Rabu, 16 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 8)

"Kita harus berangkat malam ini!" mataku tak dapat menutup saat mendengar kalimat Daniel yang mengajak ku pergi.

"Malam ini? Kemana?"

"Kota Kembang, benahi pakaian mu, kita berangkat naik bus" ucap Daniel yang tergesa-gesa.

Aku baru melihat Daniel seperti ini, ia panik dan seakan tak ada hari esok.

Awalnya Daniel tak sepanik ini, aku dan Daniel menjalani hari seperti biasaㅡdi bulan pertama aku tinggal bersamanya. Tetapi, ia kalap langsung menutup usahanya dan mengajakku bergegas pulang.

Saat aku bertanya apa alasan ia menghentikan penjualan hari ini, ia hanya menjawab akulah penyebabnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku.

Daniel yang sibuk merapikan barang-barang sembari menelepon, menghentikan kegiatannya lalu memandang ku.

"Dengar, kau sudah tak aman lagi disini, aku harus membawa mu ketempat yang lebih aman" aku terdiam.

"Kau paham apa maksud ku?"

"Tidak, kau tidak menjelaskan secara detailnya"

"Angga... Noval mencari mu! Dia membuat selembaran info orang hilang!" mataku terbuka lebar, aku sangat terkejut.

"Benarkah?"

Daniel menghela nafas, lalu menunjuk selembaran kertas yang ada di atas koper pakaian miliknya.

"Jika aku bohong, untuk apa aku panik sampai seperti ini"

Aku terdiam, memang benar ucapan Daniel. Daniel tak akan sepanik ini jika tak ada hal yang membuatnya gelisah.

Tapi, kenapa harus ia yang panik?

-***-

Aku duduk dekat jendela sembari memeluk tas ransel, sementara Daniel disamping ku sembari menelepon.

Daniel meminta bantuan kawannya untuk melanjutkan usaha kecilnya sampai Daniel benar-benar siap kembali ke ibukota. Aku hanya terdiam mendengarkan Daniel berbicara dalam cantonese.

Setelah selesai, tangannya mengusap lembut punggung tanganku.

"Dengarkan aku, disana kau akan bebas melakukan apapun" aku tersenyum memandangnya yang ikut tersenyum.

Pikiran ku melayang jauh. Masih menjadi sebuah pertanyaan bagiku, kenapa Daniel panik saat Noval mencari ku.

Lalu, darimana Daniel mengetahui jika Noval mencari ku? untuk apa ia membawa ku ke jawa barat? Dan kenapa harus malam hari?

"Beristirahatlah, aku akan membangunkan mu jika sudah sampai" lagi, ia tersenyum.

Pikirnya, ia akan membuatku tenang dengan senyumannya, tetapi hal itu yang membuatku semakin gelisah.

Ada apa dengan Daniel sehingga ia membawa ku pergi dari ibu kota.

Aku butuh jawaban.

Perjalanan akan memakan waktu yang lama. Daniel sibuk memainkan ponsel, sementara aku memandangi jalanan melalui jendela.

Aku menengok sesaat mendengar Daniel berbicara, aku menebak ia kembali menelepon kawannya. Karena cantonese yang kental terdengar dari ujung telepon.

Aku merasa lelah dan bosan, ku putuskan untuk membenarkan posisi duduk ku dan memejamkan mata.

-***-

"Ada apa?" tanyanya saat aku terbangun dari tidur, aku memandangnya yang kelelahan. Matanya sedikit memerah, air mukanya terlihat begitu letih.

Sesaat aku melihat keadaan di luar bus, langit masih gelap.

"Sebentar lagi kita sampai" aku memalingkan muka dan kembali memandang wajah Daniel.

"Kau tidak beristirahat?" ia menggeleng.

"Kenapa?" tanyaku, aku menyandarkan kepala di pundaknya.

Tangannya merangkul ku, lalu mengusap kepalaku lembut.

"Seperti janji ku, aku akan menjaga mu" jawabnya, ia mengecup kening dengan tangan yang terus mengusap kepalaku.

"Daniel..."

"Ya?"

"Boleh aku bertanya sesuatu?" ia hanya menggumam

"Kenapa kau panik? Lalu, kenapa harus kota kembang tujuan kita?" Daniel terkekeh.

"Disana ada ibu asuh ku, dan adik-adik ku"

"Lalu, apa yang ingin kau lakukan disana?"

"Berlibur, menjauhkan mu dari Noval..." aku terdiam.

Menjauhkan aku? Untuk apa?

"Angga... Ibu asuh ku ini ingin segera melihat mu, tadinya bukan hari ini aku ingin mengajak mu ke sana, namun, sangat kebetulan posisi mu sekarang menjadi target pencarian orang dan ku putuskan untuk membawa sekarang" aku masih diam.

Benarkah itu alasannya?

"Lagipula, aku yakin kau akan senang disana" Daniel tersenyum, ia menunjukan wajah bahagianya meski masih terlihat jelas wajah lelahnya.

"Semoga..." jawab ku perlahan.

"Kenapa? Sepertinya ada yang kau sembunyikan"

"Aku?"

"Ya, kau tidak senang?"

"Ah, tidak... Aku hanya, bingung" aku menarik nafas.

"Kau... Kenapa kau begitu panik saat Noval membuat selembaran itu, dan kenapa kau membawa ku pergi dari ibukota, seakan kau memaksa ku dan tak ingin kehilangan aku" lanjutku.

Daniel terdiam.

"Ku pikir, kau belum berubah namun ternyata kau berubah, kau menjadi pemaksa... Daniel yang ku kenal dulu menjadi bayangan Noval yang pemaksa dan perfeksionis"

Daniel melepas rangkulannya lalu mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya. Aku menjauhkan diri, menatap Daniel.

Ku lihat Daniel mengeluarkan lembaran kertas yang usang dan berlipat-lipat.

Daniel membaca isi kertas itu dengan nada yang begitu lembut hampir tak terdengar, sembari memandang ku. Wajahku memanas mendengar kalimat-kalimat Daniel.

Mataku berkaca-kaca memandangi Daniel.

Daniel membaca setiap kata penuh dengan penghayatan, seakan ada makna yang sangat berarti untuknya.

Daniel terdiam sesaat sembari menghela nafas, ia memandang wajahkuㅡyang aku yakin sudah memerah karena malu.

Raut wajahnya yang lelah terlihat begitu bersemangat membaca isi dari kertas itu, terkadang ia tersenyum dan terkekeh saat membacanya.

"Isi kertas ini yang membuat ku sadar... Isi kertas ini yang membuat ku berubah... Aku menyukai, menyayangi dan mencintai orang yang menulis di kertas ini" ucapnya setelah membaca isi kertas itu, aku terdiam.

Aku tak dapat menahan air mataku, pipiku kanan ku basah karena tetesan air mata yang mengalir.

"Aku... Tak ingin kehilangan orang yang menulis di kertas ini... Aku tak ingin kehilangan orang yang telah menulis kalimat penyemangat hidupku di kertas ini... Aku menyukai laki-laki yang kini setia menggunakan nama pemberianku..."

Walau aku tak tersedu, air mataku tetap mengalir deras.

"Dulu, aku bodoh dan aku mengakui jika aku malu harus menyatakan perasaan ku pada orang itu... Tapi, dari tulisannya aku mulai sadar, aku harus menjadi pemaksa agar orang itu tetap milik ku" aku mulai tersedu dan terisak.

"Aku menyukai Dimas Yogi Pratama..." aku menunduk, aku mengusap mataku perlahan.

"Aku menyesal pernah meninggalkan Dimas setelah lulus sekolah, dan aku menyesal tak pernah mengutarakan perasaan ku pada Dimas... Akan ku kenalkan Dimas pada keluarga ku" suaranya bergetar, seperti orang menangis sementara aku sudah terisak.

"Aku hanya ingin menepati janji pada diriku, dan aku harus sukses... Sukses mengejar Dimas dan menjadikan dia milik ku... Aku menyukainya... Aku menyukai Dimas yang setia menggunakan nama pemberian ku, aku menyukai mu... Angga"

-To Be Continue Soon-

Angga, is My Name (Ep. 7)

Daniel sama sekali belum berubah, ia masih tetap Daniel yang dulu ku kenal. Sikap dan sifatnya masih sama sebelum ia menghilang, akupun berharap perasaannya masih sama padaku.

Meski aku dan Daniel tak pernah ada ikatan hubungan, ia memperlakukanku layaknya seorang kekasihㅡwalau ia mengaku memperlakukan ku seperti adiknya sendiri.

