I'm back!
Yeay!
So follow my twitter : @fhakubeton
Or add me ass friends on fb : Fajjar Angga Suprapto
Dengan update-an terbaru yang akan saya bagi disini dan di wordpress ^^
#HappyBlogging
Just an ordinary blog with short story and fan fictions inside
I'm back!
Yeay!
So follow my twitter : @fhakubeton
Or add me ass friends on fb : Fajjar Angga Suprapto
Dengan update-an terbaru yang akan saya bagi disini dan di wordpress ^^
#HappyBlogging
"Bu..." aku mendekati ibu yang sedang mencuci piring, aku berdiri disampingnya.
"Ya, kenapa?"
"Boleh aku kembali ke ibukota?" kulihat ibu terdiam sesaat, lalu kembali mencuci piring.
"Boleh bu?"
"Untuk apa? Mendapatkan kembali apa yang telah kau lepaskan?"
Aku terdiam. Ibu memandangku, lalu mengeringkan tangannya dengan lap disamping westafel.
"Sudah sadar dengan apa yang kemarin telah kau lakukan?" aku masih diam.
Ibu melangkah ke meja makan dan membersihkan sisa kotoran makanan yang tertinggal.
"Ibu lelah berperan, nak... Peran ibu terlalu aneh, ibu harus berpura-pura menerima Noval meski kau mengetahui betapa bencinya ibu pada Noval, belum lagi dengan wanita yang mengaku ibunya Angga" ibu terdiam sesaat, memandangku, lalu kembali merapihkan meja makan.
"Ibu tak ingin lagi berpura-pura, kau meminta restu ibu untuk berhubungan dengan Angga dan ibu sudah merestui kalian, tapi kenapa kau begitu bodoh, nak" aku membisu mendengarkan ocehan ibu.
"Dengar, andai saja kau hanya membawanya kemari tanpa memiliki rencana untuk membuat Angga dan Noval berbaikan, mungkin kini Angga membantu ibu merapihkan meja makan ini" ibu melangkah ke arahku, memandangku lekat-lekat.
"Ibu sudah tua, ibu banyak kekurangan, ibu tak ingin mengatur jalan hidupmu, jadi..." ibu mengusap wajahku.
"Izinkan ibu fokus beristirahat, menikmati masa tua yang orang lain katakan indah..." ibu mencubit pipi, hidungku lalu mengecup keningku.
"Sudahlah, ibu harus mengurus adikmu, lakukan apa yang ingin kau lakukan" ucap ibu sambil tersenyum padaku sebelum pergi melangkah ke ruang tengah.
Hatiku teriris mendengar kalimat ibu. Aku benar-benar merasa bersalah.
Aku baru mengetahui kekesalan ibu, jujur saja, saat aku mengatakan rencanaku pada ibu tentang Angga, ibu merespon dengan baik. Bahkan saat Noval ku kenalkan melalui fotoㅡsebelum Noval datang kerumah, respon ibu pula biasa saja.
Aku memaksa ibu untuk menerima Noval, aku juga memaksa Angga untuk berbaikan dengan Noval, tapi aku tak pernah berpikir perasaan mereka yang terpaksa.
Konyol. Aku begitu idiot.
Aku seakan terjerumus dilubang yang begitu dalam. Aku tak dapat naik keatas setelah masuk ke dalam.
Astaga, aku benar-benar bodoh.
-***-
"Kak, kak, kak Angga lagi apa ya? Joan kangen kak Angga" aku membelalakan mataku mendengar ocehan Johan yang duduk diatas pangkuan pahaku.
Matanya berbinar, memohon padaku agar menjawab pertanyaannya.
"Johan kangen?" tanyaku balik.
"Ya, Joan mau main lagi sama kak Angga" aku terdiam, aku memandang wajah Ressa yang menatapku dari kejauhan.
Ressa hanya tersenyum.
"Ya udah, nanti kakak bawa kak Angga main kesini" ujarku lemas.
"Jangan boong ya, awas aja" ancam Johan. Aku tersenyum, mengangguk mengiyakan.
"Johan, udah malem sayang, bobo yuk" terdengar suara ibu dari arah belakangku.
"Ya bu!" jawab Johan dengan nada riang.
Johan berdiri lalu berlari ke arah ibu dan memeluknya. Ibu melangkah ke arah kamar Johan dengan menggendong Johan didadanya.
Ku lihat Ressa menahan tawa, lalu bergerak ke arahku dan duduk disampingku.
"Belum melepas topeng, kak?" tanya Ressa.
"Topeng apa?" Ressa terkekeh.
"Kenapa kau jawab ya sementara aku yakin kau tak akan mungkin sanggup membawa Angga"
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Aku bukan Johan yang polos, kak. Aku Ressa, yang sudah memiliki kartu tanda penduduk, kau harusnya paham itu"
"Lalu?"
"Kau bodoh kak..."
"Apa maksudnya?"
"Kau seharusnya mendengar kalimatku dan melepas topeng mu, tak malukah jika kau nanti harus berbohong lagi pada adikmu?" aku terdiam.
"Untuk sekarang mungkin kau akan berkata jika Angga seperti ini, seperti itu pada Johan, tapi lihat nanti, Johan akan menuntut janji mu dan pasti memaksamu untuk mempertemukannya dengan Angga"
"Tapi..."
"Ada pengaruhnya, meski Angga bukan anggota keluarga tapi Johan sudah menganggap jika Angga bagian dari hidupnya" mataku terbuka lebar, Ressa seperti dapat membaca pikiran ku.
