Kamis, 27 Maret 2014

Angga, is My Name (Ep. 3)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.

Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author

Angga, is My Name (Ep. 3)
-***-

Aku terdiam sembari menyulut sebatang rokok, sedangkan Noval memandangiku geram.

"Sekarang kamu tahu apa sebabnya aku membenci tempat ini" bentaknya.

"Kekhawatiranku benar-benar terjadi malam ini! Ini sebabnya aku menyogokmu pemilik bar dengan barang kesayanganku" lanjutnya.

Aku mendengar ocehannya sembari fokus merokok.

"Dan kau... Semoga kau cepat mati karena rokokmu!" aku menghela nafas, aku mematikan rokokku dan membuangnya jauh dari tempatku duduk.

"Aku paham, semua itu hakmu! Kamu boleh kerja seperti ini, tapi bukan artinya kamu menggoda orang lain seenaknya!"

"Aku..."

"Jangan mengelak! Kalau bukan gara-gara kamu, siapa lagi! Orang tak akan mungkin menjadi liar kalau kamu ga mulai liar ke dia!"

Ku tundukan wajahku, sia-sia jika aku terus membela diri.

"Maaf..."

"Beresin perlengkapan kamu, kita pulang!"

-***-

Aku menarik nafas panjang. Untuk sekarang Noval terdiam, dan fokus menyetir.

Aku ikut terdiam, pikiranku melayang jauh membayangi wajah Daniel.

Daniel, aku merindukannya.

Daniel tak akan membentakku meski aku melakukan kesalahan besar, Daniel berbeda dengan Noval.

Daniel penuh dengan sikap kebapakan, Daniel benar-benar melindungiku.

"Dasar, trouble maker"

Aku terbangun dari lamunanku, dan menoleh pada wajah Noval.

"Aku?"

"Ya! Kau pembuat masalah, jika bukan aku yang mengawasi mungkin kau sudah menjadi buronan karena masalah yang kau buat!"

Aku terdiam. Aku menarik nafas, ku biarkan Noval mengoceh sesukanyaㅡseperti biasa.

"Entah apa jadinya, jika kau hidup tanpaku! Kau mungkin sudah tak hidup sekarang"

Telingaku panas mendengarkan ocehan Noval, ingin rasanya aku membela diri.

"Kau benar-benar seperti keledai! Bodohnya minta ampun!"

"Ya aku memang keledai, aku memang pembuat masalah, dan jikapun aku mati, seharusnya kakak bersyukur tidak direpoti olehku" ucapku pelan.

Noval mengerem secara mendadak. Aku memandanginya yang menatap tajam wajahku.

"Apa maksudnya?"

"Kau lima tahun lebih tua dariku, pahamilah kalimatku"

"Shit!" Noval kembali menjalankan mobil namun kali ini ia menyetir dengan kecepatan penuh.

-***-

Sesampainya dirumah aku bergegas melangkah masuk ke dalam kamar, aku merapihkan dan memasukan barang-barangkuㅡhanya milikku ke dalam tas ransel.

Selama bertahun-tahun aku tinggal bersama Noval, baru kali ini aku merasakan sakit hati yang begitu perih.

Ternyata Noval memendam semua kesalahanku dan tadi ia membeberkan semua yang telah kulakukan.

Konyol. Sangat konyol.

Noval memang orang yang sangat baik, ia mengizinkanku tinggal bersama, ia selalu memberi solusi untukku. Tapi, aku tak pernah menyangka jika Novalpun memiliki sikap kekanakan seperti ini.

Noval mengetahui semua tentangku, mengetahui aku yang memiliki kelainan orientasi seksual, memiliki sikap feminim yang lebih banyak dari laki-laki biasanya, mengetahui aku yang tidak memiliki keluarga dan mengetahui identitas asliku.

Aku percaya padanya, tapi aku tak pernah menyangka jika ia akan menjadi seperti ini.

Aku yang terlalu kekanak-kanakan atau aku yang terlalu perfeksionis.

Aku siap meninggalkan rumah Noval dan kembali hidup sendiri. Aku ingin hidupku tanpa adanya ocehan-ocehan Noval.

Aku harus meninggalkan tempat ini, secepatnya.

Aku keluar kamar setelah barang-barangku berada dalam tas ransel. Mengendap-endap hingga pintu.

Aku mengedarkan pandanganku, memastikan diri jika memang Noval sudah tertidur.

Aku membuka pintu, dan keluar rumah lalu menutup pintu perlahan.

"Mau kemana kamu pagi-pagi buta begini?" jantungku hampir lepas mendengar seseorang menegurku. Saat aku menoleh kebelakangku, kulihat Noval duduk diteras sembari menikmati secangkir kopi.

Aku terdiam. Segera aku melangkah pergi meninggalkan Noval.

"Mau kemana kamu?" tanganku ditariknya lalu digenggamnya erat. Aku membalikan tubuh.

"Lepas"

"Jawab, mau kemana kamu?"

"Bukan urusan kakak" jawabku, ku tatap matanya. Aku masih kesal padanya.

"Lepasin tangan aku" lanjutku sembari berusaha melepaskan genggaman tangannya.

"Masuk"

"Engga"

"Masuk!" nadanya naik, genggamannya ditanganku mengencang.

"Ga! Aku mau pergi dari sini!" aku terus meronta dan berusaha melepaskan tanganku.

Aku berhasil melepas genggamanya dan langsung berlari menjauh dari Noval.

Ranselku ditarik Noval hingga aku terjatuh. Ku lihat wajahnya, Noval begitu marah.

"Masuk!" bentaknya.

Aku terdiam, aku bangkit lalu berusaha berlari. Tapi, tanganku ditariknya lagi.

Tubuhku dihempaskannya ke sofa, ketika Noval berhasil menarikku masuk ke dalam rumah.

"Kamu mau kemana? Jangan bikin aku marah lagi sama kamu"

"Seharusnya kakak jangan tahan aku, biar kakak ga emosi terus"

"Maksud kamu?"

"Aku mau pergi dari sini" aku berdiri lalu melangkah keluar pintu.

"Sampai kamu berani keluar pintu, jangan salahin aku kalau kamu nanti kenapa-kenapa" ujar Noval.

Aku berhenti tepat didepan pintu.

"Aku sudah dewasa, tak perlu pengawasan mu lagi, disamping itu... Aku tak tega melihatmu terus-terusan emosi padaku, barangkali kau mati muda karena ku" ku buka pintu lalu melangkah keluar.

"Dimas Yogi Pratama! Ku hitung sampai tiga, kembali kesini!" aku terdiam.

Aku menghela nafas, lalu kembali melangkah dan berdiri dihadapannya.

Ku pandangi wajahnya.

"Kau panggil aku, siapa?" Noval diam.

Aku mengangkat tanganku dan menampar pipinya.

Ya, aku menampar Novalㅡorang yang kuanggap sebagai kakak.

"Catat dalam otak mu, namaku Angga, hanya Angga" Noval memegangi pipinya.

"Jangan pernah sebut nama itu..." tangan Noval terangkat, namun aku genggam dan remas pergelangan tangannya.

"Aku, Angga, dan kini aku tak takut dengan gertakanmu..."

Noval membisu.

"Catat dalam otak mu, tentang namaku dan jangan pernah mencariku, karena aku yakin, kau tak benar-benar paham mengapa aku seperti ini padamu"

Aku membalikan tubuhku.

"Selamat tinggal"

-To Be Continue-

Jumat, 21 Maret 2014

Angga, is My Name (Ep. 2)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.

Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author

Angga, is My Name (Ep. 2)
-***-

Aku terdiam. Ku pandangi ruang tengah yang nantinya akan ku jadikan panggung penampilanku.

Aku yakin, malam ini akan sama seperti malam biasanya. Sepi dan hanya ada beberapa laki laki dewasa dan wanita transgender.

Aku masih teringat kalimat Noval tadi siang. Tiba-tiba ia menyuruhku berhenti dari pekerjaan ini, sedangkan selama bertahun-tahun kemarin ia membiarkan aku. Apa maksudnya?

Ia mengetahui hanya menarilah keahlianku, dan menurutku ini adalah pekerjaan yang cocok untukku. Aku seperti bermain bukan bekerja.

Lagipula, aku sudah menjadi penari striptease sejak lulus sekolahㅡ sebelum aku mengenal Noval. Aku tak akan mungkin meninggalkan pekerjaan ini begitu saja.

Aku juga tak menjual diri disini. Aku memang menari hingga telanjang tapi tak kubiarkan orang-orang yang berkunjung melecehiku.

Aku sudah mengenakan kostumkuㅡcawat kecil yang hanya menutupi kemaluanku, aku pun sudah mengenakan riasanku, kini saatnya aku memulai aktivitasku.

Aku sedikit terkejut saat ku lihat ruang tengah penuh dengan pengunjung. Malam ini lebih ramai dari malam sebelumnya.

Malam kemarin dapat terhitung meja tamu yang terisi, tapi malam ini semua meja penuh.

Sempat kulihat sekumpulan laki-laki bau kencur duduk sembari menghisap batangan rokok.

Meski aku masih merasa sedikit bad mood, tapi aku harus profesional. Ini pekerjaanku.

-***-

Tepuk tangan meriah menyambutku dengan siulan-siulan panjang dari beberapa pengunjung.

Alunan musik bertempo lambat dengan ketukan beat kencang membuatku bergerak mengikuti iringan musik.

Penari latar mengajakku menari mengikuti gerakan mereka yang fokus pada paha dan pinggang, lalu mereka mengangkat tubuhku seakan aku penguasa panggung malam itu.

Beberapa pengunjung berteriak memanggil-manggil namaku, mereka terus bertepuk tangan. Ku lihat seseorang mendekati panggung lalu melempar satu kotak berisikan kondom ke atas panggung.

Aku berjalan ke arah meja bartender setelah penari latar menurunkan aku. Aku menari diatas meja bartender, disoraki siulan-siulan liar juga rabaan tangan mereka ditubuhku.

Bahkan sempat kudengar seseorang mendesah tepat ditelinga ku sembari meraba tubuhku.