Sejauh aku dekat dengannya selama ini, Daniel memang begitu baik. Bahkan lebih baik dari Noval.

Daniel memang orang yang sangat open minded dan mudah bergaul, ia berteman dengan siapa saja dari kaum manapun.

Daniel menerima semua orang yang dekat dengannya dan memaklumi mereka yang telah memilih jalannya masing-masing.

Aku teringat ketika ia mengajakku berkumpul bersama kawan-kawannya yang normal dan straight, bahkan aku mengetahui salah satu dari kawan-kawannya phobia dengan kaum menyimpang.

Tapi, Daniel memberikan pengertian pada kawan-kawannya walau diantara mereka masih tetap belum bisa menerima kehadiran kaum menyimpang.

Aku pula terkadang sakit hati dengannya yang suka berbicara asal. Ia pernah bersumpah jika ia tak akan menjadi homoseksual, dan jika ia menjadi salah satu dari kaum itu, Daniel akan mengejarku hingga aku menerimanya.

Sumpahannya memang sangat menjanjikan untukku yang terlahir sebagai kaum homo, tapi aku berharap ia tak menjadi salah satu dari kaumku dan tetap normal.

Pernah ia bertanya padaku kenapa aku menjadi seperti ini, aku menjawabnya dengan penjelasan yang mendetail.

Ia hanya mengangguk dan mengiyakan semua kalimat ku.

Namun aku tetap bangga padanya, Daniel kini sudah dapat berdiri di atas kakinya sendiri dengan penghasilan di atas pegawai negeri.

"Jangan melamun, kau harus membantu ku mengantar pesanan" aku terbangun dari lamunan ku ketika ia menepuk pundak ku.

"Apa yang kau bayangkan?" aku menggelengkan kepala.

Ku lihat ia mengambil posisi menyetir dan mulai menyalakan mesin mobil.

"Sekarang kita kemana?" tanyaku.

"Kita harus ke pusat kota, lalu kembali berjualan di monumen nasional" ujarnya tetap fokus menyetir.

"Kenapa?" lanjutnya.

"Tidak, hanya saja kau sukses sekarang" ia terkekeh.

"Kau memiliki usaha sendiri, kendaraan pribadi dan penghasilan yang melebihi dari cukup"

"Jangan memuji ku, aku belum sukses, aku masih menyewa rumah kecil di kota ini"

"Tapi, walau kau menyewa rumah, sebenarnya kau bisa membeli rumah dan kau dapat menempati rumah itu sendirian"

"Hentikan pujian mu, menurut ku aku masih belum sukses..." ucapnya, dan tetap fokus menyetir.

Kami berdua terdiam, hingga akhirnya sampai ke sebuah komplek perumahan untuk mengantarkan jajanan yang dipesan oleh pelanggan.

Setelah transaksi selesai, Daniel kembali menjalankan mobil ke tujuan selanjutnya. Monumen nasional.

Daniel berhenti di tepi jalan yang dekat pintu masuk monumen nasional, dan kembali membuka usahanya.

Usaha kecil yang sangat menguntungkan menurutku.

Daniel menjual jajanan dari berbagai negara yang dibuat secara mendadak, dan ia juga menjual beberapa fast food.

Tetapi peminat jajanan yang dijual Daniel begitu banyak, aku kebingungan saat melayani pembeli. Untungnya, Daniel berjualan menggunakan mobil yang sudah di modifikasi sedemikian rupa, agar memudahkan aku melayani pelanggan.

"Sayang!" aku menengok sesaat mendengar teriakan seseorang. Mataku terbelalak melihat seorang transgenderㅡlengkap dengan make up tebal dan pakaian modis untuk para remaja, berjalan mendekati Daniel yang kebetulan berada di luar mobil.

Aku hanya dapat menahan tawa, agar tak terlihat mengejeknya. Orang itu memiliki kepercayaan diri yang sangat dahsyat.

"Sayang, kamu kemarin ga jualan disini ya?" ujar orang itu manja.

"Ya, kebetulan ketemu cem-ceman waktu sekolah dulu" jawab Daniel santai.

"Mana? Cantik siapa? Aku atau dia"

Astaga, orang itu membuatku ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi, ku acungi jempol untuknya. Ia berani menunjukan ke-eksistensi-an dirinya di hadapan publik, sedangkan beberapa kawanku yang seperti dia memilih sembunyi dan menjauh dari keramaian.

-***-

Hari mulai gelap, dan angin malam berhembus kencang. Daniel memutuskan untuk menutup usahanya dan pulang.

Aku menurutinya, karena itu yang bisa ku lakukan.

Sesampainya di rumah, ia langsung bergegas mandi. Sedangkan aku menata kembali barang-barang yang berantakan di dalam mobil.

Aku keluar dari mobil setelah selesai membereskan kotoran dari dalam mobil.

Ku putuskan untuk beristirahat di teras rumah, menikmati semilir angin malam yang berhembus menerpa wajahku.

Sembari memandangi langit malam yang cerah dengan kerlipan bintang, aku terduduk mensilakan kaki sambil merokok.

Malam yang indah.

"Angga..."

Terdengar suara yang memanggil namaku, aku menoleh mencari sumber suara ke arah kanan dan kiri ku.

"Angga..."

Suara itu kembali terdengar, suara yang ku kenal dan aku yakin itu bukan suara Daniel.

Terlintas bayangan wajah Noval di langit malam ketika aku menengadahkan muka ke langit. Terlukis jelas wajah tampannya yang menangis mencariku.

Aku terdiam, aku sedikit menyesal dan kasihan padanya. Namun, keputusan ku sudah bulat dan aku tak ingin kembali lagi ke tempat ituㅡtempat tinggal Noval.

-To Be Continue Soon-

Senin, 14 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 6)

Aku menyandarkan punggung di dadanya, sedangkan ia merebahkan punggungnya di dinding beralaskan bantal, tangannya menyelip melalui celah lengan ku lalu memeluk tubuh sembari mengusap perutku.

Kepalanya bersandar di kepalaku sementara kepalaku menyandar di bahunya.

Kami berbincang-bincang dan membagi cerita setelah menyelesaikan makan malam.

Aku menceritakan semua tentangku pasca berpisah dengannya. Aku menceritakan apa pekerjaanku, dimana aku tinggal, dan menjawab semua pertanyaan yang ia ucapkan.

Daniel bercerita jika ia menghentikan kuliahnya dan kembali pulang ke ibukota, ia memutuskan untuk berkerja.

Aku kagum padanyaㅡdi usianya yang sama denganku ia mampu mendirikan usaha yang kini telah berkembang. Dan dimataku ia telah menjadi orang yang sukses.

"Jadi, sekarang apa yang ingin kau lakukan?" kami saling memandang.

"Entahlah, aku juga tak tahu dimana aku harus tinggal"

"Kenapa kau tak kembali ke tempat Noval" aku menggelengkan kepala.

"Aku tak ingin"

"Kenapa?"

"Aku membenci Noval"

"Hanya karena ia berubah?" aku menarik nafas, aku mengalihkan pandanganku lalu memainkan jari jemari Daniel yang menumpu diatas perutku.

"Aku hanya sakit hati padanya... Ia selalu menyalahi ku, memarahi ku bahkan mengekang ku, ia juga memanggil nama asli ku..."

Daniel terkekeh.

"Kenapa kau tertawa?"

"Kau lucu, hanya menyebutkan nama asli kau menamparnya"

"Dengar, namaku Angga, bukan nama yang Noval sebutkan, lagipula aku membenci nama asliku!" aku mengerutkan bibir dan menggembungkan pipi.

"Konyol sekali kau ini, seberharga itu kah nama pemberian ku?" aku mengangguk.

"Benarkah?"

"Ya, karena nama pemberian mu membuat ku seakan terlahir kembali..."

Ia terdiam, begitupun aku.

-***-

Waktu sudah menunjukan tengah malam. Namun aku masih berbincang-bincang dengannya.

Aku masih ingin melepas kerinduan ku padanya. Beberapa tahun ini aku tak pernah melihatnya, dan ini kesempatan ku untuk melepas rinduku padanya.

Kami memutuskan merebahkan diri di atas kasur, dengan posisi aku membelakangi Daniel.

Sebenarnya banyak pertanyaan yang melintas di kepalaku untuknya, namun aku belum berani bertanya.

Lagipula, aku masih memikirkan bagaimana hidupku esok dan lusa.

"Daniel..." panggilku lembut.

