Senin, 21 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 10.5)

"Warning! Melewati bagian ini tidak berpengaruh dalam cerita keseluruhan.

Bagian ini mengandung unsur sex eksplisit.

Regards.
Author"

-Ep. 10.5-

"Angga... Aku tak dapat tertidur..." bisiknya di telinga ku, aku tak meladeni Daniel dan berpura-pura sudah terlelap.

Daniel mendekap ku lebih erat, kurasakan dadanya menempel pada punggung ku.

"Angga... Aku terbayang akan kalimat mu..." bisiknya lagi. Aku masih belum meladeni Daniel.

"Dengarlah, kau berkata jika aku hanya berani mengemis tanpa berani akan resikonya... Memang apa resikonya jika aku menyukai mu" lanjutnya.

"Jujur saja, aku masih ingat saat pertama kali aku mengenal mu, aku yakin ada sesuatu yang istimewa dari dirimu"

"Tak dapatkah aku mencintai mu? Aku ingin seperti ayah dan ibu, saling mencintai hingga tua"

Aku mulai risih, aku membuka mataku, melepaskan dekapannya dan membalikan tubuhku.

"Tidurlah, cukup ibu mu yang membuat ku berpikir layaknya seorang ilmuwan, jadi ku harap kau tidur" ujarku dengan nada ketus.

"Aku tak dapat tidur... Aku... Adikku..."

Aku menarik nafas.

"Adik mu bangun? Lalu apa susahnya jika sekarang kau keluar dan meniduri adikmu?" Daniel terdiam.

"Kenapa? Kau punya tangan bukan?" Daniel masih diam.

"Sekarang kau keluar, lalu tiduri adikmu, lagipula apa yang adikmu lakukan di tengah malam seperti ini?" Daniel menahan tawa.

"Angga..."

"Apa?" ia meraih tanganku lalu dituntunnya ke selangkangannya.

Mataku terbuka lebar saat tanganku merasakan kemaluan Daniel mengeras.

"Adik ku yang ini sulit tertidur..." aku terdiam.

Mulutku membentuk lingkaran kecil. Aku baru paham adik yang Daniel maksud.

"Dengarlah, kawan ku berbicara mengenai melakukan hal itu padaku, dan... Aku ingin merasakannya..." kini, giliran ku yang menahan tawa.

"Bodoh, ku pikir adik mu yang lain, sudahlah kau harus tidur, jangan lakukan apapun pada adik mu yang sulit tertidur" ucapku sembari menarik tangan ku.

Daniel terdiam. Aku memejamkan mataku, dan berusaha tertidur. Entah apa yang Daniel lakukan, aku hanya ingin fokus tertidur.

"Angga..." Daniel merayu ku. Aku mengacuhkan Daniel.

Aku mengintip Daniel, ku lihat ia meremas-remas kemaluannya. Aku ingin tertawa. Sungguh konyol.

"Astaga, bagaimana ini..." keluh Daniel pelan.

Daniel berdiri lalu mematikan lampu kamar, dan ia kembali berbaring disampingku.

Terdengar suara berasal dari Daniel, aku membayangkan Daniel melepas kolor dan memainkan adik kecilnya, lalu aku mendengar seperti suara desahan yang tertahan.

"Kau jahat, Angga... Aku sudah menyatakan perasaaan ku padamu tapi kau tak ada respon, dan kini kau membiarkan aku sengsara dengan kemaluan yang menegang" keluhnya lagi.

"Aku sangat bersyukur saat bertemu dengan mu lagi, dan kini aku bersama mu lebih dari 1 bulan tapi kau belum menjawab pertanyaan ku" lanjutnya di selingi desahan yang tertahan.

"Dan aku sekarang merancap kemaluan ku sendiri, walaupun disamping ku ada kau, kau benar-benar jahat!" aku menahan tawa dengan mata yang masih tertutup.

Aku menahan tawaku, ia benar-benar melepas kolor dan merancap penisnya sendiri.

Keluhannya membuat ku ingin tertawa lepas.

"Tapi... Kenapa aku tetap menyukai bahkan mencintai mu, Angga!" kali ini desahannya terdengar begitu jelas.

"Ah, shit, why I'm so horny tonight!" lanjutnya dengan desahan yang panjang.

Sepertinya, ia sudah mencapai klimaks.

Aku bangkit dan terbangun, mataku mulai terbiasa melihat meski gelap. Terlihat Daniel gelisah dan menutup kemaluannya yang masih menegang.

"Angga..." ia memanggil ku dengan nada yang lemah. Sepertinya ia malu.

"Kau begitu berisik! Aku tak dapat tidur karena mu!" ujarku. Ia terdiam. Lalu ia meraba-raba kasur mencari kolor yang sudah ia lepaskan.

"Mencari apa kau?" ia terdiam.

Aku mendekati Daniel yang berbaring, dengan tangan kiri yang mencari celana dan tangan satunya yang menutup kemaluanㅡwalau masih terlihat bagian batang kemaluan yang tidak tertutup.

Aku terdiam, lalu aku berdiri dan duduk diperutnya.

"Apa yang kau cari?" kedua tangan Daniel diam.

"Kenapa kau begitu berisik! Aku ingin tidur!" bentak ku tapi tetap dengan suara yang pelan.

"Jika kau benar-benar ingin melakukannya denganku, lakukanlah, toh aku tak akan menolak!" ucapku.

Daniel terdiam, lalu ia membangkitkan diri dengan lengan yang menahan tubuhnya.

"Benarkah?"

"Tidak, aku hanya bercanda" canda ku sembari berdiri dari perutnya dan berbaring di sampingnya.

"Ah, candaan mu keterlaluan" ia kembali merebahkan diri.

Aku tertawa kecil.

"Lakukanlah jika kau ingin, karena aku juga menyukai mu" ucapku.

-***-

Daniel menindih tubuhku sembari bibirnya menciumku. Ciumannya ganas, terkadang ia menghisap dan mengigit bibirku.

Lidahnya menyentuh langit-langit mulutku sementara tangannya menggenggam kepalaku, menahan kepalaku agar tidak bergerak.

Aku memeluknya, mengusap punggungnya.

Kemaluannya menekan kemaluanku yang masih terbalut celana dalam.

Puas menciumku, Daniel mengecupi leher dan menghisap leherku seperti drakulaㅡaku yakin, ia sedang membuat tanda merah dileher.

Tangannya masuk ke dalam bajuku, meraba lalu mengusap dadaku. Jarinya memilin, dan mencubit pelan kedua putingku.

Aku mengerang dan mendesah, perlakuannya membuatku ikut bernafsu.

Aku meremas rambutnya saat ia menjilat telinga dan mengecupi pipiku.

"Daniel..." erangku ditelinganya.

-***-

"Kau yakin?" tanyanya sembari mengangkat tinggi kakiku.

"Ya, lakukan dengan cepat!"

Kepala menyusup disela pantatku, membasahi lubang anusku dengan jilatan lidahnya. Terasa geli dan basah di pantatku.

Lidahnya menusuk-nusuk anusku, sementara tangannya meremas kemaluanku dan dikocoknya perlahan. Telunjuk Daniel bermain dilubang kencingku, mengilik dan mengelus precum yang membasahi kepala kemaluanku.

"Kau siap?"

"Ya"

Aku memejamkan mata, menahan rasa sakit pada anusku.

Aku merasa, kemaluan Daniel benar-benar merobek anusku dan mengisi penuh perutku saat kepala kemaluannya masuk.

Aku mengerang menahan sakit.

"Kau tak apa?" aku terus mengerang.

"Aku tak tega..." dicabut kemaluannya lalu kembali menindihku.

"Dengar, aku tak akan melanjutkanya jika itu membuatmu sakit" bisiknya.

Daniel menciumku lagi, kemaluannya menindihku yang sudah benar-benar tegang.

"Lanjutkan... Tak apa, aku hanya belum pernah melakukan ini..." balasku.

Daniel kembali bangkit lalu mencoba lagi, hingga akhirnya ia berhasil menembus anus ku.

Aku mengerang.

Daniel belum bergerak, ia menciumi ku sementara pinggul Daniel berusaha bergerak perlahan.

