Sabtu, 15 Februari 2014

Overtime? (Request)

-Kisah ini adalah permintaan @shpthunderr-
-Warning! Kisah ini mengandung tema yaoi (gay) - dewasa eksplisit-

Cast : Taecyeon of 2PM and Cheondung of Mblaq

-***-

Cheondung harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, jika tidak ia bisa mati karena ocehan atasannya--Taecyeon.

Meski Taecyeon bukan termasuk orang yang banyak bicara, namun Taecyeon hobi mengerjai pegawai-pegawai yang lain dan Cheondung tak ingin menjadi salah seorang korbannya.

Cheondung fokus dengan pekerjaannya, ia tak sadar atasannya mengawasi dari belakang.

Cheondung terdiam ketika tangan Taecyeon mengusap dan meraba pelan punggungnya, ketika Cheondung menoleh ke belakang Taecyeon mengecup pipinya.

"Pak..."

"Ya?"

"Stop... Saya mohon"

"Kenapa?"

Taecyeon semakin berulah, tangannya kini meraba dada Cheondung mesra. Jarinya bermain tepat di puting dada Cheondung.

Cheondung berusaha menjauhkan diri dan mendorong pelan tubuh Taecyeon, tetapi usahanya membuat tubuhnya berbalik arah ke hadapan Taecyeon.

Taecyeon tersenyum sinis, ia meraih tangan Cheondung lalu diarahkan ke selangkangannya sendiri.

"Remas..." bisik Taecyeon sembari mulutnya menjilati telinga Cheondung.

Ada rasa ingin melawan atasannya, tetapi Cheondung tetap mengikuti keinginan atasannya.

-***-

Tak sadar siapa yang memulai, keduanya sudah bertelanjang. Cheondung duduk dipaha Taecyeon dengan kemaluan yang saling menyentuh dan bergesekan.

Bibir Taecyeon menciumi tiap inch leher Cheondung, sementara Cheondung hanya mengerang dan mendesah sembari menarik-narik rambut Taecyeon.

Kepala kemaluan mereka basah dengan cairan kental bening-precum yang membuat licin gesekan demi gesekan, mereka mendesah menikmati permainan yang Taecyeon mulai.

Bibir Cheondung dilumat Taecyeon ganas, terkadang digigit pelan dan dikulum. Jemari Cheondung memilin kedua puting Taecyeon hingga benar-benar tegang.

Puas mencumbui Cheondung, Taecyeon menggendong tubuh Cheondung lalu dipindahnya keatas meja.

Cheondung tetap melingkarkan kakinya dipinggang Taecyeon meski pantatnya sudah duduk diatas meja, Ciuman Taecyeon semakin ganas.

Bibirnya turun ke dada, perut dan selangkangan. Mulutnya langsung melahap kemaluan Cheondung yang menegang sempurna, dihisap dan digigitnya kuat hingga Cheondung mengerang.

Kedua jari Taecyeon merangsang lubang anus Cheondung, dibuka lalu dimaju-mundurkan jarinya dengan tempo lambat.

Cheondung merebahkan diri, mulutnya tak berhenti mengerang dan mendesah.

Cheondung menyuruh Taecyeon menghentikan tusukan dianusnya, Taecyeon mencabut kedua jarinya lalu memandangi anus Cheondung yang berkedut.

Cheondung meremas kemaluannya dan berharap kemaluannya melemas, namun kemaluannya semakin menegang dan terpaksa ia merancap penisnya didepan Taecyeon.

Taecyeon tersenyum, ia ikut merancap penisnya lalu diarahkannya ke anus Cheondung.

Cheondung berteriak, saat setengah bagian kemaluan Taecyeon berhasil menembus tubuh Cheondung.

"Tenanglah..." ucap Taecyeon perlahan.

Taecyeon memaju-mundurkan pinggulnya dengan tempo yang sangat lambat, tangannya merancap, dan meremas kemaluan Cheondung.

Mereka berdua mendesah.

Taecyeon melepas rancapannya, lalu menudukan diri menciumi bibir Cheondung. Cheondung membalas ciuman Taecyeon ganas.

-***-

Taecyeon meracau, sedangkan Cheondung fokus pada pinggulnya yang naik-turun diatas tubuh Taecyeon.

Keringat membasahi tubuh mereka, tercium aroma tubuh mereka yang membuat libido mereka semakin meningkat.

Taecyeon memposisikan diri agar dapat mengatur tubuh Cheondung yang naik turun.

"Ah! Ah! Ah!" desahan Taecyeon membuat semangat Cheondung yang naik-turun mengikuti tempo.

Cheondung berhenti, lalu menggoyangkan pinggulnya kekiri dan kanan. Memaksa Taecyeon mendesah semakin hebat.

Tangan Taecyeon mulai aktif memberi rangsangan pada Cheondung, dicubit dan dirabanya puting Cheondung terkadang diremasnya hingga Cheondung menghentikan goyangannya.

Cheondung melepas kemaluan Taecyeon dan Taecyeon menyuruh Cheondung menungging. Sekali hentak seluruh kemaluan Taecyeon masuk menembus tubuh Cheondung.

-***-

Hentakan pinggul Taecyeon semakin lama meningkat dan rancapan tangan Taecyeon dikemaluan Cheondung mengikuti tempo hentakan Taecyeon.

"Ah! Ah! Rawrgh"

Mereka mendesah dan mengerang, Taecyeon meremas kencang kemaluan Cheondung sampai sperma Cheondung keluar dan membasahi lantai.

Taecyeon mengerang saat kemaluannya dijepit otot anus Cheondung, kemaluannya berkedut dan mengembang.

"Ah! Ah"

Sperma Taecyeon berhasil mengisi perut Cheondung dan mengalir keluar melalui paha Cheondung.

Taecyeon menunduk, menciumi tengkuk dan bibir Cheondung sembari membiarkan kemaluannya tertanam didalam tubuh Cheondung.

-end-

Jumat, 07 Februari 2014

What Is Love (Request)

#FanFiction ini adalah permintaan kisah dari @Chanhsung

Cast : Chansung of 2PM And Kyungsoo of EXO.

-***-

Aku menikmati hembusan angin malam sembari tetap melangkah melewati kesenyapan malam, dan masih terdengar deruan mesin kendaraan bermotor yang berlalu-lalang dijalan.

Meski waktu sudah tengah malam, deruan mesin itu tetap meramaikan jalanan yang kini sedang kulalui.

Aku sengaja berbohong padanya dan kabur darinya, aku ingin menikmati duniaku sendiri ditengah semilir angin tanpa adanya dia disisiku.

Aku ingin bebas, aku tak ingin lagi dikekang.

"Dimana kau?" aku menghentikan langkahku dan menjawab panggilan darinya. Aku terdiam, tak menjawab pertanyaannya.

"Kau! Dimana! Jawab aku!" bentaknya, aku menghela nafasku.

"Sudahlah, jangan khawatirkan aku, aku pasti pulang" kuputuskan panggilannya lalu ku lepas baterai ponsel dan memasukannya ke dalam kantung sweater.

Ku edarkan pandanganku, berniat melanjutkan langkahku namun mataku terpaku pada bangunan tinggi dihadapanku.

Gedung apartemen yang rasanya pernah ku tempati bersama seseorang yang kusayang-meski entah siapa orang itu.

Mataku memanas, dadaku sesak. Aku merasa angin yang berhembus menembus kain sweater dan kaus hingga tulang rusukku.

Aku yakin, aku pernah bahagia di salah satu ruangan dalam apartemen itu.

Angin malam kembali berhembus, namun ku nikmati hembusan itu meski air mata dan isakan pelan terdengar dariku.

Malam dingin yang indah.

-***-

Aku menikmati pemandangan dari dalam bus yang kunaiki, sembari mengusap pelan keningku sendiri.

Masih terasa kecupan lembutnya dikeningku, dan aku tidak suka akan perlakuannya-yang kini duduk disampingku.

Sebelum aku menaiki bus bersamanya, aku diinterogasinya.

"Dari mana kau, semalam?"

"Mencari makan"

"Jangan pernah lakukan itu lagi!" ia membentakku, aku terdiam.

Aku memandanginya kesal, ia menghela nafasnya dan berjalan ke arahku.

"Dengar, aku tak pernah ingin melihatmu terluka, aku menyayangimu" ia berlutut di depanku, menggapai kedua tanganku lalu diciumnya.

"Aku ingin menjagamu, tanpa kau terluka" aku terdiam, aku tetap memandang wajahnya.

"Rapihkan dirimu, sebentar lagi kita berangkat, dan semoga kau betah disana" lanjutnya dengan nada yang sangat lembut, lalu ia berdiri dan mengecup keningku.

Sejujurnya, aku tidak suka. Jong In sudah kuanggap sebagai sahabat, hanya sahabat dan tidak lebih.

Perhatian dan seluruh yang Jong In berikan kuanggap sebagai perhatian seorang sahabat. Entah apa yang ada dipikirannya, dan aku bersumpah takkan pernah ada rasa lain untuknya.

Aku menutup hatiku, karena aku sudah membukakannya untuk satu orang. Satu orang yang ku yakin ia masih hidup dan menungguku untuk menemukan dia.

Namun, aku lupa semua tentang orang itu. Aku hanya ingat aroma tubuhnya, kasih sayang darinya dan masa-masa bahagia bersamanya.

"Hey, kau tak apa?" Jong In menggenggam tanganku yang satu lagi, lalu dikecupnya.

"Ya, aku tak apa"

"Kau sakit? Wajahmu pucat" aku memalingkan muka, menatap matanya.

"Apakah ekspresiku seperti orang sakit?" Jong In diam.

"Jangan berlebihan memperhatikanku, urus urusanmu sendiri dan bayangkan nanti aku tak akan merepotimu lagi"

-***-

"Kyungsoo-nie!" terdengar seseorang berteriak memanggil namaku saat aku melangkah keluar dari bus.

Aku membuka mataku, kulihat sahabat kecilku berlari membuka tangannya. Aku ikut berlari mendekatinya dan berpelukan.

"Baekhyun-ah! Aku merindukanmu!"

"Aku tidak" aku memukul pundaknya, lalu kami tertawa bersama.

"Kau bisa ada disini, kenapa?" tanyaku, kami berjalan berdampingan.

"Aku tak sabar melihatmu, jadi kuputuskan untuk menjemputmu"

"Kau mengetahui aku ingin pulang?" Baekhyun mengangguk.

"Dari siapa?"