"Ya?"

"Aku bingung"

"Kenapa?"

"Banyak yang aku pikirkan... " ku dengar ia menahan tawa.

"Maaf jika terdengar konyol, tapi bolehkah aku tinggal di sini?" ia terdiam.

Aku menghela nafas, lalu membuangnya perlahan.

"Sudahlah, pejamkan matamu lalu tidur" ujarnya menjawab pertanyaan ku.

"Aku tak bisa..." kami berdua terdiam.

"Lalu apa yang kau ingin lakukan?"

"Entahlah, aku hanya masih berpikir bagaimana aku hidup besok"

"Bukankah kau masih bekerja?" aku menggelengkan kepala.

"Ah ya, aku lupa, Noval menyogok atasanmu agar kau berhenti dari pekerjaanmu" aku mengangguk.

"Aku bingung... Rasanya aku ingin mati saja, daripada seperti ini..."

"Hey... Jangan putus asa..." ku rasakan tangannya memeluk tubuhku.

Aku menumpu tangan ku, di atas tangannya yang memeluk ku.

"Aku lelah... Lagipula jika aku mati... Tak akan ada yang mencari ku"

"Apa maksudmu? Kau lupa jika kau mati, artinya kau meninggalkan aku?" aku menoleh. Ku lihat wajahnya yang tersenyum, lesung pipit dan matanya yang membentuk lengkungan membuat ia semakin menarik.

"Kau pikir, dulu kau tak meninggalkan aku?" tanyaku dengan nada yang sedikit ku naikkan.

Aku membalikan tubuh ku berhadapan dengannya, dengan tangan Daniel yang masih memeluk pinggang ku.

Daniel tersenyum manis, menyembunyikan wajah bersalahnya.

"Jangan menyembunyikan rasa bersalah mu, jawab aku, kau pikir dulu kau tak meninggalkan aku?" Daniel tetap dia sambil tersenyum.

"Menyebalkan, aku membencimu jika seperti ini"

"Sudahlah, ayo tidur" tangan Daniel mengusap punggungku sembari tetap tersenyum memandangku.

Aku menatapnya, lalu tersenyum dan memejamkan mata. Aku mendekatkan diri dan menyembunyikan wajahku di dadanya, dengan tangan ku memeluk tubhnya erat.

Ia memelukku semakin erat, dan usapan tangannya turun ke kedua belah pantatku. Lalu dengan sengaja tangannya menyelip ke dalam celana ku dan mengerjai belah pantat ku.

"Lakukan itu dengan kekasih mu" ujarku tanpa bergerak, dan dengan nada ketus.

Ia tertawa pelan.

"Sudah, tidurlah" Daniel mengeluarkan tangannya, lalu mendekapku semakin erat sebelum ia mengecup keningku.

-To Be Continue Soon-

Angga, is My Name (Ep. 5)

"Aku tak menyangka akan bertemu dengan mu disini" ucapnya dengan mata yang terbuka lebar. Aku hanya tersenyum.

"Sedang apa kau tadi di warung kopi?"

"Aku? Hanya membeli rokok dan meminta air hangat" jawabku.

"Kau masih merokok?" aku mengangguk.

"Cih, dasar kau" ia tersenyum lalu mengusap rambutku.

Ia berdiri, lalu merapihkan pakaiannya dan memandang ku.

"Dengar, ada orang yang harus ku temui, istirahatkan tubuh mu, kau begitu pucat"

"Baiklah..."

"Kalau kau lapar, kau boleh menelepon ku, nomor telepon mu masih yang dulu bukan?" aku menggeleng.

"Aku tak memiliki ponsel" ia terdiam.

"Baiklah, cukup tunggu aku, akan ku bawakan makanan untukmu" ia tersenyum lalu bergegas pergi meninggalkan aku.

-***-

Aku tak menduga, aku dapat bertemu dengan Daniel. Orang yang ku rindukan kini telah ku temui.

Bahkan, sekarang aku sedang terduduk di dalam kamarnya.

Muncul niat iseng ku untuk menggeledah semua barang milik Daniel.

Aku berdiri lalu memulainya dari kamar mandi.

Tak ada yang aneh disini, hanya peralatan mandi dan bungkusan kondom yang sudah kosong.

Aku keluar dari kamar mandi, lalu menggeledah lemari pakaiannya. Rak pakaian teratas diisi baju santainya, rak dibawahnya berisi pakaian kerja dan pakaian dalam, dan aku hanya menemukan kunci kecil.

Aku sedikit kesusahan membuka rak yang paling bawah, tetapi aku berhasil membukanya dengan kunci kecil yang ku temukan.

Mataku berkilau menemukan barang-barang berharga milik Daniel.

Aku mengeluarkan rak itu lalu mengambil satu-persatu barang yang ada di dalamnya.

Aku menemukan fotonya saat ia masih sekolah, lalu ku temukan buku kenangan sekolah yang menampilkan fotonya yang hitam putih.

Aku menahan tawa ku melihat wajah Daniel yang masih sangat polos dengan rambut ikal yang sangat pendek.

Aku tertarik mengambil satu kotak kaleng cookies bekas yang tersimpan rapi dibawah tumpukan foto dan dokumen pribadi miliknya. Saat aku membuka kaleng itu, aku sedikit terkejut karena menemukan uang tunai yang masih baru lengkap dengan segel bank Indonesia.

Masih dengan rasa penasaran, tanganku kembali mengacak-acak isi kaleng itu. Ku temukan foto ku bersamanya.

Aku mengembangkan senyum. Ia masih menyimpan kenangan bersama ku.

Aku memandangi foto ketika aku dan Daniel menghabiskan malam tahun baru di kota lain, lalu ada foto yang pipiku diciumnya.

Aku terkekeh mengingat masa-masa saat pertama kali mengenalnya.

Puas memandangi foto-foto yang ku temukan, aku mengambil selembar kertas yang sedikit usang dari dalam kaleng.

Mataku terbuka lebar ketika melihat isi di lembaran kertas itu.

Sebuah surat kecil tulisan tangan ku yang berpesan padanya agar tidak berubah ketika aku bertemu dengannya lagi.

Mataku masih belum dapat menutup saat membalik lembaran kertas yang aku pegang. Di balik kertas itu, tertempel foto ku yang terlelap dengan wajah yang dicoret dengan tinta hitam.

Aku tertawa terbahak-bahak. Konyol.
Darimana ia dapat ide seperti itu hingga aku tertawa seperti ini.

Benar dugaan ku, ia tak berubah bahkan ia menyimpan semua kenanganku dengannya.

-***-

Aku membuka mataku perlahan ketika telinga ku mendengar suara dari kamar mandi.

Daniel sudah pulang.

Aku mengedarkan pandanganku, mencari jam dinding. Nyawa ku langsung terkumpul saat menatap jarum jam.

Hari sudah malam, dan tandanya aku terlelap selama 12 jam lebih.

Astaga.

"Kau sudah bangun rupanya" aku menoleh ke arah kamar mandi, dan melihat Daniel hanya mengenakan celana dalam.

Aku langsung memalingkan muka dan melihat ke arah lain.

"Kenapa kau?"

"Tidak, segera pakai baju aku risih melihat mu bertelanjang" ku dengar Daniel tertawa.

"Konyol, tumben kau berkata seperti itu, biasanya kau langsung mendekati ku dan memeluk jika aku selesai mandi"

"Jangan mengejek ku, cepat pakai baju mu"

Ku rasakan wajahku memanas. Aku malu melihatnya bertelanjang. Walau aku sudah mengetahui tubuhnya yang terbentuk rapi, tetap saja aku malu.

-***-

"Kau baru pulang atau memang sudah pulang dari tadi?" tanyaku setelah selesai membilas diri dan memakai pakaian ku.

Ku pandangi Daniel yang duduk mensilakan kaki. Daniel terlihat lebih tampan jika selesai mandi.

Kini ia hanya mengenakan kaus dalam dan celana kolor sepaha favoritnya.

"Rahasia" jawabnya singkat.

"Cih, kebiasaan" ia tertawa, lalu ia mengajakku duduk untuk makan.

"Kenapa memang? Kau mencari ku?" aku mengangguk.

"Ah ya, apa yang kau belikan untukku? Lalu apa yang kau lakukan tadi?" Daniel memandang ku, lalu ia tertawa.

"Hey, hey, kau bersemangat sekali menginterogasi ku" mata kecilnya menjadi segaris dan membentuk setengah lingkaran, matanya ikut tersenyum jika ia tersenyum atau tertawa.