Kami mendesah bersamaan.

Aku terus-menerus mengusap punggung Daniel, sementara Daniel menggerakan pinggulnya maju-mundur sembari menindihku.

Kemaluanku terjepit oleh perutnya yang terbentuk, membuat sensasi tersendiri yang aku rasakan.

Perlahan namun pasti, Daniel menggenjot tubuhku sembari menciumiku ganas.

Erangan dan desahan kami saling menyahut, ditengah goyangan pinggulnya.

Puas menciumku, ia berdiri sembari meloco penisku dengan tempo lambat.

Entah apa yang Daniel lakukan, aku merasa begitu merangsang walau masih terasa sakit di anusku.

Daniel mengangkat tinggi-tinggi kakiku dan ditaruh di pundaknya, sementara tangannya menggenggam paha ku.

"Aku... Sebentar lagi sampai..."

Aku tak menjawabnya, ia menghentikan goyangan lalu fokus pada kemaluanku.

Aku mendesah, nafasku memberat saat tangan Daniel mengocok kemaluanku dengan cepat.

Mungkin, ia merasa jika kemaluanku menggembung dan mengeras. Kocokan tangannya semakin cepat hingga akhirnya aku mencapai klimaks.

"Giliran ku" ujarnya, setelah aku berhasil mengeluarkan sperma.

Tak memperdulikan aku yang baru saja sampai, Daniel menggoyang pinggulnya cepat dan tak beraturan.

Aku dapat merasa kemaluan Daniel mengembang dan berkedut dalam anusku.

"Ah, aku sampai!" erang Daniel.

Daniel mencabut kemaluannya lalu mengocok di atas perutku, tak berapa lama sperma Daniel keluar dan membasahi dada, dan perutku sebagian mengenai wajah ku.

Daniel menindih tubuhku, sembari menciumku.

"Terima kasih, aku menyayangi mu..."

-To Be Continue-

Angga is My Name (Ep. 11)

"Pulanglah..." aku membalikan tubuhku saat mendengar seseorang berbicara dibelakang ku.

Mataku terbuka lebar melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah kusut, dan kumis juga jambang yang tumbuh lebat diwajahnya berdiri sembari memandang ku sendu.

"Ku mohon... Pulang... Aku memohon padamu..." ucapnya lagi.

Aku berdiri mematung melihat orang yang berdiri dihadapan ku. Mulutku terkunci rapat, tubuhku lemas.

"Dimas... Kakak mohon... Pulang..."

-***-

Mata dan mulutku masih tak dapat menutup, melihat orang iniㅡyang kutemui tadi duduk di hadapan ku, Daniel dan ibunya memohon ku pulang.

Rasa penasaran ku muncul, darimana orang ini mengetahui keberadaan ku.

"De, benar tujuan mu hanya menjemput Angga?" ibu Daniel bertanya pada orang itu, orang itu mengangguk.

"Lalu, darimana kau mengetahui tempat ini?" ia tak menjawab.

"Sebenarnya, ada ikatan apa kamu dengan Angga?" ia terdiam.

"Bu... Sudahlah, biarkan orang ini beristirahat, mungkin ia kelelahan" Daniel berbicara, aku terdiam. Aku masih memandang wajah orang yang juga menatap ke arah ku.

"Ah ya, benar juga, mari de Noval, lebih baik beristirahat dulu..." ibu Daniel mengajak Noval menuju kamar tamu disamping kamar Daniel.

Noval menurut lalu mengikuti ibu Daniel.

"Kau memberitahu siapa saat kau menelepon?" bentak ku pada Daniel setelah Noval pergi.

"Tenangkan dirimu, jangan emosi"

"Jelas aku emosi, darimana Noval mengetahui keberadaan ku!" aku membentak Daniel.

Emosi ku membludak.

"Hey, jangan berteriak, malu jika Noval mendengar"

"Biarkan, aku tak perduli!" aku berdiri lalu melangkah ke kamar.

Aku duduk di atas kusen jendela, dan memutuskan untuk menghisap sebatang rokok.

Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja aku alami. Darimana Noval mengetahui keberadaan ku? Lalu, kenapa ia tetap ngotot menyuruh ku pulang?

Baru 2 hari aku disini, tapi Noval sudah menyusul. Darimana ia mendapat info keberadaan ku?

Astaga, kepalaku sakit memikirkan hal ini.

"Hey, sudahlah" aku menengok kearah Daniel  yang mendekat.

"Sudahlah apa?" tanyaku ketus, aku kembali memandang halaman samping sembari merokok.

"Sudahlah... Jangan terlalu pusing memikirkan hal ini" ujar Daniel.

Kami terdiam.

Aku memainkan kaki ku yang keluar jendela, dengan posisi duduk membelakangi Daniel.

Kurasakan tangan Daniel melingkar dipinggang ku, dan pundak kiri ku terasa berat saat kepala Daniel menyandar.

"Marahkah kau padaku?" tanyanya lembut.

"Tidak, aku hanya kesal"

"Kenapa?"

"Pada siapa kau menelepon saat dibus? Kenapa harus menggunakan bahasa cina?"

"Kawanku, hanya kawanku"

"Lalu jika benar kawanmu, kenapa harus menggunakan bahasa asing?"

"Angga, hentikanlah, kenapa kau begitu curiga padaku?"

"Aku tidak curiga padamu, aku hanya penasaran apa yang membuat Noval mengetahui tempat ini. Kau bilang rumah mu aman, dan tak ada orang yang akan mencari ku, tapi kenyataannya?" Daniel diam.

Aku membuang batangan rokok dan melepaskan pelukan Daniel.

"Sudahlah, aku tak ingin membahas ini" aku menuruni jendela lalu melangkah ke luar rumah.

Aku duduk di kursi teras rumah, yang menghadap jalanan.

"Dimas..." aku menoleh sesaat mendengar namaku dipanggil, lalu kembali membuang muka ke hadapan ku.

"Cari siapa?" tanyaku ketus.

Kami terdiam.

Aku lupa jika Noval masih berada di sini.

"Dimas, ku mohon, pulang" aku membisu, aku tak ingin meladeni Noval.

"Maafkan aku yang berkata seenaknya padamu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu..." aku tetap diam.

"Dimas..." aku membuka mata lebar-lebar. Noval bersujud di depan ku.

"Sedang apa kau? Menjijikan!" aku bangkit dari duduk lalu meninggalkan Noval yang masih bersujud.

"Hey, kau tak boleh seperti itu" aku menghentikan langkah saat Daniel menegur ku dari dalam ruang tamu.

Aku tak sadar jika Daniel mengikuti ku.

"Kau membela orang itu?"

"Tidak, hanya saja, maafkan dia"

"Tidak, tidak ingin!"

"Ada sesuatu yang kau sulit maafkan darinya?" aku mengangguk.

"Lalu, bagaimana jika kau melakukan hal yang membuat ku sakit hati? Apa kau akan melakukan hal yang sama dengan orang itu? Bersujud di hadapan ku, sembari memohon maaf, dan aku tidak memaafkan mu, apa kau tetap bersujud seperti orang itu?" aku diam.

Aku menengok ke arah teras, ku lihat Noval masih bersujud.

"Berikanlah apa yang dia inginkan, aku yakin kaupun berharap kata maaf keluar dari mulutku jika kau melakukan hal yang sama seperti Noval" aku menarik nafas panjang.

Daniel, kenapa kau sangat mengesalkan!

"Aku memaafkan orang itu karena mu, ingat itu"

"Karena ku? Lebih baik tak usah, kau memaksakan diri" Daniel berdiri, lalu mendekati ku.

"Dengarlah, Angga... Bayangkan jika kau atau aku ada di posisi orang itu, pasti sangat tidak nyaman... Jadi, buka hati mu, maafkan orang itu" aku menatap mata Daniel.

"Maafkan dia, agar dia tenang... Menurutku cukup balasan dari mu yang menampar pipi orang itu"

Aku menghela nafas ku.

"Maafkanlah..." ku tatap mata Daniel sekali lagi.

Daniel tersenyum, lalu ia mengusap kepalaku pelan.

"Sana, berikan kesempatan untuknya" aku melangkah lesu mendekati Noval.