"Kai" aku diam.

"Ah ya, mana Kai?" aku mengedarkan pandanganku lalu mencari kemana Jong In.

Aku lupa jika aku ditemani Jong In.

"Ah sudahlah, lebih baik kita menunggunya dirumah saja, cepatlah aku tak sabar mendengar ceritamu tentang kampus di Seoul" ujar Baekhyun.

-To Be Continue Soon-

Rabu, 20 November 2013

Visual Dream part. IV

Note : kisah ini merupakan kisah lanjutan Visual Dreams yang ada disitus ini.

Cast : -. @DBYuliani -. Lee Hayi (이 하이) -. Jay Park (재범) -. Kim Family
Cameo : -. Minzy (민지) -. Funzee (푼지)
Genre : Straight, Fantasy

"Dengarlah, semua penggemar permainan fantasy tidak ada yang seperti mu" terdengar suara yang membangunkan lamunanku saat itu.
Aku terdiam, ku edarkan pandangan dan tak melihat siapapun dikamarku. Aneh, sangat aneh. Darimana suara itu berasal?

"Kim?" CL mendekatiku, ia berdiri di ambang pintu lalu menyerahkan buku usang padaku.

"Semua menunggu mu dibawah"

"Ya, aku segera kebawah"

"Ku tunggu kau..."

Aku mengangguk pelan, tiba-tiba dada kiri dan lenganku perih. Aku baru menyadari jika dada dan lenganku diperban. Apa yang terjadi dengan ku?

-***-

Tepuk tangan dan sorak sorai para pejuang memenuhi ruangan tengah. Aku mematung di anak tangga melihat euphoria para pejuang kala itu.

Harus berbanggakah aku atau haruskah aku mengabaikan mereka semua?

Memang tidak banyak yang menyoraki aku sekarang, namun jika ku teruskan hidupku seperti ini, aku yakin semakin banyak orang yang akan bertepuk tangan.

"Kim!" penyihir kecilㅡsombong berlari kearah ku dan memeluk tubuhku erat.

"Ku pikir kau takkan selamat"

"Tenanglah, ia penyihir hebat tak mungkin ia terluka" ku dengar Funzee mendekat dengan Jay Park yang menuntun kursi rodaㅡcanggih kearah tangga. Aku tersenyum.

"Terima kasih, Kim..."Key menarik tangan dan menjabatku dengan erat.

"Kau menyelamatkan Taemin dan Seohyun, dan kau mempertemukan ku dengan Deby dan juga Shindong"

Aku terkekeh, aku melihat Deby dan Shindong melambaikan tangan.

-***-

Aku mengelilingi istana ini berjam-jam. Aku senang melihat pejuang yang dulunya berkumpul dirumahku kini bercengkrama dengan tawa dan kebahagiaan di istana ini.

Canda dan tawaan terdengar di setiap ruangannya.

Aku terkekeh saat Bom berusaha membuat CL, Sandara, Minzy tertawa. Diruangan lain, Pasukan 9 Rubah dan Perampok Jalan kembali akur. Mereka ditemani Shindong, dan Deby.

Daesung dan Seungri yang mengajarkan para pejuang lain menggunakan sihir dan pedang di sisi lain padang rumput yang dekat dengan istana, disisi lainnya Pasukan Vampir 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls berkumpul.

Ku langkahkan kaki menuju ruang terakhir yang belum ku kunjungi. Aku yakin Changmin, Funzee, Alex dan Jay Park berada didalamnya. Tebakan ku benar, mereka berada di ruangan yang dekat dengan kamar ku. Funzee memberi nama ruangan itu dengan sebutan 'Strategy Room'.

-***-

"Hi..." aku menoleh, ku lihat Deby mendekat dan memberikan ku sebuah tongkat ranting kecil yang sudah sangat usang.

"Ada apa?" tanyaku yang menerima tongkat itu lalu memandangnya.

"Ada yang ingin ku tanyakan..."

"Apa itu?"

"Apa kau menganggap dunia ini mimpi atau dunia ini nyata?" aku terdiam, ku taruh tongkat itu di atas meja didepanku.

"Maksudku... Aku bingung..."

"Ya, aku paham..." ku potong kalimatnya, kami saling memandang.

"Aku paham maksudmu, sepertinya kita terjebak... Namun, aku senang... Bukan hanya aku yang terjebak di dunia ini, aku melihatmu, aku melihat keluarga ku walau mereka telah tiada..."

"Bagaimana jika kita mati disini? Apakah kita..."

"Sudahlah, jangan tegang... Dan jika kita memang mati didunia ini... Artinya tugasmu didunia ini sudah selesai"

"Aku harap, aku tetap dapat bertemu dengan mu didunia nyata" kami berdua tersenyum.

"Terima kasih, Kim" aku mengangguk, wanita pemanah itu meninggalkan kamarku. Aku masih tersenyum kecil, karena sebenarnya ketakutan yang Deby alami sama dengan ketakutan yang aku bayangkan.

Bagaimana jika aku mati sebelum mengalahkan tentara merah? Aku terdiam, ku ambil tongkat usang yang Deby beri dan menaruh disela buku usang yang ku miliki.

Aku sempat terkejut, karena dihalamanㅡyang seharusnya kosong sudah tertulis 'A Start Without An Ending'

-***-

Aku terkejut melihat gadis berpakaian gaun putih dengan pita berwarna darah dilehernya sedang berdiri menatapku dari ambang pintu masuk istana. Gadis itu terus menatapku, lalu melebarkan tangannya seakan-akan ia ingin memeluk tubuhku.

Aku yakin, ia berniat melakukan sesuatu terhadap ku. Ia meringis lalu terkekeh, tubuhku mematung. Aku tak dapat bergerak, ingin segera aku berlari namun tubuhku tak dapat bergerak.

"Hayi!" Minzy berteriak dibelakang ku, lalu berlari dan memeluk gadis itu.

"Kak!" ia tertawa, dan tersenyum ketika Minzy memeluknya.

Aku membelalakan mataku. Kupikir, ia akan membunuhku dengan kekuatannya namun ternyata ia hanya melebarkan tangan untuk memeluk Minzy. Bahkan aku tak sadar jika Minzy ada dibelakangku.

"Kim! Kemarilah! Ini Hayi!" Minzy berteriak. Sungguh, aku ingin tertawa namun aku hanya dapat tersenyum mengingat gadis ini seperti ingin membunuhku.

Aku melangkah mendekati mereka.

"Hayi, perkenalkan ini..."

"Ya aku mengetahuinya, kalau saja kau tidak berteriak memanggilku, laki-laki ini mengira ia akan mati ditanganku"

Minzy dan gadis itu tertawa, aku terdiam.

"Sudahlah, jangan begitu... Kalian sesama penyihir harus saling bekerja sama" ucap Minzy.

"Baiklah, dengarkan aku... Akan kuberitahu yang lain kau datang berkunjung, silahkan saling mengenal" lanjut Minzy yang berlalu meninggalkan aku dan gadis itu.

"Aku Hayi" ia menjulurkan tangannya.

"Kim" aku menjabatnya, senyumannya menghilang ketika tangan menggenggam erat tangannya.

"Kau... Tentara merah..."

"Maksudmu?"

"Tidak, kau memiliki ikatan dengan tentara merah..."

"Aku...?"

"Kau... Dan keluargamu... Awal dari kehancuran..." apa yang gadis ini bicarakan?

Apa maksudnya?

"Lepas tanganku!" dia berteriak.

Aku terdiam, seketika pemandangan di istana yang ku tempati berubah. Tak ada lagi tanaman hias disekitar istana ini, suasana menjadi gelap dan mengerikan.

Aku terdiam, aku menatap wajah gadis iniㅡyang bernama Hayi berubah pucat. Matanya berubah merah menyala. Bibirnya mengucapkan mantra yang entah apa artinya.

"Lihat di ambang pintu!" ucapnya.

Aku melihat seorang wanita berambut panjang mengenakan gaun bangsawan berwarna putih sedang menggendong anak laki-laki.
Wanita itu menangis, sama seperti anak kecil yang berada di dadanya.

Pintu istana terbuka lebar, dengan Jay Park dan tentara merah yang berdiri berdampingan.

"Kau datang rupanya" Jay Park meringis.

"Lihat, tangisannya begitu indah" sang tentara merah menimpali.

"Hey! Hentikan!" ku arahkan pandanganku ke belakang tubuh, ku lihat Jea, dan Narsha berdiri disana.

"Jangan ganggu anak itu dan ibunya"

"Lepaskan mereka!" Jay dan rekan tentara merahnya tak menghiraukan ocehan Jea dan Narsha. Wanita dibawa masuk dan Jea juga Narsha berlari mengikutinya.

Sayangnya, mereka berdua tak dapat mengikuti Jay dan tentara merah. Pintu istana tertutup dan disegel dengan mantra juga monster Cerebrus yang pernah ku kalahkan.

"Sial! Kita harus beritahu yang lain!"

Lalu pandanganku kabur, aku memandang wajah Hayi yang masih pucat.

"Lihat sekelilingmu!" ujar Hayi.

Sekelilingku berubah menjadi penginapan yang pernah aku kunjungi.

"Kita harus meminta tolong!" Gain berteriak.

"Aku tak menyangka Jay akan seperti itu..."

"Pada siapa kita meminta bantuan?"

"Dengarlah, dikota ada Pasukan 9 Rubah! Memintalah pada mereka"

"Dengar, mereka tak akan bisa dan tak akan percaya"

"Kenapa?"

"Kita mahkluk yang hidup lebih dari ratusan abad! Mereka tak akan mungkin melakukannya"

Aku semakin terdiam. Aku baru mengetahui jika Keluarga Vampire 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls pernah berdebat sehebat ini.

"Jangan berkedip! Lihat belakangmu!"

Aku membelalakan mataku. Wanita yang tadi menggendong anaknya kini sedang dirantai. Anak kecil yang digendongnya bermain diatas lantai.

"Aku akan memusnahkan anak ini!" ucap tentara merah.

"Jangan, ku mohon! Hentikan..." tentara merah itu tertawa.

"Jay, bungkam wanita itu! Bunuh jika kau ingin"

"Kulakukan dengan senang hati" Jay tertawa, ia mengeluarkan taring dari giginya dan memanjangkan jarinya.

"Jangan sentuh anak dan cucuku!" tiba-tiba, cahaya putih terang menyilaukan datang.

Aku tercengang saat menatap wanita paruh baya berdiri didepan wanita yang dirantai, ketika cahaya menghilang.