"Aku pulang ketika kau benar-benar sudah terlelap, bahkan kau tak sadar-sadar setelah aku panggil berulang kali, jadi ku putuskan untuk tidur disampingmu"

"Benarkah?" aku memandangnya sembari membuka bungkusan nasi yang dibelikan olehnya.

"Woah!" aku bersorak saat bungkusan nasi untukku terbuka, aku tersenyum dan kembali memandang wajah Daniel yang masih tersenyum.

"Beli dimana? Jangan bilang kau pergi ke area dekat sekolahku dan kau sengaja membelikannya untukku"

"Jika tebakan mu benar, bagaimana?" mataku terbuka lebar, aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaanku. Aku tersenyum dan tertawa kecil.

Daniel benar-benar belum berubah, ia mampu membuat senyumanku tak pernah hilang dari wajahku.

Aku bersyukur dapat bertemu dengannya.

-To Be Continue Soon-

Jumat, 11 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 4)

Terdengar suara adzan subuh berkumandang, sementara aku tetap melangkah tanpa mengetahui kemana arah tujuan ku.

Aku terus melangkah sembari merokok dan merenungkan apa yang telah ku lakukan tadi.

Aku puas, sangat puas. Aku dapat melampiaskan amarah ku pada Noval. Meski, terselip rasa menyesal di dalam hatiku.

Aku masih tak menduga jika ia menjadi seperti ini. Noval yang ku kenal, menjadi orang lain.

"Pulanglah" terdengar nada yang sangat lembut dari belakang ku.

Aku menghentikan langkah dan membalikan tubuh. Mataku terbelalak melihat seseorang yang berdiri dan terengah-engah di hadapan ku. Melalui cahaya temaram lampu penerangan jalan, dapat kulihat wajah Noval.

Aku membuang batangan rokok ku, lalu memandangnya.

Sepertinya Noval berlari mengejar ku, terlihat pada kausnya yang basah akan keringat.

Noval membalas pandanganku dengan tatapan sendu.

"Ku mohon, pulanglah" tangan Noval mengangkat lalu meraih telapak tangan ku dan menggenggamnya erat.

Ku lihat wajahnya yang basah karena aliran keringat, terlihat jelas pula bekas merah tamparan tanganku pada wajahnya.

"Maaf..." ujarnya pelan nan lembut.

"Untuk apa?"

"Untuk semua yang ku lakukan padamu"

Aku tersenyum kecil.

"Dengar, kak... Kau lebih dewasa dariku... Seharusnya kau tak perlu mengejar ku hanya untuk meminta maaf"

"Angga..."

"Dengarkan aku, akulah yang seharusnya meminta maaf padamu karena menampar pipi mu... Dan berhenti mengejar ku, kak" aku melepas genggaman tangannya, dan kembali berjalan.

Aku tak menghiraukan Noval yang terus-menerus memanggil namaku dan mengejar ku.

Noval berlari lalu menghalang jalan ku.

"Kak, apa yang kau inginkan dariku?"

Ia terdiam.

"Kurang puaskah kau memarahi ku? Atau masih ada sifat kekanak-kanakan ku yang masih kau pendam?"

Noval menggelengkan kepala, lalu mendekati ku.

"Maaf... Maaf..."

"Kak, sebanyak apapun kau meminta maaf, sesering apapun kau mengucapkan kata maaf, aku tak akan kembali ke tempat mu..."

"Angga, maafkan aku... Maafkan aku yang berubah"

"Ah, kau sadar kau berubah?" lagi, ia terdiam.

"Kau benar-benar sudah sadar? Atau kau masih ingin memaki dan mencaci ku?"

Noval menarik nafas, lalu perlahan mendekati aku.

Aku menatap matanya yang memerah. Ia berkaca-kaca.

"Angga, ku mohon maafkan aku..." ucapnya, lalu ia memeluk tubuh ku erat. Sangat erat.

Aku dapat mencium aroma keringatnya, wajahku menempel pada kausnya yang basah. Noval benar-benar berlari mengejar ku.

"Aku hanya... Aku hanya menyayangi mu... Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu" ujarnya, pelukannya semakin erat membuatku sedikit sulit bernafas.

"Maafkan aku yang berlebihan padamu... Hanya saja... Hanya saja aku telah berjanji pada ibu untuk menjaga mu..."

Apa?

Aku melepas pelukannya, lalu memandang tajam wajahnya.

"Ibu? Ibu siapa?" ia terdiam.

"Jawab aku, ibu siapa?" ia masih terdiam, ia menghapus air matanya lalu memandang ku dengan mata yang sembap.

"Sudahlah kak, berhenti mengarang cerita... Yang jelas aku tak akan pulang ke tempat mu... Selamat tinggal..."

Aku melangkahkan kaki, pergi meninggalkan laki-laki bertubuh tinggi itu yang menangis.

"Jangan cari aku..." ujarku sebelum benar-benar menghilang darinya.

Ku biarkan laki-laki tampan itu berdiri, menangisi aku.

-***-

Pagi ini tak seperti pagi biasanya, Matahari kurang bersemangat menyinari bumi, akan tetapi jalan raya tetap bising dengan suara klakson dan teriakan kernet angkutan umum.

Aku masih melangkah, walau sebenarnya aku sudah merasa lelah. Aku tak sanggup lagi berjalan.

Pikiran ku melayang jauh. Aku membayangkan jika aku terpaksa pulang ke kampung halaman dengan sisa tabungan yang ku punya, tetapi apa yang akan ku lakukan disana.

Aku tak memiliki keahlian. Aku hanya dapat menari, hanya itu. Sedangkan di kampung halaman ku, tak akan mungkin ada bar malam yang menyajikan tarian striptease khusus para laki-laki menyimpang.

Lagipula, jikapun ya aku pulang, aku tak memiliki tempat tinggal. Aku tak punya siapa-siapa, dan apa-apa.

Aku menghentikan langkah, ku putuskan untuk beristirahat di sebuah warung rokok tepi jalan. Aku membeli sebungkus rokok dan meminta air putih hangat.

Aku begitu kelelahan. Ingin rasanya aku merebahkan diri meluruskan laki di atas kasus yang empuk dan nyaman.

Terlintas sejenak kalimat Noval yang menjadi pertanyaan besar untukku.

Siapa 'ibu' yang Noval maksud? Ibuku? Atau ibunya?

Selama ini aku tak pernah dikenalkan Noval pada keluarganya, dirumahnya pun tak ada foto keluarga Noval.

Siapa yang dia maksud? Kenapa ia harus berjanji pada 'ibu' itu? Apa yang Noval dapatkan setelah berjanji pada orang itu?

Astaga, aku pusing.

"Akhirnya!" aku menoleh sesaat mendengar seseorang berbicara disamping ku.

Terlihat seseorang yang seumuran denganku, tersenyum dan tertawa berbincang di telepon.

Aku mengamati orang itu, aku merasa kenal dengan orang yang berdiri di sampingku.

Rambut ikal orang itu mengingatkan ku pada seseorang. Gaya bicara dan gesture orang itu sama seperti orang yang dulu pernah menemani hidupku.

Mataku tak berkedip mengamati orang yang berdiri di samping ku.

Ketika ia menyudahi panggilan, orang itu menengok ke arah ku.

Mataku hampir lepas saat melihat orang yang tadi ikut membelalakan matanya memandang ku.

"Angga!"

-To Be Continue Soon-

Kamis, 27 Maret 2014

Angga, is My Name (Ep. 3)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.

Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author

Angga, is My Name (Ep. 3)
-***-

Aku terdiam sembari menyulut sebatang rokok, sedangkan Noval memandangiku geram.

"Sekarang kamu tahu apa sebabnya aku membenci tempat ini" bentaknya.

"Kekhawatiranku benar-benar terjadi malam ini! Ini sebabnya aku menyogokmu pemilik bar dengan barang kesayanganku" lanjutnya.

Aku mendengar ocehannya sembari fokus merokok.

"Dan kau... Semoga kau cepat mati karena rokokmu!" aku menghela nafas, aku mematikan rokokku dan membuangnya jauh dari tempatku duduk.

"Aku paham, semua itu hakmu! Kamu boleh kerja seperti ini, tapi bukan artinya kamu menggoda orang lain seenaknya!"

"Aku..."

"Jangan mengelak! Kalau bukan gara-gara kamu, siapa lagi! Orang tak akan mungkin menjadi liar kalau kamu ga mulai liar ke dia!"

Ku tundukan wajahku, sia-sia jika aku terus membela diri.

