Senin, 02 September 2013

Unit Kesehatan Sekolah (Request)

-Peringatan! Cerita ini mengandung tema yaoi (gay)-dewasa eksplisit-
-Cerita ini merupakan permintaan @RK091 yang dikirimkan melalui pesan twitter-

-***-

Cast : Lay and Tao of EXO

-***-

Aku merebahkan tubuhku diatas tubuhnya, menumpukan daguku didadanya sembari memandanginya. Lay tersenyum menatapku.

"Apa yang kau inginkan?"

"Dirimu" ia terkekeh, akupun ikut terkekeh.

"Benarkah? Bagaimana jika ku beri ini?" Lay mengambil tanganku lalu mengecupnya, aku tersenyum.

"Kurang"

"Jika ini?" ia menarik tubuhku lalu mengecup keningku, aku kembali tersenyum. Ku pejamkan mata ketika ia mengecupku keningku lembut.

Saat ku buka mataku, ia menyunggingkan senyuman terindah diwajahnya.

"Cukup?" aku menahan tawaku, aku membenarkan posisiku lalu duduk diperutnya.

"Giliranku" ujarku, ku tarik tangannya agar ia terbangun.

Aku mengalungkan tanganku dilehernya, mendekatkan hidungku dengan hidungnya lalu kami tersenyum bersama.

Tangannya melingkar dipinggangku, memelukku erat sembari mengusap pinggangku perlahan.

"Aku menyayangimu" ucapku, lalu aku mencium bibirnya.

-***-

Ciumanku dibalasnya ganas, lidahnya bermain dan menyentuh langit-langit mulutku. Bibirku dihisapnya, digigitnya perlahan lalu kembali dihisapnya.

Kami mengerang pelan, dan sedikit mendesah.

Tangannya masuk kedalam celana seragamku, meremas kedua belah pantatku dan jarinya merangsang lubang anusku.

Aku melepaskan lingkaran tanganku dilehernya, lalu turun ke dadanya dan membuka kancing bajunya.

Jari-jariku bermain didadanya, memilin dan mencubit pelan kedua putingnya. Lay melepas ciuman, mendorong tubuhku dan menindihku lalu kembali menciumku.

Tangan kiri Lay meremas selangkanganku sedangkan tangan kanannya membuka kancing celananya sendiri.

Mataku terpejam, ku nikmati perlakuannya. Tanganku membuka satu-persatu kancing seragam ku dan kancing celanaku.

-***-

Lay menindihku dan menggesekan selangkangannya di selangkanganku, ia terus menciumiku dan ciumannya pindah ke leher lalu membuat tanda merah dileherku.

Aku terus mengerang dan mendesah, kini mulutnya bermain liar didadaku.

Air liurnya membasahi putingku, dan dihisapnya kuat hingga sekeliling puting dadaku memerah sedangkan tangannya merancap kemaluannya sendiri.

Puas mengerjai dadaku, ia bangkit lalu menyodorkan kemaluannya ke mulutku. Aku paham apa yang di inginkannya, ku buka mulutku dan segera ku kulum kemaluannya.

Kemaluanku ikut dikulumnya, kami saling mengulum kemaluan masing-masing.

-***-

"Kau siap?" ujar Lay setengah berbisik sembari menatap wajahku.

Setengah batang kemaluannya sudah menembus tubuhku, perutku terisi oleh kemaluannya yang membuatku semakin terangsang.

Aku menganggukan kepala, menyuruhnya untuk bermain dengan pelan. Lay mengangguk dan mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan tempo lambat.

Lay mengerang dan mendesah ketika kepala kemaluannya berhasil menyentuh titik rangsang dalam tubuhku, aku menahan suaraku.

Perih dan sedikit sakit, namun aku menikmatinya.

Lay menundukan tubuhnya, menyelipkan tangan dipunggungku lalu diangkatnya tubuhku. Lay menaik-turunkan tubuhku sembari menciumi bibirku.

Kami mengerang bersama, mendesah dan terus-menerus berganti posisi. Kami berdua bermandikan keringat, membuat gesekan di kemaluanku terasa licin diperut dan dadanya.

Nikmat, dan aku sangat terangsang.

Kini, Lay menindihku sembari menggigiti telingaku. Kurasakan kemaluannya mengembang dan berkedut dalam tubuhku, aku yakin ia akan sampai pada klimaks.

Tempo gerakan pinggulnya semakin cepat, mengguncangkan tubuhku. Aku juga merasa akan sampai klimaks.

Tanganku meremas kedua belah pantatnya, gerakan pinggulnya semakin cepat.

Gigitan ditelingaku semakin kencang, membuatku berteriak keras bersamaan dengan Lay yang mencapai klimaks.

-***-

"Maaf... Aku tak izin padamu" ucapnya pelan sembari memelukku erat.

"Tak apa" jawabku dengan senyuman.

"Kau sampai?" aku menggelengkan kepala.

Lay segera melepas pelukannya dan menundukan kepalanya, mulutnya langsung mengulum kemaluanku.

Aku menggeliatkan tubuhku, mulut Lay lihai mengerjai kemaluanku. Lubang kencingku dijilatinya dan dikiliknya dengan ujung lidah.

Aku mendesah, tangannya meremas buah pelirku terkadang jarinya menusuk-nusuk lubang anusku.

Kepalanya naik turun diselangkanganku, mulutnya mengulum tanpa henti hingga aku benar-benar sampai klimaks.

"Ah! Aku sampai!"

Lay menelan habis spermaku dan menyisakan sedikit dimulutnya. Ku cium bibirnya, dijilati olehku sperma yang tersisa dipipinya.

"Kita..." terdengar bel sekolah, tanda jam istirahat selesai.

"Harus masuk" lanjutku, Lay tertawa.

"Seharusnya, kita pergi kekantin sebelum masuk ke UKS" Lay terkekeh.

-end-

Selasa, 30 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 2-1

"Baiklah, kita kedatangan murid baru, bertemanlah dengan baik" kepala sekolah datang ke kelasku dan mengenalkan seseorang yang mengenakan seragam yang berbeda.

Ia siswa pindahan dari kota seberang. Aku mengetahuinya dari seragam yang ia kenakan, seragamnya menunjukan jika ia siswa dari sekolah yang terkenal.

Maksudku, seragam putih-merah bermotif kotak-kotak tak mungkin dikenakan di sekolah negeri lainnya. Apalagi, kebanyakan Sekolah Menengah Atas Negeri menggunakan seragam putih-abu.

Kelasku berubah seperti pasar, begitu ramai dengan ocehan siswi-siswi yang membicarakan siswa itu.

Ku akui ia siswa yang tampan. Dia tinggi, tubuhnya berisi, matanya kecil, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan menurutku ia sempurna.

"Saya Fikri, salam kenal" ucapnya dengan senyuman yang menyungging diwajahnya.

Lagi, semua siswi ramai akan ocehan tak mutu dan memuja siswa itu. Hanya aku dan Farel yang diam tak bersuara.

"Silahkan duduk, ada satu tempat kosong disamping, Adit" ujar kepala sekolah yang kemudian pamit keluar kelas.

Siswa baru itu melangkah pelan kearahku, lalu tersenyum dihadapanku. Aku merasa semua siswi dikelasku menatapku tajam.

"Boleh duduk?" ujarnya, aku memandanginya, lalu Farel menepuk pundakku dan duduk di bangku yang seharusnya ditempati siswa baru itu.

"Sorry bray, bangku ini udah gue tempatin. Elu kalo mau duduk cari tempat lain" ujar Farel dengan wajah sedikit kesal.
"Sono! Dudukin tempat lu sebelum didudukin sama yang laen!"

-***-

Aku tidak terlalu menyukai keramaian. Sejak Fikri mengisi bangku kosong dibelakangku, mejanya dan mejaku tak pernah sepi dari siswi pecicilan.

Tiap harinya aku harus mengusir satu-persatu siswi yang menduduki bangku dan mejaku, sementara Fikri menikmati popularitasnya yang naik.

Farel sebenernya merasakan hal yang sama denganku, jengah dan jijik melihat aksi centil para siswi dikelasku.

Iapun sempat bercerita jika ia tak menyukai Fikri. Apalagi, setelah kehadiran Fikri, semua siswi dikelasku menjadi liar.

Tapi, aku jamin Farel tak ingin melibatkan diri karena ia lebih suka mengerjaiku daripada berurusan dengan para siswi dikelasku.

-***-

Aku teringat saat Farel menggendongku hingga ke mobil miliknya. Menurutku, itu sikap tersembunyi yang paling jantan diantara sikapnya yang sering ditunjukan.

Ia mampu membuat ku tersipu meski saat itu aku sedang terluka parah, dan kini ingatanku mengenai kejadian itu membuatku tersenyum sendiri.

"Hey!" aku terbangun dari lamunanku saat Fikri duduk disampingku. Aku terdiam dan kembali melamun.

"Lagi mikirin apa?" aku tetap diam.

"Ga istirahat?" tanyanya, aku memalingkan wajahku padanya.

Fikri tersenyum, aku memandangnya sinis.

"Jutek bener" ucapnya diselingi tawa pelan.

"Lu mau apa dari gue?"

"Maksudnya?"

"Kalau elu pikir gue gampang diajak temenan, pikiran lu salah" ujarku.

Kulihat Fikri masih tersenyum.

"Dit, gue udah lama disini dan orang yang paling susah diajak temenan ya cuma elu" aku diam, aku alihkan pandanganku menghadap jendela.

"Gue cuma mau ngundang lu dateng kerumah, ada perayaan ultah gue" aku masih diam.
"Gue udah ajak semua orang kok, termasuk Farel"

Aku tak meladeninya, aku masih menikmati dunia lamunanku.

"Dateng ya, gue berharap banget elu dateng"

-to be continue soon-

Jumat, 19 Juli 2013

Ich Liebe Dich Side Story Part Brama

Cukup panggil aku, Brama, dari nama lengkap ku Brama Widarsana. Aku siswa senior-tingkat dua yang mengikuti ekstrakurikuler basket.

Aku menyukai olahraga basket, karena impian ku menjadi pemain basket yang bermain di tim nasional.

Selain itu, basket pula sarana penghilang stres bagiku. Tak jarang aku kabur dari pelajaran hanya untuk bermain basket.

Basket pula yang mengenalkanku pada junior-tingkat pertama yang membuatku berubah, karena basket pula aku bertaruh pada juniorku yang lain hanya untuk merebutkan dia.

Aku tak akan pernah lupa pada junior ku yang menyaksikan visulisasi ekskul dengan tatapan yang menarik perhatianku.

Aku sering berpapasan dengannya, aku berusaha tersenyum padanya walaupun ujungnya senyumanku di balas dengan wajah tanpa ekspresi oleh dia.

Hingga akhirnya aku mengetahui nama juniorku saat hendak mengambil kotak P3K di dalam ruangan UKS.

Adit, nama junior yang menarik simpati ku.

-***-

Aku menyesal bercerita pada kawan yang ku percaya mengenai Adit.

Siswi populer karena parasnya yang cantik, juga ia terkenal dengan sebutan Telinga Siluman.

Lola Rahmawati, adalah siswi yang memiliki akses penuh di ekstrakulikuler Jurnal, hobi membuat isu, dan siswi itu adalah kawan yang aku percaya.

Adit adalah korban keisengan Lola. Karena Lola juga, Farel mendatangiku dan menantang bertanding basket.

"Gue ga perduli lu kakak kelas gue atau bukan, tapi kalo udah nyangkut tentang Adit, gue ga bisa tinggal diam" aku di datangi Farel di kamar mandi saat ingin mengganti seragamku dengan seragam latihan.

"Sebentar, sebentar... Ini maksudnya apa, Rel?"

"Bram, jangan berlagak di depan gue, di mading ada artikel gue, sama Adit, gue jamin itu kerjaan lu" aku diam, aku bingung apa yang harus ku jawab.

"Yang mau gue tanya cuma satu sama lu, lu suka sama Adit?" mata ku terbuka lebar. Satu pertanyaan yang membuat aku gugup.