"Bangunlah!" ucapku ketus.

"Hey, berdiri! Jangan seperti ini!" lanjutku.

Noval diam.

"Hey! Bangun!" aku menendang Noval.

Noval tetap diam.

"Jangan begitu..." terdengar Daniel menegur ku dari arah belakang.

"Dia tidak ingin berdiri, mencari perhatian sekali! Aku benci!"

"Tidak perlu kasar..."

Argh! Daniel kau benar-benar menyebalkan.

"Kak..." panggil ku dengan lembut. Aku terpaksa melakukan hal ini.

Jika bukan Daniel yang memaksa ku, akan ku tendang hingga mati orang yang bersujud di hadapan ku.

"Kak, bangunlah..." Noval mengangkat kepalanya dan memandang ku.

Matanya memerah, terlihat jelas air matanya membasahi pipi.

Aku tak dapat berkata-kata, aku sedikit terharu melihat Noval seperti ini.

Wajah tampannya hilang termakan tangisannya sendiri. Jambang, kumis dan janggut Noval basah. Noval tersenyum ke arahku, di tengah tangisan.

"Dimas... Maafkan kakak..."

-To Be Continue Soon-

Kamis, 17 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 10)

Aku mengejapkan mata dengan posisi tubuh yang masih berbaring. Aku mencium aroma khas yang membuatku terbangun.

"Kau sudah sadar?" aku bangkit dari tidur ku, sambil mengusap mata.

Ku lihat Daniel sedang berkaca dan membenahi diri.

"Aku pingsan?" tanyaku.

Daniel tertawa.

"Kau tertidur lebih lama dariku, dan kau melewati makan malam" mataku terbuka lebar mendengar Daniel berbicara.

Astaga. Aku baru ingat, aku memiliki janji dengan ibu Daniel.

"Bagaimana ini? Aku sudah berjanji dengan ibu mu" ucap ku sedikit panik.

"Ibu menunggu mu di kamar, datang saja ke kamarnya jika kau merasa bersalah" ejek Daniel.

Daniel melanjutkan berkaca lalu memandang ke arah ku.

"Dengar, lebih baik kau mandi lalu setelah itu langsung ke kamar ibu, aku harus mengantar adik ku berjalan-jalan" lanjut Daniel sebelum pergi meninggalkanku.

-***-

Aku mengetuk pintu kamar ibu Daniel setelah membilas diri. Ibu Daniel tersenyum menatap ku, lalu menyuruh ku masuk.

"Ibu maaf, tadi..."

"Sudahlah, jangan bahas itu, ibu paham" ibu Daniel memotong kalimat ku, tangannya menarik tanganku dan menyuruh ku duduk di sampingnya.

"Angga, kau suka dengan Daniel?" aku diam.

Sebenarnya aku ingin tertawa mendengar pertanyaan ibu Daniel, pertanyaan konyolㅡmenurut ku.

"Jujurlah..."

"Hm... Bagaimana ya aku menjawabnya..." ku lihat sang ibu tersenyum.

"Jangan malu, tadi Daniel cerita kalau dia sudah menyatakan perasaannya" wajah ku memanas, aku malu.

"Daniel bercerita banyak tentang kamu, sepertinya Daniel memang benar-benar menyukai mu" aku tersenyum.

"Lalu Daniel memarahi ibu, katanya karena ibu, Angga benci pada Daniel, benar begitu?" aku mengerenyitkan dahi.

"Kata Daniel, andaikan Daniel tidak pulang kesini setelah lulus sekolah mungkin ia akan bersamamu di ibukota"

"Memang sebenarnya apa yang terjadi bu? Sampai Daniel harus pulang ke sini sesudah kelulusan" ibu Daniel menarik nafas.

"Ayahnya, meninggal dunia... Daniel membantu ibu mengurus semua urusan yang menyangkut ayahnya..." aku terdiam.

Ibu Daniel memandang sebuah portrait keluarga yang terpajang di tembok, aku baru menyadari jika ada foto disana.

"Daniel anak yang baik... Walau Daniel bukan anak kandung ibu dan suami ibu, Daniel anak yang sangat berbakti..." aku mengusap pundak ibu Daniel.

"Yang sabar ya bu..."

"Rasanya baru kemarin ibu nikah, dan memutuskan mengadopsi Daniel... Tapi..." nada suara ibu bergetar, ibu memandang ku.

"Entah kenapa, ibu bahagia melihat kamu, Angga... Seakan ibu bercermin... Ibu harap, Daniel dapat membahagiakan kamu..."

Aku membisu, dengan tangan yang masih mengusap pelan pundak ibu dan memandang wajahnya.

-***-

Aku duduk termenung di dalam kamar, menanti kedatangan Daniel.

Masih terdengar jelas kalimat-kalimat ibu Daniel di telingaku, membuat pikiran ku melayang jauh.

Pikiran ku semakin bercabang, ada sebuah kenyataan yang sulit diterima dengan logika ku dan aku tidak pernah menyangka hal yang baru saja ku dengar.

Daniel merupakan anak asuh satu-satunya yang ditemukan di depan pintu rumah ini, dan ibu Daniel adalah orang pertamaㅡyang ku temui berhasil menikah setelah operasi kelamin.

Aku benar-benar tak menduga jika ibu Daniel seorang transgender.

Pantas saja ia mengatakan seperti bercermin melihatku.

Lalu, apa yang membuat Daniel menjadi suka dengan ku? Bukankah dulu ia bersumpah agar tidak menjadi seorang homo?

Berjuta pertanyaan mengisi otakku.

"Hey, aku pulang" terdengar suara Daniel di depan pintu kamar.

"Masuklah, aku tidak mengunci pintu kamar"

Daniel masuk ke dalam kamar sembari tersenyum.

"Ada apa dengan mu? Bahagia sekali"

"Tak apa, tak bolehkah aku bahagia?" tanyanya, ia berjalan ke arahku setelah mengunci pintu kamar.

"Darimana saja kau?" ujar ku sembari memandangnya yang melepas baju.

Seperti biasa, ia pasti ingin langsung beristirahat jika sudah membuka bajunya.

Hanya mengenakan kolor kebanggaannya, ia berbaring di samping ku.

"Hanya berkeliling kota, lalu berhenti di sebuah tempat dan membeli sesuatu"

"Kenapa? Kau mencari ku? Rindukah?" lanjutnya sembari terkekeh.

Aku terdiam. Konyol, pasti ia akan mengatakan sesuatu yang garing dan berharap aku akan tertawa karena candaan anehnya.

"Diamlah, aku hanya ingin bertanya padamu" aku merebahkan diri di sampingnya, lalu berhadapan dengannya yang tersenyum.

"Apa?"

"Ibu... Ibumu melakukan operasi?" Daniel menahan tawa.

"Jangan tertawa, aku serius" Daniel terdiam.

"Kalau ya, kenapa? Kalaupun tidak, kenapa? Apa itu mengganggu mu?" aku menggelengkan kepala.

"Tidak, hanya saja... Ibu mu adalah orang pertama yang ku temui melakukan operasi kelamin..."

"Lalu?"

"Aneh, tapi aku kagum pada ibu... Bagaimana orang tuanya jika mengetahui anaknya melakukan operasi?"

"Ibu ku, sama seperti mu, ia yatim piatu... Maka dari itu, ibu berharap segera menemui mu dan berbicara banyak pada mu" aku terdiam.

Daniel bercerita tentang ibu dan ayahnya. Mereka bertemu saat sang ibu menjadi penari latar di sebuah konser, lalu mereka berpacaran setelah kenal dekat.

Orang tua ayah Daniel melarang sang ibu untuk berdekatan dengan ayah Daniel, namun ayah Daniel memaksa orang tuanya merestui hubungan mereka sampai akhirnya mereka menikah.

Hingga ayah Daniel meninggal, mertua ibu kini sudah menerima ibu bahkan menyuruh ibu menikah lagi, tetapi ibu tidak ingin.

Setiap malamnya, pasca ayah Daniel meninggal, Daniel selalu menemani ibunya yang menangis hingga tertidur.