"Maaf..."

"Beresin perlengkapan kamu, kita pulang!"

-***-

Aku menarik nafas panjang. Untuk sekarang Noval terdiam, dan fokus menyetir.

Aku ikut terdiam, pikiranku melayang jauh membayangi wajah Daniel.

Daniel, aku merindukannya.

Daniel tak akan membentakku meski aku melakukan kesalahan besar, Daniel berbeda dengan Noval.

Daniel penuh dengan sikap kebapakan, Daniel benar-benar melindungiku.

"Dasar, trouble maker"

Aku terbangun dari lamunanku, dan menoleh pada wajah Noval.

"Aku?"

"Ya! Kau pembuat masalah, jika bukan aku yang mengawasi mungkin kau sudah menjadi buronan karena masalah yang kau buat!"

Aku terdiam. Aku menarik nafas, ku biarkan Noval mengoceh sesukanyaㅡseperti biasa.

"Entah apa jadinya, jika kau hidup tanpaku! Kau mungkin sudah tak hidup sekarang"

Telingaku panas mendengarkan ocehan Noval, ingin rasanya aku membela diri.

"Kau benar-benar seperti keledai! Bodohnya minta ampun!"

"Ya aku memang keledai, aku memang pembuat masalah, dan jikapun aku mati, seharusnya kakak bersyukur tidak direpoti olehku" ucapku pelan.

Noval mengerem secara mendadak. Aku memandanginya yang menatap tajam wajahku.

"Apa maksudnya?"

"Kau lima tahun lebih tua dariku, pahamilah kalimatku"

"Shit!" Noval kembali menjalankan mobil namun kali ini ia menyetir dengan kecepatan penuh.

-***-

Sesampainya dirumah aku bergegas melangkah masuk ke dalam kamar, aku merapihkan dan memasukan barang-barangkuㅡhanya milikku ke dalam tas ransel.

Selama bertahun-tahun aku tinggal bersama Noval, baru kali ini aku merasakan sakit hati yang begitu perih.

Ternyata Noval memendam semua kesalahanku dan tadi ia membeberkan semua yang telah kulakukan.

Konyol. Sangat konyol.

Noval memang orang yang sangat baik, ia mengizinkanku tinggal bersama, ia selalu memberi solusi untukku. Tapi, aku tak pernah menyangka jika Novalpun memiliki sikap kekanakan seperti ini.

Noval mengetahui semua tentangku, mengetahui aku yang memiliki kelainan orientasi seksual, memiliki sikap feminim yang lebih banyak dari laki-laki biasanya, mengetahui aku yang tidak memiliki keluarga dan mengetahui identitas asliku.

Aku percaya padanya, tapi aku tak pernah menyangka jika ia akan menjadi seperti ini.

Aku yang terlalu kekanak-kanakan atau aku yang terlalu perfeksionis.

Aku siap meninggalkan rumah Noval dan kembali hidup sendiri. Aku ingin hidupku tanpa adanya ocehan-ocehan Noval.

Aku harus meninggalkan tempat ini, secepatnya.

Aku keluar kamar setelah barang-barangku berada dalam tas ransel. Mengendap-endap hingga pintu.

Aku mengedarkan pandanganku, memastikan diri jika memang Noval sudah tertidur.

Aku membuka pintu, dan keluar rumah lalu menutup pintu perlahan.

"Mau kemana kamu pagi-pagi buta begini?" jantungku hampir lepas mendengar seseorang menegurku. Saat aku menoleh kebelakangku, kulihat Noval duduk diteras sembari menikmati secangkir kopi.

Aku terdiam. Segera aku melangkah pergi meninggalkan Noval.

"Mau kemana kamu?" tanganku ditariknya lalu digenggamnya erat. Aku membalikan tubuh.

"Lepas"

"Jawab, mau kemana kamu?"

"Bukan urusan kakak" jawabku, ku tatap matanya. Aku masih kesal padanya.

"Lepasin tangan aku" lanjutku sembari berusaha melepaskan genggaman tangannya.

"Masuk"

"Engga"

"Masuk!" nadanya naik, genggamannya ditanganku mengencang.

"Ga! Aku mau pergi dari sini!" aku terus meronta dan berusaha melepaskan tanganku.

Aku berhasil melepas genggamanya dan langsung berlari menjauh dari Noval.

Ranselku ditarik Noval hingga aku terjatuh. Ku lihat wajahnya, Noval begitu marah.

"Masuk!" bentaknya.

Aku terdiam, aku bangkit lalu berusaha berlari. Tapi, tanganku ditariknya lagi.

Tubuhku dihempaskannya ke sofa, ketika Noval berhasil menarikku masuk ke dalam rumah.

"Kamu mau kemana? Jangan bikin aku marah lagi sama kamu"

"Seharusnya kakak jangan tahan aku, biar kakak ga emosi terus"

"Maksud kamu?"

"Aku mau pergi dari sini" aku berdiri lalu melangkah keluar pintu.

"Sampai kamu berani keluar pintu, jangan salahin aku kalau kamu nanti kenapa-kenapa" ujar Noval.

Aku berhenti tepat didepan pintu.

"Aku sudah dewasa, tak perlu pengawasan mu lagi, disamping itu... Aku tak tega melihatmu terus-terusan emosi padaku, barangkali kau mati muda karena ku" ku buka pintu lalu melangkah keluar.

"Dimas Yogi Pratama! Ku hitung sampai tiga, kembali kesini!" aku terdiam.

Aku menghela nafas, lalu kembali melangkah dan berdiri dihadapannya.

Ku pandangi wajahnya.

"Kau panggil aku, siapa?" Noval diam.

Aku mengangkat tanganku dan menampar pipinya.

Ya, aku menampar Novalㅡorang yang kuanggap sebagai kakak.

"Catat dalam otak mu, namaku Angga, hanya Angga" Noval memegangi pipinya.

"Jangan pernah sebut nama itu..." tangan Noval terangkat, namun aku genggam dan remas pergelangan tangannya.

"Aku, Angga, dan kini aku tak takut dengan gertakanmu..."

Noval membisu.

"Catat dalam otak mu, tentang namaku dan jangan pernah mencariku, karena aku yakin, kau tak benar-benar paham mengapa aku seperti ini padamu"

Aku membalikan tubuhku.

"Selamat tinggal"

-To Be Continue-

Jumat, 21 Maret 2014

Angga, is My Name (Ep. 2)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.

Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author

Angga, is My Name (Ep. 2)
-***-

Aku terdiam. Ku pandangi ruang tengah yang nantinya akan ku jadikan panggung penampilanku.

Aku yakin, malam ini akan sama seperti malam biasanya. Sepi dan hanya ada beberapa laki laki dewasa dan wanita transgender.

Aku masih teringat kalimat Noval tadi siang. Tiba-tiba ia menyuruhku berhenti dari pekerjaan ini, sedangkan selama bertahun-tahun kemarin ia membiarkan aku. Apa maksudnya?

Ia mengetahui hanya menarilah keahlianku, dan menurutku ini adalah pekerjaan yang cocok untukku. Aku seperti bermain bukan bekerja.

Lagipula, aku sudah menjadi penari striptease sejak lulus sekolahㅡ sebelum aku mengenal Noval. Aku tak akan mungkin meninggalkan pekerjaan ini begitu saja.

Aku juga tak menjual diri disini. Aku memang menari hingga telanjang tapi tak kubiarkan orang-orang yang berkunjung melecehiku.

Aku sudah mengenakan kostumkuㅡcawat kecil yang hanya menutupi kemaluanku, aku pun sudah mengenakan riasanku, kini saatnya aku memulai aktivitasku.

Aku sedikit terkejut saat ku lihat ruang tengah penuh dengan pengunjung. Malam ini lebih ramai dari malam sebelumnya.

Malam kemarin dapat terhitung meja tamu yang terisi, tapi malam ini semua meja penuh.

Sempat kulihat sekumpulan laki-laki bau kencur duduk sembari menghisap batangan rokok.

Meski aku masih merasa sedikit bad mood, tapi aku harus profesional. Ini pekerjaanku.

-***-

Tepuk tangan meriah menyambutku dengan siulan-siulan panjang dari beberapa pengunjung.

Alunan musik bertempo lambat dengan ketukan beat kencang membuatku bergerak mengikuti iringan musik.

Penari latar mengajakku menari mengikuti gerakan mereka yang fokus pada paha dan pinggang, lalu mereka mengangkat tubuhku seakan aku penguasa panggung malam itu.