"Jujur sama gue, karena gue tau semua dari temen lu yang bikin artikel itu"

Aku masih terdiam, pikiran ku melayang membayangi Lola. Masalah apa lagi yang diperbuat olehnya.

"Kalaupun memang iya lu suka sama Adit, mohon maaf Adit ga akan gue lepasin sampe kapanpun"

"Sebentar, Rel... Aku ga paham sama kalimat kamu, maksud kamu apa..."

"Bodoh" Farel memotong kalimat ku, kami saling berpandangan.

"Gue tau dari temen lu juga, gue tau semua tentang lu, termasuk kenapa lu lebih suka laki-laki ketimbang perempuan"

Mendengar ucapan Farel, hatiku panas dan menjadi emosi. Farel yang ku kenal berubah menjadi Farel yang sok-mengetahui-siapa aku sebenarnya.

"Rel, maaf sebelumnya, jangan jadi orang yang sok tahu siapa saya sebenarnya"

"Oh, terus lu sebenernya siapa? Pengagum rahasia Adit? Gini deh, gue tau lu suka Adit, dan gue ga akan lepasin dia... Jadi, gimana kalo kita one on one?"

"Maaf, Rel... Aku ga mau hobi ku di jadiin media pertarungan cuma karena hal sepele"

"Adit bukan hal yang sepele, Bram. Adit bagi gue adalah orang yang seharusnya dan hanya milik gue"

Ulu hatiku terasa panas, ingin sekali aku memukul wajah orang yang-sok-tahu dihadapanku ini.

"Gue tunggu besok di lapangan sekolah, kalo lu ga dateng, artinya lu siap buat ngejauhin Adit"

Farel meninggalkan ku di dalam kamar mandi, masih terpaku karena kalimat Farel yang membuatku terdiam.

-***-

Haruskah aku mengingat masa laluku lagi? Haruskah aku teringat pada kakak kelas yang membuatku seperti ini?

Haruskah ku ingat tentang ciuman yang mendarat di bibirku, saat pertama mengikuti  ekstrakulikuler basket?

Sial, kenapa hidupku menjadi seperti ini.

Memang salahku bercerita tentang Adit pada Lola, aku tak berpikir jika Lola akan membuat cerita ku sebagai isu.

Sungguh, aku merasa bersalah.

-***-

"Hanya 1 minggu!" Farel mengancamku saat kami berlatih.

Tak kusangka, aku memiliki waktu untuk lebih dekat dengan Adit. Walau hanya seminggu, setidaknya itu membuatku mengenal lebih jauh tentang juniorku.

Hari ini, adalah hari pertama dari satu minggu yang harus ku habiskan bersama Adit. Namun, sampai sekarang aku belum melihat kehadiran Adit.

Terkadang, aku berpikir jika kalimat Adit hanya ucapan biasa. Ucapan penyemangat untuk Farel karena ingin bertanding denganku.

Aku cari ia ke seluruh tempat di sekolah, namun tetap aku belum bertemu dengannya. Di taman, kantin, tempat parkir, koperasi siswa, aula sekolah, dan belum menemukannya. Hingga ku putuskan mencari di kelasnya.

Firasat terakhir ku benar, Adit masih berada di kelasnya walau jam pelajaran telah usai.

"Dik, belum pulang?" aku mencoba menyapa Adit yang duduk di bangku mejanya. Ia memandang ke arah jendela dengan posisi kepala yang ditidurkan di meja.

Mungkin ia tidak mendengar ku, karena fokus pada buku atau pemandangan di luar kelas. Aku mendekatinya dan kembali mencoba menyapa.

Belum aku menyapa, suara dengkuran terdengar dari meja Adit. Ingin aku tertawa karena terkejut mendengar suara pelan namun pasti-dari meja Adit.

"Dik, dik bangun... Udah sore" aku menepuk pundak Adit pelan, ku goyangkan bahunya agar ia terbangun.

"Ya nek, aku sekolah... Sebentar, aku lagi mandi..." jawabnya lalu kembali mendengkur.

Lagi, aku menemukan sisi unik dari Adit. Sungguh konyol, dan membuatku ingin tertawa kencang.

"Dik, dik bangun... Kamu ga pulang?" ujarku yang terus mencoba membangunkannya. Walau ia tetap terlelap dan tak goyah dari posisinya.

Karena tak ada gerakan darinya, aku merapihkan buku-bukunya lalu mengangkat lengannya keatas. Memakaikan tas ransel pada Farel, merapihkan seragamnya lalu ku balikan tubuhku. Ku lingkarkan kaki dan tangannya pada pinggang juga leher ku.

Aku menggendongnya di punggungku, dan membawanya ke arah parkiran. Aku antarkan ia ke rumah Farel, karena aku tak mengetahui dimana letak rumah Adit.

Farel terkejut melihatku membawa Adit kerumahnya dalam keadaan tak sadar. Namun, setelah ku jelaskan dengan detail, ia paham jika Adit sedang berusaha keras menghapal materi ujian yang akan dilaksanakan besok.

-***-

"Kak, maafin aku waktu itu" Adit meminta maaf padaku, sambil menyodori ku mie rebus yang baru selesai di masak.

"Iya dik, ga apa-apa" aku tersenyum memandang wajahnya.

"Oh iya... Besok-besok kalo kaka liat aku ketiduran jangan bawa aku kerumah Farel lagi... Nanti dia kumat kaya sekarang" ujarnya menunjuk Farel yang mengintip dari dapur.

Terdengar suara pisau yang sengaja di ketukan kencang.

"Dimakan ka, mienya" aku kembali tersenyum memandangnya.

Di hari ketiga ini, ia terlihat nyaman. Tidak seperti hari pertama dan kedua kemarin.

Untuk seseorang yang introvert, Adit termasuk orang yang mudah berkomunikasi dan pandai mendekatkan diri. Karena setahuku, introvert termasuk pribadi yang keras dan sulit bergaul.

Ku perhatikan wajahnya, ia semakin menarik dari sebelumnya. Entah karena khayalan ku atau memang ia sangat menarik dan aku baru menyadarinya. Jelas terlihat, jika Adit memang junior yang unik.

-***-

Aku memutuskan untuk mengajaknya menonton konser band di taman kota, namun ia menolak dan lebih memilih menghabiskan waktu memandang pekarangan rumah.

Aku menuruti keinginan Adit, karena sejujurnya akupun tidak terlalu suka keramaian. Mengajaknya ke taman kota, hanya karena kawanku di tim basket memberi ku tiket konser-yang sangat disayangkan jika tak di tonton.

Sore ini, aku begitu terkesima melihat Adit yang mengenakan pakaian santai.

Kaus polos hitam ukuran sedang yang dipadu dengan celana pendek, menghilangkan kesan obesitas yang berlebihan.

Tanpa kacamata, Adit terlihat lebih manis. Aku dapat melihat matanya tersenyum ketika ia tertawa atau menggantungkan senyumannya.

Aku belum menyadarinya jika ia begitu menarik hingga hari ini.

-***-

Besok hari terakhir, yang harus ku habiskan dengan Adit. Semakin hari, semakin aku sulit jauh darinya. Aku yakin, aku menyukainya.

Aku sangat bersyukur saat Farel mendorongku. Karena ia memberiku kesempatan dekat dengan Adit. Kuputuskan untuk memberitahu perasaanku padanya, sekarang.

"Kakak suka ka..."

"Ah! Hujan!" aku terdiam, ku tatap matanya.

"Eh iya kakak ngomong apa?"

"Kamu ga akan pernah tau kalo aku suka kamu, karena aku bukan orang yang kamu suka"

"Itu..."

"Itu, temen kakak bilang begitu tadi pagi" aku diam, tetap memandangnya dan menarik nafas panjang.

"Orang itu, kayanya suka banget sama kakak" ia menunjukan mata tersenyum-nya padaku.

"Harusnya orang itu terus berjuang dapetin kak..." belum Adit menyelesaikan kalimatnya, Farel datang dan menarik tangan Adit.

Aku menahan Farel, mencoba menghentikan tarikan tangan Farel. Namun, usaha ku gagal. Adit sudah pergi dengan Farel yang menariknya.

Ku ikuti mereka ke arah parkiran, aku terkejut ketika Adit jatuh. Ingin aku memukul wajah Farel, karena ia membuat terluka orang yang aku suka.

Tapi, itu tidak mungkin. Aku masih tetap memandangi mereka hingga mereka berhenti di sebuah mobil.

Ya, ia tak akan pernah sadar aku menyukainya. Karena aku bukan orang yang ia suka.

Aku terlalu bodoh, karena menyukai orang yang sudah memiliki pasangan. Bodoh.

-Brama, Ich Liebe Dich, 2013-
-F.A Suprapto, @fhakubeton-

Selasa, 16 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-End

Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya yang semakin konyol. Ia harus menjalankan seluruh misi yang kuberikan padanya dalam satu minggu, karena ia kalah dalam pertandingan satu lawan satu.

-***-

Aku mengamati Brama dan Farel yang bertanding dengan sangat serius, tanpa ingin kejebolan nilai.
Aku menahan tawa melihat pertandingan ini. Brama yang tidak mengetahui apa-apa menjadi korban kejahilanku.

Sebenarnya aku yakin Farel akan memenangkan pertandingan ini. Karena, ia akan melakukan apa saja untukku.

Bukan aku sombong, tetapi Farel selalu membuatku merasa spesial. Saat pertama kali aku masuk sekolah, ia mendekatiku dan berbicara padaku. Saat aku di-bully oleh kawan-kawan satu kelasku, hanya ia yang membelaku.

Farel berteriak didepan kelas dan mengacungkan bogeman di atas kepalanya sembari memandangi seluruh anak laki-laki didalam kelas.

"Yang berani ngejek Adit selain gue, siap siap kena tampolan dari tangan gue"

Mulai dari situ tak ada murid yang berani mengejek ku, walaupun tetap ada beberapa anak yang mengejek karena berteman dengan Farel.

"Kak Brama! Jangan sampe kalah!" ujarku menyemangati Brama yang telah menguasai permainan.
Setengah jam permainan berlangsung, diantara mereka belum ada yang berhasil memasukan nilai. Mereka bermain tanpa memperdulikan cuaca yang sudah mulai mendung.

"Weh! Cepet masukin point! Mau ujan!" aku berteriak, mendengar teriakanku Farel sengaja mendorong Brama dan mengambil alih permainan.

Farel berhasil memasukan point dan melakukan seremoni kemenangan, membiarkan Brama yang terjatuh.
Aku menahan tawaku, lalu mendekati mereka.

"Oke, baiklah... Farel lu siap siap kena hukuman gue selama satu minggu" aku membantu membangunkan Brama, dan membawanya ke bangku yang tadi kami dudukki.

"Loh ko gue? Kan gue menang"

"Lu curang pe-ak!" Farel terdiam. "Udah ah, kalian harus pulang, mau ujan ini"

Brama merapihkan barang-barangnya lalu beranjak meninggalkan aku.

"Aku pulang dulu ya" aku tersenyum menjawab kalimat pamit Brama.

Farel mendekati dengan memasang wajah kesal menatapku.

"Apa? Mau gue tabok?"

"Galak amat lu ndut" protesnya.

"Gue udah yakin banget lu bakal menang, tapi bukan dengan cara curang... Kecewa gue" Farel terdiam, aku merapihkan barang bawaanku.

"Gue balik, mau ujan" tanganku ditarik Farel ketika aku hendak pergi meninggalkannya.

"Apa?"

"Balik bareng ya"

-***-

Aku masih tak sanggup menahan tawaku, Farel yang-katanya-memiliki-taraf-kegantengan-diatas-seribu-persen menggunakan pakaian cheerleader lengkap dengan pom-pom ditangannya.
Wajahnya ku rias secantik mungkin, agar menghilangkan kesan manly dari wajahnya. Aku menambahkan aksesoris tambahan untuk bagian kepala, dan tubuh.

Sungguh, aku tak dapat berhenti tertawa karena Farel. Brama yang berada disampingku pun tertawa lepas.
Namun, tawaku berhenti saat tangan Brama melingkar dipinggangku dan mendekatkan tubuhku padanya.
Wajahku memanas, aku tersipu.