Ku liuk-liukan tubuh diselingi dengan gerakan erotis yang membuat para laki-laki didepan meja bar menyorakiku liar.

Aku berdiri dan mulai melepas cawatkuㅡsatu-satunya helai pakaian yang menutupi kemaluanku.

Aku menggoyangkan pinggangku maju mundur, terkadang aku membuka selangkanganku lebar-lebar.

Riuhan memenuhi ruang tengah, ada beberapa pengunjung mencoba menyentuh kemaluanku, tetapi tak berhasil karena sang bartender menghalangi.

Puas menari diatas meja bar, aku berjalan ke arah tengah lalu mengikuti gerakan yang penari latar lakukan.

Semua pengunjung menyoraki ku, bertepuk tangan dan memanggil-manggil namaku.

Alunan musik berganti tempo, dengan ketukan beat yang lebih intim. Aku menggerakan tubuh ke kanan dan kiri, dengan tangan yangㅡmemang sengaja ku gerakan mengusap dada, selangkangan dan tubuhku yang lain.

Salah seorang penari latar mendekatiku lalu mendekapku dari belakang. Bibirnya bermain di wajahku lalu turun ke leherㅡterlihat seperti pasangan yang berhubungan intim.

Suasana semakin panas, dan riuh akan teriakan para pengunjung. Kerlipan lampu yang ditata mengikuti tempo musik membuat ruang tengah itu semakin ribut.

Aku hanya tersenyum kecil. Aku bangga, dan bahagia. Tarianku dinikmati dengan sorakan dan tepukan tangan meriah.

Aku mencintai pekerjaan ini. Aku bangga menjadi penari striptease.

-***-

Aku terduduk disalah satu kursi yang menghadap ke ruang tengah.

Pesta telah usai. Suasana ruang tengah menjadi sepi, hanya tersisa beberapa pengunjung yang tertidur karena mabuk berat dan beberapa cleaning service yang sibuk merapihkan botol alkohol yang berserakan.

Aku menunggu kedatangan Noval yang tadi sudah menghubungiku.

Entah apa reaksinya jika ia tadi melihatku menari, mungkin aku akan langsung ditariknya pulang. Noval membenci pekerjaan ku, ia membenci semua tentangkuㅡyang menurutnya tak patut untukku sedangkan menurutku pantas.

Lagipula, aku mengenal dunia ini lebih lama sebelum akhirnya aku menabrak Noval saat itu.

"Malam sayang" aku terkejut dan terbangun dari lamunanku ketika ku lihat seseorang mendekatiku.

Wajahnya tidak begitu jelas, tapi yang pasti dari orang itu adalah ia mabuk. Tercium aroma alkohol yang kuat dari mulutnya.

Aku tak meladeninya, ia duduk disampingku lalu meraba pahaku.

"Saya mohon hentikan sebelum terjadi sesuatu pada anda" gertakku, tapi sepertinya ia tak menghiraukan kalimatku.

Tangannya terus meraba pahaku lalu mengcengkram pahaku. Aku menepis tangan orang itu, lalu berdiri dan menjauh darinya.

Aku tersontak kaget saat orang itu menarik tanganku lalu menggiringku ke pojok ruamg tengah, tubuhnya menekan tubuhku hingga menempel pada dinding.

Aku berteriak, meronta meminta tolong. Tetapi, tak ada seorangpun yang mendekat. Aku berusaha lari dari dekapan orang itu, tapi tenaganya begitu kuat.

Bibirnya berusaha menciumku, sedangkan tubuhnya digesekan ke tubuhku. Dapat kurasakan selangkangannya menegang begitu juga puting dadanya.

Aku terus berteriak, menampar orang itu dan melakukan apapun untuk lepas darinya.

"Tolong!" teriakku, tapi tetap tak ada yang menolongku.

"Tak ada yang mungkin datang, aku sudah membayar semua orang itu agar pura-pura tak melihat"

Sial. Aku sangat sial malam ini.

"Ku mohon, lepaskan aku" erangku.

"Tidak, sebelum aku memperkosamu"

"Hey!" mataku terbelalak saat ada seseorang yang berteriak lalu menggenggam pundak orang itu, ditariknya orang itu dan pipi orang itu segera di hantam dengan bogeman mentah.

Orang itu terhempas jauh dan berhasil mengenai meja tamu dan botol minuman yang ada dimeja.

Aku baru sadar, Noval yang menghajar orang itu.

"Jauhi badan busukmu dari Angga! Bajingan!" ucap Noval yang terus-menerus memukul wajah orang itu.

Ketika orang itu tersungkur, Noval melayangkan tendangan diperut dan kepala.

"Bangsat!"

-To Be Continue-

Sabtu, 15 Maret 2014

Camera? Roll. Action!

Cast : Kellan Lutz and D.O of EXO
Genre : NC Yaoi (Explicit)
Requsted By : Roleplayer of Kellan
Author : ASup

Camera? Roll. Action!

Mataku tak dapat menutup mataku ketika membaca tiap kalimat yang tertulis di skrip.

Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat.

"A... Apa ini?" gumam ku pelan.

Dari awal hingga akhir halaman, hanya tertulis dua huruf. Huruf 'A' dan huruf 'H'.

Aku bingung, akankah film yang ku bintangi hanya berisi desahan selama 90 menit penuh?

Ada yang tidak beres, aku harus membicarakan ini dengan tim produksi.

-***-

Aku disambut hangat oleh tim produksi yang berkumpul di studio yang akan digunakan nanti.

Aku menyapa mereka dan berbincang-bincang dengan mereka, saat ku bicarakan tujuan kedatanganku mereka menjawabnya dengan sopan dan ramah.

Sempat kulihat seorang dari mereka menghubungi sang sutradara dan produser.

Bahkan aku diantar salah seorang kru untuk mendatangi produser dan sutradara yang menginap di tengah kota.

Ketika aku sampai disebuah losmen sederhana, kru yang mengantarku menunjuk satu kamar dan ia berlalu meninggalkan ku.

Segera, aku mengetuk pintu kamar yang produser dan sutradara tempati.

Aku mematung ketika seseorang yang bertelanjang dada menyambutku, orang itu tersenyum padaku.

"Hi" sapa orang itu.

Aku tersenyum kaku memandang wajahnya. Matakuㅡingin tak ingin mengamati tubuhnya yang terbentuk.

"A... Aku ingin bertemu dengan sutradara dan produser"

"Well, masuklah" ucapnya, "Kau tak akan bertemu dengan mereka jika hanya mematung di sini"

Aku mengangguk pelan, lalu mengikutinya masuk ke dalam.

Aku mengedarkan pandanganku, menurutku kamar ini terlalu luas untuk ukuran losmen dan banyak kamera yang telah disiapkan dalam kamar ini. Bahkan aku sempat melihat kamera kecil tersembunyi di balik pintu.

"Jadi, kau partner ku?" tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

"Bersantailah, akan kubuatkan minum untukmu" lanjutnya.

Aku duduk di sofa, masih mengamati perlengkapan yang terpasang di dalam kamar.

"Minumlah, tunggu sebentar, mereka sedang keluar membeli sesuatu" ucap orang itu sembari menyajikan minuman padaku.

Aku meminum yang di sajikan olehnya, dan kami berbincang panjang lebar.

Namanya Kellan, ia bersedia mengambil tawaran sang sutradara karena bayaran yang begitu tinggi. Ia rela berangkat dari negaranya dari beberapa hari yang lalu untuk mengambil gambar di sini.

Menurutku, orang ini mudah bergaul bahkan ia keberatan saat aku panggil 'kak' saat mengobrol.

"Kau kepanasan?" tanyanya ditengah perbincangan.

Aku mengangguk pelan.

"Buka saja bajumu, jangan malu" aku terdiam.

Aku tak mungkin membuka bajuku dengan kamera yang tersebar. Lagipula, aku juga tak mengerti kenapa aku merasa begitu kepanasan.

Air conditioner berhembus dengan kencang namun tetap saja aku merasa begitu panas.

"Tenanglah, kamera disini sedang tidak menyala" ujarnya.

Aku melihat ke seluruh kamera, dan memang tak ada yang menyala.

"Tak apa jika aku membuka baju?"

"Aku, tak apa, aku hanya keberatan saat kau memanggilku kakak" ujarnya, aku sedikit tersipu dengan kalimatnya.

Ku putuskan untuk menanggalkan bajuku. Aku terdiam, dan menutupi dadaku dengan kaus yang tadi ku kenakan.

Kellan hanya tersenyum memandangiku, lalu ia meminta ijin padaku untuk pergi ke kamar mandi.

Aku menghela nafas panjang saat Kellan menghilang dari hadapanku.

Aku bingung, apa yang harus ku lakukan.

Aku menjadi relasi kerjanya dalam film ini, dan hingga saat ini aku tak mengetahui apa sebenarnya peranku.

Aku bangkit dari duduk dan melihat-lihat apa yang ada dalam kamar ini.

Aku membuka pintu kaca yang menghubungkan ruang tidur dengan balkon. Aku berdiri dibalkon, menikmati hembusan angin.

Aneh, aku merasa begitu kepanasan dan bergairah. Aku tak menyangka akan beradu peran dengan orang yang memiliki bentuk tubuh yang rapih dan kekar seperti Kellan.

Orang yang menjadi kekasihnya sangat beruntung, apalagi saat berhubungan intim. Aku yakin, kekasihnya akan terus-menerus meminta berhubungan.

Astaga, pikiranku melambung tinggi. Aku tersipu dengan pemikiranku sendiri.

Konyol. Kemaluanku tegang, celana ku menyempit.

"Hey, apa yang kau lakukan?" aku tersontak kaget saat kedua lengan memeluk ku dengan erat.

Kurasakan punggungku mengenai dua puting yang menegang dan otot tubuhnya yang lain. Aku terdiam.

"Menikmati angin segar?" tanyanya lagi.

Aku masih diam, tak bersuara. Dada Kellan bergerak pelan, menggesek punggungku. Kedua puting dadanya menggaruk pelan punggungku.

Lengannya tak lagi memeluk, kini dada ku diremasnya lembut. Membuatku sedikit mendesah.