Nenek! Nenek ku melindungi wanita itu.

Tongkat kecil kayu diayun pelan oleh nenek ku. Tubuh Jay mematung untuk sesaat, dan ia mendorong tubuh Jay hingga terpental kedinding. Jay tak dapat berbicara bahkan bergerak. Aku yakin Jay tak sadarkan diri.

"Kau! Ternyata kau dalam pengaruh setan! Terkutuk! Aku menyesal merestui mu dengan anak ku" ucap nenek dengan nada marah.

Dengan sekali ayunan tongkat kecilnya, rantai yang mengikat tubuh, tangan dan kaki wanita itu meleleh.

"Benarkah menyesal? Bukankah kau selalu membanggakanku ibu?"

"Jangan banyak bicara kau! Anak ku tak akan mudah terpengaruh setan sepertimu! Kau bukan anak ku, anak ku sudah mati ketika ia bertugas membasmi kejahatan!"

"Tidak ibu, aku masih disini... Di hadapanmu"

"Diam kau! Terkutuk!" wanita yang tadi dirantai berteriak dan mengeluarkan sihir api yang pernah ku keluarkan.

"Suamiku tidak sepertimu!" wanita itu marah. Berkali-kali ia mengeluarkan bola api dari tangannya.

"Pergi kau dari tubuh suamiku! Biarkan suamiku tenang disurga!" nenek ku dan wanita itu membaca mantra, terlihat sebuah lubang hitam kecil dari belakang tubuh sang tentara merah.

Tentara merah itu terdiam, lalu tertawa kencang.

"Aku tak akan pernah mati, lubang hitam ini hanya membuatku kembali ke masa lalu" tawa tentara merah itu semakin kencang.

"Kau salah! Lubang ini akan mengantarmu kembali ke neraka!" teriak nenek.

"Ibu, mantra! Ucapkan mantra yang pernah kau tujukan padaku!" ucap wanita itu. Nenek mendekati tentara merah dengan tangan kanan yang terbuka dan tangan kiri menggenggam tongkat.

Mulut nenek membaca mantra tanpa suara hingga akhirnya tentara merah itu terdiam dan membatu. Sekali ayunan pelan ditangan kirinya, tongkatnya mengetuk kepala patung tentara merah.

Terlihat retakan kecil dari kepala lalu patung itu terpecah belah dan terhisap oleh lubang hitam didinding.

Aku mengalihkan pandangan ku kearah Hayi.

"Jangan menatapku!" Hayi berteriak, ia menangis. Namun, darah yang mengalir dari matanya.

"Hayi! Hayi!" aku menggenggam tangan Hayi, hingga tak sadar aku berdiri berdua dengan Hayi diruangan yang gelap.

Aku terdiam. Apa yang terjadi selanjutnya? Kemana nenek? Mana wanita itu dan anaknya? Mana Jay?
Aku mematung dan memandangi sekelilingku.

Tak ada apa apa, hanya kegelapan.

"Pejamkan matamu... Lalu bukalah" aku mendengar suara Hayi menggema, namun saat ku menatap wajah Hayi, ia hanya terdiam dengan mata yang masih mengalirkan darah.

"Jangan tatap aku! Lakukan apa yang aku suruh!"

Aku memejamkan mata, lalu membukanya.
Saat aku membuka mataku, terlihat kembali pemandangan indah disekitar istana ini.

Tanaman hias, cahaya matahari, juga canda dan tawa yang menghiasi istana ini kembali terdengar. Aku memandang wajah Hayi.

"Aku Hayi" ia menjulurkan tangannya. Aku terdiam.

Hayi mengerenyitkan dahinya.

"Kau tak ingin menjabat tanganku?" ucapnya dengan santai.

Aku tersenyum.

"Kim" ujarku tanpa menjabat tangannya.

"Baiklah sesukamu" ia tertawa, "Hey, ajak aku keruangan Minzy!" lanjutnya.

Aku mengangguk. Ku antar gadis cenayang ini ke ruangan Minzy. Entah apa yang ingin ditunjukannya padaku, namun aku berterima kasih padanya karena aku memiliki jawaban yang tak pernah aku minta.

-***-

Aku terdiam memandangi padang rumput sambil menikmati kilauan senja matahari. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku memang keturunan penyihir kuat, tetapi jika musuh ku adalah ayahku sendiri, apa yang harus ku perbuat.

Kegilaan ini tak akan mungkin bisa berakhir.

Rabu, 13 November 2013

Satu Hari

Note : Cerita ini mengandung unsur tema Yaoi/Gay Eksplisit atau digambarkan secara fulgar. Silahkan tutup halaman ini jika dirasa mengganggu. Terima kasih, regards, Author.

Kisah ini pula pernah dibuat dalam 5 bagian yang tak selesai pada blog ini yang berjudul "One Day" dan kisah ini, Author mengubah beberapa bagian menjadi kisah yang tidak membutuhkan banyak waktu dan ruang agar tidak menjadi kisah yang panjang.

Cast : Nickhun and Wooyoung of 2PM.
Genre : Yaoi Explicit, Mature Content, Adult

Peringatan! Cerita ini mengandung unsur tema Yaoi/Gay Eksplisit atau digambarkan secara fulgar. Silahkan tutup halaman ini jika merasa terganggu dan membuat jijik. Ini hanya kisah fiksi yang dibuat oleh fans. Selamat membaca. Terima kasih, Regards, Author.

-Satu Hari-

Memang, yang muncul pertama kali dihati manusia adalah kecurigaan. Aku tak memungkirinya.
Aku menaruh curiga ku pada orang itu, yang setiap harinya membuatku seperti orang gila.

-***-

[2 Months before, Day]
Aku mengenalnya saat aku sedang memburu pemandangan ditaman kota. Tak sengaja aku melihatnya melalui lensa kamera, ketika ia sedang tersenyum sembari memakan permen gulali kapas.

Tanganku refleks menekan tombol pada kamera agar mendapatkan gambarnya.
Satu, dua, tiga gambar aku dapatkan tanpa sepengetahuannya. Aku memeriksa hasil jepretan pada kamera dan sedikit tersenyum saat mengetahui hasilnya mendekati sempurna.

"Gulali?" aku membelalakan mataku ketika objek yang aku curi melalui kamera menawarkan permen gulali kapas.

Aku terdiam, aku tersipu sesaat lalu pergi meninggalkannya tanpa pamit.

-***-

[3 Months before, Night]
Nickhun. Tangannya menjabat ku dengan erat lalu menggoyangkannya pelan.

Aku tak sengaja bertemu dan berkenalan dengan Nickhun ketika ia sedang mengetuk pelan pintu rumahku. Aku tak mengerti bagaimana ia dapat menemukan alamat rumahku dengan mudahnya.

"Cukup panggil aku, Khun" ia tersenyum.

Aneh, aku merasa aneh padanya.

"Jadi... Kau Wooyoung sang fotografer handal itu?" tanyanya, ia kembali tersenyum.

"Senang bertemu denganmu, aku Khun model pertamamu" lanjutnya.

Sejak saat itu, Khun menginap dikediaman ku.

Dia bercerita tentang alasannya kenapa mengejarku hingga datang ke Busan. Nickhun diutus oleh presiden agensi daerahnya untuk menemukan seorang fotografer handal, dan ia menemukan namaku disebuah situs fotografi yang menulis namaku sebagai pemotret pemandangan yang handal.

"Aku tak menyangka jika aku dapat menemukanmu" ucapnya dengan riang.

"Tempat tinggalmu begitu nyaman dan sangat tenang. Tidak sama dengan tempat tinggalku. Kau..."

"Teh atau kopi?" aku memotong kalimatnya, memandang wajahnya sesaat lalu melangkah ke arah dapur.

"Teh, kau benar-benar sendiri?" lanjutnya.

"Ya... Selamat datang di duniaku" jawabku yang menyodorkan dua gelah cangkir teh hangat. Aku melangkah meninggalkannya membuka pintu kaca agar angin sejuk malam hari dari teras belakang rumah masuk ke dalam.

Ia terdiam, aku mengajaknya duduk di teras belakang rumah. Nickhun mengikuti ku dan duduk bersila menghadap ke arah halaman.

Aku terpesona memandangnya, kemeja putih gading yang dikenakan dengan lengan yang dilipat hingga ke sikut membuatnya begitu menarik.

"Tunggu disini..." aku mengambil kamera yang kutaruh di meja makan dan mengambil gambar Nickhun dari arah belakang.

Lalu aku kembali duduk dihadapannya, dan mengambil gambar Nickhun yang sedang meminum teh.

"Kau memang pantas menjadi seorang model" puji ku.

Nickhun tersenyum. Malam itu kami berbincang panjang mengenai diri masing-masing.

-***-

Andai saja, saat itu aku tak mengenalnya. Mungkin aku tak akan merasa sesedih ini. Aku menyesal, sangat menyesal. Bukan karena mengenalnya, namun karena perasaan yang ku libati ketika mulai mengetahui siapa Nickhun sebenarnya.

-***-

[1 Months before, Night]
"Apa ini! Kau bilang ini bagus? Majalah kami tak akan menerbitkannya!" bentak pria paruh baya dihadapan ku. Aku terdiam menatap wajahnya.

"Apa yang terjadi padamu, aku paham kau hanya seorang pekerja paruh waktu disini. Tapi, tak seperti pula hasil yang ku inginkan!" lagi, kali ini air liurnya membasahi wajah, hasil foto, dan kamera ku.

"Sepertinya, kau harus banyak belajar bocah! Mulai besok, aku tak ingin melihatmu dan hasil foto mu ditempat ini! Datang kembali jika kau sudah paham apa yang namanya fotografi!" lanjut pria itu yang membentak dengan nada tinggi.

Ia merobek hasil fotoku dan membakarnya di hadapanku.

Emosiku meningkat, tubuhku terbakar, kupejamkan mataku dan ku kepalkan tanganku. Ingin sekali aku menghajar wajahnya, menendang mulutnya dan melempar tubuhnya dari ruangan kerja.

Ketika aku membuka mata, yang ku lihat Nickhun sedang memandangi wajahku.

"Ada apa dengan mu?" tanyanya.

Aku terdiam. Ku edarkan pandanganku dan kembali memejamkan mata.

Mimpi buruk.

"Ada apa dengan mu, Wooyoung?" Nickhun memajukan tubuhnya, ia memandang ku seakan aku bukan manusia.