Gerakan-gerakan lucu yang dibuat Farel tak dapat membuatku tertawa. Aku masih tersipu karena Brama mengeratkan pelukannya.

-***-

Suasana kantin saat ini begitu berbeda dari biasanya, terlalu tenang tidak ramai. Aku merenung, duduk di salah satu bangku yang menghadap ke arah parkiran sekolah.

Suasana kantin yang tenang, dengan cuaca yang sejuk, membuatku semakin terbuai menikmati hembusan angin.

"Dik..."

Brama tersenyum didepanku, ia membawa sebuah kantung plastik putih yang berisikan kotak bekal makan siang.

"Makan bareng ya" tawarnya padaku, aku menggeleng.

"Ga kak, itu buat kakak aja"

"Loh, ini aku bikin bekalnya banyak... Jadi kita makan berdua ya" aku terdiam, aku tak mungkin menolaknya untuk kedua kalinya.

Ia duduk dihadapanku lalu membuka isi kotak bekal tersebut.

"Kakak buat mie goreng, tapi kebanyakan... Kita bagi dua ya"

Dengan sigap ia mengambil sendok dan garpu disamping kotak bekal, lalu menyendoknya dan menyodorkan ke arahku.

"Buka mulutnya" tawarnya sembari menggantungkan senyuman di wajahnya. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, memastikan tak ada seseorang dikantin.

"Ayo buka, mumpung masih hangat" ku buka mulutku dengan ragu-ragu.

Sebenarnya aku malu, namun karena aku tak enak untuk menolak perlakuan baiknya, aku menuruti keinginannya.

"Enak kan?" senyuman Brama kembali mengembang.

Aneh, baru seminggu ini aku mengenalnya, tapi perlakuan Brama padaku seperti kawan yang sudah berteman lama.

Tak jarang aku di buat lebih nyaman olehnya, bahkan ia suka memanjakan ku dan menraktir ku makan.

"Adit!" aku tersedak ketika Farel berlari sambil berteriak memanggil namaku.

"Ayo pulang, gue udah selesai beresin mobil" aku memandang wajah Farel heran, aku tidak berjanji untuk pulang bersamanya.

"Ayo! Gerimis ini"

"Sebentar dong, Rel... Adit lagi makan, lagipula baru mendung belum gerimis" Brama menatapku lalu memandang wajah Farel.

Entah kenapa dengan dua orang ini, aku yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.

"Buru pulang" tanganku ditariknya, membuat lutut ku membentur kaki meja dan menggoyangkan kotak bekal Brama.

"Rel..." Brama menarik lengan Farel, menatap tajam wajah Farel. Aku menahan rasa sakit dilutut dan kaki sambil mengamati wajah keduanya.

Takut terjadi apa apa diantara keduanya, aku memutuskan untuk mengikuti Farel dan meninggalkan Brama tanpa pamit.

Pergelangan tanganku di genggam Farel sangat erat, aku yakin ia sangat marah.

"Rel lepasin, sakit! Lu narik-narik pelan kek" aku meronta, Farel tak menghiraukan kalimatku dan terus menarikku.

"Farel!" aku berhasil melepaskan genggamannya, lalu aku jatuh terpeleset di permukaan tanah parkiran yang kasar. Celana seragamku robek dan betis ku terluka parah.

Aku menatap mata Farel dengan sinis.

"Pe-ak! Lu pulang sendiri sana!" ujarku ketika bangun dan mencari tempat duduk. Betisku linu, dapat kurasakan darah mengalir di kaki ku.

Farel terdiam, ia memandangku dengan wajah yang bersalah.

"Ndut, lu ga apa-apa?"

"Cih, lu pikir? Ini namanya ga apa-apa? Pe-ak! Lagian lu kenapa kali, kaya orang dikejer utang, pulang buru-buru"

"Sori, ndut" aku mengacuhkannya.

"Udah sono pulang, gue pulang sendiri!"

"Ga, lu pulang sama gue" ia membalikan tubuhnya, berjongkok di depanku.

"Mau buang aer lu?" tanyaku dengan nada yang sinis. Aku kesal dengannya.

"Naik ke sini, gue gendong lu" aku terdiam. "Buru mau ujan, gue ga mau lu sakit"

Aku tersipu mendengar kalimatnya, aku mengalungkan tanganku dilehernya. Tangannya menggenggam pahaku. Farel berdiri dan mulai melangkah dengan pelan ke arah mobil yang berada di depan.

"Maafin gue, ndut" ucapnya. Aku tersenyum pelan, ku sandarkan daguku di pundak Farel.

"Gue ga mau lu deket sama orang lain... Karena lu punya gue... Cuma punya gue..." aku tersipu. Dengan jantannya ia membawaku dipunggungnya, mengucapkan maaf hingga di depan pintu mobil.

"Sekali lagi... Adit, Ich Liebe Dich"

-to be continue soon-

Senin, 15 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-2

Aku kembali ke hari normalku, hari yang penuh dengan kejahilan dan ketengilan Farel. Farel sudah sembuh dari sakitnya,dan kini ia telah kembali ke kebiasaan lamanya-menjahiliku.

Semenjak kejadian lalu, aku memutuskan untuk menjauhinya. Entah kenapa, tapi aku takut berdekatan dengannya.

-***-

3 Hari Yang Lalu...

"Adit... Ich Liebe Dich" aku merasakan hembusan nafas ditelingaku, punggungku hangat, dan pinggang hingga perut ku rasakan ada yang memeluk.

Aku terkejut melihat pantulan tubuh Farel dicermin. Ku lihat ia menaruh kepalanya dipundakku dan terus berbisik pelan.

"Ich Liebe Dich... Adit"

Dapat kudengar nafasnya yang bersuara, suhu tubuhnya dapat kurasakan menembus kain bajuku. Sungguh hangat, sangat hangat.

"Re... Rel... Itu ar... Artinya apa?" aku tergugup, bingung apa yang harus ku lakukan.

"Adit, I Love You"

Haruskah aku ikut memeluk tangannya, atau mendorong tubuhnya. Aku sangat kebingungan.

-***-

Aku berusaha menjauh tanpa Farel sadari, walaupun sebenarnya aku tak ingin menjauhinya. Jujur, perasaanku pada Farel adalah sama seperti ia kepadaku.

Farel selalu ada disaat aku butuh ataupun tidak, dia selalu mencoba menghiburku dengan tingkah konyolnya, dan aku nyaman.

"Dit, ga istirahat?" salah satu kawanku membangunkan aku yang melamun.

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Nanti, gue ke kantin sendiri aja... Lagi ga enak body nih"

"Pasti kurang asupan vitamin F" kawanku duduk dihadapanku lalu menjajakan jajanan yang baru dibelinya dikantin.

"Vitamin F?" aku mengerinyatkan dahiku.

"Ya, vitamin Farel" aku membelalakan mataku, kami menahan tawa.

"Apa sih, please deh... Julukan dari mana lagi coba"

"Dari anak jurnal, lu ga tau? Lu jadi topik utama di mading loh, Dit" ia mengunyah makanannya dihadapanku.

"Topik utama?" ia mengangguk, aku mengedarkan pandanganku, membenarkan posisi kacamata lalu menatap wajah kawanku seksama.

"Header beritanya Adit yang ingin mencium Farel di UKS"  kacamataku hampir jatuh mendengar kalimat kawanku. Aku tertawa.

"Beneran? Kok bisa? Dapet darimana coba itu berita"

"Beritanya dari kakak kelas, terus yang gak kalah penting si Farel ngerespon berita itu"

"Apa? Apa?" aku penasaran, sekali lagi ku edarkan pandanganku memastikan jika tak ada siapapun didalam kelas.

"Farel bilang jangan salahin lu kalo lu mau cium dia, salahin muka dia yang kelewat ganteng" jawabnya sembari meneguk air minum miliknya. Aku tertawa keras, sangat keras.

Ku acungkan empat jempolku untuk Farel. Menggunakan kepercayaan diri dengan frekuensi dahsyat hingga orang lain lebih percaya omongan Farel daripada fakta.

Kawanku yang minum hingga memuncratkan air dari dalam mulutnya karena mendengar tawaku, dan ikut tertawa denganku.

Terkadang, Farel memang benar. Wajah bayinya membuat semua orang ingin mencium. Kecuali aku. Kadang pula, kepercayaan diri Farel membuatku tertawa keras seperti sekarang.

-***-

Bel panjang tanda jam pulang sekolah sudah berbunyi, seperti biasa aku tak pulang dan memilih duduk berdiam diri di taman yang menghadap ke lapangan basket.

Membuka buku catatan dan mempelajari ulang apa yang baru saja ku pelajari. Begini nasibnya jika aku menjauhi sang-artis-kelas-disekolahku.

Dulu, aku selalu dibantu Farel mempelajari semua pelajaran yang sulit ku terima. Farel tak pernah komentar tentang kebodohanku, ia mengajariku dengan telaten. Walau terkadang ia lebih suka membentak dan bermain emosi.

Ini konsekuensi yang harus aku jalani, karena keputusanku menjauhi Farel.

"Sendirian, dik?" aku menoleh ketika tangan seseorang menepuk pundak ku.

Aku tersenyum memandang wajah oriental dengan hidung dan senyuman yang menawan, Kak Brama.

"I... Iya kak, kakak latihan?" jawabku tersenyum. Ia duduk disampingku lalu menaruh tas ransel di dekat kakinya.

"Ga, Farel nantang aku maen basket satu lawan satu" aku mengangguk mengiyakan, jika sudah menyangkut Farel aku tak perlu bertanya kenapa atau ada apa lagi.

Sudah jelas pasti Farel yang memulainya, dan aku tak ingin ikut campur lebih jauh dengan semua masalah yang Farel buat.

Aku amati tubuh kakak kelasku. Aku baru menyadari jika kakak kelasku ini memiliki tubuh yang lebih berotot dan berisi dari Farel.

Aku melanjutkan membaca buku catatan pelajaranku, sampai akhirnya bola basket melayang ke arah tanganku, menggoyangkan buku catatan dan mengenai wajahku.

Terdengar tawaan yang kencang dari arah lapangan tertawa. Tak perlu lagi aku menebak karena semua ini pasti ulah si-bodoh-artis-kelas-yang-memiliki-kepercayaan-diri-luar-biasa.

Aku berdiri dari tempat dudukku, berjalan ke arah Farel sambil membawa bola basket yang tadi mengenaiku. Setelah dekat dengan tubuhnya, ku lemparkan bola itu ke arah wajahnya. Namun, berhasil ditangkapnya.

"Dasar bodoh! Manusia bau ketek! Kegantengan! Tengil!" umpatku, "Muka gue sakit tau!"

Ia tertawa, menunjukan gigi yang berwarna putih didepanku.

"Jangan ngakak! Sialan lu!" ia menjulurkan lidahnya sebelum berlari meninggalkanku.

"Sialan lu! Sini lu!" ku kejar ia berkeliling lapangan hingga ia meminta maaf padaku dan duduk disamping tas ransel milikku.

Aku pun merasa lelah dan duduk diantara kak Brama juga Farel.

"Liat nanti, Rel! Besok lu jadi objek penderitaan gue" ucapku yang mengeluarkan botol minum dari dalam tas.

Ku lihat Brama hanya tersenyum memandangku, mungkin menurutnya pertengkaranku dengan Farel adalah acara komedi yang disiarkan secara langsung.

"Ah, gini... Gue denger dari kak Brama, kalo lu nantang dia satu lawan satu, gimana kalo tantangan itu gue kasih peraturan?" ujarku.

"Eh, maksud lu apa nih ndut?" Farel mengerenyitkan dahinya, lalu merampas botol minumku dan menenggaknya tak tersisa.

"Cih, liat si bodoh... Minuman orangpun asal ambil terus diabisin pula" ku dengar Brama tertawa mendengar celotehanku.

"Gini ya, diantara kalian, siapapun yang menang, boleh deket dan ngapain aja sama gue selama seminggu, dan yang kalah siap siap nanti"

"Siap siap gimana?" Farel memandangku.

"Siap siap jadi apa aja yang gue suruh!" aku menahan tawa, aku sudah membayangkan kedua laki-laki ini menjadi objek penyiksaanku.