Bibirnya mengecupi dan lidahnya menari dipipiku.

Remasan didadaku semakin keras, jarinya merangsang kedua putingku.

Puas memainkan tubuhku, kini ia membalikan tubuhku agar berhadapan dengannya.

Astaga, tatapan matanya begitu tajam dan dalam.

"Kau menikmatinya?" aku menunduk, aku tersipu.

Tangannya kini turun ke kakiku, dan mengangkatnya. Reflek, aku melingkarkan kakiku dipinggangnya dan mengalungkan tanganku dilehernya.

Ia menggantungkan senyumannya, lalu mencium bibirku.

Ciuman yang liar, menurutku. Bibirku dihisap, digigit dan lidahku ikut dihisap.

Kemaluan kami bertemu, saling bergesekan meski masih tertutup celana jeans.

Angin berhembus kencang, mengenai tubuhku dan tubuhnya yang basah dengan keringat.

Aku dibawanya masuk ke dalam kamar dengan posisi kaki dan tangan yang melingkar ditubuhnyaㅡseperti koala, sementara ciuman kami belum berhenti.

Tubuhku dihempaskannya ke atas kasur, dan Kellan tetap mencumbuku.

Kellan menindihku, dengan kakiku yang terbuka lebar dan memeluk belakang tubuhnya. Dadanya menggesek dadaku, kedua puting kami bertemu dan saling menempel.

Tanganku mengusap kepalanya, dan ciumannya semakin ganas. Daun telinga, tengkuk, dan dadaku menjadi sasaran mulutnya untuk dikecup.

Tangannya membuka resleting celana ku dan meremas kemaluanku yang menegang. Ia terkekeh saat jarinya bermain dicelana dalamku yang mencetak precum.

Aku benar-benar terangsang.

Aku memandang wajahnya dan memintanya berhenti mempermainkanku.

Ia salah menangkap kalimatku, bahkan ia menurunkan celanaku hingga lutut dan menyuruhku menungging.

Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Beberapa detik kemudian, aku merasa lubang pantatku diolesi sesuatu yang sangat dingin.

Membuatku melengkungkan tubuh dan menggelinjang.

Beberapa menit kemudian, aku berteriak keras saat sesuatu mencoba menembus kemaluanku.

"Hentikan, sakit" ucapku tapi Kellan tak memperdulikanku bahkan ia melanjutkan usahanya hingga berhasil menembus tubuhku.

Kellan mendesah panjang, sedangkan aku menutup mataku menahan sakit.

Kellan menindihku, dadanya kembali menggesek punggungku tanpa menggerakan pinggulnya.

Bibirnya menghisap daun telingaku dan berbisik padaku, lalu menyuruhku bangkit.

Aku menurut, tangannya memeluk ku. Membantuku bangkit dan bertumpu lutut. Ketika aku dan dia sudah bangkit, tangan kirinya menekan kepalaku. Memaksaku menerima ciumannya dan tangan kanannya meremas kencang kemaluanku.

Pinggulnya mulai bergerak, mengikuti irama rancapan tangannya di kemaluanku.

Kellan mendesah ditelingaku, ketika aku menyandarkan kepala dibahunya.

Tangan kirinya memilin putingku lembut, terkadang di remas.

"Hentikan, ku mohon" ujarku.

Kellan menghentikan goyangan pinggulnya, lalu melepas kemaluannya dari anusku.

Aku membaringkan tubuhku, masih menahan sakit.

Ku pikir ia akan berhenti. Kakiku diangkatnya tinggi, lalu kembali memasukan kemaluannya sebelum ciumannya mendarat di bibirku.

Perutnya menekan kemaluanku, sangat terasa otot kencang perutnya menggesek kemaluanku.

Kemaluannya mengoyak isi tubuhku, namun entah kenapa aku merasakan gejolak yang begitu tinggi.

Sakit yang tadi kurasa, berubah nikmat dan membuat kemaluanku mengalirkan precum yang semakin banyak.

Ditambah dengan tekanan perutnya yang menggesek kemaluanku.

Aku benar-benar terangsang, desahan saling menyahut hingga terdengar seperti melodi.

Kellan menggerakan pinggulnya semakin kencang, bibirnya menghisap kedua putingku bergantian. Telunjuknya berada dimulutkuㅡdihisap dengan mulutku.

Sprei kasur begitu berantakan dan basah.

"Kau sampai?" aku tak menjawab saat Kellan berbisik ditelingaku.

Kellan bangkit, lalu merogoh anusku semakin dalam. Tangannya merancap kemaluanku cepat.

Nafasku semakin berat, aku tak sanggup lagi.

"Hentikan, aku sampai!" teriakku ditengah desahan.

Tangan Kellan semakin cepat merancap kemaluanku, hingga kurasakan kemaluanku berdenyut cepat.

Kellan melepas tangannya. Kini, ia fokus pada gerakan pinggulnya.

Kemaluan Kellan terus menerus menyentuh titik rangsangku, bahkan Kellan tidak berbicara sedikitpun dan hanya mendesah.

Hingga akhirnya, aku memuntahkan spermaku. Kellan mencabut kemaluannya dan meloconya cepat.

"Angh, yes-h" beberapa detik kemudian, sperma Kellan bercampur dengan spermaku yang membasahi tubuh.

Tubuhnya menindihku. Bibirnya kembali menciumiku, namun kini lebih lembut. Tangannya mengusap pipiku, dan aku memeluk tubuhnya.

Tubuh kami basah dengan keringat.

Kedua putingnya menempel di putingku, kemaluannya menekan kemaluanku.

Tubuhnya naik turun, seiring dengan nafas kami.

-This is an end?-

Senin, 10 Maret 2014

Angga, Is My Name (Synopsis)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Illustration : Author private image.
Label : ABEnt.

Synopsis
Tepuk tangan meriah menyambutku dengan siulan-siulan panjang dari beberapa pengunjung.

Alunan musik bertempo lambat dengan ketukan beat kencang membuatku bergerak mengikuti iringin musik.

Penari latar mengajakku menari mengikuti gerakan mereka yang fokus pada paha dan pinggang, lalu mereka mengangkat tubuhku seakan aku penguasa panggung malam itu.

Beberapa pengunjung berteriak memanggil-manggil namaku, mereka terus bertepuk tangan. Ku lihat seseorang mendekati panggung lalu melempar satu kotak berisikan kondom ke atas panggung.

Aku berjalan ke arah meja bartender setelah penari latar menurunkan aku. Aku menari diatas meja bartender, disoraki siulan-siulan liar juga rabaan tangan mereka ditubuhku.

Bahkan sempat kudengar seseorang mendesah tepat ditelinga ku sembari meraba tubuhku.

-***-

"Kamu boleh kerja seperti ini, tapi bukan artinya kamu ngegodain orang lain seenaknya!"

"Aku..."

"Jangan ngelak! Kalau bukan gara-gara kamu, siapa lagi! Orang itu ga akan liar kalau kamu ga mulai liar ke dia!"

Ku tundukan wajahku. Sia-sia jika aku terus membela diri.

"Maaf..."

"Beresin perlengkapan kamu, kita pulang!"

Copyright of ABEnt, do not copy without author permission.

2014© Angga, is My Name.

Minggu, 09 Maret 2014

Angga, is My Name (Ep. 1)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.

Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author

Angga, is My Name (Ep. 1)
-***-

Terdengar suara klakson kendaraan saling sahut-menyahut, memohon untuk segera berjalan. Matahari bersemangat menyinari bumi, membuat brain master mesin yang saling bersahutan mengeluh karena terpanggang.

Aku, menghela nafasku panjang. Terduduk disebuah bangku panjang depan warung, diam sembari menghisap batangan rokok.

Suasana sangat panas, ditambah dengan bising kendaraan juga para pedagang kaki lima yang berteriak mempromosikan barang dagangan mereka.

Namun, aku menikmatinya. Sangat menikmati. Aku tak perduli akan kulitku yang terbakar, tak perduli dengan kondisi jalan, karena inilah ibukota.

Ibukota tak akan disebut demikian jikaㅡdisaat siang seperti ini, jalanan sepi, tak adanya pedagang di trotoar, atau para jambret di dalam bus.

Bagaimanapun, aku mencintai ibukota ku. Aku mencintai kota besar ini.

Aku tersenyum kecil memandangi orang-orang yang catwalk dihadapanku dengan berbagai macam busana. Busana paling murah, hingga mahal lewat dihadapanku.

Pikiranku melayang jauh, membayangi wajah seseorang.

Daniel, namanya. Ia memiliki wajah oriental dengan senyuman manis dan rambut ikal indah. Matanya menjadi satu garis ketika ia tersenyum atau tertawa.

Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Mahasiswa hukum yang mampu membuat duniaku jungkir balik.

Daniel sering membuatku tertawa dengan candaan garing yang ia ucapkan, ia pula sering memanjakanku seperti adik kecilnya sendiri.

Aku rindu memeluknya, aku rindu harum aroma tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan?" aku terbangun dari lamunanku.

Aku menoleh ke arah sumber suara lalu segera membuang batangan rokok yang berada disela jariku.

"Apa janjimu?" aku terdiam. Aku berdiri dihadapannya.

"Ayo pulang, kita bahas dirumah" ucapku.

-***-

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya sembari fokus menyetir.

"Menunggu mu"

"Apa janjimu?"

"Janji apa?"

"Janji sebelum aku menjemputmu" aku terdiam.

"Pria dewasa tak akan pernah lupa akan janjinya" ujarnya ketus, aku menarik nafas.

"Sudahlah, aku memang bocah dimatamu, kak. Jangan bahas ini lagi"

"Seorang pelupa setidaknya akan mencari solusi untuk mengatasi kekurangan pada dirinya, tapi kau tidak"

"Kak... Hentikanlah"

"Aku belum lihat usahamu mengatasi kekuranganmu"

"Kak... Aku mohon..."

"Aku tak akan berhenti berbicara hingga kau ingat apa janjimu"

"Janji apa? Apa yang aku janjikan padamu? Lalu kapan? Kapan aku berjanji?"