"Apa tadi aku mengigau?" tanyaku sembari mendudukan tubuh. Ku sadarkan tubuhku ke dinding, mendorong sedikit tubuh Nickhun lalu memandang wajahnya.

"Sebenarnya... Kau berteriak..." aku menarik nafas panjang. Ku usap keningku dan wajahku. Aku terdiam.

"Maafkan aku jika kau terganggu karena ku..."

"Bukan., ini bukan karenamu... Ini karena atasan ku yang membenci hasil fotoku" kami berdua terdiam. Hanya terdengar suara dengusan nafas dari hidungku.

"Kau bermimpi buruk..." Nickhun memandangku. Aku menganggukan wajah, dan membalas tatapan matanya.

"Hampir setiap malamnya aku bermimpi yang sama..."

"Dan aku baru mendengar kau berteriak pada malam ini..."

Aku menundukan wajah. Aku merasa bersalah padanya.

"Maafkan aku... Aku menganggu waktu tidurmu" Nickhun tersenyum.

"Tidak, aku tak apa... Aku hanya khawatir padamu" ia menatapku lekat lekat. Seakan ada yang ingin ia ucapkan padaku.

"Kau..." aku membelalakan mataku, kalimatku terpotong ketika Nickhun mencium bibirku.

Nickhun mencium dengan lembut bibirku.

Tanganku menggenggam bahu Nickhun, mendorongnya pelan namun tubuhnya semakin dekat. Aku ingin menolaknya, namun tubuhku kaku. Aku hanya dapat diam dan menerima ciuman bibir Nickhun yang lembut. Mataku terpejam, tak lagi aku mendorong tubuh Nickhun tetapi aku memeluk lehernya.

"Maaf..." ucapnya memandangku. Wajah dan telinganya memerah..

"Aku hanya tak tega melihatmu seperti tadi, karena aku..." ia duduk dikedua lutut ku.

Kami diam, seribu bahasa.

Lalu ia berdiri, dan hendak meninggalkanku. Ku tarik kaus dalamnya, ku peluk tubuhnya dari belakang, ku taruh kepalaku dipundaknya.

"Jangan... Bantu aku melupakan mimpi burukku..." Nickhun membalikan tubuhnya perlahan, menatap wajahku dan kembali menciumku.

Aku menikmati perlakuannya, tangannya mengusap punggungku dan membuka kancing piyama yang aku kenakan. Bibirnya melumat, menghisap dan mengulum bibir juga lidahku.

Kami bertukar air liur.

Perlakuannya membuatku seperti melayang. Dengusan nafasnya mengenai hidungku, erangan dan rintihan pelan membakar semua emosiku. Aku terangsang, sangat terangsang.

Entah siapa yang memulai, kami sudah bertelanjang. Kakiku diangkat Nickhun dan kulingkarkan dipinggangnya. Kemaluan kami saling menghimpit dan dada kami saling bergesekan. Buliran keringat sudah membasahi tubuh kami. Aku yakin, kami sudah dimabukan asmara.

"Izinkan aku..."

"Lakukan apa yang kau suka"

Nickhun berbisik pelan, dan aku menjawabnya.

Lidahnya kini bermain ditelingaku, melumat buliran keringat yang mengalir. Membuat tanda merah dileher dan dadaku. Ia mengangkat tubuhku dengan tangannya, ia membawaku ke dinding dan menghimpit tubuhku.

Kembali ia mencium bibirku dengan nafsu. Kedua jarinya bermain dilubang anusku dan menusukannya pelan. Ia merangsangku dengan menghisap dan menggigit kedua puting dadaku bergantian.

Aku mengerang dan mendesah.

Kemaluannya menonjok perut dan terkadang menggesek pinggulku. Ia berusaha mengangkat tubuhku tinggi-tinggi agar kemaluannya dapat menembus lubang anusku.

Aku berteriak kencang ketika miliknya berhasil masuk dan merobek anusku. Perih, namun entah kenapa tubuhku bereaksi lain dan semakin membuat aku bernafsu.

Hentakan demi hentakan ia lakukan hingga kami benar-benar klimaks.

-***-

[One day before, Day]
Aku paham, yang pernah aku lakukan dengannya malam itu salah. Namun, aku harus berterima kasih padanya karena sejak itu aku tak lagi mengalami mimpi yang serupa.

Namun, ketika perasaanku semakin terlibat. Aku semakin yakin jika ada yang aneh darinya. Aku berhasil menjadi seorang fotografer disebuah studio yang berani membayar lebih upahku, dan aku berniat mengajak Nickhun untuk menikmati hasil yang aku dapatkan.

Aku baru mengetahui jika Nickhun bukanlah orang yang baik. Nickhun adalah penipu ulung yang memanfaatkan ku agar ia mendapatkan hasil taruhan yang lebih besar dari hasil upahku.

Aku mengetahui hal itu ketika aku berjalan pulang kerumah. Ku lihat segerombolan orang sedang menyalami Nickhun. Aku mengenal salah satu diantara mereka, kawan lama yang aku benci karena mengetahui jika ia adalah pengedar obat terlarang.

Bodohnya aku, aku mudah percaya semua kalimat-kalimatnya. Aku memang bodoh.

Ketika Nickhun sampai rumah, aku mendiaminya.

"Wooyoung-ah... Aku ingin berpamitan denganmu"

Aku tak menjawabnya, hatiku sakit.

"Apa kau tak apa ku tinggal?"

Aku masih tak menjawabnya, rasa kecewa semakin membesar.

"Wooyoung-ah, aku ingin pergi..." aku melangkah mendekatinya, menyiram dadanya dengan air hangat yang ku persiapkan untuk membuat teh.

"Ada apa denganmu!" ia berteriak, tangannya mengepal, ku sodorkan pipiku.

"Hajar aku, agar kau semakin puas menyakitiku" ucapku. Kami saling bertatapan. Mataku memanas.

Nickhun terdiam.

"Kau mengecewakan ku! Kau memanfaatkan ku! Kau menjadikan aku taruhan mu! Dasar idiot!" aku mencengkeram kerah bajunya, mendorong tubuhnya hingga mengenai dinding.

Emosiku meningkat, mataku memanas. Sekilas teringat dalam kepalaku saat Nickhun memeluk ku dari belakang sembari menyanyikan lagu 'aku milikmu' .

"Kau memang brengsek! Kau penipu ulung!" dadaku sesak, aku menangis tanpa terisak.

Lagi, aku menatapnya sinis lalu aku mendekatinya dan memukul dadanya. Nickhun tak berontak. Ia hanya diam.

"Kau... Brengsek" aku terduduk lemah diantara kakinya, aku lemas.

"Pergi dari tempatku... Aku muak melihatmu..." ujarku dengan nada lemah.

-***-

[Now, Day]
"Ini teh mu..." aku terkejut dan segera mengedarkan pandangan ke sekelilingku, namun tak ada siapa siapa disekitarku.

Aku merasa mendengar suara Nickhun.

Lagi, sekilas aku terbayang wajah Nickhun dan hari-hari saat kami berdua. Sayangnya, aku terlanjur kecewa padanya dan aku tak ingin mengulangi hari-hariku bersamanya.

Walau saat itu aku tak memiliki hubungan dengannya, aku senang dapat mengenal Nickhun. Nickhun orang yang baik, aku sangat yakin dia baik.

Mungkin, karena pengaruh lingkungannya maka Nickhun seperti itu. Andai saja, dia tak menjadikanku barang taruhan. Mungkin aku sudah menjadikannya model terkenal yang akan selalu ku foto dan ku pajang gambarnya disitus resmi milikku sendiri.

-fin, end-

Selasa, 12 November 2013

A Kiss In The Middle Of Winter

Note : Cerita ini permintaan @DazzleNaeun94
Cast : Kris dan Tao EXO
Genre : Romance, BoysLove, One Shot

-Kisah ini mengandung unsur tema gay/yaoi yang tidak explisit atau digambarkan secara fulgar, silahkan tinggalkan halaman ini jika dirasa mengganggu, Regards, Author-

-A Kiss In The Middle Of Winter-

Salahkah aku jika aku memintanya lebih peka terhadapku? Salahkah aku jika aku memintanya selalu ada untuk ku? Salahkah aku jika aku memintanya untuk tetap disampingku setiap harinya?

Aku memang egois, namun aku memiliki alasanku sendiri mengapa aku menjadi terlalu egois. Aku memang kekanak-kanakan, namun aku juga memiliki alasan tersendiri kenapa aku seperti ini.

Kris, memang orang yang baik. Bahkan menurutku, ia terlalu baik hingga aku takut menyakiti perasaannya. Sayangnya, ia tak pernah ada untuk ku disaat aku membutuhkannya.

Aku tak berniat menjadi orang yang over protective padanya. Hanya saja, aku menginginkan ia meluangkan waktu sedikit untuk ku. Menyisihkan sedikit tenaga untuk memberi kabar padaku.

Apakah aku salah meminta hal itu?

-***-

Aku dan Kris sudah menjalani hubungan yang lama, namun entah mengapa aku merasa jika Kris tak paham apa yang aku inginkan.

Kris terlalu dingin, Kris terlalu acuh padaku. Terkadang, aku menyesal menerima cintanya. Tapi, penyesalanku selalu terkalahkan oleh rasa sayangku padanya.

Mengapa aku begitu lemah jika dihadapannya, mengapa aku begitu bodoh sehingga aku mengiyakan semua kalimatnya yang jelas tak dapat diterima akal sehatku.

Apa karena rasa sayang tulus ku padanya?

-***-

Sempat menyangka jika aku hanyalah pelampiasan semata. Tapi, ku coba menghilangkan sangkaan ku agar terus menyayanginya tanpa adanya kecurigaan.

Aku hanya butuh perhatian darinya, bukan hal lain?

-***-

"Kris..." ku panggil namanya pelan, aku berharap ia menoleh ke arah ku dan tersenyum padaku. Namun, harapan ku hanya sebuah harapan.

Kris tetap fokus pada jalan dihadapannya. Memandang ke arah kanan kiri mencari sebuah kedai makanan ringan untuk mengisi perutnya yang kosong.

Kris memasukan tangannya ke dalam kantung celananya, tidak menggenggam tanganku lagi seperti dahulu saat aku dan dia berkenalan untuk pertama kalinya.

"Kris... Sadarkah kau jika aku ada disamping mu?" ucap ku, aku membuang pandangan ku dari wajahnya dan berjalan menunduk menatapi jalanan yang sudah bersalju.

