dilanjutin sama bahasa inggris, baboya..." aku kembali dibuatnya tertawa.

"Kamu, ngomong ke orang lain jangan pake bahasa inggris sendirinya pake bahasa korea"

"Ah, geunddae, its already been settled" kami berdua tertawa.

-***-

Orang itu bangkit dari kursi bambu, menurunkan tirai kayu yang ada dihadapannya.

"Rain will down, wanna take a sit inside house or stay here?" Orang itu bertanya padanya yang telah mengangkat kepalanya, walau wajahnya masih tertutup oleh topi yang dikenakannya.

"Diluar aja, pak" jawabnya, ia melepas ransel dan menaruhnya di pangkuannya.

"Okay, let's continue" Orang itu meminum teh lalu kembali bercerita.

-***-

Angga selalu mengeluh padaku ketika aku harus berakting 'sedang jatuh cinta', ia selalu mengomeliku karena ekspresi dan nada bicaraku yang tak karuan menurutnya.

"Ka, gimana sih? Masa kaya beginian aja ga bisa!"

"Its hard you know!"

"Ga ada yang susah! Ah! Kaka pernah jatuh cinta ga sih?" bentaknya sembari melakukan mimik yang membuatku tertawa.

"Elah, malah ketawa, weh! Ini seriusan! Satu bulan lagi kalian tampil weh!"

"Just don't angry to me like that, you look like a make a joke than angry to me" aku tertawa, ia menarik nafas lalu mengambil naskah drama dari genggamanku.

"Nih, gue contohin ya ka, disini kan tulisannya...." Ia menghentikan kalimatnya, bola matanya bergerak cepat kearah kanan dan kiri menyapu kalimat-kalimat didalam naskah.

"Nah, nih tulisannya sejak aku pertama kenal kamu aku langsung suka sama kamu. Itu artinya, kaka itu suka sama lawan main kaka! Jadi kaka itu harus mainin nada bicara kaka! Weh!" lanjutnya.

"Okay, teach me"

"Aku jadi lawan kaka, kaka harus bisa bikin lawan kaka itu 'skakmat' abis dengerin omongan kaka" ujarnya menceramahi ku.

"Ya, so when we start?"

"Sekarang, kaka tarik nafas dulu, terus lanjutin dialog kaka, jangan terpaku sama naskah! Kalo kaka udah ngedalemin perasaan kaka, semuanya bakal ngalir" aku terdiam memandangnya, aku menarik nafas panjang dan mendekati Angga.

"Angga... Boleh kita ngobrol sebentar"

"Bagus, lanjutin ka, feelnya mulai dapet" ucapnya mengamatiku.

"Pertama kenal sama kamu, aku..." ia mengangguk, mata sendunya menatap mataku. Jantungku berdegup kencang, aku benar benar gugup.

"Aku... Aku suka sama kamu" tiba-tiba mata sendunya menutup dan ia pergi menjauhiku.

"Kaka ga akan pernah bisa ngelanjutin dialog ini dengan sempurna" ujarnya sembari mengeluarkan botol minum dari tasnya.

"Eh? Why? This is just a theater, just drama! Don't do it with a perfect skill"

"Ya, tapi kalau sebuah drama kakanya ga becus, maksudnya ga dalemin peran, semuanya bakal hambar!" nada bicara Angga sedikit naik.

"Lagipula, apa salahnya drama yang kalo dilakuin secara sempurna? Babo! Gue balik dulu ka, usaha buat latihannya, oya mulai besok kayanya gue ga bisa nemenin kaka latihan, maaf" ia meninggalkan ku siang itu di aula.

-***-

"Saya berpikir, waktu itu dia marah besar sehingga dia berbicara demikian" orang itu menjelaskan, ia bersandar di punggung kursi, sembari menikmati cerita panjang orang itu.

"Angga memang bukan orang yang spesial, tapi dihati saya dia sangat spesial. Wajahnya yang sunda asli, matanya yang besar dan senyumnya yang menawan, membuat dia terlihat sangat manis, tak salah dia selalu menjadi pilihan para sutradara untuk membintangi iklan iklan lokal" ia tertarik akan cerita lanjutan orang itu.

Suara petir kencang mengagetkan mereka, dan hujan mulai turun.

-***-

Pagelaran pentas sekolah usai dilaksanakan, para siswa tahun akhir diberi hari bebas selama satu minggu. Dan satu minggu pula aku tak bertemu Angga.
Aku sangat menyayangkan semua ini, mungkin Angga masih marah dengan tingkahku kemarin. Mungkin ia tersinggung akan kalimatku waktu itu, mungkin ia membenciku karena menyinggung tentang 'kesempurnaan' dalam melakukan 'drama'. Bodohnya aku.

Aku mencoba bertanya pada seluruh teman-temannya, aku menanyakan tempat tinggal Angga, berapa nomor teleponnya, namun tak ada yang mengetahuinya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya, dan tentunya maaf.
Hingga saat ini, aku belum juga menemukan dimana Angga.