"Konyol, kau bahkan lupa waktu saat berjanji padaku"

Aku kembali diam, ku buang pandanganku ke jalanan sedangkan ia tetap mengoceh sembari menyetir. Ku dengar ocehannya yang sangat mendetail.

Aku bosan, ia pasti akan menasihatiku seperti biasa setelah membeberkan kesalahanku yang sudah-sudah.

"Turun, kau segera mandi, satu jam lagi aku akan mengantarmu ke tempat yang aku benci" ia menghentikan mesin kendaraan lalu turun meninggalkanku.

Ia selalu seperti itu.

-***-

Noval. Entah apa yang harus ku katakan tentangnya. Ia berhasil membuat mood ku hancur sekarang.

Noval memang ku anggap sebagai kakak, karena ia sering menasihatiku bahkan ia mengijinkanku untuk tinggal dikediamannya.

Aku mengenal Noval ketika aku sedang berlari dari kejaran psikopat yang ingin membunuhku. Noval menyelamatkanku lalu menyuruhku tinggal dikediamannya.

Aku sering dinasihatinya seperti tadi, dan itu membuatku risih. Aku selalu dipandang sebelah mata olehnya.

Dimatanya aku adalah anak kecil, dan tak sanggup melakukan apapun. Hal itu yang membuatku jengah.

Ingin sekali aku menyumpal mulut Noval dengan tumpukan sampah agar ia berhenti menceramahi aku dan mulai melihatku sebagai laki-laki dewasa, namun aku tak sanggup.

Selama ini, Noval yang membantuku hidup. Noval menyemangatiku, tanpa meminta imbalan sesuatu padaku.

Mungkin ia menyayangiku seperti ia menyayangi keluarganya, tapi menurutku ia terlalu berlebihan dan aku benci itu.

"Angga! Kau sudah siap?" teriaknya memanggilku.

"Sebentar lagi, kak!" jawabku.

"Cepatlah! Setelah mengantarmu, aku harus bertemu dengan seseorang"

Aku melangkah keluar kamar dan memandanginya yang berdiri di ruangan tengah.

"Ya, aku siap"

"Tunggu aku dalam mobil, ada yang harus ku angkut dari ruang tengah ini"

Aku melangkah keluar rumah, dan menunggunya didalam mobil.

Pikiranku melayang jauh, membayangkan tingkah Noval yang berubah. Noval dulu tak seperti ini, Noval tidak over protective seperti ini.

Dulu ia tidak perduli denganku, ia selalu menjadi pendengar setia disaat aku butuh dan hanya memberi solusi. Sedangkan kini, ia suka memaki dan memojokiku daripada menjadi pendengar setia.

Noval memang tak pernah berkata kasar padaku, ia juga tak pernah bermain fisik padaku. Namun, aku lebih menyukai orang yang bermain fisik ketika marah daripada hanya mengoceh dan memaki.

"Apa yang kau pikirkan, lagi?" aku terbangun dari lamunanku saat Noval duduk di kursi supir dan mulai menyalakan mesin.

Aku menarik nafas, memandanginya lalu berusaha untuk berbiara padanyaㅡmeski aku masih kesal padanya.

"Barang apa yang kau harus bawa?"

"Hanya barang untuk seseorang ditempat kerjamu"

"Tempat kerjaku?"

"Ya... Guci kesayanganku akan kuberi pada pemilik bar itu"

"Kenapa?"

"Aku hanya ingin kau keluar dari tempat itu dan mencari tempat kerja yang lebih layak untukmu"

"Apa?"

Selama delapan tahun ini ia tak pernah melarangku bekerja ditempat itu, tapi kini ia menyuruhku berhenti. Konyol.

"Kak... Darimana aku makan kalau aku berhenti?"

"Ada aku... Aku yang akan mengurusi itu..." jawabnya, aku memutar bola mataku.

"Kau? Kau bekerja? Selama ini yang kutahu kau hanya menelepon dan menelepon, lalu darimana kau dapat uang?" ia terdiam.

"Kak... Aku tak ingin berhenti dari tempat itu, kau tahu aku suka menari, dan pekerjaan ini cocok menurtku"

"Itu menurutmu, kau cerdas! Kenapa tak kau coba melamar disebuah perusahaan besar yang membutuhkan orang sepertimu?"

"Tidak! Aku tak ingin terikat!"

"Lalu, kau ingin hidup menjadi penari streaptease selama hidupmu?" aku terdiam.

"Aku ingin kau berubah, aku ingin hidupmu jadi lebih baik... Hanya itu" lanjutnya.

"Sudahlah, kita sampai... Cepat turun, aku ingin hari ini berakhir dengan cepat" ujarnya lalu meninggalkanku yang terdiam kaku didalam mobil.

-Be Continue-

Sabtu, 15 Februari 2014

Overtime? (Request)

-Kisah ini adalah permintaan @shpthunderr-
-Warning! Kisah ini mengandung tema yaoi (gay) - dewasa eksplisit-

Cast : Taecyeon of 2PM and Cheondung of Mblaq

-***-

Cheondung harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, jika tidak ia bisa mati karena ocehan atasannya--Taecyeon.

Meski Taecyeon bukan termasuk orang yang banyak bicara, namun Taecyeon hobi mengerjai pegawai-pegawai yang lain dan Cheondung tak ingin menjadi salah seorang korbannya.

Cheondung fokus dengan pekerjaannya, ia tak sadar atasannya mengawasi dari belakang.

Cheondung terdiam ketika tangan Taecyeon mengusap dan meraba pelan punggungnya, ketika Cheondung menoleh ke belakang Taecyeon mengecup pipinya.

"Pak..."

"Ya?"

"Stop... Saya mohon"

"Kenapa?"

Taecyeon semakin berulah, tangannya kini meraba dada Cheondung mesra. Jarinya bermain tepat di puting dada Cheondung.

Cheondung berusaha menjauhkan diri dan mendorong pelan tubuh Taecyeon, tetapi usahanya membuat tubuhnya berbalik arah ke hadapan Taecyeon.

Taecyeon tersenyum sinis, ia meraih tangan Cheondung lalu diarahkan ke selangkangannya sendiri.

"Remas..." bisik Taecyeon sembari mulutnya menjilati telinga Cheondung.

Ada rasa ingin melawan atasannya, tetapi Cheondung tetap mengikuti keinginan atasannya.

-***-

Tak sadar siapa yang memulai, keduanya sudah bertelanjang. Cheondung duduk dipaha Taecyeon dengan kemaluan yang saling menyentuh dan bergesekan.

Bibir Taecyeon menciumi tiap inch leher Cheondung, sementara Cheondung hanya mengerang dan mendesah sembari menarik-narik rambut Taecyeon.

Kepala kemaluan mereka basah dengan cairan kental bening-precum yang membuat licin gesekan demi gesekan, mereka mendesah menikmati permainan yang Taecyeon mulai.

Bibir Cheondung dilumat Taecyeon ganas, terkadang digigit pelan dan dikulum. Jemari Cheondung memilin kedua puting Taecyeon hingga benar-benar tegang.

Puas mencumbui Cheondung, Taecyeon menggendong tubuh Cheondung lalu dipindahnya keatas meja.

Cheondung tetap melingkarkan kakinya dipinggang Taecyeon meski pantatnya sudah duduk diatas meja, Ciuman Taecyeon semakin ganas.

Bibirnya turun ke dada, perut dan selangkangan. Mulutnya langsung melahap kemaluan Cheondung yang menegang sempurna, dihisap dan digigitnya kuat hingga Cheondung mengerang.

Kedua jari Taecyeon merangsang lubang anus Cheondung, dibuka lalu dimaju-mundurkan jarinya dengan tempo lambat.

Cheondung merebahkan diri, mulutnya tak berhenti mengerang dan mendesah.

Cheondung menyuruh Taecyeon menghentikan tusukan dianusnya, Taecyeon mencabut kedua jarinya lalu memandangi anus Cheondung yang berkedut.

Cheondung meremas kemaluannya dan berharap kemaluannya melemas, namun kemaluannya semakin menegang dan terpaksa ia merancap penisnya didepan Taecyeon.

Taecyeon tersenyum, ia ikut merancap penisnya lalu diarahkannya ke anus Cheondung.

Cheondung berteriak, saat setengah bagian kemaluan Taecyeon berhasil menembus tubuh Cheondung.

"Tenanglah..." ucap Taecyeon perlahan.

Taecyeon memaju-mundurkan pinggulnya dengan tempo yang sangat lambat, tangannya merancap, dan meremas kemaluan Cheondung.

Mereka berdua mendesah.

Taecyeon melepas rancapannya, lalu menudukan diri menciumi bibir Cheondung. Cheondung membalas ciuman Taecyeon ganas.

-***-

Taecyeon meracau, sedangkan Cheondung fokus pada pinggulnya yang naik-turun diatas tubuh Taecyeon.

Keringat membasahi tubuh mereka, tercium aroma tubuh mereka yang membuat libido mereka semakin meningkat.

Taecyeon memposisikan diri agar dapat mengatur tubuh Cheondung yang naik turun.

"Ah! Ah! Ah!" desahan Taecyeon membuat semangat Cheondung yang naik-turun mengikuti tempo.

Cheondung berhenti, lalu menggoyangkan pinggulnya kekiri dan kanan. Memaksa Taecyeon mendesah semakin hebat.

Tangan Taecyeon mulai aktif memberi rangsangan pada Cheondung, dicubit dan dirabanya puting Cheondung terkadang diremasnya hingga Cheondung menghentikan goyangannya.

Cheondung melepas kemaluan Taecyeon dan Taecyeon menyuruh Cheondung menungging. Sekali hentak seluruh kemaluan Taecyeon masuk menembus tubuh Cheondung.

-***-

Hentakan pinggul Taecyeon semakin lama meningkat dan rancapan tangan Taecyeon dikemaluan Cheondung mengikuti tempo hentakan Taecyeon.

"Ah! Ah! Rawrgh"

Mereka mendesah dan mengerang, Taecyeon meremas kencang kemaluan Cheondung sampai sperma Cheondung keluar dan membasahi lantai.