Daniel merasa bersalah pada ibunya, karena ia belum dapat membahagiakan ibu. Maka, Daniel berpikir jika aku ditemukan dengan ibunya, mungkin ibu akan menemukan semangat hidup yang dulu pernah hilang.

"Angga... Maka dari itu, ku mohon, jawab pertanyaan ku, apakah kau menyukai ku juga?" aku terdiam.

"Dengarlah, aku sedang membahas ibu, bukan membahas tentang perasaan ku padamu"

"Perasaan mu merupakan faktor penting agar ibu bahagia" aku kembali terdiam.

Aku membalikan tubuhku.

"Sudahlah, mari kita beristirahat... Kita harus tidur..."

Daniel memelukku dan mengecup pipiku sebelum ia tertidur.

Aku menumpukan tanganku di atas tangannya. Aku semakin bingung.

Benarkah ini jalan ku hidup? Aku butuh seseorang untuk memberikan solusi, aku butuh Noval.

Noval, bagaimana kabar mu?

-To Be Continue-

Rabu, 16 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 9)

"Kak Daniel!" terdengar teriakan yang memanggil Daniel.

Aku tersenyum kecil melihat sekumpulan remaja yang berlari-lari mendekati aku dan Daniel yang berjalan kaki dari jalan raya.

Kami sampai di terminal pagi tadi, dan Daniel langsung mengajakku menaiki taksi yang tersedia di sana lalu turun tepat di depan kediaman orang tua asuh Daniel. Sejak tadi malam, aku dan Daniel belum berbicara sama sekali.

Aku masih canggung membuka percakapan dengannya, Daniel membuatku terdiam selama perjalanan.

Kumpulan remaja itu langsung memeluk Daniel, dan ada beberapa diantaranya tersenyum, menjabat tanganku, dan memelukku.

"Kakak! Aku kangen!" aku terbangun dari lamunan sesaat ku ketika mendengar rengekan bocah yang meminta dipelukㅡyang paling kecil dikumpulan itu.

Daniel merunduk lalu memeluk tubuh anak itu dan mencium pipinya.

"Kangen ya sama kakak? Kangen banget atau kangen aja?" canda Daniel yang sembari menggendong adik bungsunya.

Kami bersama-sama berjalan menuju sebuah rumah besar yang berada didepanku. Aku berjalan di belakang Daniel dan adik-adiknya, terlihat mereka begitu bahagia.

Aku menghentikan langkah sebentar, mengedarkan pandangan ku setelah memasuki pagar rumah.

Rumah besar yang sangat sederhana. Tanaman hias tertata rapih dalam pot di teras rumah, tanaman-tanaman yang lain pula terawat di halaman.

Rumah yang luas.

Ku lihat ada beberapa mobilㅡkeluaran terbaru yang terparkir disebelah timur, dan motor yang berjejer rapih disampingnya.

"Welcome home" terdengar nada rendah seseorang yang menyambut kedatangan kami.

Adik-adik Daniel yang tadi mengerubungi kami, berlari masuk ke dalam rumah.

Kulihat seorang wanita paruh baya yang mengenakan baju berlengan panjang dan rok panjang berwarna gelap, berjalan ke arah kami.

Daniel langsung memeluk wanita itu dan mencium pipinya.

Ternyata orang itu, ibu asuhnya.

Ibu Daniel sangat cantik, rambutnya tergerai indah terhembus angin. Wajahnya mirip dengan Daniel, disaat tersenyum matanya juga akan ikut tersenyumㅡsama seperti Daniel. Muncul rasa tak percaya jika Daniel adalah anak asuh dari ibunya.

"Kenalkan bu, orang ini Angga"  ujar Daniel.

Ibu Daniel mendekatiku yang merunduk sedikit, tersenyum dan bersalaman.

"Akhirnya, aku bertemu dengan mu, nak" ucap ibu Daniel lembut, aku masih tersenyum kaku.

"Mari masuk, anggap ini rumah sendiri" lanjutnya.

"Ah, iya bu" ucapku.

Aku membiarkan mereka berbincang-bincang sembari berlalu meninggalkan aku. Aku masih terpesona dengan rumah besar namun sederhana yang ada dihadapan ku.

Rumah yang masih menggunakan arsitektur jaman dahulu dengan koridor panjang dan teras halaman yang sangat luas, membuat ku tak dapat menutup mata.

Pilar-pilar pondasi yang tinggi, membuat bangunan ini terlihat sangat kokoh. Dipadu dengan cat tembok yang berwarna kalem, dan gradasi warna glamor semakin membuat rumah ini terlihat mewah.

Aku berjalan sedikit berlari, mengejar Daniel dan ibunya. Sesaat aku melangkah masuk ke dalam ruang keluarga, adik-adik Daniel langsung bersorak, berteriak mengejek Daniel.

Daniel membalas ejekan adiknya lalu bersenda-gurau tanpa memperdulikan aku. Puas melepas rindu dengan adik-adiknya, Daniel mengenalkan aku pada semua adiknyaㅡyang ku hitung berjumlah 6.

"Ini ya, ini pacarnya kakak?" aku membelalakan mataku.

Adik bungsu Daniel membuat aku berdiri mematung.

"Ya sayang, jadi nanti kasih tau yang lain jangan nakal sama pacarnya kakak!" jawab Daniel dengan sedikit bercanda.

Astaga. Aku berharap, telingaku sudah tak berfungsi dengan benar.

Semoga aku salah dengar.

Ibu Daniel memanggil ku dan Daniel yang bercanda di ruang keluarga, dan menyuruh kami bergegas masuk ke dalam kamar.

Aku sangat yakin, kamar ini adalah kamar Daniel. Tercium aroma khas keringat tubuh Daniel.

"Bagaimana pekerjaanmu? Apa kau keluar?" aku terdiam saat ibunya menginterogasi ku dikamar Danielㅡhanya aku, Daniel dan ibunya.

Aku memandang wajah Daniel yang menahan senyum.

"Kamu penari, kan?" aku mengangguk pelan.

Ibu Daniel duduk di depanku, lalu meraih tanganku untuk duduk disampingnya. Sedangkan Daniel merapihkan sisi lain kamar.

"Jangan malu, ibu juga dulu seperti kamu, sudah berapa lama jadi penari striptease?" aku semakin membisu, tubuhku kaku.

"Sudahlah ibu, jangan tanya Angga yang tidak-tidak..." ucap Daniel yang sibuk membenahi kamar.

"Ah ya, maaf maaf... Ibu cuma terlalu senang melihat Angga ada di depan ibu" ibu Daniel tersenyum.

"Sudahlah, kalian harus beristirahat, nanti kita makan malam bersama" lanjutnya sebelum sang ibu melangkah pergi meninggalkan aku dan Daniel.

-***-

"Boleh aku merokok?" tanyaku memandangi Daniel yang duduk di jendela kamarnya. Daniel tersenyum pelan.

"Kalimat pertama yang kau ucapkan padaku setelah aku menyatakan perasaan ku..." Daniel terkekeh.

Aku terdiam.

Aku berusaha tak memperdulikan kalimat Daniel, aku mengambil rokok dan menyulut perlahan.

"Dimas yang dulu aku kenal belum berubah, walau ia sudah berganti nama dengan nama yang aku berikan" aku masih terdiam.

"Konyol, aku seperti mengemis... Tapi, aku menikmatinya... Dan kau, seperti membalas dendam padaku karena aku meninggalkan mu" lanjut Daniel.

"Andai kau mengetahui alasan ku..."

"Berhentilah berbicara, dan cium aku sekarang jika kau memang mencintai ku" aku memotong kalimatnya tanpa memandang wajah Daniel.

Daniel diam tak bersuara.

"Lihat, kau berani mengemis tapi kau tak berani akan resikonya..." ucap ku.

Daniel membisu.

Siang itu, sinar matahari masuk ke dalam kamar yang redup. Walau aku tak memandang wajah Daniel secara langsung, aku dapat melihat jelas wajah Daniel yang memandang ku penuh rasa penasaran.

"Apa yang kau lihat?" tanyaku ketus.

"Dirimu" aku meringis, sembari masih menikmati batangan rokok yang ku hisap.

"Sudahlah, kau harus beristirahat... Tidurlah, jika sudah waktunya makan malam, aku akan membangunkan mu" ujar ku.