"Maafkan aku, jika aku membuat mu marah..." aku terus menunduk.

"Maafkan aku... Jika aku terlalu egois..." ucapku lagi, dan belum ada jawaban dari Kris.

"Maafkan aku, yang terlalu kekanak-kanakan" lanjutku. Masih belum ada jawaban.

Mataku memanas, dapat kurasakan air mataku menggenang di bawah kelopak mataku.

"Aku hanya... Aku hanya takut kau pergi meninggalkan aku" air mataku menetes, langsung jatuh menyentuh salju yang ku injak.

Aku menangis, tanpa isakan. Aku berusaha agar nada ucapan ku tak berubah karena tangisan ku.

"Aku takut... Aku takut kau menjadikan ku pelampiasan... Sungguh aku takut" aku merasa tubuhku menggigil kedinginan. Suhu musim dingin kali ini seakan masuk menyetuh tulang dan membekukan fungsi organ tubuhku.

Terasa sesak di dada, dan perih. Tangisan ku semakin menjadi. Isakan tak dapat lagi kusembunyikan, nada ucapanku lebih terdengar gugup dan kecewa.

Aku terkejut ketika lenganku digenggam, dan kepalaku diangkat olehnya. Kris menatap mataku dalam-dalam.

Aku membalas tatapan matanya lalu kubuang pandanganku ke arah lain.

Aku malu, menangis di hadapannya. Aku merasa aku yang bersalah. Menangisi hal kecil, seakan aku adalah pembuat onar yang memudahkan semua hal.

Dapat ku rasakan jika Kris tetap memandangku. Tangannya menyentuh wajahku dan diusapnya dengan pelan. Ku pejamkan mataku, berharap ia menghentikan perlakuannya dan membahas hal ini di rumah.

Namun, aku terkejut. Tangannya tak berhenti menghapus aliran air mataku. Dapat kurasakan wajahku semakin di angkatnya.

Aku semakin memejamkan mataku, karena takut ia akan menampar atau memukuli ku. Namun, ternyata tidak. Bibirnya dengan lembut mengecup keningku.

Sangat lama mengecup keningku, lalu turun ke hidungku dan tepat di bibirku ia mencium ku lembut.

Ya, bibirku.

Kris mencium bibir ku dengan jantan dan mesra. Ciuman yang menghangatkan tubuh ku. Ciuman yang dapat melebur kebekuan dalam tubuh ku. Ciuman yang sangat jantan bagi ku.

Ku buka mataku, terpampang jelas mata Kris yang terpejam sembari mencium bibir ku.

Aku berusaha menikmati ciumannya. Membalas sedikit lumatan dan kecupan di bibirku.

Lalu, Kris melepaskan ciumannya dan memandangku dengan senyuman menggantung di wajahnya.

"Maafkan aku... Karena aku sangat mencintaimu... Aku tak akan pergi meninggalkan mu dan tak pernah ada niatanku menjadikan mu sebagai pelampiasan... Aku menyayangimu"

Air mataku kembali mengalir deras membasahi pipi. Aku tersenyum pelan. Wajahku memanas, aku yakin ia dapat melihat warna merah muda pada pipiku karena tersipu.

"Jangan menangis, ada aku disamping mu... Jangan takut, karena aku tak akan meninggalkan mu sendirian" ucapnya lagi sembari menghapus air mataku.

"Akan kubiarkan kau khawatir tentangku, akan kubiarkan kau mengoceh tentang ku tingkah ku namun, tak akan kubiarkan kau melepas tanggung jawabmu untuk menyayangi dan menjaga kasih sayang mu untuk ku. Aku mencintaimu, Tao" lanjutnya.

Kris tersenyum. Aku ikut tersenyum. Ia berhasil menciumku di musim dingin di jalanan tengah kota.

Lalu, ia menggenggam tanganku erat dan mengajak untuk melangkah bersama berdampingan melewati dinginnya musim dingin.

"Kris, aku menyayangimu"

-end-

Budayakan baca dan komentar, terima kasih.
Regards, Author

Senin, 02 September 2013

Unit Kesehatan Sekolah (Request)

-Peringatan! Cerita ini mengandung tema yaoi (gay)-dewasa eksplisit-
-Cerita ini merupakan permintaan @RK091 yang dikirimkan melalui pesan twitter-

-***-

Cast : Lay and Tao of EXO

-***-

Aku merebahkan tubuhku diatas tubuhnya, menumpukan daguku didadanya sembari memandanginya. Lay tersenyum menatapku.

"Apa yang kau inginkan?"

"Dirimu" ia terkekeh, akupun ikut terkekeh.

"Benarkah? Bagaimana jika ku beri ini?" Lay mengambil tanganku lalu mengecupnya, aku tersenyum.

"Kurang"

"Jika ini?" ia menarik tubuhku lalu mengecup keningku, aku kembali tersenyum. Ku pejamkan mata ketika ia mengecupku keningku lembut.

Saat ku buka mataku, ia menyunggingkan senyuman terindah diwajahnya.

"Cukup?" aku menahan tawaku, aku membenarkan posisiku lalu duduk diperutnya.

"Giliranku" ujarku, ku tarik tangannya agar ia terbangun.

Aku mengalungkan tanganku dilehernya, mendekatkan hidungku dengan hidungnya lalu kami tersenyum bersama.

Tangannya melingkar dipinggangku, memelukku erat sembari mengusap pinggangku perlahan.

"Aku menyayangimu" ucapku, lalu aku mencium bibirnya.

-***-

Ciumanku dibalasnya ganas, lidahnya bermain dan menyentuh langit-langit mulutku. Bibirku dihisapnya, digigitnya perlahan lalu kembali dihisapnya.

Kami mengerang pelan, dan sedikit mendesah.

Tangannya masuk kedalam celana seragamku, meremas kedua belah pantatku dan jarinya merangsang lubang anusku.

Aku melepaskan lingkaran tanganku dilehernya, lalu turun ke dadanya dan membuka kancing bajunya.

Jari-jariku bermain didadanya, memilin dan mencubit pelan kedua putingnya. Lay melepas ciuman, mendorong tubuhku dan menindihku lalu kembali menciumku.

Tangan kiri Lay meremas selangkanganku sedangkan tangan kanannya membuka kancing celananya sendiri.

Mataku terpejam, ku nikmati perlakuannya. Tanganku membuka satu-persatu kancing seragam ku dan kancing celanaku.

-***-

Lay menindihku dan menggesekan selangkangannya di selangkanganku, ia terus menciumiku dan ciumannya pindah ke leher lalu membuat tanda merah dileherku.

Aku terus mengerang dan mendesah, kini mulutnya bermain liar didadaku.

Air liurnya membasahi putingku, dan dihisapnya kuat hingga sekeliling puting dadaku memerah sedangkan tangannya merancap kemaluannya sendiri.

Puas mengerjai dadaku, ia bangkit lalu menyodorkan kemaluannya ke mulutku. Aku paham apa yang di inginkannya, ku buka mulutku dan segera ku kulum kemaluannya.

Kemaluanku ikut dikulumnya, kami saling mengulum kemaluan masing-masing.

-***-

"Kau siap?" ujar Lay setengah berbisik sembari menatap wajahku.

Setengah batang kemaluannya sudah menembus tubuhku, perutku terisi oleh kemaluannya yang membuatku semakin terangsang.

Aku menganggukan kepala, menyuruhnya untuk bermain dengan pelan. Lay mengangguk dan mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan tempo lambat.

Lay mengerang dan mendesah ketika kepala kemaluannya berhasil menyentuh titik rangsang dalam tubuhku, aku menahan suaraku.

Perih dan sedikit sakit, namun aku menikmatinya.

Lay menundukan tubuhnya, menyelipkan tangan dipunggungku lalu diangkatnya tubuhku. Lay menaik-turunkan tubuhku sembari menciumi bibirku.

Kami mengerang bersama, mendesah dan terus-menerus berganti posisi. Kami berdua bermandikan keringat, membuat gesekan di kemaluanku terasa licin diperut dan dadanya.

Nikmat, dan aku sangat terangsang.

Kini, Lay menindihku sembari menggigiti telingaku. Kurasakan kemaluannya mengembang dan berkedut dalam tubuhku, aku yakin ia akan sampai pada klimaks.

Tempo gerakan pinggulnya semakin cepat, mengguncangkan tubuhku. Aku juga merasa akan sampai klimaks.

Tanganku meremas kedua belah pantatnya, gerakan pinggulnya semakin cepat.

Gigitan ditelingaku semakin kencang, membuatku berteriak keras bersamaan dengan Lay yang mencapai klimaks.

-***-

"Maaf... Aku tak izin padamu" ucapnya pelan sembari memelukku erat.

"Tak apa" jawabku dengan senyuman.

"Kau sampai?" aku menggelengkan kepala.

Lay segera melepas pelukannya dan menundukan kepalanya, mulutnya langsung mengulum kemaluanku.

Aku menggeliatkan tubuhku, mulut Lay lihai mengerjai kemaluanku. Lubang kencingku dijilatinya dan dikiliknya dengan ujung lidah.

Aku mendesah, tangannya meremas buah pelirku terkadang jarinya menusuk-nusuk lubang anusku.

Kepalanya naik turun diselangkanganku, mulutnya mengulum tanpa henti hingga aku benar-benar sampai klimaks.

"Ah! Aku sampai!"

Lay menelan habis spermaku dan menyisakan sedikit dimulutnya. Ku cium bibirnya, dijilati olehku sperma yang tersisa dipipinya.

"Kita..." terdengar bel sekolah, tanda jam istirahat selesai.

"Harus masuk" lanjutku, Lay tertawa.

"Seharusnya, kita pergi kekantin sebelum masuk ke UKS" Lay terkekeh.

-end-

Selasa, 30 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 2-1

"Baiklah, kita kedatangan murid baru, bertemanlah dengan baik" kepala sekolah datang ke kelasku dan mengenalkan seseorang yang mengenakan seragam yang berbeda.

Ia siswa pindahan dari kota seberang. Aku mengetahuinya dari seragam yang ia kenakan, seragamnya menunjukan jika ia siswa dari sekolah yang terkenal.

Maksudku, seragam putih-merah bermotif kotak-kotak tak mungkin dikenakan di sekolah negeri lainnya. Apalagi, kebanyakan Sekolah Menengah Atas Negeri menggunakan seragam putih-abu.

Kelasku berubah seperti pasar, begitu ramai dengan ocehan siswi-siswi yang membicarakan siswa itu.