Beberapa pengunjung berteriak memanggil-manggil namaku, mereka terus bertepuk tangan. Ku lihat seseorang mendekati panggung lalu melempar satu kotak berisikan kondom ke atas panggung.

Aku berjalan ke arah meja bartender setelah penari latar menurunkan aku. Aku menari diatas meja bartender, disoraki siulan-siulan liar juga rabaan tangan mereka ditubuhku.

Bahkan sempat kudengar seseorang mendesah tepat ditelinga ku sembari meraba tubuhku.

Ku liuk-liukan tubuh diselingi dengan gerakan erotis yang membuat para laki-laki didepan meja bar menyorakiku liar.

Aku berdiri dan mulai melepas cawatkuㅡsatu-satunya helai pakaian yang menutupi kemaluanku.

Aku menggoyangkan pinggangku maju mundur, terkadang aku membuka selangkanganku lebar-lebar.

Riuhan memenuhi ruang tengah, ada beberapa pengunjung mencoba menyentuh kemaluanku, tetapi tak berhasil karena sang bartender menghalangi.

Puas menari diatas meja bar, aku berjalan ke arah tengah lalu mengikuti gerakan yang penari latar lakukan.

Semua pengunjung menyoraki ku, bertepuk tangan dan memanggil-manggil namaku.

Alunan musik berganti tempo, dengan ketukan beat yang lebih intim. Aku menggerakan tubuh ke kanan dan kiri, dengan tangan yangㅡmemang sengaja ku gerakan mengusap dada, selangkangan dan tubuhku yang lain.

Salah seorang penari latar mendekatiku lalu mendekapku dari belakang. Bibirnya bermain di wajahku lalu turun ke leherㅡterlihat seperti pasangan yang berhubungan intim.

Suasana semakin panas, dan riuh akan teriakan para pengunjung. Kerlipan lampu yang ditata mengikuti tempo musik membuat ruang tengah itu semakin ribut.

Aku hanya tersenyum kecil. Aku bangga, dan bahagia. Tarianku dinikmati dengan sorakan dan tepukan tangan meriah.

Aku mencintai pekerjaan ini. Aku bangga menjadi penari striptease.

-***-

Aku terduduk disalah satu kursi yang menghadap ke ruang tengah.

Pesta telah usai. Suasana ruang tengah menjadi sepi, hanya tersisa beberapa pengunjung yang tertidur karena mabuk berat dan beberapa cleaning service yang sibuk merapihkan botol alkohol yang berserakan.

Aku menunggu kedatangan Noval yang tadi sudah menghubungiku.

Entah apa reaksinya jika ia tadi melihatku menari, mungkin aku akan langsung ditariknya pulang. Noval membenci pekerjaan ku, ia membenci semua tentangkuㅡyang menurutnya tak patut untukku sedangkan menurutku pantas.

Lagipula, aku mengenal dunia ini lebih lama sebelum akhirnya aku menabrak Noval saat itu.

"Malam sayang" aku terkejut dan terbangun dari lamunanku ketika ku lihat seseorang mendekatiku.

Wajahnya tidak begitu jelas, tapi yang pasti dari orang itu adalah ia mabuk. Tercium aroma alkohol yang kuat dari mulutnya.

Aku tak meladeninya, ia duduk disampingku lalu meraba pahaku.

"Saya mohon hentikan sebelum terjadi sesuatu pada anda" gertakku, tapi sepertinya ia tak menghiraukan kalimatku.

Tangannya terus meraba pahaku lalu mengcengkram pahaku. Aku menepis tangan orang itu, lalu berdiri dan menjauh darinya.

Aku tersontak kaget saat orang itu menarik tanganku lalu menggiringku ke pojok ruamg tengah, tubuhnya menekan tubuhku hingga menempel pada dinding.

Aku berteriak, meronta meminta tolong. Tetapi, tak ada seorangpun yang mendekat. Aku berusaha lari dari dekapan orang itu, tapi tenaganya begitu kuat.

Bibirnya berusaha menciumku, sedangkan tubuhnya digesekan ke tubuhku. Dapat kurasakan selangkangannya menegang begitu juga puting dadanya.

Aku terus berteriak, menampar orang itu dan melakukan apapun untuk lepas darinya.

"Tolong!" teriakku, tapi tetap tak ada yang menolongku.

"Tak ada yang mungkin datang, aku sudah membayar semua orang itu agar pura-pura tak melihat"

Sial. Aku sangat sial malam ini.

"Ku mohon, lepaskan aku" erangku.

"Tidak, sebelum aku memperkosamu"

"Hey!" mataku terbelalak saat ada seseorang yang berteriak lalu menggenggam pundak orang itu, ditariknya orang itu dan pipi orang itu segera di hantam dengan bogeman mentah.

Orang itu terhempas jauh dan berhasil mengenai meja tamu dan botol minuman yang ada dimeja.

Aku baru sadar, Noval yang menghajar orang itu.

"Jauhi badan busukmu dari Angga! Bajingan!" ucap Noval yang terus-menerus memukul wajah orang itu.

Ketika orang itu tersungkur, Noval melayangkan tendangan diperut dan kepala.

"Bangsat!"

-To Be Continue-

Sabtu, 15 Maret 2014

Camera? Roll. Action!

Cast : Kellan Lutz and D.O of EXO
Genre : NC Yaoi (Explicit)
Requsted By : Roleplayer of Kellan
Author : ASup

Camera? Roll. Action!

Mataku tak dapat menutup mataku ketika membaca tiap kalimat yang tertulis di skrip.

Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat.

"A... Apa ini?" gumam ku pelan.

Dari awal hingga akhir halaman, hanya tertulis dua huruf. Huruf 'A' dan huruf 'H'.

Aku bingung, akankah film yang ku bintangi hanya berisi desahan selama 90 menit penuh?

Ada yang tidak beres, aku harus membicarakan ini dengan tim produksi.

-***-

Aku disambut hangat oleh tim produksi yang berkumpul di studio yang akan digunakan nanti.

Aku menyapa mereka dan berbincang-bincang dengan mereka, saat ku bicarakan tujuan kedatanganku mereka menjawabnya dengan sopan dan ramah.

Sempat kulihat seorang dari mereka menghubungi sang sutradara dan produser.

Bahkan aku diantar salah seorang kru untuk mendatangi produser dan sutradara yang menginap di tengah kota.

Ketika aku sampai disebuah losmen sederhana, kru yang mengantarku menunjuk satu kamar dan ia berlalu meninggalkan ku.

Segera, aku mengetuk pintu kamar yang produser dan sutradara tempati.

Aku mematung ketika seseorang yang bertelanjang dada menyambutku, orang itu tersenyum padaku.

"Hi" sapa orang itu.

Aku tersenyum kaku memandang wajahnya. Matakuㅡingin tak ingin mengamati tubuhnya yang terbentuk.

"A... Aku ingin bertemu dengan sutradara dan produser"

"Well, masuklah" ucapnya, "Kau tak akan bertemu dengan mereka jika hanya mematung di sini"

Aku mengangguk pelan, lalu mengikutinya masuk ke dalam.

Aku mengedarkan pandanganku, menurutku kamar ini terlalu luas untuk ukuran losmen dan banyak kamera yang telah disiapkan dalam kamar ini. Bahkan aku sempat melihat kamera kecil tersembunyi di balik pintu.

"Jadi, kau partner ku?" tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

"Bersantailah, akan kubuatkan minum untukmu" lanjutnya.

Aku duduk di sofa, masih mengamati perlengkapan yang terpasang di dalam kamar.

"Minumlah, tunggu sebentar, mereka sedang keluar membeli sesuatu" ucap orang itu sembari menyajikan minuman padaku.

Aku meminum yang di sajikan olehnya, dan kami berbincang panjang lebar.

Namanya Kellan, ia bersedia mengambil tawaran sang sutradara karena bayaran yang begitu tinggi. Ia rela berangkat dari negaranya dari beberapa hari yang lalu untuk mengambil gambar di sini.

Menurutku, orang ini mudah bergaul bahkan ia keberatan saat aku panggil 'kak' saat mengobrol.

"Kau kepanasan?" tanyanya ditengah perbincangan.

Aku mengangguk pelan.

"Buka saja bajumu, jangan malu" aku terdiam.

Aku tak mungkin membuka bajuku dengan kamera yang tersebar. Lagipula, aku juga tak mengerti kenapa aku merasa begitu kepanasan.

Air conditioner berhembus dengan kencang namun tetap saja aku merasa begitu panas.