Daniel turun dari jendela, menutup kedua daun jendelaㅡnamun sengaja dibiarkan terbuka sedikit dan berjalan ke arahku.

Ia membuka bajunya, lalu merebahkan diri disampingku.

"Baiklah, aku tidur... Jangan mengangguku atau mengerjaiku" ucapnya sebelum memejamkan mata.

Aku terdiam.

Sembari menghisap rokok, aku memandangi wajah Daniel yang terlelap. Daniel terlihat seperti malaikatㅡmenurut ku jika ia terlelap seperti ini.

Wajah oriental kental membuatnya semakin menarik disaat ia memejamkan mata.

Daniel begitu tampan.

Aku berdiam diri selama setengah jam, membayangkan hal yang seharusnya tak aku bayangkan. Rokok yang ku hisap pula sudah habis dari beberapa menit yang lalu.

Ku putuskan untuk ikut beristirahat, aku mengambil ancang-ancang untuk tidur.

Aku merebahkan diri disamping Daniel, dengan posisi memandangi wajah Daniel.

Aku tersenyum kecil. Tanganku menyentuh hidung Daniel dan mengusap pelan pipinya.

Ada rasa bahagia mendengar pengakuan Daniel. Rasa yang dulu ku pendam, terjawab sudah.

Tanganku berhenti mengusap ketika telapak tangan Daniel menggenggam tanganku. Aku terkejut melihat Daniel membuka matanya lalu tersenyum ke arah ku.

Wajahnya mendekat, hembusan nafasnya mengenai philtrum dan bibir ku.

Tangannya menuntun tanganku ke bibirnya. Reflek, jemari ku mengusap bibirnya yang tipis.

Aku tersenyum, ia pula ikut tersenyum.

Wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Aku memejamkan mata, ketika tangannya tak lagi menggenggam tangan ku.

Jemari Daniel mengusap pipi dan kepalaku, lalu kurasakan telunjuknya menyentuh bibir ku.

"Aku mencintai mu..." ucapnya perlahan sebelum ia mencium bibir ku mesra.

Ya, Bibir ku dicium Daniel dengan begitu lembut.

-To Be Continue Soon-

Angga, is My Name (Ep. 8)

"Kita harus berangkat malam ini!" mataku tak dapat menutup saat mendengar kalimat Daniel yang mengajak ku pergi.

"Malam ini? Kemana?"

"Kota Kembang, benahi pakaian mu, kita berangkat naik bus" ucap Daniel yang tergesa-gesa.

Aku baru melihat Daniel seperti ini, ia panik dan seakan tak ada hari esok.

Awalnya Daniel tak sepanik ini, aku dan Daniel menjalani hari seperti biasaㅡdi bulan pertama aku tinggal bersamanya. Tetapi, ia kalap langsung menutup usahanya dan mengajakku bergegas pulang.

Saat aku bertanya apa alasan ia menghentikan penjualan hari ini, ia hanya menjawab akulah penyebabnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku.

Daniel yang sibuk merapikan barang-barang sembari menelepon, menghentikan kegiatannya lalu memandang ku.

"Dengar, kau sudah tak aman lagi disini, aku harus membawa mu ketempat yang lebih aman" aku terdiam.

"Kau paham apa maksud ku?"

"Tidak, kau tidak menjelaskan secara detailnya"

"Angga... Noval mencari mu! Dia membuat selembaran info orang hilang!" mataku terbuka lebar, aku sangat terkejut.

"Benarkah?"

Daniel menghela nafas, lalu menunjuk selembaran kertas yang ada di atas koper pakaian miliknya.

"Jika aku bohong, untuk apa aku panik sampai seperti ini"

Aku terdiam, memang benar ucapan Daniel. Daniel tak akan sepanik ini jika tak ada hal yang membuatnya gelisah.

Tapi, kenapa harus ia yang panik?

-***-

Aku duduk dekat jendela sembari memeluk tas ransel, sementara Daniel disamping ku sembari menelepon.

Daniel meminta bantuan kawannya untuk melanjutkan usaha kecilnya sampai Daniel benar-benar siap kembali ke ibukota. Aku hanya terdiam mendengarkan Daniel berbicara dalam cantonese.

Setelah selesai, tangannya mengusap lembut punggung tanganku.

"Dengarkan aku, disana kau akan bebas melakukan apapun" aku tersenyum memandangnya yang ikut tersenyum.

Pikiran ku melayang jauh. Masih menjadi sebuah pertanyaan bagiku, kenapa Daniel panik saat Noval mencari ku.

Lalu, darimana Daniel mengetahui jika Noval mencari ku? untuk apa ia membawa ku ke jawa barat? Dan kenapa harus malam hari?

"Beristirahatlah, aku akan membangunkan mu jika sudah sampai" lagi, ia tersenyum.

Pikirnya, ia akan membuatku tenang dengan senyumannya, tetapi hal itu yang membuatku semakin gelisah.

Ada apa dengan Daniel sehingga ia membawa ku pergi dari ibu kota.

Aku butuh jawaban.

Perjalanan akan memakan waktu yang lama. Daniel sibuk memainkan ponsel, sementara aku memandangi jalanan melalui jendela.

Aku menengok sesaat mendengar Daniel berbicara, aku menebak ia kembali menelepon kawannya. Karena cantonese yang kental terdengar dari ujung telepon.

Aku merasa lelah dan bosan, ku putuskan untuk membenarkan posisi duduk ku dan memejamkan mata.

-***-

"Ada apa?" tanyanya saat aku terbangun dari tidur, aku memandangnya yang kelelahan. Matanya sedikit memerah, air mukanya terlihat begitu letih.

Sesaat aku melihat keadaan di luar bus, langit masih gelap.

"Sebentar lagi kita sampai" aku memalingkan muka dan kembali memandang wajah Daniel.

"Kau tidak beristirahat?" ia menggeleng.

"Kenapa?" tanyaku, aku menyandarkan kepala di pundaknya.

Tangannya merangkul ku, lalu mengusap kepalaku lembut.

"Seperti janji ku, aku akan menjaga mu" jawabnya, ia mengecup kening dengan tangan yang terus mengusap kepalaku.

"Daniel..."

"Ya?"

"Boleh aku bertanya sesuatu?" ia hanya menggumam

"Kenapa kau panik? Lalu, kenapa harus kota kembang tujuan kita?" Daniel terkekeh.

"Disana ada ibu asuh ku, dan adik-adik ku"

"Lalu, apa yang ingin kau lakukan disana?"

"Berlibur, menjauhkan mu dari Noval..." aku terdiam.

Menjauhkan aku? Untuk apa?

"Angga... Ibu asuh ku ini ingin segera melihat mu, tadinya bukan hari ini aku ingin mengajak mu ke sana, namun, sangat kebetulan posisi mu sekarang menjadi target pencarian orang dan ku putuskan untuk membawa sekarang" aku masih diam.

Benarkah itu alasannya?

"Lagipula, aku yakin kau akan senang disana" Daniel tersenyum, ia menunjukan wajah bahagianya meski masih terlihat jelas wajah lelahnya.

"Semoga..." jawab ku perlahan.

"Kenapa? Sepertinya ada yang kau sembunyikan"

"Aku?"

"Ya, kau tidak senang?"

"Ah, tidak... Aku hanya, bingung" aku menarik nafas.

"Kau... Kenapa kau begitu panik saat Noval membuat selembaran itu, dan kenapa kau membawa ku pergi dari ibukota, seakan kau memaksa ku dan tak ingin kehilangan aku" lanjutku.

Daniel terdiam.

"Ku pikir, kau belum berubah namun ternyata kau berubah, kau menjadi pemaksa... Daniel yang ku kenal dulu menjadi bayangan Noval yang pemaksa dan perfeksionis"

Daniel melepas rangkulannya lalu mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya. Aku menjauhkan diri, menatap Daniel.

Ku lihat Daniel mengeluarkan lembaran kertas yang usang dan berlipat-lipat.

Daniel membaca isi kertas itu dengan nada yang begitu lembut hampir tak terdengar, sembari memandang ku. Wajahku memanas mendengar kalimat-kalimat Daniel.