Taecyeon mengerang saat kemaluannya dijepit otot anus Cheondung, kemaluannya berkedut dan mengembang.

"Ah! Ah"

Sperma Taecyeon berhasil mengisi perut Cheondung dan mengalir keluar melalui paha Cheondung.

Taecyeon menunduk, menciumi tengkuk dan bibir Cheondung sembari membiarkan kemaluannya tertanam didalam tubuh Cheondung.

-end-

Jumat, 07 Februari 2014

What Is Love (Request)

#FanFiction ini adalah permintaan kisah dari @Chanhsung

Cast : Chansung of 2PM And Kyungsoo of EXO.

-***-

Aku menikmati hembusan angin malam sembari tetap melangkah melewati kesenyapan malam, dan masih terdengar deruan mesin kendaraan bermotor yang berlalu-lalang dijalan.

Meski waktu sudah tengah malam, deruan mesin itu tetap meramaikan jalanan yang kini sedang kulalui.

Aku sengaja berbohong padanya dan kabur darinya, aku ingin menikmati duniaku sendiri ditengah semilir angin tanpa adanya dia disisiku.

Aku ingin bebas, aku tak ingin lagi dikekang.

"Dimana kau?" aku menghentikan langkahku dan menjawab panggilan darinya. Aku terdiam, tak menjawab pertanyaannya.

"Kau! Dimana! Jawab aku!" bentaknya, aku menghela nafasku.

"Sudahlah, jangan khawatirkan aku, aku pasti pulang" kuputuskan panggilannya lalu ku lepas baterai ponsel dan memasukannya ke dalam kantung sweater.

Ku edarkan pandanganku, berniat melanjutkan langkahku namun mataku terpaku pada bangunan tinggi dihadapanku.

Gedung apartemen yang rasanya pernah ku tempati bersama seseorang yang kusayang-meski entah siapa orang itu.

Mataku memanas, dadaku sesak. Aku merasa angin yang berhembus menembus kain sweater dan kaus hingga tulang rusukku.

Aku yakin, aku pernah bahagia di salah satu ruangan dalam apartemen itu.

Angin malam kembali berhembus, namun ku nikmati hembusan itu meski air mata dan isakan pelan terdengar dariku.

Malam dingin yang indah.

-***-

Aku menikmati pemandangan dari dalam bus yang kunaiki, sembari mengusap pelan keningku sendiri.

Masih terasa kecupan lembutnya dikeningku, dan aku tidak suka akan perlakuannya-yang kini duduk disampingku.

Sebelum aku menaiki bus bersamanya, aku diinterogasinya.

"Dari mana kau, semalam?"

"Mencari makan"

"Jangan pernah lakukan itu lagi!" ia membentakku, aku terdiam.

Aku memandanginya kesal, ia menghela nafasnya dan berjalan ke arahku.

"Dengar, aku tak pernah ingin melihatmu terluka, aku menyayangimu" ia berlutut di depanku, menggapai kedua tanganku lalu diciumnya.

"Aku ingin menjagamu, tanpa kau terluka" aku terdiam, aku tetap memandang wajahnya.

"Rapihkan dirimu, sebentar lagi kita berangkat, dan semoga kau betah disana" lanjutnya dengan nada yang sangat lembut, lalu ia berdiri dan mengecup keningku.

Sejujurnya, aku tidak suka. Jong In sudah kuanggap sebagai sahabat, hanya sahabat dan tidak lebih.

Perhatian dan seluruh yang Jong In berikan kuanggap sebagai perhatian seorang sahabat. Entah apa yang ada dipikirannya, dan aku bersumpah takkan pernah ada rasa lain untuknya.

Aku menutup hatiku, karena aku sudah membukakannya untuk satu orang. Satu orang yang ku yakin ia masih hidup dan menungguku untuk menemukan dia.

Namun, aku lupa semua tentang orang itu. Aku hanya ingat aroma tubuhnya, kasih sayang darinya dan masa-masa bahagia bersamanya.

"Hey, kau tak apa?" Jong In menggenggam tanganku yang satu lagi, lalu dikecupnya.

"Ya, aku tak apa"

"Kau sakit? Wajahmu pucat" aku memalingkan muka, menatap matanya.

"Apakah ekspresiku seperti orang sakit?" Jong In diam.

"Jangan berlebihan memperhatikanku, urus urusanmu sendiri dan bayangkan nanti aku tak akan merepotimu lagi"

-***-

"Kyungsoo-nie!" terdengar seseorang berteriak memanggil namaku saat aku melangkah keluar dari bus.

Aku membuka mataku, kulihat sahabat kecilku berlari membuka tangannya. Aku ikut berlari mendekatinya dan berpelukan.

"Baekhyun-ah! Aku merindukanmu!"

"Aku tidak" aku memukul pundaknya, lalu kami tertawa bersama.

"Kau bisa ada disini, kenapa?" tanyaku, kami berjalan berdampingan.

"Aku tak sabar melihatmu, jadi kuputuskan untuk menjemputmu"

"Kau mengetahui aku ingin pulang?" Baekhyun mengangguk.

"Dari siapa?"

"Kai" aku diam.

"Ah ya, mana Kai?" aku mengedarkan pandanganku lalu mencari kemana Jong In.

Aku lupa jika aku ditemani Jong In.

"Ah sudahlah, lebih baik kita menunggunya dirumah saja, cepatlah aku tak sabar mendengar ceritamu tentang kampus di Seoul" ujar Baekhyun.

-To Be Continue Soon-

Rabu, 20 November 2013

Visual Dream part. IV

Note : kisah ini merupakan kisah lanjutan Visual Dreams yang ada disitus ini.

Cast : -. @DBYuliani -. Lee Hayi (이 하이) -. Jay Park (재범) -. Kim Family
Cameo : -. Minzy (민지) -. Funzee (푼지)
Genre : Straight, Fantasy

"Dengarlah, semua penggemar permainan fantasy tidak ada yang seperti mu" terdengar suara yang membangunkan lamunanku saat itu.
Aku terdiam, ku edarkan pandangan dan tak melihat siapapun dikamarku. Aneh, sangat aneh. Darimana suara itu berasal?

"Kim?" CL mendekatiku, ia berdiri di ambang pintu lalu menyerahkan buku usang padaku.

"Semua menunggu mu dibawah"

"Ya, aku segera kebawah"

"Ku tunggu kau..."

Aku mengangguk pelan, tiba-tiba dada kiri dan lenganku perih. Aku baru menyadari jika dada dan lenganku diperban. Apa yang terjadi dengan ku?

-***-

Tepuk tangan dan sorak sorai para pejuang memenuhi ruangan tengah. Aku mematung di anak tangga melihat euphoria para pejuang kala itu.

Harus berbanggakah aku atau haruskah aku mengabaikan mereka semua?

Memang tidak banyak yang menyoraki aku sekarang, namun jika ku teruskan hidupku seperti ini, aku yakin semakin banyak orang yang akan bertepuk tangan.

"Kim!" penyihir kecilㅡsombong berlari kearah ku dan memeluk tubuhku erat.

"Ku pikir kau takkan selamat"

"Tenanglah, ia penyihir hebat tak mungkin ia terluka" ku dengar Funzee mendekat dengan Jay Park yang menuntun kursi rodaㅡcanggih kearah tangga. Aku tersenyum.

"Terima kasih, Kim..."Key menarik tangan dan menjabatku dengan erat.

"Kau menyelamatkan Taemin dan Seohyun, dan kau mempertemukan ku dengan Deby dan juga Shindong"

Aku terkekeh, aku melihat Deby dan Shindong melambaikan tangan.

-***-

Aku mengelilingi istana ini berjam-jam. Aku senang melihat pejuang yang dulunya berkumpul dirumahku kini bercengkrama dengan tawa dan kebahagiaan di istana ini.

Canda dan tawaan terdengar di setiap ruangannya.

Aku terkekeh saat Bom berusaha membuat CL, Sandara, Minzy tertawa. Diruangan lain, Pasukan 9 Rubah dan Perampok Jalan kembali akur. Mereka ditemani Shindong, dan Deby.

Daesung dan Seungri yang mengajarkan para pejuang lain menggunakan sihir dan pedang di sisi lain padang rumput yang dekat dengan istana, disisi lainnya Pasukan Vampir 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls berkumpul.

Ku langkahkan kaki menuju ruang terakhir yang belum ku kunjungi. Aku yakin Changmin, Funzee, Alex dan Jay Park berada didalamnya. Tebakan ku benar, mereka berada di ruangan yang dekat dengan kamar ku. Funzee memberi nama ruangan itu dengan sebutan 'Strategy Room'.

-***-

"Hi..." aku menoleh, ku lihat Deby mendekat dan memberikan ku sebuah tongkat ranting kecil yang sudah sangat usang.

"Ada apa?" tanyaku yang menerima tongkat itu lalu memandangnya.

"Ada yang ingin ku tanyakan..."

"Apa itu?"

"Apa kau menganggap dunia ini mimpi atau dunia ini nyata?" aku terdiam, ku taruh tongkat itu di atas meja didepanku.

"Maksudku... Aku bingung..."

"Ya, aku paham..." ku potong kalimatnya, kami saling memandang.

"Aku paham maksudmu, sepertinya kita terjebak... Namun, aku senang... Bukan hanya aku yang terjebak di dunia ini, aku melihatmu, aku melihat keluarga ku walau mereka telah tiada..."

"Bagaimana jika kita mati disini? Apakah kita..."

"Sudahlah, jangan tegang... Dan jika kita memang mati didunia ini... Artinya tugasmu didunia ini sudah selesai"

"Aku harap, aku tetap dapat bertemu dengan mu didunia nyata" kami berdua tersenyum.

"Terima kasih, Kim" aku mengangguk, wanita pemanah itu meninggalkan kamarku. Aku masih tersenyum kecil, karena sebenarnya ketakutan yang Deby alami sama dengan ketakutan yang aku bayangkan.

Bagaimana jika aku mati sebelum mengalahkan tentara merah? Aku terdiam, ku ambil tongkat usang yang Deby beri dan menaruh disela buku usang yang ku miliki.