Kalimat-kalimat yang diucapkan adik perempuanku ini, seperti menjawab pertanyaan dalam benakkuㅡwalau aku tidak mengatakannya.
"Kau lebih jauh dewasa dariku, pahami kalimatku, meski sebenarnya aku tertekan karena kakak ku satu-satunya memilih laki-laki daripada perempuan" Ressa tersenyum pelan, lalu berdiri.
"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, dan mungkin memang inilah yang terbaik" Ressa melangkah meninggalkanku.
"Tidurlah, walau aku yakin kau tak akan mungkin bisa terlelap" ucapnya sebelum benar-benar menghilang.
Terdengar gelak tawa dari televisi mengisi kesunyian ruang tengah, sementara aku membisu memandang kosong televisi dihadapanku.
-TBC-
Aku tak berhenti menatapi langit malam, dan mulutku terus mengucapkan kalimat penyesalan. Aku sungguh bodoh.
Semua hal yang kurencanakan hancur begitu saja, tanpa ada satupun yang berhasil.
Andai saja hari ini dapat terulang, aku tak akan membiarkan Angga pergi dari hidupku. Akan ku tahan Noval, dan menyuruhnya pergi tanpa membawa Angga.
Aku benar-benar menyesal.
"Apa yang kau sesali?" aku membalikan tubuh, dan mataku terbuka lebar.
Angga masih disini! Angga masih ada disini!
"Apa yang kau sesali?" tanyanya lagi, ia mendekatiku lalu ikut duduk di kusen jendela bersamaku.
Matanya memandangku. Mata besarnya seakan menelanjangiku, ia seakan menyalahkanku atas apa yang terjadi tadi siang.
"Apa yang kau sesali?" tanyanya lagi.
Jantungku berdegup kencang.
"Tak ada..." Angga terkekeh.
"Kau tak pandai menyimpan kebohongan, kurang puaskah kau membuatku menangis kemarin?"
"Aku... Aku tidak..."
"Katakan padaku, apa yang kau sesali?" ia memotong kalimatku.
Aku menghela nafas. Angga benar, aku tak pandai berbohong. Aku pecundang, tak berani mengakui jika aku salah.
Mataku memanas, dadaku terasa sakit dan sesak, jantungku berdegup kencang, aku tak sanggup lagi menahan air mataku.
"Aku... Menyesal dengan yang baru saja terjadi" ucapku.
Air mataku menetes.
"Kenapa kau tak menahan ku? Kenapa kau tak meminta Noval untuk membiarkan aku disini? Kenapa kau membiarkanku pergi darimu? Kenapa..."
"Ku mohon... Berhentilah..." ucapku memotong Angga yang terus bertanya.
Mataku terpaku menatapnya. Ia terdiam, lalu ia berdiri dan merebahkan diri diatas kasur.
"Kau pecundang, pengecut dan bodoh..." jantungku seakan remuk saat mendengar kalimatnya.
Angin malam berhembus kencang, sementara air mataku mengalir semakin deras.
Angga, kau benar. Aku memang pecundang. Aku ingin menjadi sepertimu yang tak takut akan resiko apapun yang kau ambil, tetapi aku tak sanggup. Aku tak bisa.
Kau paham jika aku lebih menyukai zona aman dibanding mengambil resiko. Kau benar, aku begitu bodoh. Sangat bodoh.
Maafkan aku.
-***-
"Kak, kau tidak pergi?" pertanyaan Ressa membangunkanku yang termenung didalam kamar.
Ressa berdiri di ambang pintu, memandangku yang duduk di atas kasur.
"Pergi? Kemana?"
"Mengejar cintamu..." ucap Ressa yang berjalan mendekatiku.
"Dulu, kau menasihatiku mengenai cinta yang kurasakan, bolehkah aku menasihatimu sekarang?" Ressa duduk dihadapanku. Rambut panjangnya tergerai indah, Ressa terlihat cantik siang ini.
"Semalam, siapa yang kau tangisi? Kau mengira Angga masih disini?"
Aku diam.
"Aku tak sengaja memergoki mu yang terisak, dan berulang-ulang memanggil Angga, do you love him, right? Kejar cintamu, untuk apa kau disini merenungi kesedihan yang entah kapan akan selesai" aku terdiam. Pipiku seakan ditampar oleh Ressa.
Ressa benar, kenapa aku berdiam diri?
"Ingat kalimat tadi, yang aku ucapkan? Kau berkata hal yang sama padaku, dan aku mengingatnya sampai sekarang. Semoga kau sadar dengan kalimat itu, karena aku langsung tersadar saat aku mendengar nasihat mu" Ressa tersenyum.
"Aku memiliki kakak yang tegar diluar namun rapuh disini..." tangan Ressa menunjuk dadaku.
"Berhenti berpura-pura, karena orang lain lelah melihatmu yang berpura-pura" Ressa berdiri, lalu melangkah keluar kamar.
"Semangat, semoga kau dapat mengejar cintamu" ucapnya.
Aku tersenyum.
"Johan! Itu rok sekolah kakak!" ku dengar Ressa berteriak sebelum pergi meninggalkan ku yang
membisu.
"Johan nakal ya, awas aja kalo minta es krim" masih terdengar suara Ressa yang berteriak, sedangkan aku membisu.
Setelah malam tadi aku membayangkan Angga yang masih ada disini, kini aku merasa tubuhku dihajar oleh Ressa.
Semua yang Ressa ucapkan benar. Aku terlalu nyaman mengenakan topeng kepura-puraan, hingga tak sadar jika aku menginjak tanah.
Aku sudah terbang tinggi dibawa angin kencang.