Mataku berkaca-kaca memandangi Daniel.

Daniel membaca setiap kata penuh dengan penghayatan, seakan ada makna yang sangat berarti untuknya.

Daniel terdiam sesaat sembari menghela nafas, ia memandang wajahkuㅡyang aku yakin sudah memerah karena malu.

Raut wajahnya yang lelah terlihat begitu bersemangat membaca isi dari kertas itu, terkadang ia tersenyum dan terkekeh saat membacanya.

"Isi kertas ini yang membuat ku sadar... Isi kertas ini yang membuat ku berubah... Aku menyukai, menyayangi dan mencintai orang yang menulis di kertas ini" ucapnya setelah membaca isi kertas itu, aku terdiam.

Aku tak dapat menahan air mataku, pipiku kanan ku basah karena tetesan air mata yang mengalir.

"Aku... Tak ingin kehilangan orang yang menulis di kertas ini... Aku tak ingin kehilangan orang yang telah menulis kalimat penyemangat hidupku di kertas ini... Aku menyukai laki-laki yang kini setia menggunakan nama pemberianku..."

Walau aku tak tersedu, air mataku tetap mengalir deras.

"Dulu, aku bodoh dan aku mengakui jika aku malu harus menyatakan perasaan ku pada orang itu... Tapi, dari tulisannya aku mulai sadar, aku harus menjadi pemaksa agar orang itu tetap milik ku" aku mulai tersedu dan terisak.

"Aku menyukai Dimas Yogi Pratama..." aku menunduk, aku mengusap mataku perlahan.

"Aku menyesal pernah meninggalkan Dimas setelah lulus sekolah, dan aku menyesal tak pernah mengutarakan perasaan ku pada Dimas... Akan ku kenalkan Dimas pada keluarga ku" suaranya bergetar, seperti orang menangis sementara aku sudah terisak.

"Aku hanya ingin menepati janji pada diriku, dan aku harus sukses... Sukses mengejar Dimas dan menjadikan dia milik ku... Aku menyukainya... Aku menyukai Dimas yang setia menggunakan nama pemberian ku, aku menyukai mu... Angga"

-To Be Continue Soon-

Angga, is My Name (Ep. 7)

Daniel sama sekali belum berubah, ia masih tetap Daniel yang dulu ku kenal. Sikap dan sifatnya masih sama sebelum ia menghilang, akupun berharap perasaannya masih sama padaku.

Meski aku dan Daniel tak pernah ada ikatan hubungan, ia memperlakukanku layaknya seorang kekasihㅡwalau ia mengaku memperlakukan ku seperti adiknya sendiri.

Sejauh aku dekat dengannya selama ini, Daniel memang begitu baik. Bahkan lebih baik dari Noval.

Daniel memang orang yang sangat open minded dan mudah bergaul, ia berteman dengan siapa saja dari kaum manapun.

Daniel menerima semua orang yang dekat dengannya dan memaklumi mereka yang telah memilih jalannya masing-masing.

Aku teringat ketika ia mengajakku berkumpul bersama kawan-kawannya yang normal dan straight, bahkan aku mengetahui salah satu dari kawan-kawannya phobia dengan kaum menyimpang.

Tapi, Daniel memberikan pengertian pada kawan-kawannya walau diantara mereka masih tetap belum bisa menerima kehadiran kaum menyimpang.

Aku pula terkadang sakit hati dengannya yang suka berbicara asal. Ia pernah bersumpah jika ia tak akan menjadi homoseksual, dan jika ia menjadi salah satu dari kaum itu, Daniel akan mengejarku hingga aku menerimanya.

Sumpahannya memang sangat menjanjikan untukku yang terlahir sebagai kaum homo, tapi aku berharap ia tak menjadi salah satu dari kaumku dan tetap normal.

Pernah ia bertanya padaku kenapa aku menjadi seperti ini, aku menjawabnya dengan penjelasan yang mendetail.

Ia hanya mengangguk dan mengiyakan semua kalimat ku.

Namun aku tetap bangga padanya, Daniel kini sudah dapat berdiri di atas kakinya sendiri dengan penghasilan di atas pegawai negeri.

"Jangan melamun, kau harus membantu ku mengantar pesanan" aku terbangun dari lamunan ku ketika ia menepuk pundak ku.

"Apa yang kau bayangkan?" aku menggelengkan kepala.

Ku lihat ia mengambil posisi menyetir dan mulai menyalakan mesin mobil.

"Sekarang kita kemana?" tanyaku.

"Kita harus ke pusat kota, lalu kembali berjualan di monumen nasional" ujarnya tetap fokus menyetir.

"Kenapa?" lanjutnya.

"Tidak, hanya saja kau sukses sekarang" ia terkekeh.

"Kau memiliki usaha sendiri, kendaraan pribadi dan penghasilan yang melebihi dari cukup"

"Jangan memuji ku, aku belum sukses, aku masih menyewa rumah kecil di kota ini"

"Tapi, walau kau menyewa rumah, sebenarnya kau bisa membeli rumah dan kau dapat menempati rumah itu sendirian"

"Hentikan pujian mu, menurut ku aku masih belum sukses..." ucapnya, dan tetap fokus menyetir.

Kami berdua terdiam, hingga akhirnya sampai ke sebuah komplek perumahan untuk mengantarkan jajanan yang dipesan oleh pelanggan.

Setelah transaksi selesai, Daniel kembali menjalankan mobil ke tujuan selanjutnya. Monumen nasional.

Daniel berhenti di tepi jalan yang dekat pintu masuk monumen nasional, dan kembali membuka usahanya.

Usaha kecil yang sangat menguntungkan menurutku.

Daniel menjual jajanan dari berbagai negara yang dibuat secara mendadak, dan ia juga menjual beberapa fast food.

Tetapi peminat jajanan yang dijual Daniel begitu banyak, aku kebingungan saat melayani pembeli. Untungnya, Daniel berjualan menggunakan mobil yang sudah di modifikasi sedemikian rupa, agar memudahkan aku melayani pelanggan.

"Sayang!" aku menengok sesaat mendengar teriakan seseorang. Mataku terbelalak melihat seorang transgenderㅡlengkap dengan make up tebal dan pakaian modis untuk para remaja, berjalan mendekati Daniel yang kebetulan berada di luar mobil.

Aku hanya dapat menahan tawa, agar tak terlihat mengejeknya. Orang itu memiliki kepercayaan diri yang sangat dahsyat.

"Sayang, kamu kemarin ga jualan disini ya?" ujar orang itu manja.

"Ya, kebetulan ketemu cem-ceman waktu sekolah dulu" jawab Daniel santai.

"Mana? Cantik siapa? Aku atau dia"

Astaga, orang itu membuatku ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi, ku acungi jempol untuknya. Ia berani menunjukan ke-eksistensi-an dirinya di hadapan publik, sedangkan beberapa kawanku yang seperti dia memilih sembunyi dan menjauh dari keramaian.

-***-

Hari mulai gelap, dan angin malam berhembus kencang. Daniel memutuskan untuk menutup usahanya dan pulang.

Aku menurutinya, karena itu yang bisa ku lakukan.

Sesampainya di rumah, ia langsung bergegas mandi. Sedangkan aku menata kembali barang-barang yang berantakan di dalam mobil.

Aku keluar dari mobil setelah selesai membereskan kotoran dari dalam mobil.

Ku putuskan untuk beristirahat di teras rumah, menikmati semilir angin malam yang berhembus menerpa wajahku.

Sembari memandangi langit malam yang cerah dengan kerlipan bintang, aku terduduk mensilakan kaki sambil merokok.

Malam yang indah.

"Angga..."

Terdengar suara yang memanggil namaku, aku menoleh mencari sumber suara ke arah kanan dan kiri ku.

"Angga..."

Suara itu kembali terdengar, suara yang ku kenal dan aku yakin itu bukan suara Daniel.

Terlintas bayangan wajah Noval di langit malam ketika aku menengadahkan muka ke langit. Terlukis jelas wajah tampannya yang menangis mencariku.