Aku sempat terkejut, karena dihalamanㅡyang seharusnya kosong sudah tertulis 'A Start Without An Ending'

-***-

Aku terkejut melihat gadis berpakaian gaun putih dengan pita berwarna darah dilehernya sedang berdiri menatapku dari ambang pintu masuk istana. Gadis itu terus menatapku, lalu melebarkan tangannya seakan-akan ia ingin memeluk tubuhku.

Aku yakin, ia berniat melakukan sesuatu terhadap ku. Ia meringis lalu terkekeh, tubuhku mematung. Aku tak dapat bergerak, ingin segera aku berlari namun tubuhku tak dapat bergerak.

"Hayi!" Minzy berteriak dibelakang ku, lalu berlari dan memeluk gadis itu.

"Kak!" ia tertawa, dan tersenyum ketika Minzy memeluknya.

Aku membelalakan mataku. Kupikir, ia akan membunuhku dengan kekuatannya namun ternyata ia hanya melebarkan tangan untuk memeluk Minzy. Bahkan aku tak sadar jika Minzy ada dibelakangku.

"Kim! Kemarilah! Ini Hayi!" Minzy berteriak. Sungguh, aku ingin tertawa namun aku hanya dapat tersenyum mengingat gadis ini seperti ingin membunuhku.

Aku melangkah mendekati mereka.

"Hayi, perkenalkan ini..."

"Ya aku mengetahuinya, kalau saja kau tidak berteriak memanggilku, laki-laki ini mengira ia akan mati ditanganku"

Minzy dan gadis itu tertawa, aku terdiam.

"Sudahlah, jangan begitu... Kalian sesama penyihir harus saling bekerja sama" ucap Minzy.

"Baiklah, dengarkan aku... Akan kuberitahu yang lain kau datang berkunjung, silahkan saling mengenal" lanjut Minzy yang berlalu meninggalkan aku dan gadis itu.

"Aku Hayi" ia menjulurkan tangannya.

"Kim" aku menjabatnya, senyumannya menghilang ketika tangan menggenggam erat tangannya.

"Kau... Tentara merah..."

"Maksudmu?"

"Tidak, kau memiliki ikatan dengan tentara merah..."

"Aku...?"

"Kau... Dan keluargamu... Awal dari kehancuran..." apa yang gadis ini bicarakan?

Apa maksudnya?

"Lepas tanganku!" dia berteriak.

Aku terdiam, seketika pemandangan di istana yang ku tempati berubah. Tak ada lagi tanaman hias disekitar istana ini, suasana menjadi gelap dan mengerikan.

Aku terdiam, aku menatap wajah gadis iniㅡyang bernama Hayi berubah pucat. Matanya berubah merah menyala. Bibirnya mengucapkan mantra yang entah apa artinya.

"Lihat di ambang pintu!" ucapnya.

Aku melihat seorang wanita berambut panjang mengenakan gaun bangsawan berwarna putih sedang menggendong anak laki-laki.
Wanita itu menangis, sama seperti anak kecil yang berada di dadanya.

Pintu istana terbuka lebar, dengan Jay Park dan tentara merah yang berdiri berdampingan.

"Kau datang rupanya" Jay Park meringis.

"Lihat, tangisannya begitu indah" sang tentara merah menimpali.

"Hey! Hentikan!" ku arahkan pandanganku ke belakang tubuh, ku lihat Jea, dan Narsha berdiri disana.

"Jangan ganggu anak itu dan ibunya"

"Lepaskan mereka!" Jay dan rekan tentara merahnya tak menghiraukan ocehan Jea dan Narsha. Wanita dibawa masuk dan Jea juga Narsha berlari mengikutinya.

Sayangnya, mereka berdua tak dapat mengikuti Jay dan tentara merah. Pintu istana tertutup dan disegel dengan mantra juga monster Cerebrus yang pernah ku kalahkan.

"Sial! Kita harus beritahu yang lain!"

Lalu pandanganku kabur, aku memandang wajah Hayi yang masih pucat.

"Lihat sekelilingmu!" ujar Hayi.

Sekelilingku berubah menjadi penginapan yang pernah aku kunjungi.

"Kita harus meminta tolong!" Gain berteriak.

"Aku tak menyangka Jay akan seperti itu..."

"Pada siapa kita meminta bantuan?"

"Dengarlah, dikota ada Pasukan 9 Rubah! Memintalah pada mereka"

"Dengar, mereka tak akan bisa dan tak akan percaya"

"Kenapa?"

"Kita mahkluk yang hidup lebih dari ratusan abad! Mereka tak akan mungkin melakukannya"

Aku semakin terdiam. Aku baru mengetahui jika Keluarga Vampire 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls pernah berdebat sehebat ini.

"Jangan berkedip! Lihat belakangmu!"

Aku membelalakan mataku. Wanita yang tadi menggendong anaknya kini sedang dirantai. Anak kecil yang digendongnya bermain diatas lantai.

"Aku akan memusnahkan anak ini!" ucap tentara merah.

"Jangan, ku mohon! Hentikan..." tentara merah itu tertawa.

"Jay, bungkam wanita itu! Bunuh jika kau ingin"

"Kulakukan dengan senang hati" Jay tertawa, ia mengeluarkan taring dari giginya dan memanjangkan jarinya.

"Jangan sentuh anak dan cucuku!" tiba-tiba, cahaya putih terang menyilaukan datang.

Aku tercengang saat menatap wanita paruh baya berdiri didepan wanita yang dirantai, ketika cahaya menghilang.

Nenek! Nenek ku melindungi wanita itu.

Tongkat kecil kayu diayun pelan oleh nenek ku. Tubuh Jay mematung untuk sesaat, dan ia mendorong tubuh Jay hingga terpental kedinding. Jay tak dapat berbicara bahkan bergerak. Aku yakin Jay tak sadarkan diri.

"Kau! Ternyata kau dalam pengaruh setan! Terkutuk! Aku menyesal merestui mu dengan anak ku" ucap nenek dengan nada marah.

Dengan sekali ayunan tongkat kecilnya, rantai yang mengikat tubuh, tangan dan kaki wanita itu meleleh.

"Benarkah menyesal? Bukankah kau selalu membanggakanku ibu?"

"Jangan banyak bicara kau! Anak ku tak akan mudah terpengaruh setan sepertimu! Kau bukan anak ku, anak ku sudah mati ketika ia bertugas membasmi kejahatan!"

"Tidak ibu, aku masih disini... Di hadapanmu"

"Diam kau! Terkutuk!" wanita yang tadi dirantai berteriak dan mengeluarkan sihir api yang pernah ku keluarkan.

"Suamiku tidak sepertimu!" wanita itu marah. Berkali-kali ia mengeluarkan bola api dari tangannya.

"Pergi kau dari tubuh suamiku! Biarkan suamiku tenang disurga!" nenek ku dan wanita itu membaca mantra, terlihat sebuah lubang hitam kecil dari belakang tubuh sang tentara merah.

Tentara merah itu terdiam, lalu tertawa kencang.

"Aku tak akan pernah mati, lubang hitam ini hanya membuatku kembali ke masa lalu" tawa tentara merah itu semakin kencang.

"Kau salah! Lubang ini akan mengantarmu kembali ke neraka!" teriak nenek.

"Ibu, mantra! Ucapkan mantra yang pernah kau tujukan padaku!" ucap wanita itu. Nenek mendekati tentara merah dengan tangan kanan yang terbuka dan tangan kiri menggenggam tongkat.

Mulut nenek membaca mantra tanpa suara hingga akhirnya tentara merah itu terdiam dan membatu. Sekali ayunan pelan ditangan kirinya, tongkatnya mengetuk kepala patung tentara merah.

Terlihat retakan kecil dari kepala lalu patung itu terpecah belah dan terhisap oleh lubang hitam didinding.

Aku mengalihkan pandangan ku kearah Hayi.

"Jangan menatapku!" Hayi berteriak, ia menangis. Namun, darah yang mengalir dari matanya.

"Hayi! Hayi!" aku menggenggam tangan Hayi, hingga tak sadar aku berdiri berdua dengan Hayi diruangan yang gelap.

Aku terdiam. Apa yang terjadi selanjutnya? Kemana nenek? Mana wanita itu dan anaknya? Mana Jay?
Aku mematung dan memandangi sekelilingku.

Tak ada apa apa, hanya kegelapan.

"Pejamkan matamu... Lalu bukalah" aku mendengar suara Hayi menggema, namun saat ku menatap wajah Hayi, ia hanya terdiam dengan mata yang masih mengalirkan darah.

"Jangan tatap aku! Lakukan apa yang aku suruh!"

Aku memejamkan mata, lalu membukanya.
Saat aku membuka mataku, terlihat kembali pemandangan indah disekitar istana ini.

Tanaman hias, cahaya matahari, juga canda dan tawa yang menghiasi istana ini kembali terdengar. Aku memandang wajah Hayi.

"Aku Hayi" ia menjulurkan tangannya. Aku terdiam.

Hayi mengerenyitkan dahinya.

"Kau tak ingin menjabat tanganku?" ucapnya dengan santai.

Aku tersenyum.

"Kim" ujarku tanpa menjabat tangannya.

"Baiklah sesukamu" ia tertawa, "Hey, ajak aku keruangan Minzy!" lanjutnya.

Aku mengangguk. Ku antar gadis cenayang ini ke ruangan Minzy. Entah apa yang ingin ditunjukannya padaku, namun aku berterima kasih padanya karena aku memiliki jawaban yang tak pernah aku minta.

-***-

Aku terdiam memandangi padang rumput sambil menikmati kilauan senja matahari. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku memang keturunan penyihir kuat, tetapi jika musuh ku adalah ayahku sendiri, apa yang harus ku perbuat.

Kegilaan ini tak akan mungkin bisa berakhir.

Rabu, 13 November 2013

Satu Hari

Note : Cerita ini mengandung unsur tema Yaoi/Gay Eksplisit atau digambarkan secara fulgar. Silahkan tutup halaman ini jika dirasa mengganggu. Terima kasih, regards, Author.