Sampai suatu hari, aku bertemu dengannya di sebuah warung kecil dekat sekolah.
Aku ingat sekali ia menggunakan sweater tebal berwarna hitam, berdiri di bawah atap warung.

"Angga!" aku berteriak dan mendekatinya.

"Belum pulang? Kenapa?" ia tak menjawab pertanyaanku, ia hanya memandang ke langit dan menarik nafas.

"It will be rain, let's go home, let me take you to go home" aku tersenyum padanya, namun ia tak mengeluarkan ekspresinya seperti biasa.

"Angga, are you still mad to me? I'm sorry..." ia masih terdiam, ia mengeluarkan handphonenya dan mengetik sesuatu.

"Angga, I'm sorry, I know last week I'm make you..." handphone Angga berdering, memotong kalimat permintaan maafku.

"Ya, dipindah? Dimana? Bibi urus dulu ya, aku ga bisa kerumah sakit sekarang, mau ujan, ya, nanti kalo udah sedikit terang, aku ke sana"

Suara kencang petir mengagetiku, kulihat Angga menutup kedua telinganya dan sedikit mundur dari tempatnya berdiri.

"You... You hate rain do you?" tanyaku, ia tak menjawab. Aku berdiri didepannya, melepas kedua tangan dari telinganya lalu memandang wajahnya yang kini memandangku.

Aku memeluknya, tangannya ku lingkarkan dipinggangku.

"Don't be afraid, I'm here... Your big bro is here" ucapku.

-***-

Hujan deras disertai angin menggoyangkan tirai kayu yang diturunkan orang itu, ia menaikan topinya sedikit keatas lalu mencuri pandang ke arah orang itu.
Ia mengamati wajah orang itu dari samping, mata kecil yang berujung tajam dengan hidung mancung membuat wajah orang itu menarik. Diamatinya wajah orang itu dengan seksama.
Pandangan orang itu terlempar jauh, sesekali ia tersenyum lalu meminum teh hangat dalam cangkir kecir putih disampingnya. Ia yakin, orang itu sangat sayang pada juniornya yang sedang diceritakannya sekarang.

-***-

Aku mengantarnya kerumah sakit, ibunya telah dirawat dirumah sakit selama 1 bulan. Pantas saja, aku tak bertemu dengan satu minggu satu bulan ini. Angga bercerita jika ibunya masuk rumah sakit karena penyakit yang diderita ibunya, tumor rahim-yang kata dokter kembali tumbuh dalah tubuh ibunya.
Ibunya dirawat, paska aku sedang dilatih Angga mendalami peran. Tak heran jika waktu itu, Angga begitu emosional saat mengajari ku.

Aku menemani Angga tiap malamnya, membantu Angga agar tak merasa kelelahan. Angga sempat menolak aku membantu, namun aku terus memaksa agar dia mengijinkan aku membantunya.
Hampir dua bulan Angga pulang pergi rumah sakit dan rumahnya, namun sampai sekarang ibunya tak kunjung sembuh.

Aku masih ingat, ketika Angga meneleponku ditengah malam dan menangis. Aku menemuinya dirumah sakit, masuk kedalam ruang karantina dimana orang tua Angga dirawat.

"Ka..." Angga memanggilku lemas, dapat kulihat air matanya masih mengalir.

Kupeluk Angga kencang, masih terdengar isakannya di dadaku. Ku edarkan pandanganku diruang karantina, perawat dan dokter berkumpul mengelilingi kasur ibu Angga.

Kulihat seseorang menggelengkan kepalanya, dan berkata sesuatu pada seorang perawat. Aku melepas pelukanku dan mengangkat wajah Angga.

"Jangan takut, I'm here..." Ku peluk lagi tubuhnya.

-***-

"Saya dan Angga melewati banyak hari-hari bersama, ibunya meninggal malam itu. Malam dimana Angga berulang tahun" orang itu menyapu ujung mata dengan telunjuk, ia masih memandangi wajah orang itu yang tak menyadari jika wajah orang itu sedang di amati olehnya.

"Paginya, saya menelepon sekolah dan bercerita tentang Angga, semua guru datang ke pemakaman ibu Angga, saya sendiri berusaha selalu ada disamping Angga"

"Beruntung sekali orang itu" ia tersenyum, memotong kalimat orang yang bercerita dihadapannya.

"Saya yang beruntung, tanpanya pementasan saya waktu itu mungkin saja gagal karena saya yang tak pandai berakting" orang itu menoleh, dengan cepat ia kembali menunduk dan menyembunyikan wajahnya.

"Hey, do you know what is love? Do you?" ia menggeleng.

"Ah, you too don't know... I don't know about what I feel till now, when I was close to him, I'm so comfort, saya merasa Angga adalah orang yang sangat menarik, dia membuat saya tertawa, sedih, dia membuat saya kebingungan akan yang saya rasakan"

"Bapak pernah bilang sama orang itu kalo bapak suka?"

"Tidak, saya tak pernah mengatakannya, saya hanya bingung, apa reaksinya ketika mendengar ucapan saya"

"Lalu?"