Aku terdiam, aku sedikit menyesal dan kasihan padanya. Namun, keputusan ku sudah bulat dan aku tak ingin kembali lagi ke tempat ituㅡtempat tinggal Noval.

-To Be Continue Soon-

Senin, 14 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 6)

Aku menyandarkan punggung di dadanya, sedangkan ia merebahkan punggungnya di dinding beralaskan bantal, tangannya menyelip melalui celah lengan ku lalu memeluk tubuh sembari mengusap perutku.

Kepalanya bersandar di kepalaku sementara kepalaku menyandar di bahunya.

Kami berbincang-bincang dan membagi cerita setelah menyelesaikan makan malam.

Aku menceritakan semua tentangku pasca berpisah dengannya. Aku menceritakan apa pekerjaanku, dimana aku tinggal, dan menjawab semua pertanyaan yang ia ucapkan.

Daniel bercerita jika ia menghentikan kuliahnya dan kembali pulang ke ibukota, ia memutuskan untuk berkerja.

Aku kagum padanyaㅡdi usianya yang sama denganku ia mampu mendirikan usaha yang kini telah berkembang. Dan dimataku ia telah menjadi orang yang sukses.

"Jadi, sekarang apa yang ingin kau lakukan?" kami saling memandang.

"Entahlah, aku juga tak tahu dimana aku harus tinggal"

"Kenapa kau tak kembali ke tempat Noval" aku menggelengkan kepala.

"Aku tak ingin"

"Kenapa?"

"Aku membenci Noval"

"Hanya karena ia berubah?" aku menarik nafas, aku mengalihkan pandanganku lalu memainkan jari jemari Daniel yang menumpu diatas perutku.

"Aku hanya sakit hati padanya... Ia selalu menyalahi ku, memarahi ku bahkan mengekang ku, ia juga memanggil nama asli ku..."

Daniel terkekeh.

"Kenapa kau tertawa?"

"Kau lucu, hanya menyebutkan nama asli kau menamparnya"

"Dengar, namaku Angga, bukan nama yang Noval sebutkan, lagipula aku membenci nama asliku!" aku mengerutkan bibir dan menggembungkan pipi.

"Konyol sekali kau ini, seberharga itu kah nama pemberian ku?" aku mengangguk.

"Benarkah?"

"Ya, karena nama pemberian mu membuat ku seakan terlahir kembali..."

Ia terdiam, begitupun aku.

-***-

Waktu sudah menunjukan tengah malam. Namun aku masih berbincang-bincang dengannya.

Aku masih ingin melepas kerinduan ku padanya. Beberapa tahun ini aku tak pernah melihatnya, dan ini kesempatan ku untuk melepas rinduku padanya.

Kami memutuskan merebahkan diri di atas kasur, dengan posisi aku membelakangi Daniel.

Sebenarnya banyak pertanyaan yang melintas di kepalaku untuknya, namun aku belum berani bertanya.

Lagipula, aku masih memikirkan bagaimana hidupku esok dan lusa.

"Daniel..." panggilku lembut.

"Ya?"

"Aku bingung"

"Kenapa?"

"Banyak yang aku pikirkan... " ku dengar ia menahan tawa.

"Maaf jika terdengar konyol, tapi bolehkah aku tinggal di sini?" ia terdiam.

Aku menghela nafas, lalu membuangnya perlahan.

"Sudahlah, pejamkan matamu lalu tidur" ujarnya menjawab pertanyaan ku.

"Aku tak bisa..." kami berdua terdiam.

"Lalu apa yang kau ingin lakukan?"

"Entahlah, aku hanya masih berpikir bagaimana aku hidup besok"

"Bukankah kau masih bekerja?" aku menggelengkan kepala.

"Ah ya, aku lupa, Noval menyogok atasanmu agar kau berhenti dari pekerjaanmu" aku mengangguk.

"Aku bingung... Rasanya aku ingin mati saja, daripada seperti ini..."

"Hey... Jangan putus asa..." ku rasakan tangannya memeluk tubuhku.

Aku menumpu tangan ku, di atas tangannya yang memeluk ku.

"Aku lelah... Lagipula jika aku mati... Tak akan ada yang mencari ku"

"Apa maksudmu? Kau lupa jika kau mati, artinya kau meninggalkan aku?" aku menoleh. Ku lihat wajahnya yang tersenyum, lesung pipit dan matanya yang membentuk lengkungan membuat ia semakin menarik.

"Kau pikir, dulu kau tak meninggalkan aku?" tanyaku dengan nada yang sedikit ku naikkan.

Aku membalikan tubuh ku berhadapan dengannya, dengan tangan Daniel yang masih memeluk pinggang ku.

Daniel tersenyum manis, menyembunyikan wajah bersalahnya.

"Jangan menyembunyikan rasa bersalah mu, jawab aku, kau pikir dulu kau tak meninggalkan aku?" Daniel tetap dia sambil tersenyum.

"Menyebalkan, aku membencimu jika seperti ini"

"Sudahlah, ayo tidur" tangan Daniel mengusap punggungku sembari tetap tersenyum memandangku.

Aku menatapnya, lalu tersenyum dan memejamkan mata. Aku mendekatkan diri dan menyembunyikan wajahku di dadanya, dengan tangan ku memeluk tubhnya erat.

Ia memelukku semakin erat, dan usapan tangannya turun ke kedua belah pantatku. Lalu dengan sengaja tangannya menyelip ke dalam celana ku dan mengerjai belah pantat ku.

"Lakukan itu dengan kekasih mu" ujarku tanpa bergerak, dan dengan nada ketus.

Ia tertawa pelan.

"Sudah, tidurlah" Daniel mengeluarkan tangannya, lalu mendekapku semakin erat sebelum ia mengecup keningku.

-To Be Continue Soon-

Angga, is My Name (Ep. 5)

"Aku tak menyangka akan bertemu dengan mu disini" ucapnya dengan mata yang terbuka lebar. Aku hanya tersenyum.

"Sedang apa kau tadi di warung kopi?"

"Aku? Hanya membeli rokok dan meminta air hangat" jawabku.

"Kau masih merokok?" aku mengangguk.

"Cih, dasar kau" ia tersenyum lalu mengusap rambutku.

Ia berdiri, lalu merapihkan pakaiannya dan memandang ku.

"Dengar, ada orang yang harus ku temui, istirahatkan tubuh mu, kau begitu pucat"

"Baiklah..."

"Kalau kau lapar, kau boleh menelepon ku, nomor telepon mu masih yang dulu bukan?" aku menggeleng.

"Aku tak memiliki ponsel" ia terdiam.

"Baiklah, cukup tunggu aku, akan ku bawakan makanan untukmu" ia tersenyum lalu bergegas pergi meninggalkan aku.

-***-

Aku tak menduga, aku dapat bertemu dengan Daniel. Orang yang ku rindukan kini telah ku temui.

Bahkan, sekarang aku sedang terduduk di dalam kamarnya.

Muncul niat iseng ku untuk menggeledah semua barang milik Daniel.

Aku berdiri lalu memulainya dari kamar mandi.

Tak ada yang aneh disini, hanya peralatan mandi dan bungkusan kondom yang sudah kosong.

Aku keluar dari kamar mandi, lalu menggeledah lemari pakaiannya. Rak pakaian teratas diisi baju santainya, rak dibawahnya berisi pakaian kerja dan pakaian dalam, dan aku hanya menemukan kunci kecil.

Aku sedikit kesusahan membuka rak yang paling bawah, tetapi aku berhasil membukanya dengan kunci kecil yang ku temukan.

Mataku berkilau menemukan barang-barang berharga milik Daniel.

Aku mengeluarkan rak itu lalu mengambil satu-persatu barang yang ada di dalamnya.

Aku menemukan fotonya saat ia masih sekolah, lalu ku temukan buku kenangan sekolah yang menampilkan fotonya yang hitam putih.

Aku menahan tawa ku melihat wajah Daniel yang masih sangat polos dengan rambut ikal yang sangat pendek.

Aku tertarik mengambil satu kotak kaleng cookies bekas yang tersimpan rapi dibawah tumpukan foto dan dokumen pribadi miliknya. Saat aku membuka kaleng itu, aku sedikit terkejut karena menemukan uang tunai yang masih baru lengkap dengan segel bank Indonesia.