Kisah ini pula pernah dibuat dalam 5 bagian yang tak selesai pada blog ini yang berjudul "One Day" dan kisah ini, Author mengubah beberapa bagian menjadi kisah yang tidak membutuhkan banyak waktu dan ruang agar tidak menjadi kisah yang panjang.

Cast : Nickhun and Wooyoung of 2PM.
Genre : Yaoi Explicit, Mature Content, Adult

Peringatan! Cerita ini mengandung unsur tema Yaoi/Gay Eksplisit atau digambarkan secara fulgar. Silahkan tutup halaman ini jika merasa terganggu dan membuat jijik. Ini hanya kisah fiksi yang dibuat oleh fans. Selamat membaca. Terima kasih, Regards, Author.

-Satu Hari-

Memang, yang muncul pertama kali dihati manusia adalah kecurigaan. Aku tak memungkirinya.
Aku menaruh curiga ku pada orang itu, yang setiap harinya membuatku seperti orang gila.

-***-

[2 Months before, Day]
Aku mengenalnya saat aku sedang memburu pemandangan ditaman kota. Tak sengaja aku melihatnya melalui lensa kamera, ketika ia sedang tersenyum sembari memakan permen gulali kapas.

Tanganku refleks menekan tombol pada kamera agar mendapatkan gambarnya.
Satu, dua, tiga gambar aku dapatkan tanpa sepengetahuannya. Aku memeriksa hasil jepretan pada kamera dan sedikit tersenyum saat mengetahui hasilnya mendekati sempurna.

"Gulali?" aku membelalakan mataku ketika objek yang aku curi melalui kamera menawarkan permen gulali kapas.

Aku terdiam, aku tersipu sesaat lalu pergi meninggalkannya tanpa pamit.

-***-

[3 Months before, Night]
Nickhun. Tangannya menjabat ku dengan erat lalu menggoyangkannya pelan.

Aku tak sengaja bertemu dan berkenalan dengan Nickhun ketika ia sedang mengetuk pelan pintu rumahku. Aku tak mengerti bagaimana ia dapat menemukan alamat rumahku dengan mudahnya.

"Cukup panggil aku, Khun" ia tersenyum.

Aneh, aku merasa aneh padanya.

"Jadi... Kau Wooyoung sang fotografer handal itu?" tanyanya, ia kembali tersenyum.

"Senang bertemu denganmu, aku Khun model pertamamu" lanjutnya.

Sejak saat itu, Khun menginap dikediaman ku.

Dia bercerita tentang alasannya kenapa mengejarku hingga datang ke Busan. Nickhun diutus oleh presiden agensi daerahnya untuk menemukan seorang fotografer handal, dan ia menemukan namaku disebuah situs fotografi yang menulis namaku sebagai pemotret pemandangan yang handal.

"Aku tak menyangka jika aku dapat menemukanmu" ucapnya dengan riang.

"Tempat tinggalmu begitu nyaman dan sangat tenang. Tidak sama dengan tempat tinggalku. Kau..."

"Teh atau kopi?" aku memotong kalimatnya, memandang wajahnya sesaat lalu melangkah ke arah dapur.

"Teh, kau benar-benar sendiri?" lanjutnya.

"Ya... Selamat datang di duniaku" jawabku yang menyodorkan dua gelah cangkir teh hangat. Aku melangkah meninggalkannya membuka pintu kaca agar angin sejuk malam hari dari teras belakang rumah masuk ke dalam.

Ia terdiam, aku mengajaknya duduk di teras belakang rumah. Nickhun mengikuti ku dan duduk bersila menghadap ke arah halaman.

Aku terpesona memandangnya, kemeja putih gading yang dikenakan dengan lengan yang dilipat hingga ke sikut membuatnya begitu menarik.

"Tunggu disini..." aku mengambil kamera yang kutaruh di meja makan dan mengambil gambar Nickhun dari arah belakang.

Lalu aku kembali duduk dihadapannya, dan mengambil gambar Nickhun yang sedang meminum teh.

"Kau memang pantas menjadi seorang model" puji ku.

Nickhun tersenyum. Malam itu kami berbincang panjang mengenai diri masing-masing.

-***-

Andai saja, saat itu aku tak mengenalnya. Mungkin aku tak akan merasa sesedih ini. Aku menyesal, sangat menyesal. Bukan karena mengenalnya, namun karena perasaan yang ku libati ketika mulai mengetahui siapa Nickhun sebenarnya.

-***-

[1 Months before, Night]
"Apa ini! Kau bilang ini bagus? Majalah kami tak akan menerbitkannya!" bentak pria paruh baya dihadapan ku. Aku terdiam menatap wajahnya.

"Apa yang terjadi padamu, aku paham kau hanya seorang pekerja paruh waktu disini. Tapi, tak seperti pula hasil yang ku inginkan!" lagi, kali ini air liurnya membasahi wajah, hasil foto, dan kamera ku.

"Sepertinya, kau harus banyak belajar bocah! Mulai besok, aku tak ingin melihatmu dan hasil foto mu ditempat ini! Datang kembali jika kau sudah paham apa yang namanya fotografi!" lanjut pria itu yang membentak dengan nada tinggi.

Ia merobek hasil fotoku dan membakarnya di hadapanku.

Emosiku meningkat, tubuhku terbakar, kupejamkan mataku dan ku kepalkan tanganku. Ingin sekali aku menghajar wajahnya, menendang mulutnya dan melempar tubuhnya dari ruangan kerja.

Ketika aku membuka mata, yang ku lihat Nickhun sedang memandangi wajahku.

"Ada apa dengan mu?" tanyanya.

Aku terdiam. Ku edarkan pandanganku dan kembali memejamkan mata.

Mimpi buruk.

"Ada apa dengan mu, Wooyoung?" Nickhun memajukan tubuhnya, ia memandang ku seakan aku bukan manusia.

"Apa tadi aku mengigau?" tanyaku sembari mendudukan tubuh. Ku sadarkan tubuhku ke dinding, mendorong sedikit tubuh Nickhun lalu memandang wajahnya.

"Sebenarnya... Kau berteriak..." aku menarik nafas panjang. Ku usap keningku dan wajahku. Aku terdiam.

"Maafkan aku jika kau terganggu karena ku..."

"Bukan., ini bukan karenamu... Ini karena atasan ku yang membenci hasil fotoku" kami berdua terdiam. Hanya terdengar suara dengusan nafas dari hidungku.

"Kau bermimpi buruk..." Nickhun memandangku. Aku menganggukan wajah, dan membalas tatapan matanya.

"Hampir setiap malamnya aku bermimpi yang sama..."

"Dan aku baru mendengar kau berteriak pada malam ini..."

Aku menundukan wajah. Aku merasa bersalah padanya.

"Maafkan aku... Aku menganggu waktu tidurmu" Nickhun tersenyum.

"Tidak, aku tak apa... Aku hanya khawatir padamu" ia menatapku lekat lekat. Seakan ada yang ingin ia ucapkan padaku.

"Kau..." aku membelalakan mataku, kalimatku terpotong ketika Nickhun mencium bibirku.

Nickhun mencium dengan lembut bibirku.

Tanganku menggenggam bahu Nickhun, mendorongnya pelan namun tubuhnya semakin dekat. Aku ingin menolaknya, namun tubuhku kaku. Aku hanya dapat diam dan menerima ciuman bibir Nickhun yang lembut. Mataku terpejam, tak lagi aku mendorong tubuh Nickhun tetapi aku memeluk lehernya.

"Maaf..." ucapnya memandangku. Wajah dan telinganya memerah..

"Aku hanya tak tega melihatmu seperti tadi, karena aku..." ia duduk dikedua lutut ku.

Kami diam, seribu bahasa.

Lalu ia berdiri, dan hendak meninggalkanku. Ku tarik kaus dalamnya, ku peluk tubuhnya dari belakang, ku taruh kepalaku dipundaknya.

"Jangan... Bantu aku melupakan mimpi burukku..." Nickhun membalikan tubuhnya perlahan, menatap wajahku dan kembali menciumku.

Aku menikmati perlakuannya, tangannya mengusap punggungku dan membuka kancing piyama yang aku kenakan. Bibirnya melumat, menghisap dan mengulum bibir juga lidahku.

Kami bertukar air liur.

Perlakuannya membuatku seperti melayang. Dengusan nafasnya mengenai hidungku, erangan dan rintihan pelan membakar semua emosiku. Aku terangsang, sangat terangsang.

Entah siapa yang memulai, kami sudah bertelanjang. Kakiku diangkat Nickhun dan kulingkarkan dipinggangnya. Kemaluan kami saling menghimpit dan dada kami saling bergesekan. Buliran keringat sudah membasahi tubuh kami. Aku yakin, kami sudah dimabukan asmara.

"Izinkan aku..."

"Lakukan apa yang kau suka"

Nickhun berbisik pelan, dan aku menjawabnya.

Lidahnya kini bermain ditelingaku, melumat buliran keringat yang mengalir. Membuat tanda merah dileher dan dadaku. Ia mengangkat tubuhku dengan tangannya, ia membawaku ke dinding dan menghimpit tubuhku.

Kembali ia mencium bibirku dengan nafsu. Kedua jarinya bermain dilubang anusku dan menusukannya pelan. Ia merangsangku dengan menghisap dan menggigit kedua puting dadaku bergantian.

Aku mengerang dan mendesah.

Kemaluannya menonjok perut dan terkadang menggesek pinggulku. Ia berusaha mengangkat tubuhku tinggi-tinggi agar kemaluannya dapat menembus lubang anusku.

Aku berteriak kencang ketika miliknya berhasil masuk dan merobek anusku. Perih, namun entah kenapa tubuhku bereaksi lain dan semakin membuat aku bernafsu.

Hentakan demi hentakan ia lakukan hingga kami benar-benar klimaks.

-***-

[One day before, Day]
Aku paham, yang pernah aku lakukan dengannya malam itu salah. Namun, aku harus berterima kasih padanya karena sejak itu aku tak lagi mengalami mimpi yang serupa.