Astaga, kenapa aku begitu bodoh.
-TBC-
Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Illustration : Source.
Label : ABEnt.
Synopsis
"Lalu, harus ku panggil kau, siapa?" ku lihat ia terdiam.
Matanya menatap tajam wajahku.
"Baiklah, ku panggil kau, Angga" aku tersenyum. Dia membuka matanya lebar.
"Kenapa kau begitu baik padaku?"
Aku mendekatinya, lalu duduk disampingnya.
"Baiklah, Angga" aku tak menjawab pertanyaannya.
"Aku Daniel, jadi... Jangan sungkan memanggil namaku" lanjutku.
Angga terdiam. Dia berdiri lalu mengambil bungkusan rokok dari kantung celananya.
"Rokok?" aku terdiam.
Sungguh, orang yang sangat unik.
-***-
"Daniel..."
"Ya?"
"Culik aku... Bawa aku ketempat yang orang lain tidak mengetahuinya... Ku mohon" terdengar suara yang bergetar dan isakan di ujung telepon.
"Ada apa denganmu?"
Angga terdiam, isakan tangisnya menjawab pertanyaanku.
"Hey... Tenangkan dirimu..."
Masih terdengar isakan disana.
"Aku... Lelah..."
Panggilan terputus. Aku terdiam, banyak pertanyaan mengisi benakku. Apa yang terjadi dengannya?
Angga, jangan membuatku khawatir.
Copyright of ABEnt, do not copy without author permission.
2014©Angga, is Still My Name.
Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih untuk paha pembaca, oke maksud saya para *gigit tembok* yang sudah setia membaca tiap artikel yang saya buat.
Banyak pertanyaan yang masuk ke email dan bbm saya (email saya untuk menanyakan pin bbm) mengenai cerita Angga is My Name.
Saya masih simpan beberapa pertanyaan dari para pembaca yang memang setia mengunjungi blog ini.
Q : Sebenernya tujuan blog fhakubeton.blogspot.com ini apa?
A : Tujuannya hanya untuk menghibur para internet surfer yang hobi membaca artikel-artikel pendek atau panjang. Tapi, dulu sebenernya blog ini cuma buat jadi tempat curhat saya, namun setelah saya pikir lagi dan karena sangat menggelikan, jadi saya memutuskan mengalih-fungsikan blog ini menjadi blog publik yang HANYA menyajikan cerita yang asli dari pemikiran saya sendiri.
Q : Sempat berpikir untuk membuat buku dengan isi cerita dari blog ini?
A : Pernah, tapi saya belum berani dan belum mengetahui proses membuat buku.
Q : Pernah membuat cerita yang di post dimedia sosial yang lain?
A : Dulu, waktu saya masih sekolah, saya sering membuat cerita dicatatan facebook lalu setelah itu saya mencoba menulis fan fiction yang bagikan di akun twitter (yang sekarang udah deactive).
Q : Untuk tema yang sering dibuat kebanyakan Yaoi/Boys Love/Gay, apa alasannya?
A : Entah, saya hanya mengandalkan imajinasi saya membayangkan bagaimana dua orang pria memadu kasih.
Q : Ada alasan lain? Atau memang anda senang melihat pasangan sesama jenis?
A : Pertanyaannya sedikit memojokkan ya, saya memiliki banyak kawan yang memang menyimpang tapi saya tidak melecehkan, mencemooh, mencaci atau menyumpahi mereka. Saya orang yang terbuka dan dapat menerima perbedaan, jadi alasan saya membuat cerita yang mengandung tema seperti itu hanya untuk membuat pembaca sadar akan perbedaan yang kini terlihat dimana-mana. Saya hanya ingin memberitahu pembaca jika orang seperti itu jangan di jauhi, pelajari mereka dan bimbing mereka.
Q : Untuk kisah Angga, is My Name, anda mendapat ide darimana?
A : Sekarang ini, banyak kisah kisah sejenis yang tersebar di dunia maya. Ide ini saya dapat dari nama saya sendiri, lalu saya gabungkan dengan beberapa cerita nyata dari sekitar saya.
Q : Setelah saya baca, (untuk kisah AIMN) banyak pertanyaan yang memenuhi otak saya. Dan saya sedikit kecewa karena masih banyak teka-teki didalam kisah itu namun anda memutuskan untuk menyelesaikan kisah itu. Ada rencana untuk membuat sekuel selanjutnya?
A : Sebenarnya, saya sudah merencanakan untuk membuat trilogi dari Angga, is My Name. Tapi, sepertinya tidak jadi. Karena, saya sudah terlanjur membuat sekuel kedua dari AIMN dengan sudut pandang berbeda juga lebih sederhana tanpa teka-teki yang ribet. Mungkin lebih pantas disebut series daripada trilogi.
Q : Saya juga sempat membaca artikel lain di sini, banyak juga orang yang meminta anda untuk membuat fan fiction, bagaimana caranya untuk meminta anda membuat fan fiction?
A : Sebenarnya, kalau saya boleh jujur, ada beberapa fan fiction yang hingga sekarang belum tuntas. Tapi, kalau ingin meminta saya membuat fan fiction dengan alur, dan unsur cerita yang saya atur boleh email saya di Fhakubeton@gmail.com atau melalui DM Twitter (klik link di kata Twitter) pribadi saya. Kalaupun ingin merekues via pin bbm bisa invite saya (Email saya untuk meminta pin, saya hanya menyimpan pin yang memang dapat diajak bertukar pikiran atau mengobrol, bukan hanya sekedar untuk memenuhi kontak pertemanan).