"Deal! Yang menang boleh ngapain aja kan sama lu?" Farel dengan semangat berdiri dari tempatnya lalu memandang wajah Brama.

"Menurut lu gimana, Bram?" Brama terdiam.

"Kalo kakak ga suka, ga apa apa, tinggal bilang aja" ucapku, Brama hanya tersenyum.

Terkadang aku takut jika kakak kelasku ini mengidap autis stadium tinggi, karena hanya tersenyum saat menjawab pertanyaanku.

"Boleh, deal" lagi, Brama tersenyum ke arahku. Aku semakin yakin jika Brama bukan mengidap autis, tapi penyakit kejiwaan yang sulit dijelaskan logika.

Farel meninggalkanku dan Brama. Sebelum Brama bangkit, ku tarik tangannya dan memandang wajahnya dalam dalam.

"Kak, aku mohon... Menang ya, aku mau banget bikin si bodoh jera"

"Ya, tenang aja" dijawabnya dengan nada yang lembut.

"Oke, aku wasitnya! Inget ya, hadiahnya satu minggu kalian ngehabisin waktu bareng gue dan apa-apain gue!"

"Sip! Jangan nyesel kalo gue yang menang, Dit" jawab Farel.

"Gue jamin lu kalah, lu siap siap aja" jawabku. "Siap? Satu, dua... Tiga!"

-to be continue soon-

Minggu, 14 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-1

Note : This story have a gay theme inside.

***

Part. 1-1

Aku terbangun karena mendengar alarm jam yang berbunyi dari handphone ku. Aku menggerutu pelan dan memandang jam pada layar handphone.

"Masih pagi..." ucapku sambil menguap dan mengusap ujung mata.

Entah kenapa, hari ini aku sangat malas bangkit dari kasurku untuk segera mandi dan berangkat ke sekolah. Untuk ukuran seorang pelajar juniorㅡyang masuk ditahun pertama sepertiku, bangun terlalu pagi adalah siksaan dan bangun terlalu siangpun adalah hukuman.

Belum lagi, aku harus bertemu dengan pelajaran yang tak kusukai. Ditambah dengan kawanku yang menyebalkan.

-***-

Orang memanggilku, Adit. Hanya Adit, tak memiliki nama panjang seperti anak-anak yang lain. Tubuhku besar, dengan tinggi 167 centimeter, gaya rambut berponi ke arah kanan, berkaca-mata dan aku seseorang yang introvert.

"Awas!"

Sedangkan yang baru saja berteriak melewatiku adalah, Farel. Turunan konglomerat, memiliki wajah bayi, atlit olahraga andalan sekolah, berbicara dengan dua bahasa, tubuh berisi, otot lengan yang berurat, perut yang rata, tubuh yang harum dengan parfum mewah, membawa mobil ke sekolah, tingkah kekanak-kanakan, usil dan cerdas.

Orang tersombong yang pertama kukenal selama 16 tahun ini. Aku bersekolah disebuah sekolah negeri favorit yang tiap tahunnya memiliki nilai teratas dibanding sekolah lainnya. Aku duduk dikelas X-3 yang terkenal dengan sebutan kelas 'tersulit' untuk diajar oleh para guru.

Jujur saja, aku bukanlah orang yang cerdas. Akupun tak pernah menyalahkan nilaiku yang tak memuaskan, karena aku sadar aku tak sepintar kawan-kawanku yang lain.

Biasanya, aku memiliki kesibukan diluar kelas yang menyangkut tentang pelajaran. Para guru menyuruhku menjadi perwakilan sekolah yang menghadiri seminar. Bukan hanya aku tentunya, Farelㅡmusuhkuㅡorang yang tak kusukai selalu menemaniku.

Namun, kali ini aku tak sesibuk biasanya tetapi Farel tetap membuntuti. Awalnya, aku tak begitu risih dengan Farel. Namun, saat ia mulai membuntutiku kemanapun aku pergi, rasa risih itu muncul.

Tidak hanya saat seminar saja, ketika aku masuk kamar mandi, membeli makanan dikantin, menemui guru, bahkan sampai ke depan rumahpun, aku di ikuti olehnya.

Jengah, namun sekarang ia tak lagi melakukannya. Mungkin lelah, atau mungkin ia sudah memiliki target lain.

"Engga, gue lagi males ngikutin lu sekarang sekarang" jawab Farel ketika ku tanyakan alasan ia berhenti mengikutiku.

Aneh memang, tapi aku rindu saat ia membuntutiku dan aku memarahinya.

"Lu sakit?"

Farel menggeleng pelan, lalu ia berdiri dari kursi dan memandangku tajam.

"Ga ada dikamus gue kata sakit, jadi gue ga akan sakit" baru ia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya goyang lalu jatuh menimpa ku.

"Rel, bangun, Rel!" ujarku dengan nada sedikit panik, walau tubuhku lebih besar darinya. Tubuh Farel tetap terasa berat.

Aku berteriak meminta tolong pada kawanku yang lain dan mengangkat tubuh Farel.

"Bawa ke ruang UKS, tidurin aja badan dia, gue yang ijin sama guru nanti" ucap salah satu kawanku yang ikut mengangkat tubuh Farel tadi.

Aku dan kawan-kawan yang lain memutuskan untuk membawanya ke ruang Unit Kesehatan Sekolah, dan membaringkan tubuh Farel. Aku menyuruh semua teman yang tadi mengangkatnya kembali ke kelas, dan membiarkan aku sendiri yang menjaga musuh besar ku.

Aku menyalakan kipas yang menggantung di langit-langit agar membuat tubuhnya sedikit dingin.

Aku terdiam sembari mengamati wajahnya yang seperti bayi. Pipinya yang chubby, bibirnya yang kecil dan tipis, matanya yang terpejam.

Ku dekatkan wajahku ke wajahnya, berniat memandang wajahnya lebih jelas, namun pintu ruangan UKS terbuka.

Mataku terbuka lebar, ketika melihat seseorang yang berdiri dengan menahan tawanya.

"Kamu... Kamu lagi apa dek?" ucapnya sembari menahan tawa, wajahku memanas.

Aku malu, sangat malu. Orang itu masuk ke dalam dan berjalan ke arah lemari yang dekat dengan ranjang.

"Lanjutin aja, anggap aja aku ga ada dek"

"Ah engga kok, aku ga ngapa-ngapain sumpah" aku membenarkan posisiku.

Suasana menjadi hening, terkadang aku mendengar suara tawa yang tertahan. Orang itu mendekatiku dan memandang wajahku.

"Farel kenapa?" tanyanya, aku membalas pandangannya dan tersenyum.

Aku merasa pernah melihat wajah orang yang ada di hadapanku. Tapi, dimana aku melihatnya.

"Sakit..."

"Ah... Udah kamu ke kelas aja sana, biar aku yang jaga"

"Ga apa-apa ko"

"Ah ya, aku Brama" orang itu menjulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya dengan senyuman di wajahku.

Kini aku ingat, ia kakak kelasku dari kelas Alam dan kakak senior Farel di ekstrakurikuler basket.

"Kalau dia ga sadar, mending pulang aja daripada disini"

"Tapi... Aku ga tau rumah dia dimana"

"Aku tau, aku buatin surat ijin ya, kamu rapihin buku-buku dia"

Aku mengangguk menyetujui kalimatnya. Akhirnya, aku dan kakak kelasku mengantarnya pulang. Terpaksa tidak mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar hari ini, walaupun sebenarnya aku bahagia, karena tak perlu kabur untuk menghindari pelajaran.

-***-

"Sore bi, Farelnya ada?" aku berdiri di samping pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah Farel, ia sedang membuang sampah.

"Ah iya, masuk aja dek, aden ada ko, langsung aja ke kamernya" jawabnya dengan dialek daerah yang kental.

Aku melangkah masuk dan berjalan ke arah kamarnya. Tercium aroma keringat yang sangat ku hafal saat memasuki kamarnya.

Aroma yang membuatku rindu akan Farel.

Aku tersenyum lalu duduk di tepi ranjang, ku taruh barang bawaanku di bawah ranjang dan memandang wajah Farel.

Masih terlihat jelas bekas bubur yang tadi disantap di ujung bibir Farel, ku usap dengan jariku dan membersihkan ujung bibirnya dengan tisu basah.

Sungguh sangat lucu jika melihat Farel tidur. Wajah bayi yang ia miliki terlihat begitu tenang.

"Rel... Cepet sembuh, gue kangen sama lu" ucapku pelan.

Puas memandang wajahnya, aku berjalan ke arah lemari yang ada cerminnya. Merapihkan pakaian dan menemukan sebuah kotak kaleng kecil di bawah kolong lemari.

Ku perhatikan kotak itu dan mengambil buku yang ada didalamnya. Buku tulis yang bergambarkan Astro Boy dengan catatan-catatan panjang didalamnya. Aku baca catatan itu satu persatu.

Untuk ayah, untuk ibu, dan buku itu habis dengan catatan untuk mereka. Aku mengambil buku satunya yang ada didalam kotak tersebut.

Kali ini, berbeda dengan buku yang pertama. Kali ini catatan tentang kawan-kawannya.

Untuk Andi, Budi, Adit. Aku terdiam. Aku memutar otakku keras, kenapa namaku tertulis di bukunya? Ku baca halaman demi halaman, dan tak ada yang aneh dari catatan yang dibuatnya.

Catatan yang berisi tingkah kekanak-kanakannya padaku. Ketika aku mulai bosan membaca halaman halaman itu, mataku terpaku pada satu halaman yang terisi penuh dengan kalimat Ich Liebe Dich.

"Adit... Ich Liebe Dich"

[klik pada tautan judul untuk menujur bagian selanjutnya : Ich Liebe Dich part. 1-2]

Senin, 04 Maret 2013

-Eat Pray Love (Fans Version)-

"Cerita ini gue dedikasikan untuk sahabat gue yang mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya, semua tokoh nyata dan cerita adalah nyata, tanpa penambahan unsur apapun. Pihak bersangkutan (tokoh utama) tidak keberatan kisahnya gue publikasikan di blog pribadi gue (walau ada sedikit kalimat yang gue tau, namun memutuskan untuk tidak mempublikasikannya). Tujuan gue posting cerita ini adalah memberi pelajaran kepada perempuan-perempuan disana untuk lebih berhati-hati dan lebih berserah diri kepada tuhan mereka. Karena cerita ini adalah pembelajaran berharga yang patut direnungkan dan dipelajari"

"Tulisan ini terinspirasi dari novel dan film Eat Pray Love (Elizabeth Gilbert) yang sangat terkenal dan menginspirasi wanita seluruh dunia agar dapat 'menyeimbangkan' dirinya. Cerita dan tokoh utama adalah nyata dari pihak yang bersangkutan tanpa adanya penambahan unsur apapun" -Author

-Eat Pray Love ('Fans' Version)-

Entahlah jika aku mendengar kata 'mengeluh' di telinga ku, tampaknya kalimat itu adalah sesuatu yang sering aku lakukan. Aku bukanlah manusia yang sering mengeluh—dulu saat aku belum berkenalan dengan orang itu, namun kini aku adalah orang yang rajin mengeluh walau sebenarnya aku tak ingin melakukannya. Bukannya aku tidak bersyukur mengenal cinta dan kasih sayang, tetapi jika keburukan hasilnya, lebih baik aku sama sekali tidak mengenalnya. Sahabatku menilaiku sebagai orang yang pecundang—walau ia tak mengatakannya, aku yakin ia akan mengatakan itu karena sudah jelas terlihat dari wajahnya.

Aku selalu mencurahkan hatiku pada sahabatku—selain tuhan, ia memang pendengar baik dan ia pemberi solusi terbaik yang sangat masuk di logika.

Aku mengenalnya—orang yang sekarang menjadi kekasihku, saat ia adalah kawan satu sekolahku di jayapura, aku tertarik padanya, sempat terbayang jika aku adalah kekasihnya. Bayanganku menjadi kenyataan, dan ini merupakan hal terberat dalam hidupku. Hal yang tak pernah terpikirkan dalam benakku.