Ku akui ia siswa yang tampan. Dia tinggi, tubuhnya berisi, matanya kecil, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan menurutku ia sempurna.

"Saya Fikri, salam kenal" ucapnya dengan senyuman yang menyungging diwajahnya.

Lagi, semua siswi ramai akan ocehan tak mutu dan memuja siswa itu. Hanya aku dan Farel yang diam tak bersuara.

"Silahkan duduk, ada satu tempat kosong disamping, Adit" ujar kepala sekolah yang kemudian pamit keluar kelas.

Siswa baru itu melangkah pelan kearahku, lalu tersenyum dihadapanku. Aku merasa semua siswi dikelasku menatapku tajam.

"Boleh duduk?" ujarnya, aku memandanginya, lalu Farel menepuk pundakku dan duduk di bangku yang seharusnya ditempati siswa baru itu.

"Sorry bray, bangku ini udah gue tempatin. Elu kalo mau duduk cari tempat lain" ujar Farel dengan wajah sedikit kesal.
"Sono! Dudukin tempat lu sebelum didudukin sama yang laen!"

-***-

Aku tidak terlalu menyukai keramaian. Sejak Fikri mengisi bangku kosong dibelakangku, mejanya dan mejaku tak pernah sepi dari siswi pecicilan.

Tiap harinya aku harus mengusir satu-persatu siswi yang menduduki bangku dan mejaku, sementara Fikri menikmati popularitasnya yang naik.

Farel sebenernya merasakan hal yang sama denganku, jengah dan jijik melihat aksi centil para siswi dikelasku.

Iapun sempat bercerita jika ia tak menyukai Fikri. Apalagi, setelah kehadiran Fikri, semua siswi dikelasku menjadi liar.

Tapi, aku jamin Farel tak ingin melibatkan diri karena ia lebih suka mengerjaiku daripada berurusan dengan para siswi dikelasku.

-***-

Aku teringat saat Farel menggendongku hingga ke mobil miliknya. Menurutku, itu sikap tersembunyi yang paling jantan diantara sikapnya yang sering ditunjukan.

Ia mampu membuat ku tersipu meski saat itu aku sedang terluka parah, dan kini ingatanku mengenai kejadian itu membuatku tersenyum sendiri.

"Hey!" aku terbangun dari lamunanku saat Fikri duduk disampingku. Aku terdiam dan kembali melamun.

"Lagi mikirin apa?" aku tetap diam.

"Ga istirahat?" tanyanya, aku memalingkan wajahku padanya.

Fikri tersenyum, aku memandangnya sinis.

"Jutek bener" ucapnya diselingi tawa pelan.

"Lu mau apa dari gue?"

"Maksudnya?"

"Kalau elu pikir gue gampang diajak temenan, pikiran lu salah" ujarku.

Kulihat Fikri masih tersenyum.

"Dit, gue udah lama disini dan orang yang paling susah diajak temenan ya cuma elu" aku diam, aku alihkan pandanganku menghadap jendela.

"Gue cuma mau ngundang lu dateng kerumah, ada perayaan ultah gue" aku masih diam.
"Gue udah ajak semua orang kok, termasuk Farel"

Aku tak meladeninya, aku masih menikmati dunia lamunanku.

"Dateng ya, gue berharap banget elu dateng"

-to be continue soon-

Jumat, 19 Juli 2013

Ich Liebe Dich Side Story Part Brama

Cukup panggil aku, Brama, dari nama lengkap ku Brama Widarsana. Aku siswa senior-tingkat dua yang mengikuti ekstrakurikuler basket.

Aku menyukai olahraga basket, karena impian ku menjadi pemain basket yang bermain di tim nasional.

Selain itu, basket pula sarana penghilang stres bagiku. Tak jarang aku kabur dari pelajaran hanya untuk bermain basket.

Basket pula yang mengenalkanku pada junior-tingkat pertama yang membuatku berubah, karena basket pula aku bertaruh pada juniorku yang lain hanya untuk merebutkan dia.

Aku tak akan pernah lupa pada junior ku yang menyaksikan visulisasi ekskul dengan tatapan yang menarik perhatianku.

Aku sering berpapasan dengannya, aku berusaha tersenyum padanya walaupun ujungnya senyumanku di balas dengan wajah tanpa ekspresi oleh dia.

Hingga akhirnya aku mengetahui nama juniorku saat hendak mengambil kotak P3K di dalam ruangan UKS.

Adit, nama junior yang menarik simpati ku.

-***-

Aku menyesal bercerita pada kawan yang ku percaya mengenai Adit.

Siswi populer karena parasnya yang cantik, juga ia terkenal dengan sebutan Telinga Siluman.

Lola Rahmawati, adalah siswi yang memiliki akses penuh di ekstrakulikuler Jurnal, hobi membuat isu, dan siswi itu adalah kawan yang aku percaya.

Adit adalah korban keisengan Lola. Karena Lola juga, Farel mendatangiku dan menantang bertanding basket.

"Gue ga perduli lu kakak kelas gue atau bukan, tapi kalo udah nyangkut tentang Adit, gue ga bisa tinggal diam" aku di datangi Farel di kamar mandi saat ingin mengganti seragamku dengan seragam latihan.

"Sebentar, sebentar... Ini maksudnya apa, Rel?"

"Bram, jangan berlagak di depan gue, di mading ada artikel gue, sama Adit, gue jamin itu kerjaan lu" aku diam, aku bingung apa yang harus ku jawab.

"Yang mau gue tanya cuma satu sama lu, lu suka sama Adit?" mata ku terbuka lebar. Satu pertanyaan yang membuat aku gugup.

"Jujur sama gue, karena gue tau semua dari temen lu yang bikin artikel itu"

Aku masih terdiam, pikiran ku melayang membayangi Lola. Masalah apa lagi yang diperbuat olehnya.

"Kalaupun memang iya lu suka sama Adit, mohon maaf Adit ga akan gue lepasin sampe kapanpun"

"Sebentar, Rel... Aku ga paham sama kalimat kamu, maksud kamu apa..."

"Bodoh" Farel memotong kalimat ku, kami saling berpandangan.

"Gue tau dari temen lu juga, gue tau semua tentang lu, termasuk kenapa lu lebih suka laki-laki ketimbang perempuan"

Mendengar ucapan Farel, hatiku panas dan menjadi emosi. Farel yang ku kenal berubah menjadi Farel yang sok-mengetahui-siapa aku sebenarnya.

"Rel, maaf sebelumnya, jangan jadi orang yang sok tahu siapa saya sebenarnya"

"Oh, terus lu sebenernya siapa? Pengagum rahasia Adit? Gini deh, gue tau lu suka Adit, dan gue ga akan lepasin dia... Jadi, gimana kalo kita one on one?"

"Maaf, Rel... Aku ga mau hobi ku di jadiin media pertarungan cuma karena hal sepele"

"Adit bukan hal yang sepele, Bram. Adit bagi gue adalah orang yang seharusnya dan hanya milik gue"

Ulu hatiku terasa panas, ingin sekali aku memukul wajah orang yang-sok-tahu dihadapanku ini.

"Gue tunggu besok di lapangan sekolah, kalo lu ga dateng, artinya lu siap buat ngejauhin Adit"

Farel meninggalkan ku di dalam kamar mandi, masih terpaku karena kalimat Farel yang membuatku terdiam.

-***-

Haruskah aku mengingat masa laluku lagi? Haruskah aku teringat pada kakak kelas yang membuatku seperti ini?

Haruskah ku ingat tentang ciuman yang mendarat di bibirku, saat pertama mengikuti  ekstrakulikuler basket?

Sial, kenapa hidupku menjadi seperti ini.

Memang salahku bercerita tentang Adit pada Lola, aku tak berpikir jika Lola akan membuat cerita ku sebagai isu.

Sungguh, aku merasa bersalah.

-***-

"Hanya 1 minggu!" Farel mengancamku saat kami berlatih.

Tak kusangka, aku memiliki waktu untuk lebih dekat dengan Adit. Walau hanya seminggu, setidaknya itu membuatku mengenal lebih jauh tentang juniorku.

Hari ini, adalah hari pertama dari satu minggu yang harus ku habiskan bersama Adit. Namun, sampai sekarang aku belum melihat kehadiran Adit.

Terkadang, aku berpikir jika kalimat Adit hanya ucapan biasa. Ucapan penyemangat untuk Farel karena ingin bertanding denganku.

Aku cari ia ke seluruh tempat di sekolah, namun tetap aku belum bertemu dengannya. Di taman, kantin, tempat parkir, koperasi siswa, aula sekolah, dan belum menemukannya. Hingga ku putuskan mencari di kelasnya.

Firasat terakhir ku benar, Adit masih berada di kelasnya walau jam pelajaran telah usai.

"Dik, belum pulang?" aku mencoba menyapa Adit yang duduk di bangku mejanya. Ia memandang ke arah jendela dengan posisi kepala yang ditidurkan di meja.

Mungkin ia tidak mendengar ku, karena fokus pada buku atau pemandangan di luar kelas. Aku mendekatinya dan kembali mencoba menyapa.

Belum aku menyapa, suara dengkuran terdengar dari meja Adit. Ingin aku tertawa karena terkejut mendengar suara pelan namun pasti-dari meja Adit.

"Dik, dik bangun... Udah sore" aku menepuk pundak Adit pelan, ku goyangkan bahunya agar ia terbangun.

"Ya nek, aku sekolah... Sebentar, aku lagi mandi..." jawabnya lalu kembali mendengkur.

Lagi, aku menemukan sisi unik dari Adit. Sungguh konyol, dan membuatku ingin tertawa kencang.

"Dik, dik bangun... Kamu ga pulang?" ujarku yang terus mencoba membangunkannya. Walau ia tetap terlelap dan tak goyah dari posisinya.

Karena tak ada gerakan darinya, aku merapihkan buku-bukunya lalu mengangkat lengannya keatas. Memakaikan tas ransel pada Farel, merapihkan seragamnya lalu ku balikan tubuhku. Ku lingkarkan kaki dan tangannya pada pinggang juga leher ku.

Aku menggendongnya di punggungku, dan membawanya ke arah parkiran. Aku antarkan ia ke rumah Farel, karena aku tak mengetahui dimana letak rumah Adit.

Farel terkejut melihatku membawa Adit kerumahnya dalam keadaan tak sadar. Namun, setelah ku jelaskan dengan detail, ia paham jika Adit sedang berusaha keras menghapal materi ujian yang akan dilaksanakan besok.