Q : Bisa sedikit memberi bocoran tentang kisah yang akan dibuat selanjutnya?
A : Sebenarnya saya mau mulai project saya bersama sahabat saya Alnurf yang berjudul The Promise awal mei nanti, tapi kalau pribadi saya sendiri, saya mau buat cerita yang bertema horor, fantasi dan komedi, entah cerpen atau fan fiction.
Tetapi, kalau untuk kisah AIMN saya belum bisa kasih bocoran. Maaf.
Tadi malam juga saya membuka open question buat pembaca, biasanya saya buka open question dari jam 00.00 sampai selesai. Tapi, terkadang saya open question di saat saya sedang renggang.
Kalaupun memang pembaca ada yang ingin memberi saran/kritik atau ingin sekedar berbincang-bincang dan semisalkan ingin merekues cerita bisa hubungi saya :
Facebook : Fajjar Angga Suprapto
Twitter : Fhakubeton
Email : Fhakubeton
Whatsapp/Line/BBM bisa tanya melalui email.
Untuk kpopers juga yang mungkin ingin berbagi suka duka atau ingin membagi sharingan sebagai fanboy/fangirl, boleh mengobrol dengan saya.
Atau ingin mendengarkan kegalauan saya karena TIDAK DAPAT MELIHAT 2NE1 AON *maaf nyolot* boleh juga mengobrol.
Terima kasih :)
감사합니다 :)
Thanks :)
Regards
-Author-
"Siap?" Noval menepuk pundakku. Aku berdiam diri di ambang pintu sembari memandang jalan raya.
"Ya... Mungkin memang saatnya aku yang mengejar jawaban..." Noval diam.
"Noval... Maksudku, kak..." Noval tersenyum.
"Ya? Panggil nama juga tak apa, aku paham kau belum memaafkan ku" aku tersenyum.
"Kak, sebenarnya... Siapa wanita yang kemarin ke sini..."
"Dia? Bukan siapa-siapa, dia hanya orang lain" aku memandang Noval.
"Orang lain? Apa tujuannya kemari? Lalu kenapa kau memanggilnya ibu? Wanita itu ibu mu?"
"Percayalah padaku, dia bukan siapa-siapa, lagipula aku memanggilnya ibu karena aku merasa tidak sopan jika memanggil orang itu bukan ibu"
Alasan yang logis.
"Sudahlah, persiapkan dirimu, setelah pementasan usai, kita harus pulang"
Aku menghela nafas.
"Ya, baiklah"
Aku melangkah masuk ke dalam kamar. Mengambil perlengkapan ku lalu kembali ke teras sambil menggantungkan ransel di punggung.
"Tunggulah dalam mobil, sudah ada ibu dan adik-adik Daniel" ucap Noval.
"Lalu, kakak?"
"Aku menyusul, aku harus menunggu mobil travel yang nanti datang ke sini" aku mengangguk.
Aku melangkah masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping adik Daniel yang termuda.
Johan mengajakku bercanda, aku meladeni Johan hingga Daniel datang dan mulai menyalakan mesin mobil.
Sepanjang perjalanan aku terdiam, meski Johan mengajakku bermain.
Otakku terisi penuh dengan hal yang seharusnya tidak aku pikirkan. Kepalaku terasa begitu panas, rasanya seperti ingin meledak.
Astaga, apa yang harus ku lakukan.
-***-
"Kakak!" Ressa berteriak dan berlari mendekati Daniel setelah kami sampai di lahan parkir sekolah.
Ressa menarik-narik tangan Daniel lalu mengajak yang lainnya untuk segera memasuki aula. Terlihat jelas, wajah gembira Ressa.
"Pentas sudah mulai, untung saja ibu tepat waktu" ujar Ressa dengan nada gembira.
"Aku sudah menyiapkan tempat duduk untuk kalian, kalian dapet tempat di depan" lanjutnya.
Aku, Daniel, ibunya dan adik-adik Daniel memasuki ruang aula yang sangat besar dan luas, pertunjukan sudah berjalan tapi aku rasa kami belum tertinggal jauh dari jalan cerita.
Kami fokus melihat pementasan, setelah kami menduduki kursi yang sudah di pesan.
Entah bagaimana pendapat dari anggota keluarga Daniel, tapi aku benar-benar merasa tersanjung. Ressa dan kawan-kawannya mampu melakukan peran mereka masing-masing dengan baik.
Dengan latar belakang dan pengaturan tempat yang benar-benar terlihat seperti nyata. Mataku disuguhi sebuah drama yang sangat memukau.
Aku sedikit terkejut saat Ressa bermain nakal dengan peran utama, Ressa benar-benar doing out of the box. Ressa benar-benar memiliki keahlian berperan yang hebat.
Ressa dapat memainkan nada bicaranya, mengikuti teks dalam dialog. Lawan mainnya pula benar-benar cerdas mengatasi kekurangan diri, hingga tak ada cacat sedikitpunㅡmenurutku.
Mataku tetap tak dapat menutup saat ada bagian tertentu diselingi musik yang dimainkan secara langsung. Para pemeran juga pandai menyiasati kekurangan satu dengan yang lain.
Aku takjub mendengar suara para pemeran yang bernyanyi secara langsung. Merdu, dan terdengar begitu indah.
Aku menangis saat Ressa bernyanyi sebuah lagu favorit ku dengan suara yang begitu merdu, sebuah lagu yang memang diperuntukan seseorang.
Tangisan ku belum berhenti, dan semakin menjadi saat perpisahan kedua tokoh utama. Aku benar-benar tenggelam dalam broadway yang dibawakan Ressa dan kawan-kawan.