"Saya menyimpan rasa itu sampe sekarang, mungkin sampai kapanpun saya akan tetap menyimpan perasaan ini"

"Kenapa?"

"Biarkan Angga menganggap rasa sayang yang saya lakukan padanya hanya sebagai kakak, saya tak ingin membuatnya kecewa" ia mengangguk kecil.

Hujan mulai reda, namun awan mendung masih menggantung dilangit.

"Satu yang saya sayangkan saat itu, saat Angga bercerita tentang hujan, saya tidak mencoba menjelaskan apa yang saya rasakan, saat itu, saat terakhir saya melihat Angga"

-***-

"Makasih ka, kaka udah nemenin aku" Angga tersenyum ke arahku. Aku ikut tersenyum, wajanya tersenyum membuat hatiku lega. Matanya yang sedikit besar nampak segaris ketika tersenyum, entah sengaja atau tidak-menurutku ia sangat menarik ketika tersenyum seperti itu.

"Gue benci ujan ka, ibu sakit saat cuaca ujan seperti ini, udah beberapa kali ujan membuat ibu sakit, walaupun kali ini kematian bukan karena ujan, tapi saat pemakaman ujan turun deras, dan gue semakin membencinya!" Angga menyandarkan kepalanya dibahuku.
Ingin aku mengusap kepalanya dan menenangkan dirinya. Namun, aku tak berani.

"Sekarang ibu udah disurga, kemungkinan besar gue ga disini, gue pulang kerumah bibi yang jaga ibu" aku terkejut, artinya kelulusanku nanti tak akan dihadirinya.

"Eh? Why? How about my graduation party? Are you not take a part?"

"Engga lah, temen-temen gue juga pinter ekting kali ka, tenang aja pesta kelulusan kaka bakal rame ko sama mereka"

Sebenarnya bukan itu jawaban yang aku harapkan, aku menanti jawaban Angga yang berkata 'ya' bukan 'tidak'.

"Ka, setelah lulus nanti, gue mau kalo lu ketemu gue nanti, gue udah jadi seorang guru kesenian, tak perlu secara resmi, maksud gue, gue jadi pengajar yang hanya dibutuhkan saat ada event event tertentu, dan kalo ketemu gue nanti, kaka harus udah jadi orang sukses!" Angga menatap wajahku, mata besar yang sendu menelanjangi ku. Aku senang ditatapnya seperti itu, matanya seperti berbicara 'percaya padaku kaka bisa'.
Aku tersenyum memandangnya.

"Oiya, kalo kaka punya rumah, gue mohon sebagai permintaan terakhir, kaka harus punya halaman teras yang luas, dengan taneman-taneman di dalem pot kecil, terus ada tirai kayu sama bangku bambu. Jadi kalo gue dateng kita ngobrol dibangku itu, kalo ujan kaka turunin tirainya, terus kalo kaka ga ada kaka harus taro kunci cadangan dibawah pot kecil biar gue bisa masuk tanpa sepengetahuan kaka"
Angga tertawa, ia membayangkan hal itu semua dengan wajah yang sangat riang.

-***-

"Dan hari itu terakhir saya melihat Angga, truthly I want tell him I love him, but I don't have a..."

"Pak, ujan selesai saya pam..." saat ia berdiri tak sengaja ia menjatuhkan pot kecil diatas meja, terlihat sebuah kunci dibawahnya.

"Ah maaf"

"Its okay"

"Saya pamit pa" orang itu mengangguk dan ia meninggalkannya.
Setelah jauh dari rumah itu, ia berbalik dan memandangi rumah itu sekali lagi.

"Lu inget semua tentang gue, lu turutin keinginan gue, dan gue sukses jadi pengajar walau bukan resmi pengajar, gue seneng, perasaan gue terjawab, gue juga suka sama lu ka Yoga..." ia tersenyum, dikeluarkan nametag dari dalam sweaternya, tertulis Angga Permana.
Hujan yang dibencinya membuat ia bertemu dengan seseorang yang ia cintai. Sesuatu yang ia benci membawa sebuah kebaikan.

"Terima kasih, kak Yoga..." ia melanjutkan langkahnya sambil tersenyum.

-end-

6 komentar:

  1. well, why when i read this, I feel a lilbit OF YOUR SELF in it? is it kinda from ur own experience? but It's nice!! go'on! write another one!!! ANGGA!! hehee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. not me nun -_-
      we both know, if i dont have a kind of that ;relationship' -_-"

      but anyway, thanks :)

      Hapus
  2. This story about yourself right? Most of the story is taken from a true story, although partly fiction. But I like your story.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks girl :)
      ya, but for 'staying away' from negative thinking, i said... false (?) :D

      lets fighting together :D
      buat dunia ini takluk dengan kita para penulis amatir yang punya banyak motivasi *apaini* teu nyambung weh -_-"

      Hapus
  3. YAKK YOU'VE MADE ME CRY! Personally, I feels this story is sooo touching. Such a good author you're hyung keke~

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank's saeng ^^
      but i'm still wandering, whichs part can make you crying -..-

      Hapus