-***-

"Kak, maafin aku waktu itu" Adit meminta maaf padaku, sambil menyodori ku mie rebus yang baru selesai di masak.

"Iya dik, ga apa-apa" aku tersenyum memandang wajahnya.

"Oh iya... Besok-besok kalo kaka liat aku ketiduran jangan bawa aku kerumah Farel lagi... Nanti dia kumat kaya sekarang" ujarnya menunjuk Farel yang mengintip dari dapur.

Terdengar suara pisau yang sengaja di ketukan kencang.

"Dimakan ka, mienya" aku kembali tersenyum memandangnya.

Di hari ketiga ini, ia terlihat nyaman. Tidak seperti hari pertama dan kedua kemarin.

Untuk seseorang yang introvert, Adit termasuk orang yang mudah berkomunikasi dan pandai mendekatkan diri. Karena setahuku, introvert termasuk pribadi yang keras dan sulit bergaul.

Ku perhatikan wajahnya, ia semakin menarik dari sebelumnya. Entah karena khayalan ku atau memang ia sangat menarik dan aku baru menyadarinya. Jelas terlihat, jika Adit memang junior yang unik.

-***-

Aku memutuskan untuk mengajaknya menonton konser band di taman kota, namun ia menolak dan lebih memilih menghabiskan waktu memandang pekarangan rumah.

Aku menuruti keinginan Adit, karena sejujurnya akupun tidak terlalu suka keramaian. Mengajaknya ke taman kota, hanya karena kawanku di tim basket memberi ku tiket konser-yang sangat disayangkan jika tak di tonton.

Sore ini, aku begitu terkesima melihat Adit yang mengenakan pakaian santai.

Kaus polos hitam ukuran sedang yang dipadu dengan celana pendek, menghilangkan kesan obesitas yang berlebihan.

Tanpa kacamata, Adit terlihat lebih manis. Aku dapat melihat matanya tersenyum ketika ia tertawa atau menggantungkan senyumannya.

Aku belum menyadarinya jika ia begitu menarik hingga hari ini.

-***-

Besok hari terakhir, yang harus ku habiskan dengan Adit. Semakin hari, semakin aku sulit jauh darinya. Aku yakin, aku menyukainya.

Aku sangat bersyukur saat Farel mendorongku. Karena ia memberiku kesempatan dekat dengan Adit. Kuputuskan untuk memberitahu perasaanku padanya, sekarang.

"Kakak suka ka..."

"Ah! Hujan!" aku terdiam, ku tatap matanya.

"Eh iya kakak ngomong apa?"

"Kamu ga akan pernah tau kalo aku suka kamu, karena aku bukan orang yang kamu suka"

"Itu..."

"Itu, temen kakak bilang begitu tadi pagi" aku diam, tetap memandangnya dan menarik nafas panjang.

"Orang itu, kayanya suka banget sama kakak" ia menunjukan mata tersenyum-nya padaku.

"Harusnya orang itu terus berjuang dapetin kak..." belum Adit menyelesaikan kalimatnya, Farel datang dan menarik tangan Adit.

Aku menahan Farel, mencoba menghentikan tarikan tangan Farel. Namun, usaha ku gagal. Adit sudah pergi dengan Farel yang menariknya.

Ku ikuti mereka ke arah parkiran, aku terkejut ketika Adit jatuh. Ingin aku memukul wajah Farel, karena ia membuat terluka orang yang aku suka.

Tapi, itu tidak mungkin. Aku masih tetap memandangi mereka hingga mereka berhenti di sebuah mobil.

Ya, ia tak akan pernah sadar aku menyukainya. Karena aku bukan orang yang ia suka.

Aku terlalu bodoh, karena menyukai orang yang sudah memiliki pasangan. Bodoh.

-Brama, Ich Liebe Dich, 2013-
-F.A Suprapto, @fhakubeton-

Selasa, 16 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-End

Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya yang semakin konyol. Ia harus menjalankan seluruh misi yang kuberikan padanya dalam satu minggu, karena ia kalah dalam pertandingan satu lawan satu.

-***-

Aku mengamati Brama dan Farel yang bertanding dengan sangat serius, tanpa ingin kejebolan nilai.
Aku menahan tawa melihat pertandingan ini. Brama yang tidak mengetahui apa-apa menjadi korban kejahilanku.

Sebenarnya aku yakin Farel akan memenangkan pertandingan ini. Karena, ia akan melakukan apa saja untukku.

Bukan aku sombong, tetapi Farel selalu membuatku merasa spesial. Saat pertama kali aku masuk sekolah, ia mendekatiku dan berbicara padaku. Saat aku di-bully oleh kawan-kawan satu kelasku, hanya ia yang membelaku.

Farel berteriak didepan kelas dan mengacungkan bogeman di atas kepalanya sembari memandangi seluruh anak laki-laki didalam kelas.

"Yang berani ngejek Adit selain gue, siap siap kena tampolan dari tangan gue"

Mulai dari situ tak ada murid yang berani mengejek ku, walaupun tetap ada beberapa anak yang mengejek karena berteman dengan Farel.

"Kak Brama! Jangan sampe kalah!" ujarku menyemangati Brama yang telah menguasai permainan.
Setengah jam permainan berlangsung, diantara mereka belum ada yang berhasil memasukan nilai. Mereka bermain tanpa memperdulikan cuaca yang sudah mulai mendung.

"Weh! Cepet masukin point! Mau ujan!" aku berteriak, mendengar teriakanku Farel sengaja mendorong Brama dan mengambil alih permainan.

Farel berhasil memasukan point dan melakukan seremoni kemenangan, membiarkan Brama yang terjatuh.
Aku menahan tawaku, lalu mendekati mereka.

"Oke, baiklah... Farel lu siap siap kena hukuman gue selama satu minggu" aku membantu membangunkan Brama, dan membawanya ke bangku yang tadi kami dudukki.

"Loh ko gue? Kan gue menang"

"Lu curang pe-ak!" Farel terdiam. "Udah ah, kalian harus pulang, mau ujan ini"

Brama merapihkan barang-barangnya lalu beranjak meninggalkan aku.

"Aku pulang dulu ya" aku tersenyum menjawab kalimat pamit Brama.

Farel mendekati dengan memasang wajah kesal menatapku.

"Apa? Mau gue tabok?"

"Galak amat lu ndut" protesnya.

"Gue udah yakin banget lu bakal menang, tapi bukan dengan cara curang... Kecewa gue" Farel terdiam, aku merapihkan barang bawaanku.

"Gue balik, mau ujan" tanganku ditarik Farel ketika aku hendak pergi meninggalkannya.

"Apa?"

"Balik bareng ya"

-***-

Aku masih tak sanggup menahan tawaku, Farel yang-katanya-memiliki-taraf-kegantengan-diatas-seribu-persen menggunakan pakaian cheerleader lengkap dengan pom-pom ditangannya.
Wajahnya ku rias secantik mungkin, agar menghilangkan kesan manly dari wajahnya. Aku menambahkan aksesoris tambahan untuk bagian kepala, dan tubuh.

Sungguh, aku tak dapat berhenti tertawa karena Farel. Brama yang berada disampingku pun tertawa lepas.
Namun, tawaku berhenti saat tangan Brama melingkar dipinggangku dan mendekatkan tubuhku padanya.
Wajahku memanas, aku tersipu.

Gerakan-gerakan lucu yang dibuat Farel tak dapat membuatku tertawa. Aku masih tersipu karena Brama mengeratkan pelukannya.

-***-

Suasana kantin saat ini begitu berbeda dari biasanya, terlalu tenang tidak ramai. Aku merenung, duduk di salah satu bangku yang menghadap ke arah parkiran sekolah.

Suasana kantin yang tenang, dengan cuaca yang sejuk, membuatku semakin terbuai menikmati hembusan angin.

"Dik..."

Brama tersenyum didepanku, ia membawa sebuah kantung plastik putih yang berisikan kotak bekal makan siang.

"Makan bareng ya" tawarnya padaku, aku menggeleng.

"Ga kak, itu buat kakak aja"

"Loh, ini aku bikin bekalnya banyak... Jadi kita makan berdua ya" aku terdiam, aku tak mungkin menolaknya untuk kedua kalinya.

Ia duduk dihadapanku lalu membuka isi kotak bekal tersebut.

"Kakak buat mie goreng, tapi kebanyakan... Kita bagi dua ya"

Dengan sigap ia mengambil sendok dan garpu disamping kotak bekal, lalu menyendoknya dan menyodorkan ke arahku.

"Buka mulutnya" tawarnya sembari menggantungkan senyuman di wajahnya. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, memastikan tak ada seseorang dikantin.

"Ayo buka, mumpung masih hangat" ku buka mulutku dengan ragu-ragu.

Sebenarnya aku malu, namun karena aku tak enak untuk menolak perlakuan baiknya, aku menuruti keinginannya.

"Enak kan?" senyuman Brama kembali mengembang.

Aneh, baru seminggu ini aku mengenalnya, tapi perlakuan Brama padaku seperti kawan yang sudah berteman lama.

Tak jarang aku di buat lebih nyaman olehnya, bahkan ia suka memanjakan ku dan menraktir ku makan.

"Adit!" aku tersedak ketika Farel berlari sambil berteriak memanggil namaku.

"Ayo pulang, gue udah selesai beresin mobil" aku memandang wajah Farel heran, aku tidak berjanji untuk pulang bersamanya.

"Ayo! Gerimis ini"

"Sebentar dong, Rel... Adit lagi makan, lagipula baru mendung belum gerimis" Brama menatapku lalu memandang wajah Farel.

Entah kenapa dengan dua orang ini, aku yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.

"Buru pulang" tanganku ditariknya, membuat lutut ku membentur kaki meja dan menggoyangkan kotak bekal Brama.

"Rel..." Brama menarik lengan Farel, menatap tajam wajah Farel. Aku menahan rasa sakit dilutut dan kaki sambil mengamati wajah keduanya.

Takut terjadi apa apa diantara keduanya, aku memutuskan untuk mengikuti Farel dan meninggalkan Brama tanpa pamit.

Pergelangan tanganku di genggam Farel sangat erat, aku yakin ia sangat marah.

"Rel lepasin, sakit! Lu narik-narik pelan kek" aku meronta, Farel tak menghiraukan kalimatku dan terus menarikku.