Kami semua bertepuk tangan saat pentasㅡyang berjalan satu jam penuh, selesai.
Beberapa orang melakukan standing applauseㅡtermasuk aku, dan berteriak meminta adegan tambahan. Aku tersentuh.
Hati kecilku tersentuh. Aku menangis sejadi-jadinya.
"Terima kasih..." ucap Ressa menggunakan mikrofon setelah para penonton berhenti bertepuk tangan.
"Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada pihak sekolah yang memberikan kesempatan pada kelas saya untuk memeriahkan ulang tahun sekolah" lanjut Ressa.
"Saya juga ingin berterima kasih pada pihak yang telah turut membantu hingga suksesnya broadway yang saya dan kawan-kawan bawakan"
Suasana menjadi hening, hanya terdengar gema suara Ressa.
"Saya juga ingin berterima kasih pada kak Angga..." Ressa menunjuk ku.
"Pak, boleh saya panggil kakak saya? Saya ingin memberikan sesuatu sebelum kakak saya pergi" ucapnya, yang bertanya pada guru di depannya.
"Kak Angga, boleh naik?" aku bangkit dari duduk, lalu berjalan menaiki tangga panggung dan berdiri di samping Ressa.
"Ide cerita ini dibuat oleh kak Angga, tanpa bantuan kak Angga dan ide ceritanya mungkin kami akan membawakan cerita pangeran kodok, karena jujur saja, saya dan kawan-kawan sudah benar-benar tak memiliki ide cerita sebagus kak Angga" aku menahan senyum. Aku memperhatikan Ressa yang memandang ku sembari tersenyum.
"Sebelum kakak pergi, ada sesuatu yang harus Ressa katakan..." suasana semakin hening.
Ressa mengeluarkan selembar kertas dari kantung bajunya.
Ressa membacakan sebuah puisi dengan nada bergetar.
"Angga, entah apa yang membuat mu begitu spesial di mata ku... Kau begitu lugas, lantang, dan polos... Kau terlalu sempurna untuk menjadi insan biasa... Angga, ingatkah saat kau mengucap janji jika kita akan hidup bahagia? Ingatkah kau berjanji jika kita akan terus bersama? Ku mohon, jangan tinggalkan aku... Aku mengakui aku munafik, aku mengakui jika aku pecundang. Tapi kau, menyemangati ku dengan sepucuk surat yang kau beri sebelum aku pergi... Karena mu, aku menjadi pemberani, karena mu aku menjadi pemaksa, karena mu aku sadar kau memang orang yang aku sayang..." Ressa menangis. Begitupun aku.
"Kak..." Ressa memandang ku, setelah melempar lembaran kertas yang dibacanya tadi.
"Kenapa kakak datang dan pergi begitu cepat... Aku senang saat pertama kali melihat mu datang di tengah kebahagiaan keluarga, aku senang melihat mu bercanda dengan keluarga ku, tapi... Kenapa kau tega meninggalkan aku yang belum pernah kau ajak bermain?" suara Ressa sangat lembut, ia menyembunyikan tangisan di tengah puisi dadakan yang ia katakan.
"Jangan pergi, tinggalah meski hanya untuk 5 detik..." Ressa menunduk.
Ressa mengalihkan pandangannya ke arah penonton.
"Aku tak malu, sama sekali tidak malu, jika aku harus menangis di depan ratusan bahkan ribuan penonton untuk mengemis padamu agar kau tidak pergi... Aku belum dapat memberikan apa-apa padamu, tapi kenapa kau memilih ego mu sendiri untuk mencari kesenangan sementara dibanding bercengkrama dengan keluarga?" Ressa mengamuk.
"Tapi... Aku sadar... Itu dunia mu... Kau memiliki hak untuk memilih jalan mu, dan akupun pasti akan melakukan hal yang sama seperti mu..." Ressa memandang ku.
Ia mengeluarkan sebuah kalungㅡperak panjang yang sangat mengkilau.
"Aku belum dapat memberikan apapun selain kalung ini... Dan prestasi ku sebagai adik mu yang mampu merealisasikan drama yang kau buat..." aku terisak, begitu pula Ressa.
Ressa mendekati ku, ia memasang kalung yang ia persiapkan dileherku. Tangisanku menjadi-jadi.
Ressa memeluk tubuhku sangat erat.
"Dan aku... Hanya dapat memberikan kenangan terindah ini..."
Ressa mulai bernyanyi, diiringi petikan gitar akustik yang dimainkan oleh kawannya.
Sebuah lagu favorit ku, yang sering aku nyanyikan jika aku sedang merindukan seseorang.
Suara Ressa bergetar, ia tak dapat lagi menyembunyikan tangisannya.
Saat aku memeluk Ressa untuk menenangkan dirinya, terdengar suara kawan-kawannya yang ikut bernyanyi.
Ressa memelukku lebih erat, dan ia mengecup pipi ku.
"Terima kasih kak..." bisiknya.
Ressa, harusnya aku yang berterima kasih padamu.
-***-
Aku berjalan berdampingan dengan Daniel, diikuti ibu dan adik-adik Daniel. Aku puas, menyaksikan sebuah drama yang sempurna.
Beberapa guru ditemani Ressa menjabat tangan ku, mengucapkan terima kasih dan memuji cerita yang ku buat.
Bahkan aku sempat di dekati oleh orang tua murid yang bekerja di bidang produksi perfilman, dan ditawari membuat naskah skenario namun aku menolaknya.