Aku mengalami fase depresi terbesar dalam hidupku, dan aku memutuskan untuk melakukan terapi pada diriku sendiri seperti yang dilakukan novelis yang karyanya diangkat menjadi sebuah film.

Ditempatku terkenal dengan jajanan pinggiran yang murah meriah, aku menyukai jajanan yang terbuat dari kentang dibumbui oleh barbeque powder dan chili corn powder. Dua rasa yang dapat menggambarkan perasaanku, rasa jagung pedas yang renyah dan barbeque yang sedap, aku selalu memesan jajanan itu dengan kombinasi seperti ini.

"Jangan sedihlah, aku selalu ada... maksudku bukan hanya aku yang selalu ada tapi semua sahabat kamu ada buat kamu"

"Jangan takut pada orang yang menjahatimu, kami (sahabatmu) selalu ada untukmu, dan tuhan pasti akan membantumu"

Terharu mendengar kalimat-kalimat sahabatku, aku selalu berpikir aku tak sendirian, aku selalu berusaha mengeluarkan energi negatif dari tubuhku, aku ingin energi positif yang ada dalam tubuhku. Ternyata, sulit, aku tak pernah dapat melakukan itu walau tersedia banyak bala bantuan disekitarku.

Jajanan kentang yang sering ku sebut mitang adalah salah satu media untuk menambah energi positif dalam tubuhku, aku tak khawatir akan kegemukan—yang biasanya melanda para wanita fase remaja dan dewasa, karena aku yakin aku tak dapat menggemukan diriku. Terlalu banyak tekanan yang kuhadapi, terlalu banyak rintangan yang aku alami.

Mitang pula yang mendekatkanku pada sahabatku, aku menyukai kentang goreng (apapun bentuknya) dan vitamin di dalam kentang membantuku mendapatkan energi-energi positif yang dapat ku serap.

-***-

Aku selalu khawatir akan rupaku yang—menurutku tidak terlalu menarik, aku fobia akan cermin. Dapat dikatakan aku seseorang yang Venustraphobia, bukan karena aku benar-benar takut akan sesosok makhluk cantik tetapi karena aku minder jika aku ada disekeliling mereka yang rupawan.

Sebenarnya, dokter kejiwaan yang aku percaya—sahabatku pun tak percaya akan ketakutanku. Mereka selalu berucap jika akupun memiliki paras rupawan yang membuat banyak iri orang. Namun, perkataan mereka tertampik oleh seseorang diluar sana—yang tak akan kusebutkan siapa.

"Lu pikir, lu cantik"

Kalimat sederhananya itu sukses berdiam di dalam kepalaku dan berhasil membuatku kembali melepas kepercayaan diriku. Aku mengetahui wajahku memanglah tidak secantik tampangnya, namun menurutku paras cantik tetapi perilaku buruk itu sama saja bohong. Lebih baik memiliki wajah sepertiku—biasa saja tetapi perilaku masih dibatas perempuan yang lainnya.

Aku tak menuding orang yang menghina ku, maksudku masih dibatas perempuan lainnya adalah perempuan yang mendahulukan ibadahnya daripada wajahnya. Beruntungnya aku, aku masih mendapatkan bimbingan untuk terus berdoa kepada tuhan, untuk terus percaya dan yakin kepada tuhan jika ada sesuatu yang tuhan simpan untukku.

Aku sangat-sangat berterima kasih pada sahabatku yang selalu membuatku percaya diri, entahlah jika aku tak memiliki sahabat super seperti mereka.

Kalimat lainnya yang sukses mendarat di kepalaku adalah ketika aku dituduh habis-habisan oleh seseorang jika aku melakukan penyulaman alis.

"Lu dari golongan orang bawah! Jangan minta duit sama abang gue cuma buat sulam alis deh!"

Lucunya, orang yang menelepon dan menuduhku itu adalah orang yang sama dan selalu menambahkan kalimat kamu pikir kamu cantik? kepadaku. Dia jelas-jelas salah paham, sebenarnya yang terjadi saat itu adalah ketika aku terkejut karena seorang artis Indonesia yang melakukan hal itu dan menghabiskan biaya 5 juta.

Belum lagi ditambah dengan tuduhan-tuduhan lainnya yang dilakukan oleh orang yang sama. Aku pernah dituduh olehnya jika aku berciuman dengan kekasihku di dalam mobil pribadi miliknya.

Aku masih teringat akan kata-katanya. Tentunya aku tidak akan bercerita semua yang aku ingat. Yang jelas, aku ingat kalimat yang sangat menusuk hatiku, seakan ia adalah orang yang paling alim diantara yang alim.

"Inget ibadah sana, pergi ke tempat yang sering ada ceramah-ceramahnya, insaf, lu bisa rasain surga dunia tapi ga bisa rasain surga akhirat"

Sungguh bodoh sekali, tuduhan-tuduhan orang itu membuatku tertawa dan menangis di saat bersamaan. Sangat jelas aku tak akan berciuman dengan kekasihku didalam sebuah mobil. Lagipula, tak leluasa jika melakukannya didalam mobil.

Aku bukanlah wanita murahan seperti yang menuduhku, lihat saja dari kalimatnya yang menceramahi. Aku berani mengatakan ia murahan karena tingkahnya yang jauh beda 180 derajat denganku. Aku mengetahui semua aktivitas-aktivitas yang tak diketahui keluarganya, jika aku jahat aku akan melaporkan pada orang tua dan abangnya—yang menjadi kekasihku.

Jika aku memang jalang, aku akan mengajak kekasihku ke sebuah hotel dan membiarkan kekasihku untuk memperkosaku. Tapi, kembali lagi, aku bukanlah perempuan murahan yang menghabiskan waktu, tenaga, dan harta hanya untuk berfoya-foya seperti orang lain.

"Inget omongan gue, lu dari golongan bawah!"

Masih terngiang perkataannya yang menyatakan jika ia adalah golongan orang atas. Sebenarnya, keinginanku adalah, walaupun ia dari kelompok orang yang mampu, setidaknya ia tak perlu mengatakan kalimat tersebut padaku. Aku memang bukan orang yang sama sepertinya—dan kekasihku, aku memang bukan orang yang kaya. Tapi, aku punya harga diri yang tak dapat dibeli oleh orang kaya manapun, dan itu seharusnya menjadikan aku orang yang lebih kaya dari orang kaya, karena menurutku—dan beberapa sahabatku setuju, jika wanita yang dapat menjaga harga dirinya adalah wanita terhebat dan terkaya karena ia tak membiarkan harga dirinya terinjak-injak.

Aku tak akan memberitahu siapa yang menuduhku, aku hanya ingin menjelaskan apa yang aku rasakan kini.
Aku selalu berdoa pada tuhan, jika semua yang aku alami adalah sebab dari tingkahku sendiri. Aku yakin, tak akan ada yang buruk untukku karena tuhan selalu memiliki rencana indah untukku dikemudian hari.

Aku mengambil wudhu dan selalu bersujud—cara agamaku beribadah. Aku memohon pada yang kuasa. Tak jarang aku menangis, aku meminta pada-Nya untuk membantuku ikhlas akan semua yang telah kulalui. Tak jarang aku merenung dan meratapi diri. Aku terjebak di sebuah maze yang tak dapat aku selesaikan.

Aku harus bertahan dan mencoba untuk tetap hidup dari hinaan-hinaan orang yang selalu mecemoohku, aku memang tak dapat membalas hinaan mereka tetapi aku yakin mereka akan mendapatkan balasan bukan dariku. Because-god-working-with-mysterious.

-***-

Disisi lain, depresi yang aku alami bukanlah dari pihak lain melainkan pihak kedua dalam hubungan percintaanku. Bukan aku mensyukuri apa yang tuhan beri padaku. Tetapi, hubungan yang aku jalin benar-benar membuat tenagaku hilang. Sempat terfikir olehku tentang cintanya, dan hal itu selalu menjadi topik hangat sahabat-sahabatku.

Aku bercerita pada sahabatku, aku pernah salah naik eskalator disebuah mall karena kegalauan yang tak berujung. Sahabatku menertawakanku, namun aku biarkan karena mereka belum merasakan apa yang aku rasakan. Ketika mereka merasakan apa yang aku rasakan aku akan berbalik tertawa dan tentunya menolong mereka.

Saat aku memiliki salah, aku meminta maaf pada kekasihku karena aku menyayanginya. Tetapi jika keadaan berbalik, ia tak pernah melakukan apa yang aku lakukan. Yang pasti ia lakukan adalah membuat status di salah satu media sosial dan menghapus relationship dari profilnya.

Jujur, aku malu. Malu karena aku pasti menjadi bahan tertawaan semua mantan dari kekasihku. Malu karena orang tua kekasihku—yang memang sangat tak suka padaku, akan menertawakanku. Belum dengan supirnya yang terlihat bermuka dua didepanku. Dan kawan-kawanku yang selalu mendukung dan menyemangatiku untuk tetap terus melanjutkan hubungan ini. Aku malu pada mereka.

Semudah itukah ia menghapus status hubungan ku di profilnya? Aku tidak melarangnya melakukan itu. Bahkan aku tidak melarangnya untuk mencari pasangan baru yang lebih baik dariku. Aku hanya meminta padanya untuk lebih menghargaiku karena aku lebih menghargainya dari diriku sendiri. Aku memang bodoh, aku terlalu mencintainya, sahabatku mengatakan jika aku harus mencari kekasih baru dan melupakan kekasih sekarang.

Bagi mereka itu mudah, tetapi sulit sekali bagiku. Aku bukan tipe orang yang mudah menjalin asmara dengan orang lain, aku bukan tipe wanita yang mudah menyerahkan perasaanku pada orang lain. Perkataanku serius, karena sahabatku—dan orang-orang dilingkunganku mengetahui aku bukanlah orang yang sering berganti pacar.

Dihadapan keluarga dan kerabat dekat aku selalu dapat tertawa, aku selalu dapat menghibur mereka—terkecuali seorang sahabat laki-laki ku yang mengaku bahwa ia perempuan, aku dapat menunjukan siapa aku sebenarnya dan aku tak pernah menahan tangisanku depannya.

Aku tak sanggup seperti ini, aku terdiskriminasi. Aku terintimidasi olehnya. Aku seakan benda mati yang dapat dimainkan seenaknya, aku seperti boneka murahan yang mudah dibeli di pasar, aku seperti bayangan yang muncul hanya saat terang dan menghilang ketika gelap datang. Aku... Aku adalah orang yang rendah dimatanya.

Aku mencintainya, sungguh. Aku sangat mencintainya. Entah kenapa aku menangisinya yang jelas-jelas suka menyakitiku. Entah kenapa aku menyayanginya yang jelas-jelas keluarganya sendiri tak menyukaiku. Entah kenapa aku terlalu bodoh untuk melihat kenyataan jika aku bukanlah sosok yang cocok baginya.

Mataku telah tertutup cinta, apa yang dilakukannya padaku sehingga aku tak dapat melupakannya. Namun, yang jelas aku benar-benar mencintainya. Aku tulus, aku tak meminta timbal-balik atau take and give. Karena sebenarnya tanda perhatian dan kasih sayangnya sudah cukup bagiku.

Entah apa yang akan aku lakukan untuk masa depanku sekarang, aku terlalu mengalami tekanan dan dorongan hal negatif. Terlalu banyak energi positif yang keluar, dan membuatku tak berdaya.

Jelas, yang akan aku sampaikan padanya adalah aku sayang padanya. Tanpa perlu kekuatan sihir atau apapun itu orang lain menyebutnya, aku tetap mencintainya tulus. Walau aku tersakiti, akan aku nikmati ini. Rasa sayang ini telah menutup rasa benciku padanya, cinta ini telah menutup rasa kesal dan benciku pada keluarganya yang tak menyukaiku.

Terima kasih karena telah memberiku kustomisasi dalam kehidupan. Karena disadari maupun tidak, tekanan yang aku alami adalah proses kedewasaan yang membuatku lebih memahami getir pahitnya bercinta.
Dan semua ini akan aku terima, seperti kentang goreng yang aku sukai—dalam bentuk apapun, aku akan menelan habis-habis dan menjadikannya tenaga untukku bekerja.