"Tenanglah, kamera disini sedang tidak menyala" ujarnya.

Aku melihat ke seluruh kamera, dan memang tak ada yang menyala.

"Tak apa jika aku membuka baju?"

"Aku, tak apa, aku hanya keberatan saat kau memanggilku kakak" ujarnya, aku sedikit tersipu dengan kalimatnya.

Ku putuskan untuk menanggalkan bajuku. Aku terdiam, dan menutupi dadaku dengan kaus yang tadi ku kenakan.

Kellan hanya tersenyum memandangiku, lalu ia meminta ijin padaku untuk pergi ke kamar mandi.

Aku menghela nafas panjang saat Kellan menghilang dari hadapanku.

Aku bingung, apa yang harus ku lakukan.

Aku menjadi relasi kerjanya dalam film ini, dan hingga saat ini aku tak mengetahui apa sebenarnya peranku.

Aku bangkit dari duduk dan melihat-lihat apa yang ada dalam kamar ini.

Aku membuka pintu kaca yang menghubungkan ruang tidur dengan balkon. Aku berdiri dibalkon, menikmati hembusan angin.

Aneh, aku merasa begitu kepanasan dan bergairah. Aku tak menyangka akan beradu peran dengan orang yang memiliki bentuk tubuh yang rapih dan kekar seperti Kellan.

Orang yang menjadi kekasihnya sangat beruntung, apalagi saat berhubungan intim. Aku yakin, kekasihnya akan terus-menerus meminta berhubungan.

Astaga, pikiranku melambung tinggi. Aku tersipu dengan pemikiranku sendiri.

Konyol. Kemaluanku tegang, celana ku menyempit.

"Hey, apa yang kau lakukan?" aku tersontak kaget saat kedua lengan memeluk ku dengan erat.

Kurasakan punggungku mengenai dua puting yang menegang dan otot tubuhnya yang lain. Aku terdiam.

"Menikmati angin segar?" tanyanya lagi.

Aku masih diam, tak bersuara. Dada Kellan bergerak pelan, menggesek punggungku. Kedua puting dadanya menggaruk pelan punggungku.

Lengannya tak lagi memeluk, kini dada ku diremasnya lembut. Membuatku sedikit mendesah.

Bibirnya mengecupi dan lidahnya menari dipipiku.

Remasan didadaku semakin keras, jarinya merangsang kedua putingku.

Puas memainkan tubuhku, kini ia membalikan tubuhku agar berhadapan dengannya.

Astaga, tatapan matanya begitu tajam dan dalam.

"Kau menikmatinya?" aku menunduk, aku tersipu.

Tangannya kini turun ke kakiku, dan mengangkatnya. Reflek, aku melingkarkan kakiku dipinggangnya dan mengalungkan tanganku dilehernya.

Ia menggantungkan senyumannya, lalu mencium bibirku.

Ciuman yang liar, menurutku. Bibirku dihisap, digigit dan lidahku ikut dihisap.

Kemaluan kami bertemu, saling bergesekan meski masih tertutup celana jeans.

Angin berhembus kencang, mengenai tubuhku dan tubuhnya yang basah dengan keringat.

Aku dibawanya masuk ke dalam kamar dengan posisi kaki dan tangan yang melingkar ditubuhnyaㅡseperti koala, sementara ciuman kami belum berhenti.

Tubuhku dihempaskannya ke atas kasur, dan Kellan tetap mencumbuku.

Kellan menindihku, dengan kakiku yang terbuka lebar dan memeluk belakang tubuhnya. Dadanya menggesek dadaku, kedua puting kami bertemu dan saling menempel.

Tanganku mengusap kepalanya, dan ciumannya semakin ganas. Daun telinga, tengkuk, dan dadaku menjadi sasaran mulutnya untuk dikecup.

Tangannya membuka resleting celana ku dan meremas kemaluanku yang menegang. Ia terkekeh saat jarinya bermain dicelana dalamku yang mencetak precum.

Aku benar-benar terangsang.

Aku memandang wajahnya dan memintanya berhenti mempermainkanku.

Ia salah menangkap kalimatku, bahkan ia menurunkan celanaku hingga lutut dan menyuruhku menungging.

Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Beberapa detik kemudian, aku merasa lubang pantatku diolesi sesuatu yang sangat dingin.

Membuatku melengkungkan tubuh dan menggelinjang.

Beberapa menit kemudian, aku berteriak keras saat sesuatu mencoba menembus kemaluanku.

"Hentikan, sakit" ucapku tapi Kellan tak memperdulikanku bahkan ia melanjutkan usahanya hingga berhasil menembus tubuhku.

Kellan mendesah panjang, sedangkan aku menutup mataku menahan sakit.

Kellan menindihku, dadanya kembali menggesek punggungku tanpa menggerakan pinggulnya.

Bibirnya menghisap daun telingaku dan berbisik padaku, lalu menyuruhku bangkit.

Aku menurut, tangannya memeluk ku. Membantuku bangkit dan bertumpu lutut. Ketika aku dan dia sudah bangkit, tangan kirinya menekan kepalaku. Memaksaku menerima ciumannya dan tangan kanannya meremas kencang kemaluanku.

Pinggulnya mulai bergerak, mengikuti irama rancapan tangannya di kemaluanku.

Kellan mendesah ditelingaku, ketika aku menyandarkan kepala dibahunya.

Tangan kirinya memilin putingku lembut, terkadang di remas.

"Hentikan, ku mohon" ujarku.

Kellan menghentikan goyangan pinggulnya, lalu melepas kemaluannya dari anusku.

Aku membaringkan tubuhku, masih menahan sakit.

Ku pikir ia akan berhenti. Kakiku diangkatnya tinggi, lalu kembali memasukan kemaluannya sebelum ciumannya mendarat di bibirku.

Perutnya menekan kemaluanku, sangat terasa otot kencang perutnya menggesek kemaluanku.

Kemaluannya mengoyak isi tubuhku, namun entah kenapa aku merasakan gejolak yang begitu tinggi.

Sakit yang tadi kurasa, berubah nikmat dan membuat kemaluanku mengalirkan precum yang semakin banyak.

Ditambah dengan tekanan perutnya yang menggesek kemaluanku.

Aku benar-benar terangsang, desahan saling menyahut hingga terdengar seperti melodi.

Kellan menggerakan pinggulnya semakin kencang, bibirnya menghisap kedua putingku bergantian. Telunjuknya berada dimulutkuㅡdihisap dengan mulutku.

Sprei kasur begitu berantakan dan basah.

"Kau sampai?" aku tak menjawab saat Kellan berbisik ditelingaku.

Kellan bangkit, lalu merogoh anusku semakin dalam. Tangannya merancap kemaluanku cepat.

Nafasku semakin berat, aku tak sanggup lagi.

"Hentikan, aku sampai!" teriakku ditengah desahan.

Tangan Kellan semakin cepat merancap kemaluanku, hingga kurasakan kemaluanku berdenyut cepat.

Kellan melepas tangannya. Kini, ia fokus pada gerakan pinggulnya.

Kemaluan Kellan terus menerus menyentuh titik rangsangku, bahkan Kellan tidak berbicara sedikitpun dan hanya mendesah.

Hingga akhirnya, aku memuntahkan spermaku. Kellan mencabut kemaluannya dan meloconya cepat.

"Angh, yes-h" beberapa detik kemudian, sperma Kellan bercampur dengan spermaku yang membasahi tubuh.

Tubuhnya menindihku. Bibirnya kembali menciumiku, namun kini lebih lembut. Tangannya mengusap pipiku, dan aku memeluk tubuhnya.

Tubuh kami basah dengan keringat.

Kedua putingnya menempel di putingku, kemaluannya menekan kemaluanku.

Tubuhnya naik turun, seiring dengan nafas kami.

-This is an end?-

Senin, 10 Maret 2014

Angga, Is My Name (Synopsis)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Illustration : Author private image.
Label : ABEnt.

Synopsis
Tepuk tangan meriah menyambutku dengan siulan-siulan panjang dari beberapa pengunjung.

Alunan musik bertempo lambat dengan ketukan beat kencang membuatku bergerak mengikuti iringin musik.

Penari latar mengajakku menari mengikuti gerakan mereka yang fokus pada paha dan pinggang, lalu mereka mengangkat tubuhku seakan aku penguasa panggung malam itu.

Beberapa pengunjung berteriak memanggil-manggil namaku, mereka terus bertepuk tangan. Ku lihat seseorang mendekati panggung lalu melempar satu kotak berisikan kondom ke atas panggung.