"Farel!" aku berhasil melepaskan genggamannya, lalu aku jatuh terpeleset di permukaan tanah parkiran yang kasar. Celana seragamku robek dan betis ku terluka parah.

Aku menatap mata Farel dengan sinis.

"Pe-ak! Lu pulang sendiri sana!" ujarku ketika bangun dan mencari tempat duduk. Betisku linu, dapat kurasakan darah mengalir di kaki ku.

Farel terdiam, ia memandangku dengan wajah yang bersalah.

"Ndut, lu ga apa-apa?"

"Cih, lu pikir? Ini namanya ga apa-apa? Pe-ak! Lagian lu kenapa kali, kaya orang dikejer utang, pulang buru-buru"

"Sori, ndut" aku mengacuhkannya.

"Udah sono pulang, gue pulang sendiri!"

"Ga, lu pulang sama gue" ia membalikan tubuhnya, berjongkok di depanku.

"Mau buang aer lu?" tanyaku dengan nada yang sinis. Aku kesal dengannya.

"Naik ke sini, gue gendong lu" aku terdiam. "Buru mau ujan, gue ga mau lu sakit"

Aku tersipu mendengar kalimatnya, aku mengalungkan tanganku dilehernya. Tangannya menggenggam pahaku. Farel berdiri dan mulai melangkah dengan pelan ke arah mobil yang berada di depan.

"Maafin gue, ndut" ucapnya. Aku tersenyum pelan, ku sandarkan daguku di pundak Farel.

"Gue ga mau lu deket sama orang lain... Karena lu punya gue... Cuma punya gue..." aku tersipu. Dengan jantannya ia membawaku dipunggungnya, mengucapkan maaf hingga di depan pintu mobil.

"Sekali lagi... Adit, Ich Liebe Dich"

-to be continue soon-

Senin, 15 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-2

Aku kembali ke hari normalku, hari yang penuh dengan kejahilan dan ketengilan Farel. Farel sudah sembuh dari sakitnya,dan kini ia telah kembali ke kebiasaan lamanya-menjahiliku.

Semenjak kejadian lalu, aku memutuskan untuk menjauhinya. Entah kenapa, tapi aku takut berdekatan dengannya.

-***-

3 Hari Yang Lalu...

"Adit... Ich Liebe Dich" aku merasakan hembusan nafas ditelingaku, punggungku hangat, dan pinggang hingga perut ku rasakan ada yang memeluk.

Aku terkejut melihat pantulan tubuh Farel dicermin. Ku lihat ia menaruh kepalanya dipundakku dan terus berbisik pelan.

"Ich Liebe Dich... Adit"

Dapat kudengar nafasnya yang bersuara, suhu tubuhnya dapat kurasakan menembus kain bajuku. Sungguh hangat, sangat hangat.

"Re... Rel... Itu ar... Artinya apa?" aku tergugup, bingung apa yang harus ku lakukan.

"Adit, I Love You"

Haruskah aku ikut memeluk tangannya, atau mendorong tubuhnya. Aku sangat kebingungan.

-***-

Aku berusaha menjauh tanpa Farel sadari, walaupun sebenarnya aku tak ingin menjauhinya. Jujur, perasaanku pada Farel adalah sama seperti ia kepadaku.

Farel selalu ada disaat aku butuh ataupun tidak, dia selalu mencoba menghiburku dengan tingkah konyolnya, dan aku nyaman.

"Dit, ga istirahat?" salah satu kawanku membangunkan aku yang melamun.

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Nanti, gue ke kantin sendiri aja... Lagi ga enak body nih"

"Pasti kurang asupan vitamin F" kawanku duduk dihadapanku lalu menjajakan jajanan yang baru dibelinya dikantin.

"Vitamin F?" aku mengerinyatkan dahiku.

"Ya, vitamin Farel" aku membelalakan mataku, kami menahan tawa.

"Apa sih, please deh... Julukan dari mana lagi coba"

"Dari anak jurnal, lu ga tau? Lu jadi topik utama di mading loh, Dit" ia mengunyah makanannya dihadapanku.

"Topik utama?" ia mengangguk, aku mengedarkan pandanganku, membenarkan posisi kacamata lalu menatap wajah kawanku seksama.

"Header beritanya Adit yang ingin mencium Farel di UKS"  kacamataku hampir jatuh mendengar kalimat kawanku. Aku tertawa.

"Beneran? Kok bisa? Dapet darimana coba itu berita"

"Beritanya dari kakak kelas, terus yang gak kalah penting si Farel ngerespon berita itu"

"Apa? Apa?" aku penasaran, sekali lagi ku edarkan pandanganku memastikan jika tak ada siapapun didalam kelas.

"Farel bilang jangan salahin lu kalo lu mau cium dia, salahin muka dia yang kelewat ganteng" jawabnya sembari meneguk air minum miliknya. Aku tertawa keras, sangat keras.

Ku acungkan empat jempolku untuk Farel. Menggunakan kepercayaan diri dengan frekuensi dahsyat hingga orang lain lebih percaya omongan Farel daripada fakta.

Kawanku yang minum hingga memuncratkan air dari dalam mulutnya karena mendengar tawaku, dan ikut tertawa denganku.

Terkadang, Farel memang benar. Wajah bayinya membuat semua orang ingin mencium. Kecuali aku. Kadang pula, kepercayaan diri Farel membuatku tertawa keras seperti sekarang.

-***-

Bel panjang tanda jam pulang sekolah sudah berbunyi, seperti biasa aku tak pulang dan memilih duduk berdiam diri di taman yang menghadap ke lapangan basket.

Membuka buku catatan dan mempelajari ulang apa yang baru saja ku pelajari. Begini nasibnya jika aku menjauhi sang-artis-kelas-disekolahku.

Dulu, aku selalu dibantu Farel mempelajari semua pelajaran yang sulit ku terima. Farel tak pernah komentar tentang kebodohanku, ia mengajariku dengan telaten. Walau terkadang ia lebih suka membentak dan bermain emosi.

Ini konsekuensi yang harus aku jalani, karena keputusanku menjauhi Farel.

"Sendirian, dik?" aku menoleh ketika tangan seseorang menepuk pundak ku.

Aku tersenyum memandang wajah oriental dengan hidung dan senyuman yang menawan, Kak Brama.

"I... Iya kak, kakak latihan?" jawabku tersenyum. Ia duduk disampingku lalu menaruh tas ransel di dekat kakinya.

"Ga, Farel nantang aku maen basket satu lawan satu" aku mengangguk mengiyakan, jika sudah menyangkut Farel aku tak perlu bertanya kenapa atau ada apa lagi.

Sudah jelas pasti Farel yang memulainya, dan aku tak ingin ikut campur lebih jauh dengan semua masalah yang Farel buat.

Aku amati tubuh kakak kelasku. Aku baru menyadari jika kakak kelasku ini memiliki tubuh yang lebih berotot dan berisi dari Farel.

Aku melanjutkan membaca buku catatan pelajaranku, sampai akhirnya bola basket melayang ke arah tanganku, menggoyangkan buku catatan dan mengenai wajahku.

Terdengar tawaan yang kencang dari arah lapangan tertawa. Tak perlu lagi aku menebak karena semua ini pasti ulah si-bodoh-artis-kelas-yang-memiliki-kepercayaan-diri-luar-biasa.

Aku berdiri dari tempat dudukku, berjalan ke arah Farel sambil membawa bola basket yang tadi mengenaiku. Setelah dekat dengan tubuhnya, ku lemparkan bola itu ke arah wajahnya. Namun, berhasil ditangkapnya.

"Dasar bodoh! Manusia bau ketek! Kegantengan! Tengil!" umpatku, "Muka gue sakit tau!"

Ia tertawa, menunjukan gigi yang berwarna putih didepanku.

"Jangan ngakak! Sialan lu!" ia menjulurkan lidahnya sebelum berlari meninggalkanku.

"Sialan lu! Sini lu!" ku kejar ia berkeliling lapangan hingga ia meminta maaf padaku dan duduk disamping tas ransel milikku.

Aku pun merasa lelah dan duduk diantara kak Brama juga Farel.

"Liat nanti, Rel! Besok lu jadi objek penderitaan gue" ucapku yang mengeluarkan botol minum dari dalam tas.

Ku lihat Brama hanya tersenyum memandangku, mungkin menurutnya pertengkaranku dengan Farel adalah acara komedi yang disiarkan secara langsung.

"Ah, gini... Gue denger dari kak Brama, kalo lu nantang dia satu lawan satu, gimana kalo tantangan itu gue kasih peraturan?" ujarku.

"Eh, maksud lu apa nih ndut?" Farel mengerenyitkan dahinya, lalu merampas botol minumku dan menenggaknya tak tersisa.

"Cih, liat si bodoh... Minuman orangpun asal ambil terus diabisin pula" ku dengar Brama tertawa mendengar celotehanku.

"Gini ya, diantara kalian, siapapun yang menang, boleh deket dan ngapain aja sama gue selama seminggu, dan yang kalah siap siap nanti"

"Siap siap gimana?" Farel memandangku.

"Siap siap jadi apa aja yang gue suruh!" aku menahan tawa, aku sudah membayangkan kedua laki-laki ini menjadi objek penyiksaanku.

"Deal! Yang menang boleh ngapain aja kan sama lu?" Farel dengan semangat berdiri dari tempatnya lalu memandang wajah Brama.

"Menurut lu gimana, Bram?" Brama terdiam.

"Kalo kakak ga suka, ga apa apa, tinggal bilang aja" ucapku, Brama hanya tersenyum.

Terkadang aku takut jika kakak kelasku ini mengidap autis stadium tinggi, karena hanya tersenyum saat menjawab pertanyaanku.

"Boleh, deal" lagi, Brama tersenyum ke arahku. Aku semakin yakin jika Brama bukan mengidap autis, tapi penyakit kejiwaan yang sulit dijelaskan logika.

Farel meninggalkanku dan Brama. Sebelum Brama bangkit, ku tarik tangannya dan memandang wajahnya dalam dalam.

"Kak, aku mohon... Menang ya, aku mau banget bikin si bodoh jera"

"Ya, tenang aja" dijawabnya dengan nada yang lembut.

"Oke, aku wasitnya! Inget ya, hadiahnya satu minggu kalian ngehabisin waktu bareng gue dan apa-apain gue!"

"Sip! Jangan nyesel kalo gue yang menang, Dit" jawab Farel.

"Gue jamin lu kalah, lu siap siap aja" jawabku. "Siap? Satu, dua... Tiga!"

-to be continue soon-