Aku bangga, Ressa dan kawan-kawannya mampu membuat ku menangis terharu.
"Ibu, tunggu aku dan Angga di dalam mobil, ada sesuatu yang harus aku bicarakan pada Angga" kata Daniel yang lalu menggiring ku ke tempat yang lebih sepi.
Aku menatap mata Daniel yang sembap sama seperti ku.
"Terima kasih..." Daniel menyalami tangan ku. Seakan ia baru bertemu dengan ku.
Kami terisak, tersedu-sedan. Saling menyembunyikan tangisan.
"Terima kasih, kau menyadarkan aku" Daniel memelukku erat.
"Aku masih pecundang, aku masih bodoh, aku masih seperti anak kecil... Maaf... Maaf..." bisiknya pelan.
"Terima kasih, sudah menyukai ku... Terima kasih sudah menyimpan rasa sayang mu untuk ku... Terima kasih... Sungguh, maafkan aku"
"Hentikan, Daniel..."
Daniel melepas pelukan, menatap mataku dalam-dalam.
"Jaga kalung yang aku titipkan pada Ressa, ingatlah aku..." aku tersenyum, di tengah tangisan ku.
"Ini yang aku takutkan, aku terkena karma... Tapi, aku bersyukur karena kau sendiri yang memberikan karma padaku, aku mencintai mu, sungguh..." air mataku kembali mengalir jatuh.
Kami bertatapan, Daniel mengusap pipiku. Wajahnya mendekat, hembusan nafasnya mengenai philtrumㅡcelah antara hidung dan mulut ku.
Aku memejamkan mata.
"Sungguh, aku mencintai mu" ucapnya, setelah mencium bibir ku lembut.
-***-
Meski aku tak ingin pergi, ada sebuah keadaan yang membuatku harus pergi dari sini. Meninggalkan Daniel dan keluarganya.
Aku harus mencari jawaban, aku harus mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku harus paham mengenai diriku sendiri. Sepahit apapun, aku harus menerimanya. Karena ini sudah jalan hidupku.
Jalan hidup Angga, yang mencari kebenaran.
Angga, adalah namaku.
-end-
28일04월2014년
Author
Aku keluar dari kamar saat mendengar suara bising dari ruang tamu.
Siapa yang bertamu hingga tertawa sekencang ini?
Meski siang hari, pantaskah tamu yang berkunjung tertawa terbahak-bahak seperti itu?
Aku sengaja duduk di ruang keluarga, mencoba mendengarkan pembicaraan di ruang tamu.
"Jadi, Noval sama Dimas ada disini bu?" terdengar suara perempuan yang bertanya.
"Kalau Noval memang disini, tapi kalau Dimas..." aku yakin kali ini ibu Daniel yang berbicara.
"Kalau Dimas kenapa bu?"
"Ga, begini, ibu itu siapanya Noval ya?"
"Boleh di panggil Novalnya? Biar jelas" jawab perempuan itu.
"Sebentar ya bu" aku memandang wajah ibu Daniel saat memasuki ruang keluarga.
Ibu Daniel membisiki ku menyuruh ku untuk bersembunyi dan mengunci kamar.
Aku terdiam, saat aku bertanya kenapa, ibu Daniel terdiam.
Aku menuruti ibu Daniel, namun saat aku ingin melangkah masuk ke dalam kamar, terdengar suara perempuan yang memanggil.
"Dimas?" aku menoleh.
Mataku terbuka lebar melihat tamu yang berkunjung.
Seorang wanita paruh bayaㅡseumur dengan ibu Daniel, berdiri memandangi ku. Wanita berambut bob yang mengenakan pakaian modis dengan warna serasi mendekatiku lalu memeluk ku erat.
Aku tak dapat berkata apa-apa. Ku lihat ibu Danielpun terdiam sama seperti ku.
"Nak, ini ibu, nak" perempuan itu mengusap pipi dan kepala ku.
"Astaga, ibu tidak menyangka, ibu dapat bertemu denganmu lagi" lanjutnya.
Lagi? Pernahkah aku bertemu dengan orang ini? Kapan?
"Ibu?" terdengar suara Noval.
Kami bertiga menengok ke arah belakang ku. Ku lihat Noval terdiam mematung, memandangi ku.
"Noval? Kenapa kamu ga pulang?" tanya wanita itu. Namun, berbeda dengan ku, wanita iniㅡyang sedang berdiri di hadapan ku, tidak memeluk Noval.
Apa yang terjadi? Siapa wanita ini? Inikah orang yang Noval sebut sebagai ibu?
Apakah ini mimpi? Kapan aku bertemu dengan wanita ini? Lalu, apa tujuannya wanita ini datang kemari?
Aku, Noval, dan ibu Daniel terdiam mendengarkan wanita ini mengoceh di ruang tamu. Mulai dari kesibukannya, hingga ia bercerita jika ia menyesal menyerahkan aku pada kawan wanitanya.
Wanita ini terus bercerita, sampai Daniel datang setelah menjemput Johan. Ibu Daniel pamit untuk mengurus Johan sedangkan Daniel berdiri terkejut melihat seseorang bertamu.
Aku langsung menyuruh Daniel masuk ke dalam kamar, meninggalkan Noval yang berbincang dengan wanita itu.
"Apa yang kau sembunyikan dari ku?" aku langsung menginterogasi Daniel setelah mengunci pintu kamar.
"Apa maksud mu?"
"Jangan berlagak! Aku yakin ini semua ulah mu! Mulai dari Noval hingga seseorang yang mengaku ibu kandung ku"
Daniel terdiam.