-***-

Aku memutuskan untuk membiarkan sahabatku memosting kisah yang aku alami, namun aku berpesan padanya untuk tidak menyebutkan siapa atau apa yang sering dilakukan orang-orang itu. Aku hanya bercerita yang ingin aku ceritakan. Aku tidak ingin dicap sebagai orang pencari perhatian karena membiarkan sahabatku memposting kisahku. Aku hanya ingin memberitahu pada seluruh perempuan didunia, jika cinta yang dirasakan benar-benar tak berpihak pada diri kita, carilah alternatif untuk membuat cinta itu benar-benar berpihak pada kita.

Jika semua yang kita lakukan tak berpengaruh, lakukan yang tidak aku lakukan... mencari cinta baru dan memulainya dengan kebaikan.

-end-
Tangerang, 04 Maret 2013
-Eat Pray Love (Fans Version)-

Rabu, 30 Januari 2013

1 Pesan Untukmu...

This story is from 'someone who won't be called his name' but he is Jay Park-Jo Kwon Shipper :D
And this story is adapted from short story on local newspaper.

Cast : Jokwon of 2AM
Genre : Romance, NO YADONG.

Sayang... ingatkah kau padaku? Ingatkah kau semua tentangku? Ingatkah kau tentang kesukaan dan keburukanku? Jika kau menjawab iya namun kau mencoba untuk melupakannya, menurutku... aku tak akan melakukan itu, karena aku akan terus mengingatmu

Aku menggeser mouse dan mengarahkan penunjuk pada layar komputer ke arah kolom 'send', beberapa menit kemudian layar komputer menampilkan kotak dialog dengan tulisan 'Message Sent'.

Ku hela nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, antara lega dan khawatir aku masih memandang layar komputer dengan seksama. Aku tak menghiraukan notifikasi pada pojok kanan bawah layar yang menunjukan jika aku memiliki satu pesan masuk.

Aku memutuskan untuk mengirim kembali pesan elektronik yang ku tujukan untuk seseorang yang spesial bagiku.

Ingatkah engkau ketika kau mengatakan kata sayang padaku? Ingatkah kau ketika aku menjawab pertanyaanmu dengan kata ya? Aku masih ingat itu semua...

-***-

"Kwon... boleh kita berbicara serius?"

"Tentu saja, apa yang ingin kau bicarakan padaku hyung?"

"Bagaimana... jika aku sayang padamu?"

-***-

Saat itu aku sangat tersipu malu. Kau dengan lantang mengatakannya... waktu itu aku bingung ingin menjawab apa... namun hatiku mengajak untuk berkata 'ya' dan mulutuku bergerak mengikuti kata hatiku

-***-

"Hyung, tentu saja kau boleh sayang padaku"

"Jika... aku ingin dirimu menjadi milikku?"

Aku membelalakan mataku mendengar kalimatnya, antara percaya dan tidak percaya. Aku terdiam, aku membutuhkan waktu untuk menjawabnya.

"Hyung... ini... aku..."

"Ya... aku paham, aku hanya ingin mengetahuinya... tak lebih dari itu"

"Entahlah... hyung..."

"Mungkinkah ini terlalu cepat?"

Aku memandang wajahnya, mata tajamnya menatapku. Aku terpaku, mulutku terkunci. Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

"Hyung... dengarkan aku... menurutku 8 tahun itu bukanlah waktu..."

"8 tahun itu waktu yang lama kwon... waktu yang cukup untuk masa perkenalan..."

Tanganku digenggamnya, aku benci ketika ia menatapku sambil menggenggam tanganku. Aku benci ketika aku melihat ketulusan dari matanya yang menatapku, aku tak sanggup.

"Bukan... maksudku, kedekatan kita selama 8 tahun ini bukanlah waktu yang lama... maksudku... 8 tahun memanglah waktu yang lama, namun menurutku untuk menjalin sebuah hubungan dibutuhkan waktu yang lebih... lagipula, apa yang membuatku terlihat begitu luar biasa dimatamu sampai kau melakukan ini?"

Walau terbata-bata, aku sedikit lega aku dapat mengucapkannya. Akupun menyayanginya, bahkan mencintainya. Namun, aku tak ingin merusak imagenya. Aku tak ingin ia mengetahui isi hatiku yang sebenarnya, aku menikmatinya seperti ini. Tak ada hubungan spesial, hanya sebagai kerabat dekat walau sebenarnya aku ingin memiliki hubungan spesial dengannya.

"Tentu... kau sangat luar biasa bagiku... kau membuatku... begitu bahagia, kau selalu ada untukku... menurutku... kau... bagian.. dari hidupku..."

Aku melepas genggamannya, kutarik tanganku dan menaruhnya di atas pahaku. Aku bingung, aku takut.

"Just yes or no..."

Aku terpojok, aku benci situasi ini.

"Entahlah... Hyung... bagaimana jika menjawab tidak?"

Ia terdiam. Ia mengalihkan pandangannya, disandarkan tubuhnya ke punggung sofa dan menundukan wajahnya. Ia selalu melakukan itu ketika berpikir keras. Aku suka ketika melihatnya seperti ini, ia menunjukan sisi lain dari seseorang yang ku kenal.

"Mungkin... aku akan lebih fokus pada grupku"

"Jika aku berkata ya?"

Ia mengangkat wajahnya dan kembali memandangku, mata kecilnya terlihat begitu indah saat menatapku seperti sekarang. Sayangnya, aku membenci hal ini, aku membenci melihat ketulusannya yang terpancar dari matanya.

"Aku tetap akan fokus pada grupku dan... lebih fokus padamu... Kwon..."

Aku merasakan wajahku memanas, aku yakin ia dapat melihat wajahku yang berubah warna. Aku yakin warna merah muda karena tersipu di wajahku terlihat dengan jelas.

"Hyung... aku... ya... aku ingin menjadi milikmu..."

-***-

Sejak saat itu, kita selalu bersama melewati hari-hari tanpa beban. Jika aku boleh berkata jujur, aku benci padamu sayang. Kau terlalu sempurna bagiku, banyak orang yang menginginkan dirimu. Namun, aku berusaha untuk tidak mengatakannya padamu. Belum lagi, dengan ketulusan yang selalu terpancar di matamu. Aku benci, entah bagaimana caranya kau dapat mengeluarkan pandangan yang tulus dan dewasa. Alasanku memang tak masuk akal, namun memang itu alasanku. Aku benci itu, namun satu sisi lain aku menyukainya.

Sayang, ingatkah engkau saat mengucapkan selamat tidur padaku lewat pesan teks? Ingatkah engkau saat aku megucapkan selamat padamu saat kau mendapat 'triple crown' waktu itu? Ingatkah saat kau mencium pipiku? Aku masih mengingat semuanya dengan sangat jelas.

Aku masih ingat semuanya dengan jelas, kita saling memberi semangat dan dukungan. Kau selalu membuatku bahagia, membuatku tersenyum dengan tingkahmu. Kau selalu membuatku merasa nyaman, aman dan senang. Kau begitu spesial.

Tapi, kenapa kau pergi meninggalkanku... Aku tak menyalahkanmu mengenai kehidupanmu yang kau tulis, aku tak menyalahkanmu jika kau merasakan terintimidasi disini. Namun, sangat disayangkan... ketika kau menuliskan kehidupan 8 tahunmu disini... aku... aku merasa tersinggung...

Jariku terhenti, air mataku mengalir. Aku tak sanggup melanjutkan pesan yang kutulis.

-***-

"Selamat kepada Jo-Kwon yang mendapatkan 'triple crown'"

Aku tersenyum, namun aku tak gembira. Aku memang memenangkan ajang bergengsi, tapi bukan ini yang aku harapkan. Aku menginginkan ia ada disampingku mengucapkan selamat dan memelukku.

Air mataku mengalir deras membasahi pipi, semakin banyak tangan menjabatku semakin banyak air mata yang mengalir deras. Aku sedih, aku rindu orang itu. Aku rindu semua tentangnya, wajahnya, senyumnya, tingkahnya, dan hari-hari bersamanya.

Tak ada kabar darinya sejak ia pergi, walau aku dapat melihatnya di televisi namun aku merindukannya dan ingin menyentuhnya. Aku ingin memeluknya dan merasakan kembali kehangatan yang dulu pernah kujalani bersamanya. Terlintas dalam pikiranku, aku menyusul ke tempatnya dan berbincang seperti dulu kala. Aku ingin bersamanya.

-***-

Aku memutuskan untuk kembali melanjutkan pesan yang kutulis.

Terima kasih kau memberi ucapan selamat padaku via pesan teks, sayangnya... yang aku inginkan adalah kau mengucapkannya langsung padaku. 

Lagi, aku menangis. Aku sadar, tangisanku tak akan membuatnya kembali.

Sayang, jaga dirimu disana. Aku akan selalu mendukungmu, aku akan selalu berdoa untukmu. Semoga kau selalu mejadi yang terbaik. Dan... tentang hubungan kita... biarlah seperti ini. Aku menikmatinya, walaupun tersiksa. Kau... selalu ada dihatiku... Jay Park


by :  ì¡°ê¶Œ
박재범 ì‚¬ëž‘í•´...


Aku menggeser mouse dan mengarahkan penunjuk layar pada kolom 'send', beberapa menit kemudian layar menunjukan tampilan 'Message Sent' dan disusul dengan notifikasi pesan masuk pada layar komputerku.

Aku sengaja tidak membuka dua pesan yang baru saja masuk, aku sangat sadar jika pesan yang kuterima adalah pesan laporan gagal terkirim.

Aku membiarkan pesan-pesan itu. Sejujurnya, aku mengetahui alamat pesan elektronik orang itu, tetapi aku tak sanggup mengirim ke alamat sebenarnya.  Aku akan memendamnya, walau ini konyol aku akan tetap menyimpannya.

Ini kelemahanku, aku tak sanggup melakukannya dengan benar. Namun, aku bangga akan kekuranganku ini.

Aku berhasil membuat satu pesan untuknya, pesan yang mungkin ia tak pernah ketahui.

-end-




image 1-4 source : google with adress " 2bp.blogspot.com | 4bp.blogspot.com | kpopdiamond.files.com | d1i45kki000yqu.cloudfront.com

Sabtu, 15 Desember 2012

Hujan

Ia memicingkan matanya menghadap langit, mengamati peredaran awan gelap yang kini telah menutupi cahaya matahari. Ia semakin yakin jika hujan akan turun nantinya.
Ia melanjutkan langkah kakinya menuju ke sebuah rumah kecil di dekatnya, rumah dengan teras dan halaman yang luas, juga tanaman-tanaman dalam pot kecil yang membuat rumah tersebut terlihat.

Ia memutuskan untuk masuk ke halaman rumah, berdiri dekat kursi bambu dan menunggu hujan turun.
Balutan sweater dekil berwarna putih yang menutupi baju hitam, dengan celana jeans hitam panjang yang dilengkapi dengan sepatu cats berwarna putih. Topi hitam dan ransel sedang yang digendongnya senada dengan warna pakaian yang dikenakannya, membuat ia menjadi salah satu perhatian para pejalan kaki ya melintas.

"Apa yang salah denganku?" gumamnya kecil sembari menunduk, memperhatikan pakaiannya sendiri karena sedikit merasa malu menjadi salah satu objek yang dilihat pejalan kaki.

"Hi" sapa seseorang dari arah pintu, yang menggenggam cangkir kecil berisi teh hangat.
Ia menoleh, langsung membungkukan diri tanpa melihat siapa yang ada dihadapannya.

"Maaf, maaf, saya hanya pejalan kaki yang ingin berteduh" ucapnya sambil membungkuk.
Orang itu tertawa kecil, melenggang ke kursi dan duduk sembari menaruh cangkir putih di meja.

"It is fine, you don't disturb me" ujar orang itu sambil memandanginya.

"Take a sit boy" ia tegap, lalu duduk dengan malu-malu.

"You hate rain do you?" tanya orang itu, ia mengangguk kecil. Ia masih belum berani, mengangkat kepalanya, ia masih menunduk menyembunyikan wajahnya.

"Ah, its funny, I think just someone in this world who don't like a rain" lanjut orang itu.