Namun, ketika perasaanku semakin terlibat. Aku semakin yakin jika ada yang aneh darinya. Aku berhasil menjadi seorang fotografer disebuah studio yang berani membayar lebih upahku, dan aku berniat mengajak Nickhun untuk menikmati hasil yang aku dapatkan.

Aku baru mengetahui jika Nickhun bukanlah orang yang baik. Nickhun adalah penipu ulung yang memanfaatkan ku agar ia mendapatkan hasil taruhan yang lebih besar dari hasil upahku.

Aku mengetahui hal itu ketika aku berjalan pulang kerumah. Ku lihat segerombolan orang sedang menyalami Nickhun. Aku mengenal salah satu diantara mereka, kawan lama yang aku benci karena mengetahui jika ia adalah pengedar obat terlarang.

Bodohnya aku, aku mudah percaya semua kalimat-kalimatnya. Aku memang bodoh.

Ketika Nickhun sampai rumah, aku mendiaminya.

"Wooyoung-ah... Aku ingin berpamitan denganmu"

Aku tak menjawabnya, hatiku sakit.

"Apa kau tak apa ku tinggal?"

Aku masih tak menjawabnya, rasa kecewa semakin membesar.

"Wooyoung-ah, aku ingin pergi..." aku melangkah mendekatinya, menyiram dadanya dengan air hangat yang ku persiapkan untuk membuat teh.

"Ada apa denganmu!" ia berteriak, tangannya mengepal, ku sodorkan pipiku.

"Hajar aku, agar kau semakin puas menyakitiku" ucapku. Kami saling bertatapan. Mataku memanas.

Nickhun terdiam.

"Kau mengecewakan ku! Kau memanfaatkan ku! Kau menjadikan aku taruhan mu! Dasar idiot!" aku mencengkeram kerah bajunya, mendorong tubuhnya hingga mengenai dinding.

Emosiku meningkat, mataku memanas. Sekilas teringat dalam kepalaku saat Nickhun memeluk ku dari belakang sembari menyanyikan lagu 'aku milikmu' .

"Kau memang brengsek! Kau penipu ulung!" dadaku sesak, aku menangis tanpa terisak.

Lagi, aku menatapnya sinis lalu aku mendekatinya dan memukul dadanya. Nickhun tak berontak. Ia hanya diam.

"Kau... Brengsek" aku terduduk lemah diantara kakinya, aku lemas.

"Pergi dari tempatku... Aku muak melihatmu..." ujarku dengan nada lemah.

-***-

[Now, Day]
"Ini teh mu..." aku terkejut dan segera mengedarkan pandangan ke sekelilingku, namun tak ada siapa siapa disekitarku.

Aku merasa mendengar suara Nickhun.

Lagi, sekilas aku terbayang wajah Nickhun dan hari-hari saat kami berdua. Sayangnya, aku terlanjur kecewa padanya dan aku tak ingin mengulangi hari-hariku bersamanya.

Walau saat itu aku tak memiliki hubungan dengannya, aku senang dapat mengenal Nickhun. Nickhun orang yang baik, aku sangat yakin dia baik.

Mungkin, karena pengaruh lingkungannya maka Nickhun seperti itu. Andai saja, dia tak menjadikanku barang taruhan. Mungkin aku sudah menjadikannya model terkenal yang akan selalu ku foto dan ku pajang gambarnya disitus resmi milikku sendiri.

-fin, end-

Selasa, 12 November 2013

A Kiss In The Middle Of Winter

Note : Cerita ini permintaan @DazzleNaeun94
Cast : Kris dan Tao EXO
Genre : Romance, BoysLove, One Shot

-Kisah ini mengandung unsur tema gay/yaoi yang tidak explisit atau digambarkan secara fulgar, silahkan tinggalkan halaman ini jika dirasa mengganggu, Regards, Author-

-A Kiss In The Middle Of Winter-

Salahkah aku jika aku memintanya lebih peka terhadapku? Salahkah aku jika aku memintanya selalu ada untuk ku? Salahkah aku jika aku memintanya untuk tetap disampingku setiap harinya?

Aku memang egois, namun aku memiliki alasanku sendiri mengapa aku menjadi terlalu egois. Aku memang kekanak-kanakan, namun aku juga memiliki alasan tersendiri kenapa aku seperti ini.

Kris, memang orang yang baik. Bahkan menurutku, ia terlalu baik hingga aku takut menyakiti perasaannya. Sayangnya, ia tak pernah ada untuk ku disaat aku membutuhkannya.

Aku tak berniat menjadi orang yang over protective padanya. Hanya saja, aku menginginkan ia meluangkan waktu sedikit untuk ku. Menyisihkan sedikit tenaga untuk memberi kabar padaku.

Apakah aku salah meminta hal itu?

-***-

Aku dan Kris sudah menjalani hubungan yang lama, namun entah mengapa aku merasa jika Kris tak paham apa yang aku inginkan.

Kris terlalu dingin, Kris terlalu acuh padaku. Terkadang, aku menyesal menerima cintanya. Tapi, penyesalanku selalu terkalahkan oleh rasa sayangku padanya.

Mengapa aku begitu lemah jika dihadapannya, mengapa aku begitu bodoh sehingga aku mengiyakan semua kalimatnya yang jelas tak dapat diterima akal sehatku.

Apa karena rasa sayang tulus ku padanya?

-***-

Sempat menyangka jika aku hanyalah pelampiasan semata. Tapi, ku coba menghilangkan sangkaan ku agar terus menyayanginya tanpa adanya kecurigaan.

Aku hanya butuh perhatian darinya, bukan hal lain?

-***-

"Kris..." ku panggil namanya pelan, aku berharap ia menoleh ke arah ku dan tersenyum padaku. Namun, harapan ku hanya sebuah harapan.

Kris tetap fokus pada jalan dihadapannya. Memandang ke arah kanan kiri mencari sebuah kedai makanan ringan untuk mengisi perutnya yang kosong.

Kris memasukan tangannya ke dalam kantung celananya, tidak menggenggam tanganku lagi seperti dahulu saat aku dan dia berkenalan untuk pertama kalinya.

"Kris... Sadarkah kau jika aku ada disamping mu?" ucap ku, aku membuang pandangan ku dari wajahnya dan berjalan menunduk menatapi jalanan yang sudah bersalju.

"Maafkan aku, jika aku membuat mu marah..." aku terus menunduk.

"Maafkan aku... Jika aku terlalu egois..." ucapku lagi, dan belum ada jawaban dari Kris.

"Maafkan aku, yang terlalu kekanak-kanakan" lanjutku. Masih belum ada jawaban.

Mataku memanas, dapat kurasakan air mataku menggenang di bawah kelopak mataku.

"Aku hanya... Aku hanya takut kau pergi meninggalkan aku" air mataku menetes, langsung jatuh menyentuh salju yang ku injak.

Aku menangis, tanpa isakan. Aku berusaha agar nada ucapan ku tak berubah karena tangisan ku.

"Aku takut... Aku takut kau menjadikan ku pelampiasan... Sungguh aku takut" aku merasa tubuhku menggigil kedinginan. Suhu musim dingin kali ini seakan masuk menyetuh tulang dan membekukan fungsi organ tubuhku.

Terasa sesak di dada, dan perih. Tangisan ku semakin menjadi. Isakan tak dapat lagi kusembunyikan, nada ucapanku lebih terdengar gugup dan kecewa.

Aku terkejut ketika lenganku digenggam, dan kepalaku diangkat olehnya. Kris menatap mataku dalam-dalam.

Aku membalas tatapan matanya lalu kubuang pandanganku ke arah lain.

Aku malu, menangis di hadapannya. Aku merasa aku yang bersalah. Menangisi hal kecil, seakan aku adalah pembuat onar yang memudahkan semua hal.

Dapat ku rasakan jika Kris tetap memandangku. Tangannya menyentuh wajahku dan diusapnya dengan pelan. Ku pejamkan mataku, berharap ia menghentikan perlakuannya dan membahas hal ini di rumah.

Namun, aku terkejut. Tangannya tak berhenti menghapus aliran air mataku. Dapat kurasakan wajahku semakin di angkatnya.

Aku semakin memejamkan mataku, karena takut ia akan menampar atau memukuli ku. Namun, ternyata tidak. Bibirnya dengan lembut mengecup keningku.

Sangat lama mengecup keningku, lalu turun ke hidungku dan tepat di bibirku ia mencium ku lembut.

Ya, bibirku.

Kris mencium bibir ku dengan jantan dan mesra. Ciuman yang menghangatkan tubuh ku. Ciuman yang dapat melebur kebekuan dalam tubuh ku. Ciuman yang sangat jantan bagi ku.

Ku buka mataku, terpampang jelas mata Kris yang terpejam sembari mencium bibir ku.

Aku berusaha menikmati ciumannya. Membalas sedikit lumatan dan kecupan di bibirku.

Lalu, Kris melepaskan ciumannya dan memandangku dengan senyuman menggantung di wajahnya.

"Maafkan aku... Karena aku sangat mencintaimu... Aku tak akan pergi meninggalkan mu dan tak pernah ada niatanku menjadikan mu sebagai pelampiasan... Aku menyayangimu"

Air mataku kembali mengalir deras membasahi pipi. Aku tersenyum pelan. Wajahku memanas, aku yakin ia dapat melihat warna merah muda pada pipiku karena tersipu.

"Jangan menangis, ada aku disamping mu... Jangan takut, karena aku tak akan meninggalkan mu sendirian" ucapnya lagi sembari menghapus air mataku.

"Akan kubiarkan kau khawatir tentangku, akan kubiarkan kau mengoceh tentang ku tingkah ku namun, tak akan kubiarkan kau melepas tanggung jawabmu untuk menyayangi dan menjaga kasih sayang mu untuk ku. Aku mencintaimu, Tao" lanjutnya.

Kris tersenyum. Aku ikut tersenyum. Ia berhasil menciumku di musim dingin di jalanan tengah kota.

Lalu, ia menggenggam tanganku erat dan mengajak untuk melangkah bersama berdampingan melewati dinginnya musim dingin.

"Kris, aku menyayangimu"

-end-

Budayakan baca dan komentar, terima kasih.
Regards, Author