Aku berjalan ke arah meja bartender setelah penari latar menurunkan aku. Aku menari diatas meja bartender, disoraki siulan-siulan liar juga rabaan tangan mereka ditubuhku.

Bahkan sempat kudengar seseorang mendesah tepat ditelinga ku sembari meraba tubuhku.

-***-

"Kamu boleh kerja seperti ini, tapi bukan artinya kamu ngegodain orang lain seenaknya!"

"Aku..."

"Jangan ngelak! Kalau bukan gara-gara kamu, siapa lagi! Orang itu ga akan liar kalau kamu ga mulai liar ke dia!"

Ku tundukan wajahku. Sia-sia jika aku terus membela diri.

"Maaf..."

"Beresin perlengkapan kamu, kita pulang!"

Copyright of ABEnt, do not copy without author permission.

2014© Angga, is My Name.

Minggu, 09 Maret 2014

Angga, is My Name (Ep. 1)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.

Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author

Angga, is My Name (Ep. 1)
-***-

Terdengar suara klakson kendaraan saling sahut-menyahut, memohon untuk segera berjalan. Matahari bersemangat menyinari bumi, membuat brain master mesin yang saling bersahutan mengeluh karena terpanggang.

Aku, menghela nafasku panjang. Terduduk disebuah bangku panjang depan warung, diam sembari menghisap batangan rokok.

Suasana sangat panas, ditambah dengan bising kendaraan juga para pedagang kaki lima yang berteriak mempromosikan barang dagangan mereka.

Namun, aku menikmatinya. Sangat menikmati. Aku tak perduli akan kulitku yang terbakar, tak perduli dengan kondisi jalan, karena inilah ibukota.

Ibukota tak akan disebut demikian jikaㅡdisaat siang seperti ini, jalanan sepi, tak adanya pedagang di trotoar, atau para jambret di dalam bus.

Bagaimanapun, aku mencintai ibukota ku. Aku mencintai kota besar ini.

Aku tersenyum kecil memandangi orang-orang yang catwalk dihadapanku dengan berbagai macam busana. Busana paling murah, hingga mahal lewat dihadapanku.

Pikiranku melayang jauh, membayangi wajah seseorang.

Daniel, namanya. Ia memiliki wajah oriental dengan senyuman manis dan rambut ikal indah. Matanya menjadi satu garis ketika ia tersenyum atau tertawa.

Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Mahasiswa hukum yang mampu membuat duniaku jungkir balik.

Daniel sering membuatku tertawa dengan candaan garing yang ia ucapkan, ia pula sering memanjakanku seperti adik kecilnya sendiri.

Aku rindu memeluknya, aku rindu harum aroma tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan?" aku terbangun dari lamunanku.

Aku menoleh ke arah sumber suara lalu segera membuang batangan rokok yang berada disela jariku.

"Apa janjimu?" aku terdiam. Aku berdiri dihadapannya.

"Ayo pulang, kita bahas dirumah" ucapku.

-***-

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya sembari fokus menyetir.

"Menunggu mu"

"Apa janjimu?"

"Janji apa?"

"Janji sebelum aku menjemputmu" aku terdiam.

"Pria dewasa tak akan pernah lupa akan janjinya" ujarnya ketus, aku menarik nafas.

"Sudahlah, aku memang bocah dimatamu, kak. Jangan bahas ini lagi"

"Seorang pelupa setidaknya akan mencari solusi untuk mengatasi kekurangan pada dirinya, tapi kau tidak"

"Kak... Hentikanlah"

"Aku belum lihat usahamu mengatasi kekuranganmu"

"Kak... Aku mohon..."

"Aku tak akan berhenti berbicara hingga kau ingat apa janjimu"

"Janji apa? Apa yang aku janjikan padamu? Lalu kapan? Kapan aku berjanji?"

"Konyol, kau bahkan lupa waktu saat berjanji padaku"

Aku kembali diam, ku buang pandanganku ke jalanan sedangkan ia tetap mengoceh sembari menyetir. Ku dengar ocehannya yang sangat mendetail.

Aku bosan, ia pasti akan menasihatiku seperti biasa setelah membeberkan kesalahanku yang sudah-sudah.

"Turun, kau segera mandi, satu jam lagi aku akan mengantarmu ke tempat yang aku benci" ia menghentikan mesin kendaraan lalu turun meninggalkanku.

Ia selalu seperti itu.

-***-

Noval. Entah apa yang harus ku katakan tentangnya. Ia berhasil membuat mood ku hancur sekarang.

Noval memang ku anggap sebagai kakak, karena ia sering menasihatiku bahkan ia mengijinkanku untuk tinggal dikediamannya.

Aku mengenal Noval ketika aku sedang berlari dari kejaran psikopat yang ingin membunuhku. Noval menyelamatkanku lalu menyuruhku tinggal dikediamannya.

Aku sering dinasihatinya seperti tadi, dan itu membuatku risih. Aku selalu dipandang sebelah mata olehnya.

Dimatanya aku adalah anak kecil, dan tak sanggup melakukan apapun. Hal itu yang membuatku jengah.

Ingin sekali aku menyumpal mulut Noval dengan tumpukan sampah agar ia berhenti menceramahi aku dan mulai melihatku sebagai laki-laki dewasa, namun aku tak sanggup.

Selama ini, Noval yang membantuku hidup. Noval menyemangatiku, tanpa meminta imbalan sesuatu padaku.

Mungkin ia menyayangiku seperti ia menyayangi keluarganya, tapi menurutku ia terlalu berlebihan dan aku benci itu.

"Angga! Kau sudah siap?" teriaknya memanggilku.

"Sebentar lagi, kak!" jawabku.

"Cepatlah! Setelah mengantarmu, aku harus bertemu dengan seseorang"

Aku melangkah keluar kamar dan memandanginya yang berdiri di ruangan tengah.

"Ya, aku siap"

"Tunggu aku dalam mobil, ada yang harus ku angkut dari ruang tengah ini"

Aku melangkah keluar rumah, dan menunggunya didalam mobil.

Pikiranku melayang jauh, membayangkan tingkah Noval yang berubah. Noval dulu tak seperti ini, Noval tidak over protective seperti ini.

Dulu ia tidak perduli denganku, ia selalu menjadi pendengar setia disaat aku butuh dan hanya memberi solusi. Sedangkan kini, ia suka memaki dan memojokiku daripada menjadi pendengar setia.

Noval memang tak pernah berkata kasar padaku, ia juga tak pernah bermain fisik padaku. Namun, aku lebih menyukai orang yang bermain fisik ketika marah daripada hanya mengoceh dan memaki.

"Apa yang kau pikirkan, lagi?" aku terbangun dari lamunanku saat Noval duduk di kursi supir dan mulai menyalakan mesin.

Aku menarik nafas, memandanginya lalu berusaha untuk berbiara padanyaㅡmeski aku masih kesal padanya.

"Barang apa yang kau harus bawa?"

"Hanya barang untuk seseorang ditempat kerjamu"

"Tempat kerjaku?"

"Ya... Guci kesayanganku akan kuberi pada pemilik bar itu"

"Kenapa?"

"Aku hanya ingin kau keluar dari tempat itu dan mencari tempat kerja yang lebih layak untukmu"

"Apa?"

Selama delapan tahun ini ia tak pernah melarangku bekerja ditempat itu, tapi kini ia menyuruhku berhenti. Konyol.

"Kak... Darimana aku makan kalau aku berhenti?"

"Ada aku... Aku yang akan mengurusi itu..." jawabnya, aku memutar bola mataku.

"Kau? Kau bekerja? Selama ini yang kutahu kau hanya menelepon dan menelepon, lalu darimana kau dapat uang?" ia terdiam.

"Kak... Aku tak ingin berhenti dari tempat itu, kau tahu aku suka menari, dan pekerjaan ini cocok menurtku"

"Itu menurutmu, kau cerdas! Kenapa tak kau coba melamar disebuah perusahaan besar yang membutuhkan orang sepertimu?"

"Tidak! Aku tak ingin terikat!"

"Lalu, kau ingin hidup menjadi penari streaptease selama hidupmu?" aku terdiam.

"Aku ingin kau berubah, aku ingin hidupmu jadi lebih baik... Hanya itu" lanjutnya.

"Sudahlah, kita sampai... Cepat turun, aku ingin hari ini berakhir dengan cepat" ujarnya lalu meninggalkanku yang terdiam kaku didalam mobil.

-Be Continue-