"You remind me about someone, my litlle brother. He's don't like a rain, even the rain not pouring yet" orang itu terkekeh, lalu meminum teh hangat dan orang itu kembali memandanginya dengan seksama.

"Oh hey, how about tea? Do you want some?"

"Ah, ga usah, ga usah, ngerepotin mister aja" ia menolak tawaran orang itu.

"Don't call me mister, saya orang indonesia, hanya saja, saya orang yang suka berbicara menggunakan bahasa inggris" ia mengangguk.

"Well, are you blackjack huh?" ia mengangguk lagi.

"Hm, lucu sekali. Setelah kau mengingatkan ku tentang seseorang, ternyata topimu pun mengingatkan ku pada orang itu..." ia mengangkat kepalanya, sedikit mengintip untuk melihat siapa yang ada disampingnya.

"Well, selagi menunggu hujan turun, saya ingin bercerita padamu, kau tak keberatan kan?" orang itu kembali meminum tehnya dan mulai bercerita.

-***-

Yoga, nama panggilanku disekolah. Kini, aku menduduki kelas akhir disekolah, yang artinya aku harus bisa lebih konsentrasi karena masa depan yang pasti ditentukan setelah lulus sekolah nanti.
Semester pertama di kelas akhir ini, aku disibukan oleh kegiatan theater yang akan diadakan pertengahan tahun oleh sekolah. Bertepatan dengan ulang tahun sekolah yang ke-50 tahun, umur yang berkilau seperti emas.

Sekolahku memang bukanlah sekolah favorit, namun prestasi akademik maupun non-akademik yang dibuat sekolah ini mendapat acungan jempol dari para petinggi dikotaku.
Kelasku mendapat bagian theater, sedangkan kelas lain ada yang mendapat bagian untuk 'kur', penari latar, figuran yang menggunakan properti, bahkan ada kelas yang sama sekali tak mendapat bagian.
Kelasku dibantu oleh beberapa junior-satu tahun dibawahku, junior-junior yang memang mengikuti ekstrakulikuler kesenian. Para junior itu pula membantu sekolah menoreh prestasi dibidang non-akademik. Lebih dari lima kali-pada tahun ini mereka memenangkan lomba menari dan theater tingkat kota, mereka selalu menduduki juara satu disetiap perlombaannya. Maka dari itu, para wali kelas mengandalkan mereka untuk menjadi mentor para senior.

Angga, salah satu junior yang kukenal. Ia membantuku dalam hal 'mendalami peran'. Ia termasuk junior yang 'hyperaktif', tak sering para senior tertawa melihat tingkahnya yang 'nyeleneh' dan konyol.
Angga pula lebih sering terlihat dilayar kaca, walaupun hanya sebagai pemeran pembantu di beberapa serial ftv dan iklan-iklan lokal. Namun, aku mengacungkan dua jempolku untuknya. Bukan hanya wajahnya yang manis, namun karena prestasi yang diraihnya.

"Ka, berhenti ngomong pake bahasa inggris napa" ucapnya padaku yang menikmati mie instan buatannya. Waktu itu, aku dan dia sedang beristirahat setelah melakukan latihan theater.

Aku tersenyum mendengar kalimatnya, ia selalu berkata dengan mimik wajah yang membuat orang tertawa.

"Why? Its already been setted in my life" jawabku.

"Ya, tapi kan kaka itu orang indonesia, seengganya EYD harus dipake dong"

"Okay, if this for you I will do it"

"Ngomong okenya jangan dilanjutin sama bahasa inggris, baboya..." aku kembali dibuatnya tertawa.

"Kamu, ngomong ke orang lain jangan pake bahasa inggris sendirinya pake bahasa korea"

"Ah, geunddae, its already been settled" kami berdua tertawa.

-***-

Orang itu bangkit dari kursi bambu, menurunkan tirai kayu yang ada dihadapannya.

"Rain will down, wanna take a sit inside house or stay here?" Orang itu bertanya padanya yang telah mengangkat kepalanya, walau wajahnya masih tertutup oleh topi yang dikenakannya.

"Diluar aja, pak" jawabnya, ia melepas ransel dan menaruhnya di pangkuannya.

"Okay, let's continue" Orang itu meminum teh lalu kembali bercerita.

-***-

Angga selalu mengeluh padaku ketika aku harus berakting 'sedang jatuh cinta', ia selalu mengomeliku karena ekspresi dan nada bicaraku yang tak karuan menurutnya.

"Ka, gimana sih? Masa kaya beginian aja ga bisa!"

"Its hard you know!"

"Ga ada yang susah! Ah! Kaka pernah jatuh cinta ga sih?" bentaknya sembari melakukan mimik yang membuatku tertawa.

"Elah, malah ketawa, weh! Ini seriusan! Satu bulan lagi kalian tampil weh!"

"Just don't angry to me like that, you look like a make a joke than angry to me" aku tertawa, ia menarik nafas lalu mengambil naskah drama dari genggamanku.

"Nih, gue contohin ya ka, disini kan tulisannya...." Ia menghentikan kalimatnya, bola matanya bergerak cepat kearah kanan dan kiri menyapu kalimat-kalimat didalam naskah.

"Nah, nih tulisannya sejak aku pertama kenal kamu aku langsung suka sama kamu. Itu artinya, kaka itu suka sama lawan main kaka! Jadi kaka itu harus mainin nada bicara kaka! Weh!" lanjutnya.

"Okay, teach me"

"Aku jadi lawan kaka, kaka harus bisa bikin lawan kaka itu 'skakmat' abis dengerin omongan kaka" ujarnya menceramahi ku.

"Ya, so when we start?"

"Sekarang, kaka tarik nafas dulu, terus lanjutin dialog kaka, jangan terpaku sama naskah! Kalo kaka udah ngedalemin perasaan kaka, semuanya bakal ngalir" aku terdiam memandangnya, aku menarik nafas panjang dan mendekati Angga.

"Angga... Boleh kita ngobrol sebentar"

"Bagus, lanjutin ka, feelnya mulai dapet" ucapnya mengamatiku.

"Pertama kenal sama kamu, aku..." ia mengangguk, mata sendunya menatap mataku. Jantungku berdegup kencang, aku benar benar gugup.

"Aku... Aku suka sama kamu" tiba-tiba mata sendunya menutup dan ia pergi menjauhiku.

"Kaka ga akan pernah bisa ngelanjutin dialog ini dengan sempurna" ujarnya sembari mengeluarkan botol minum dari tasnya.

"Eh? Why? This is just a theater, just drama! Don't do it with a perfect skill"

"Ya, tapi kalau sebuah drama kakanya ga becus, maksudnya ga dalemin peran, semuanya bakal hambar!" nada bicara Angga sedikit naik.

"Lagipula, apa salahnya drama yang kalo dilakuin secara sempurna? Babo! Gue balik dulu ka, usaha buat latihannya, oya mulai besok kayanya gue ga bisa nemenin kaka latihan, maaf" ia meninggalkan ku siang itu di aula.

-***-

"Saya berpikir, waktu itu dia marah besar sehingga dia berbicara demikian" orang itu menjelaskan, ia bersandar di punggung kursi, sembari menikmati cerita panjang orang itu.

"Angga memang bukan orang yang spesial, tapi dihati saya dia sangat spesial. Wajahnya yang sunda asli, matanya yang besar dan senyumnya yang menawan, membuat dia terlihat sangat manis, tak salah dia selalu menjadi pilihan para sutradara untuk membintangi iklan iklan lokal" ia tertarik akan cerita lanjutan orang itu.

Suara petir kencang mengagetkan mereka, dan hujan mulai turun.

-***-

Pagelaran pentas sekolah usai dilaksanakan, para siswa tahun akhir diberi hari bebas selama satu minggu. Dan satu minggu pula aku tak bertemu Angga.
Aku sangat menyayangkan semua ini, mungkin Angga masih marah dengan tingkahku kemarin. Mungkin ia tersinggung akan kalimatku waktu itu, mungkin ia membenciku karena menyinggung tentang 'kesempurnaan' dalam melakukan 'drama'. Bodohnya aku.

Aku mencoba bertanya pada seluruh teman-temannya, aku menanyakan tempat tinggal Angga, berapa nomor teleponnya, namun tak ada yang mengetahuinya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya, dan tentunya maaf.
Hingga saat ini, aku belum juga menemukan dimana Angga.

Sampai suatu hari, aku bertemu dengannya di sebuah warung kecil dekat sekolah.
Aku ingat sekali ia menggunakan sweater tebal berwarna hitam, berdiri di bawah atap warung.

"Angga!" aku berteriak dan mendekatinya.

"Belum pulang? Kenapa?" ia tak menjawab pertanyaanku, ia hanya memandang ke langit dan menarik nafas.

"It will be rain, let's go home, let me take you to go home" aku tersenyum padanya, namun ia tak mengeluarkan ekspresinya seperti biasa.

"Angga, are you still mad to me? I'm sorry..." ia masih terdiam, ia mengeluarkan handphonenya dan mengetik sesuatu.

"Angga, I'm sorry, I know last week I'm make you..." handphone Angga berdering, memotong kalimat permintaan maafku.

"Ya, dipindah? Dimana? Bibi urus dulu ya, aku ga bisa kerumah sakit sekarang, mau ujan, ya, nanti kalo udah sedikit terang, aku ke sana"

Suara kencang petir mengagetiku, kulihat Angga menutup kedua telinganya dan sedikit mundur dari tempatnya berdiri.

"You... You hate rain do you?" tanyaku, ia tak menjawab. Aku berdiri didepannya, melepas kedua tangan dari telinganya lalu memandang wajahnya yang kini memandangku.

Aku memeluknya, tangannya ku lingkarkan dipinggangku.

"Don't be afraid, I'm here... Your big bro is here" ucapku.

-***-

Hujan deras disertai angin menggoyangkan tirai kayu yang diturunkan orang itu, ia menaikan topinya sedikit keatas lalu mencuri pandang ke arah orang itu.
Ia mengamati wajah orang itu dari samping, mata kecil yang berujung tajam dengan hidung mancung membuat wajah orang itu menarik. Diamatinya wajah orang itu dengan seksama.
Pandangan orang itu terlempar jauh, sesekali ia tersenyum lalu meminum teh hangat dalam cangkir kecir putih disampingnya. Ia yakin, orang itu sangat sayang pada juniornya yang sedang diceritakannya sekarang.

-***-

Aku mengantarnya kerumah sakit, ibunya telah dirawat dirumah sakit selama 1 bulan. Pantas saja, aku tak bertemu dengan satu minggu satu bulan ini. Angga bercerita jika ibunya masuk rumah sakit karena penyakit yang diderita ibunya, tumor rahim-yang kata dokter kembali tumbuh dalah tubuh ibunya.
Ibunya dirawat, paska aku sedang dilatih Angga mendalami peran. Tak heran jika waktu itu, Angga begitu emosional saat mengajari ku.

Aku menemani Angga tiap malamnya, membantu Angga agar tak merasa kelelahan. Angga sempat menolak aku membantu, namun aku terus memaksa agar dia mengijinkan aku membantunya.
Hampir dua bulan Angga pulang pergi rumah sakit dan rumahnya, namun sampai sekarang ibunya tak kunjung sembuh.

Aku masih ingat, ketika Angga meneleponku ditengah malam dan menangis. Aku menemuinya dirumah sakit, masuk kedalam ruang karantina dimana orang tua Angga dirawat.

"Ka..." Angga memanggilku lemas, dapat kulihat air matanya masih mengalir.

Kupeluk Angga kencang, masih terdengar isakannya di dadaku. Ku edarkan pandanganku diruang karantina, perawat dan dokter berkumpul mengelilingi kasur ibu Angga.

Kulihat seseorang menggelengkan kepalanya, dan berkata sesuatu pada seorang perawat. Aku melepas pelukanku dan mengangkat wajah Angga.

"Jangan takut, I'm here..." Ku peluk lagi tubuhnya.

-***-

"Saya dan Angga melewati banyak hari-hari bersama, ibunya meninggal malam itu. Malam dimana Angga berulang tahun" orang itu menyapu ujung mata dengan telunjuk, ia masih memandangi wajah orang itu yang tak menyadari jika wajah orang itu sedang di amati olehnya.