"Apa yang kau inginkan? Apa yang ingin kau ambil? Apa yang ingin kau ambil dariku?" aku mencerca Daniel.
Daniel tetap terdiam. Mataku menatap sinis Daniel.
"Jawab! Apa yang kau inginkan dari ku? Kau menginginkan aku? Sudah ku beri bukan? Lalu apalagi? Kau ingin aku berbaikan dengan Noval? Aku sudah berbaikan dengannya, apalagi?" aku membentak Daniel.
"Aku sudah meminta mu untuk jujur! Tapi kau belum memberikan itu padaku! Licik! Kenapa kau begitu menyebalkan!" aku mendorong tubuh Daniel.
"Hey, dengarlah... Aku bahkan tidak mengetahui hal ini... Aku hanya berencana..."
"Rencana? Kau merencanakan ini semua? Memang kau brengsek!" aku memotong kalimat Daniel.
Daniel mendekati ku.
"Seharusnya kau paham siapa aku! Aku pernah bercerita padamu jika aku tak memiliki orang tua, karena orang tua ku sudah meninggal! Dan semalam aku mengatakan jika aku pernah bertemu dengan orang tua kandung ku bukan? Seharusnya kau paham betapa bencinya aku pada orang tua kandung ku!" aku menatapnya.
Mataku memanas.
"Apalagi yang kau inginkan? Apa! Lebih baik kau bunuh aku sekarang! Daripada aku harus seperti ini karena mu! Ku pikir... Ku pikir kau belum berubah! Ku pikir kau masih Daniel yang dulu aku kenal, tapi ternyata kau berubah!" aku menunduk, aku tak tahan lagi. Aku menangis.
Aku menangis tersedu. Daniel, apa yang kau inginkan dariku?
"Hey... Tenangkan dirimu..." Daniel memelukku dari belakang. Aku meronta, melepas pelukan Daniel dari tubuhku.
-***-
"Angga..." aku memandang ibu Daniel yang duduk di samping ku.
Aku hanya duduk merenung di atas kasur sebelum ibu masuk ke dalam.
"Kenapa bu?"
"Apa rencana mu kali ini?"
"Entahlah..."
"Dengarkan ibu, temui orang ini... Bilang saja, kau adik ibu..." ibu Daniel menyerahkan selembar kartu nama.
"Ini untuk apa?"
"Orang itu... Sahabat ibu sejak kecil, jika kau ingin mencari tempat tinggal, temui saja dia"
Aku terdiam. Aku mengamati kartu nama yang diberi ibu.
"Besok, ikut ibu ke penampilan Ressa ya" ibu tersenyum.
Aku mengangguk.
"Ah ya, tadi ibu berbicara dengan Noval... Noval mengajak mu pulang... Setelah melihat penampilan Ressa, Noval sudah bicara padamu?" aku terdiam.
"Jangan lupakan ibu disini... Anggap ibu adalah ibumu sendiri"
Ibu Daniel memelukku erat.
"Aneh memang, tapi entah kenapa... Ibu merasa ibu dekat sekali dengan mu, seakan kau benar-benar anak kandung ibu..." ibu melepas pelukannya, lalu menatap ku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hidupmu... Mengapa begitu berat... Kau masih muda, ibu harap kau kuat menjalani semua ini..." ibu mengusap pipi ku, lalu mengecup kening ku.
"Rumah ini selalu ada untuk mu, jangan ragu jika ingin pulang kesini..." ibu menangis. Air matanya menetes dan jatuh melalui dagu.
"Ibu tidak tega... Perjalanan hidup mu begitu keras, ibu tak dapat membayangkan itu..." ibu terisak.
Mataku ikut berkaca-kaca.
"Sudahlah, kau harus beristirahat... Besok, Noval akan membawa mu pulang..." ibu kembali memeluk ku erat lalu melangkah keluar kamar.
Aku terdiam, ku putuskan untuk berbaring.
Noval mengajak ku pulang, Daniel merencanakan sesuatu, dan ibu menangisi kepergian ku. Apa yang terjadi sebenarnya?
Apakah hanya aku yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi?
Lalu siapa sebenarnya wanita itu yang mengaku sebagai kandung ku? Dan, kenapa Noval memanggil wanita itu ibu?
Aku butuh jawaban!
-To Be Continue-
"Apa yang kau sukai dari ku?" aku memandang wajah Daniel.
Daniel sibuk mengaduk bubur, lalu menyiapkan satu sendok penuh bubur untuk menyuapi ku.
"Kenapa kau begitu munafik?" ucapku lagi. Daniel diam, menatap wajahku.
"Aku tak mengetahui apa yang kau rencanakan, jadi jangan libatkan aku dalam rencana busuk mu itu" aku melahap suapan Daniel setelah berbicara. Daniel tetap tersenyum.
"Kenapa kau berbicara begitu?"
"Entahlah, tapi aku yakin kau merencanakan sesuatu" Daniel kembali mengaduk bubur, dan kembali mengambil satu sendok penuh bubur.
"Bagaimana kabar mu?" aku memalingkan wajah memandang pintu, Noval berdiri di ambang pintu sembari tersenyum.
"Angga baik-baik saja" jawab Daniel, aku terdiam.
"Benarkah? Sudah baikan?" aku mengangguk.
"Masuk kak" ujar Daniel.
Noval masuk lalu duduk disamping ku.
"Syukurlah kalau kau sudah baikan" Noval mengusap kepala ku, sembari menggantungkan senyumannya.
"Maafkan aku yang membuat mu kebasahan" ucapnya.