"Paginya, saya menelepon sekolah dan bercerita tentang Angga, semua guru datang ke pemakaman ibu Angga, saya sendiri berusaha selalu ada disamping Angga"

"Beruntung sekali orang itu" ia tersenyum, memotong kalimat orang yang bercerita dihadapannya.

"Saya yang beruntung, tanpanya pementasan saya waktu itu mungkin saja gagal karena saya yang tak pandai berakting" orang itu menoleh, dengan cepat ia kembali menunduk dan menyembunyikan wajahnya.

"Hey, do you know what is love? Do you?" ia menggeleng.

"Ah, you too don't know... I don't know about what I feel till now, when I was close to him, I'm so comfort, saya merasa Angga adalah orang yang sangat menarik, dia membuat saya tertawa, sedih, dia membuat saya kebingungan akan yang saya rasakan"

"Bapak pernah bilang sama orang itu kalo bapak suka?"

"Tidak, saya tak pernah mengatakannya, saya hanya bingung, apa reaksinya ketika mendengar ucapan saya"

"Lalu?"

"Saya menyimpan rasa itu sampe sekarang, mungkin sampai kapanpun saya akan tetap menyimpan perasaan ini"

"Kenapa?"

"Biarkan Angga menganggap rasa sayang yang saya lakukan padanya hanya sebagai kakak, saya tak ingin membuatnya kecewa" ia mengangguk kecil.

Hujan mulai reda, namun awan mendung masih menggantung dilangit.

"Satu yang saya sayangkan saat itu, saat Angga bercerita tentang hujan, saya tidak mencoba menjelaskan apa yang saya rasakan, saat itu, saat terakhir saya melihat Angga"

-***-

"Makasih ka, kaka udah nemenin aku" Angga tersenyum ke arahku. Aku ikut tersenyum, wajanya tersenyum membuat hatiku lega. Matanya yang sedikit besar nampak segaris ketika tersenyum, entah sengaja atau tidak-menurutku ia sangat menarik ketika tersenyum seperti itu.

"Gue benci ujan ka, ibu sakit saat cuaca ujan seperti ini, udah beberapa kali ujan membuat ibu sakit, walaupun kali ini kematian bukan karena ujan, tapi saat pemakaman ujan turun deras, dan gue semakin membencinya!" Angga menyandarkan kepalanya dibahuku.
Ingin aku mengusap kepalanya dan menenangkan dirinya. Namun, aku tak berani.

"Sekarang ibu udah disurga, kemungkinan besar gue ga disini, gue pulang kerumah bibi yang jaga ibu" aku terkejut, artinya kelulusanku nanti tak akan dihadirinya.

"Eh? Why? How about my graduation party? Are you not take a part?"

"Engga lah, temen-temen gue juga pinter ekting kali ka, tenang aja pesta kelulusan kaka bakal rame ko sama mereka"

Sebenarnya bukan itu jawaban yang aku harapkan, aku menanti jawaban Angga yang berkata 'ya' bukan 'tidak'.

"Ka, setelah lulus nanti, gue mau kalo lu ketemu gue nanti, gue udah jadi seorang guru kesenian, tak perlu secara resmi, maksud gue, gue jadi pengajar yang hanya dibutuhkan saat ada event event tertentu, dan kalo ketemu gue nanti, kaka harus udah jadi orang sukses!" Angga menatap wajahku, mata besar yang sendu menelanjangi ku. Aku senang ditatapnya seperti itu, matanya seperti berbicara 'percaya padaku kaka bisa'.
Aku tersenyum memandangnya.

"Oiya, kalo kaka punya rumah, gue mohon sebagai permintaan terakhir, kaka harus punya halaman teras yang luas, dengan taneman-taneman di dalem pot kecil, terus ada tirai kayu sama bangku bambu. Jadi kalo gue dateng kita ngobrol dibangku itu, kalo ujan kaka turunin tirainya, terus kalo kaka ga ada kaka harus taro kunci cadangan dibawah pot kecil biar gue bisa masuk tanpa sepengetahuan kaka"
Angga tertawa, ia membayangkan hal itu semua dengan wajah yang sangat riang.

-***-

"Dan hari itu terakhir saya melihat Angga, truthly I want tell him I love him, but I don't have a..."

"Pak, ujan selesai saya pam..." saat ia berdiri tak sengaja ia menjatuhkan pot kecil diatas meja, terlihat sebuah kunci dibawahnya.

"Ah maaf"

"Its okay"

"Saya pamit pa" orang itu mengangguk dan ia meninggalkannya.
Setelah jauh dari rumah itu, ia berbalik dan memandangi rumah itu sekali lagi.

"Lu inget semua tentang gue, lu turutin keinginan gue, dan gue sukses jadi pengajar walau bukan resmi pengajar, gue seneng, perasaan gue terjawab, gue juga suka sama lu ka Yoga..." ia tersenyum, dikeluarkan nametag dari dalam sweaternya, tertulis Angga Permana.
Hujan yang dibencinya membuat ia bertemu dengan seseorang yang ia cintai. Sesuatu yang ia benci membawa sebuah kebaikan.

"Terima kasih, kak Yoga..." ia melanjutkan langkahnya sambil tersenyum.

-end-

Kamis, 25 Oktober 2012

(Request Story) One Day

Part. V

Semenjak malam itu, Wooyoung selalu nyenyak dalam tidurnya. Tak lagi ia bermimpi tentang pekerjaannya, tak lagi ia bermimpi tentang editor majalah yang menekannya, tak lagi ia berteriak di tengah malam.

Nickhun memutuskan menjauhi Wooyoung secara perlahan, malam itu ia menemukan sisi lain dari Wooyoung. Nickhun tak menyangka jika Wooyoung memiliki sisi lain yang lebihj tertekan dari dirinya. Nickhun tak tega, ia berencana meninggalkan Wooyoung ketika keadaan lebih membaik.

_***_

-Wooyoung POV-

"Hi, already wake up, huh?" sapanya sembari memberiku secangkir kopi hangat, aku tersenyum menjawabnya. Ternyata ia bangun lebih cepat dariku, ia terlihat tampan pagi ini.

Aku berlari meninggalkannya, menuju kamar, mengambil kamera lalu kembali ke arah dapur. Sesaat, ku hentikan langkahku di ruang tengah, mengambil gambar Nickhun dari kejauhan. Aku mengambil gambarnya yang tengah mengaduk kopi, ia terlihat sangat sempurna pagi ini. Kemeja putih transparan yang menutupi tubuh berbentuknya membuat ia semakin seperti sebuah mannequin yang patut dimiliki.

Wajahnya yang tampan, dan senyumnya yang menggoda membuatku betah mengambil gambarnya. Satu, dua, tiga, empat, lima gambar ku ambil gambarnya, aku memokuskan kamera pada setengah badannya yang tengah mengaduk kopi. Sadar akan dirinya sedang difoto olehku, ia menatap lensa kamera dan mengerlingkan matanya ke arah lensa. Nickhun memainkan ekspresinya dihadapanku, diangkatnya cangkir kopi lalu berpose seperti ia sedang melakukan 'Commercial Film' di stasiun televisi.

Dengan cahaya mentari pagi yang lewat melalui ventilasi, menyinari sebagian tubuhnya. Ia benar-benar seperti mannequin yang berjalan, mannequin yang patut dimiliki, di rawat, dan dicintai.

_***_

-Nickhun POV-

Ditengah terik matahari, Wooyoung bersemangat membuat kotak kayu kecil dari kayu yang dikumpulkannya. Aku memandanginya dari teras, ia sangat serius dengan pekerjaannya. Menggergaji, mencocokan ukuran dan memaku kayu demi kayu agar terlihat menjadi sebuah kotak sempurna tanpa cacat sedikitpun. Wooyoung terlihat begitu seksi dengan mimik serius seperti itu, dengan keringat yang membuat kaus hitamnya lekat menempel pada tubuhnya, aku terangsang melihatnya seperti itu.

"Kau harus berhasil melakukan misi ini, ini semua demi kepopularitasanmu!" perkataan sang atasan agensi terlintas dalam benakku.

Aku terdiam, seharusnya aku tak boleh merasakan ini. Seharusnya aku tak boleh terangsang melihat Wooyoung seperti itu,  aku mendekatinya hanya karena keegoisanku. Seharusnya aku tak boleh menaruh simpati padanya yang tertekan, seharusnya aku lebih fokus pada misiku yang akan menaikan kepopularitasanku, yang sebentar lagi akan kudapatkan.

Namun... aku tak bisa.

_***_

Satu minggu Nickhun menginap di kediaman Wooyoung, banyak cerita yang mereka lalui. Nickhun semakin sulit meninggalkan Wooyoung. Sementara Wooyoung, ia merasa menjadi seseorang yang beruntung karena berkenalan dengan Nickhun yang mungkin saja membantunya ia memenangkan sebuah perlombaan photografi.

"Wajahmu... seperti model profesional" puji Wooyoung yang menunjukan hasil cetakan gambar dari kameranya.

"Saat aku mengambil gambarmu ini... kau terlihat..." Wooyoung menunjuk foto dimana Nickhun berpose seperti 'Commercial Film' sembari tersenyum.

"Terlihat sangat tampan, dan... senyummu... begitu..."

"Eum? Wae? Ada apa dengan senyumku?"

"Begitu tulus... sungguh sangat tulus" Nickhun terdiam, memandangi wajah Wooyoung yang tersenyum.

"Sangat beruntung orang yang memilikimu, kau memiliki senyum indah, wajah dan tubuh yang sempurna. Kau begitu tampan dan sempurna untuk ukuran seorang manusia" Nickhun terdiam, ia benar-benar tak dapat berkata apa-apa, mulutnya terkunci melihat Wooyoung yang memujinya.

Nickhun tak menyangka ia akan mendapatkan pujian yang terdengar seperti dari dalam hatinya. Ia semakin tak tega untuk mencurangi Wooyoung, terpikir oleh Nickhun jika orang yang ada dihadapannya adalah orang yang patut disayangi, bukan dicurangi maupun disakiti.

Senyum tulus dan tawa bahagia terlihat dari wajahnya jika Wooyoung bukanlah orang yang jahat, tidak seperti Nikchun yang mementingkan keegoisannya.

"Khun-a... Hyung!" Nickhun terbangun dari lamunannya, mendengar teriakan Wooyoung ia menarik senyumnya sambil memandangi Wooyoung.

"Ne? Ah, gomawo"

_***_

"What do you want from him?"

"What do you mean 'him'?" terdengar suara tawa di ujung telepon.

"Don't lie to me... we both know who is him"

"Ah, I don't want anything... it just for your popularity... and I heard, he need someone to make him relax at night..."

"Shut up! You..."

"What? Am I right?" terdengar lagi suara tawa diujung telepon, sepertinya orang di ujung sana sangat bahagia.

"Ah, I wanna say thanks for you, because of you the magazine that work with us get a high rating. So, thanks and if you wanna get back here, just come... We so proud of you here"

Rasa kesal bercampur menyesal beradu dalam dirinya, ia berhasil keluar dari rumah Wooyoung untuk menyelesaikan masalah yang disembunyikannya. Namun, bukan seperti ini hasil yang ia inginkan.
Ia menginginkan dirinya bebas dari kebohongan, ia tak ingin melukai hati Wooyoung. Tapi, mengapa ini hasil semua yang dilakukannya.

Nickhun, memandangi stand koran yang ada disampingnya, ia melihat sebuah tabloid dengan gambar yang membuat ia tercengang, di dekatinya dan dibacanya headline news pelan-pelan. Wajah Nickhun memerah, ia mengambil salah satu tabloid dengan gambar saat ia menggenggam sebuah cangkir kopi.

Tertulis 'Pemenang Photografi Minggu Ini yang Bercinta Dengan Modelnya Sendiri', diremasnya lalu dibuangnya jauh-jauh dari hadapannya tabloid itu. Nikchun bergegas berlari meninggalkan stand pinggir jalan, ia berniat kembali ke kediaman Wooyoung, menjelaskan semua yang telah terjadi.

_***_