"Bukan kau yang harusnya meminta maaf, tapi orang ini yang harusnya minta maaf" ucapku setelah melahap suapan terakhir dari Daniel, sembari menunjuk Daniel.
Mereka berdua tertawa, aku menyandarkan tubuh di dinding.
"Jangan tertawa, aku serius"
"Hey, aku sudah meminta maaf" Daniel mengelak.
"Oh ya? Aku belum dengar"
"Dasar kau" Daniel tertawa sambil mencubit pipi ku.
"Hentikan, jangan memanjakan aku" ucapku.
Mereka kembali tertawa.
"Baiklah, aku kembali ke kamar, aku bersyukur kau sudah baikan" ujar Noval yang pergi meninggalkan kamar.
-***-
Aku terbangun di tengah malam, saat mendengar suara pintu yang terbuka. Aku membalikan tubuh, melihat Daniel mengunci kamar lalu menyalakan lampu tidurㅡyang sedikit remang setelah mematikan lampu utama, dan bersiap untuk berbaring.
Aku memandang wajah Daniel yang terkena cahaya lampu tidur. Daniel terdiam, ia menyandarkan punggung ke dinding kamar sembari matanya memandang jauh ke langit-langit kamar.
"Apa yang kau pikirkan?" Daniel menoleh.
Aku bangkit lalu duduk memandangnya.
"Aku memikirkan mu..."
"Kenapa aku?"
"Tidak..." Daniel memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kau berbohong" ujarku, aku menyandarkan kepala di paha Daniel.
Daniel mengusap kepala ku dengan lembut.
"Kau cerdas, kau sangat pintar... Tapi, kenapa banyak orang yang tidak menyukai mu..."
Aku terdiam.
"Ingat saat kau dan aku berdebat? Kau dipanggil oleh guru sosiologi dan masuk ke dalam kelasku"
"Ya aku ingat, kenapa?"
"Kau memiliki daya tersendiri, kau begitu cerdas dan pandai, bahkan guru sosiologi memuji mu karena opini opini yang kau keluarkan dan hanya aku yang menentang mu"
"Ya, kau begitu menyebalkan saat itu" Daniel terkekeh.
"Dimata ku saat itu, kau begitu mengada-ada saat menjelaskan prilaku penyimpangan seksual"
"Tapi kini kau menyimpang, Daniel"
Kami terdiam, tangan Daniel masih mengusap kepalaku.
"Ya, inilah aku... Aku tak pernah menduga jika kau tak memiliki kawan di kelas mu, hingga akhirnya aku berkenalan dengan mu dan memutuskan untuk berteman denganmu"
"Lalu, kau menyesali semua itu?"
"Tidak, hanya saja..." usapan tangan Daniel terhenti, ia terdiam.
Ku dengar ia menghela nafas panjang.
"Kau hebat, meski kau murid baru di sekolah, tanpa kawan, tanpa orang tua, kau mampu menorehkan prestasi yang begitu banyak untuk sekolah, bahkan semua guru selalu membicarakan mu"
"Darimana kau mengetahui itu?"
"Pembimbing ekstrakurikuler membicarakan mu, karena hanya kau satu-satunya murid yang menjalankan test sendirian, tanpa siapapun"
Aku terdiam.
"Dengarlah, bagaimana kalau kau mengetahui kau masih memiliki orang tua? Apa yang akan kau lakukan pada orang yang mengaku orang tua mu"
Aku tetap diam.
"Kenapa tak menjawabnya? Apa kau akan membencinya seperti kau membenci Noval?" aku bangun, lalu memandang wajah Daniel yang terdiam.
Ku lihat mata Daniel berkaca-kaca, namun aku berpura-pura tidak melihatnya.
Aku berdiri lalu membuka jendela, segera aku mengambil sebatang rokok dan duduk di kusen jendela sambil mataku memandang halaman samping.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu?" tanyaku, aku mulai menghisap rokok.
"Tidak..."
"Tak mungkin, ada yang kau sembunyikan dari ku"
"Tidak..."
"Dengar Daniel... Aku memang tidak mengenal mu sejauh kau mengenal ku, mungkin kau juga sudah mengetahui jika aku masih memiliki orang tua... Tapi, aku mohon, jujur padaku, apa yang kau sembunyikan?"
Tanpa memandang Daniel, aku tetap menyulut rokok sembari menikmati hembusan angin malam.
"Kau juga mungkin sudah tahu, jika aku pernah bertemu dengan orang tua kandung ku, dan orang tua kandung ku tidak menganggap ku sebagai anak, jadi pertanyaan mu menurutku sangat konyol" Daniel terdiam.
"Lihatlah pada kenyataan, kau juga akan merasakan benci yang mendalam saat kau bertemu dengan orang tua kandung mu, kau pasti tak akan menganggap orang tua kandung mu, yang kau anggap sebagai orang tua kandung adalah ibu mu yang merawat mu" Aku sedikit menengok ke arah Daniel.
Ku lihat ia menunduk seakan menyesali sesuatu.
"Di dunia ini, tak ada yang indah... Kalaupun ya ada, kau akan menemukannya nanti disaat kau benar-benar paham akan hidup... Keindahan yang kekal adalah keindahan yang tak akan bisa tergantikan oleh apapun... Bahkan, kau akan menyadari keindahan yang kekal adalah keindahan yang muncul dari diri sendiri hingga kita mengucapkan kata syukur" terdengar isak tangis pelan di belakang ku, mungkin Daniel menangis.
"Sudahlah, kau harus beristirahat..." ucapku.
Daniel, apa yang kau sembunyikan dariku?
-To Be Continue-