Masih dengan rasa penasaran, tanganku kembali mengacak-acak isi kaleng itu. Ku temukan foto ku bersamanya.

Aku mengembangkan senyum. Ia masih menyimpan kenangan bersama ku.

Aku memandangi foto ketika aku dan Daniel menghabiskan malam tahun baru di kota lain, lalu ada foto yang pipiku diciumnya.

Aku terkekeh mengingat masa-masa saat pertama kali mengenalnya.

Puas memandangi foto-foto yang ku temukan, aku mengambil selembar kertas yang sedikit usang dari dalam kaleng.

Mataku terbuka lebar ketika melihat isi di lembaran kertas itu.

Sebuah surat kecil tulisan tangan ku yang berpesan padanya agar tidak berubah ketika aku bertemu dengannya lagi.

Mataku masih belum dapat menutup saat membalik lembaran kertas yang aku pegang. Di balik kertas itu, tertempel foto ku yang terlelap dengan wajah yang dicoret dengan tinta hitam.

Aku tertawa terbahak-bahak. Konyol.
Darimana ia dapat ide seperti itu hingga aku tertawa seperti ini.

Benar dugaan ku, ia tak berubah bahkan ia menyimpan semua kenanganku dengannya.

-***-

Aku membuka mataku perlahan ketika telinga ku mendengar suara dari kamar mandi.

Daniel sudah pulang.

Aku mengedarkan pandanganku, mencari jam dinding. Nyawa ku langsung terkumpul saat menatap jarum jam.

Hari sudah malam, dan tandanya aku terlelap selama 12 jam lebih.

Astaga.

"Kau sudah bangun rupanya" aku menoleh ke arah kamar mandi, dan melihat Daniel hanya mengenakan celana dalam.

Aku langsung memalingkan muka dan melihat ke arah lain.

"Kenapa kau?"

"Tidak, segera pakai baju aku risih melihat mu bertelanjang" ku dengar Daniel tertawa.

"Konyol, tumben kau berkata seperti itu, biasanya kau langsung mendekati ku dan memeluk jika aku selesai mandi"

"Jangan mengejek ku, cepat pakai baju mu"

Ku rasakan wajahku memanas. Aku malu melihatnya bertelanjang. Walau aku sudah mengetahui tubuhnya yang terbentuk rapi, tetap saja aku malu.

-***-

"Kau baru pulang atau memang sudah pulang dari tadi?" tanyaku setelah selesai membilas diri dan memakai pakaian ku.

Ku pandangi Daniel yang duduk mensilakan kaki. Daniel terlihat lebih tampan jika selesai mandi.

Kini ia hanya mengenakan kaus dalam dan celana kolor sepaha favoritnya.

"Rahasia" jawabnya singkat.

"Cih, kebiasaan" ia tertawa, lalu ia mengajakku duduk untuk makan.

"Kenapa memang? Kau mencari ku?" aku mengangguk.

"Ah ya, apa yang kau belikan untukku? Lalu apa yang kau lakukan tadi?" Daniel memandang ku, lalu ia tertawa.

"Hey, hey, kau bersemangat sekali menginterogasi ku" mata kecilnya menjadi segaris dan membentuk setengah lingkaran, matanya ikut tersenyum jika ia tersenyum atau tertawa.

"Aku pulang ketika kau benar-benar sudah terlelap, bahkan kau tak sadar-sadar setelah aku panggil berulang kali, jadi ku putuskan untuk tidur disampingmu"

"Benarkah?" aku memandangnya sembari membuka bungkusan nasi yang dibelikan olehnya.

"Woah!" aku bersorak saat bungkusan nasi untukku terbuka, aku tersenyum dan kembali memandang wajah Daniel yang masih tersenyum.

"Beli dimana? Jangan bilang kau pergi ke area dekat sekolahku dan kau sengaja membelikannya untukku"

"Jika tebakan mu benar, bagaimana?" mataku terbuka lebar, aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaanku. Aku tersenyum dan tertawa kecil.

Daniel benar-benar belum berubah, ia mampu membuat senyumanku tak pernah hilang dari wajahku.

Aku bersyukur dapat bertemu dengannya.

-To Be Continue Soon-

Jumat, 11 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 4)

Terdengar suara adzan subuh berkumandang, sementara aku tetap melangkah tanpa mengetahui kemana arah tujuan ku.

Aku terus melangkah sembari merokok dan merenungkan apa yang telah ku lakukan tadi.

Aku puas, sangat puas. Aku dapat melampiaskan amarah ku pada Noval. Meski, terselip rasa menyesal di dalam hatiku.

Aku masih tak menduga jika ia menjadi seperti ini. Noval yang ku kenal, menjadi orang lain.

"Pulanglah" terdengar nada yang sangat lembut dari belakang ku.

Aku menghentikan langkah dan membalikan tubuh. Mataku terbelalak melihat seseorang yang berdiri dan terengah-engah di hadapan ku. Melalui cahaya temaram lampu penerangan jalan, dapat kulihat wajah Noval.

Aku membuang batangan rokok ku, lalu memandangnya.

Sepertinya Noval berlari mengejar ku, terlihat pada kausnya yang basah akan keringat.

Noval membalas pandanganku dengan tatapan sendu.

"Ku mohon, pulanglah" tangan Noval mengangkat lalu meraih telapak tangan ku dan menggenggamnya erat.

Ku lihat wajahnya yang basah karena aliran keringat, terlihat jelas pula bekas merah tamparan tanganku pada wajahnya.

"Maaf..." ujarnya pelan nan lembut.

"Untuk apa?"

"Untuk semua yang ku lakukan padamu"

Aku tersenyum kecil.

"Dengar, kak... Kau lebih dewasa dariku... Seharusnya kau tak perlu mengejar ku hanya untuk meminta maaf"

"Angga..."

"Dengarkan aku, akulah yang seharusnya meminta maaf padamu karena menampar pipi mu... Dan berhenti mengejar ku, kak" aku melepas genggaman tangannya, dan kembali berjalan.

Aku tak menghiraukan Noval yang terus-menerus memanggil namaku dan mengejar ku.

Noval berlari lalu menghalang jalan ku.

"Kak, apa yang kau inginkan dariku?"

Ia terdiam.

"Kurang puaskah kau memarahi ku? Atau masih ada sifat kekanak-kanakan ku yang masih kau pendam?"

Noval menggelengkan kepala, lalu mendekati ku.

"Maaf... Maaf..."

"Kak, sebanyak apapun kau meminta maaf, sesering apapun kau mengucapkan kata maaf, aku tak akan kembali ke tempat mu..."

"Angga, maafkan aku... Maafkan aku yang berubah"

"Ah, kau sadar kau berubah?" lagi, ia terdiam.

"Kau benar-benar sudah sadar? Atau kau masih ingin memaki dan mencaci ku?"

Noval menarik nafas, lalu perlahan mendekati aku.

Aku menatap matanya yang memerah. Ia berkaca-kaca.

"Angga, ku mohon maafkan aku..." ucapnya, lalu ia memeluk tubuh ku erat. Sangat erat.

Aku dapat mencium aroma keringatnya, wajahku menempel pada kausnya yang basah. Noval benar-benar berlari mengejar ku.

"Aku hanya... Aku hanya menyayangi mu... Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu" ujarnya, pelukannya semakin erat membuatku sedikit sulit bernafas.

"Maafkan aku yang berlebihan padamu... Hanya saja... Hanya saja aku telah berjanji pada ibu untuk menjaga mu..."

Apa?

Aku melepas pelukannya, lalu memandang tajam wajahnya.

"Ibu? Ibu siapa?" ia terdiam.

"Jawab aku, ibu siapa?" ia masih terdiam, ia menghapus air matanya lalu memandang ku dengan mata yang sembap.

"Sudahlah kak, berhenti mengarang cerita... Yang jelas aku tak akan pulang ke tempat mu... Selamat tinggal..."

Aku melangkahkan kaki, pergi meninggalkan laki-laki bertubuh tinggi itu yang menangis.

"Jangan cari aku..." ujarku sebelum benar-benar menghilang darinya.

Ku biarkan laki-laki tampan itu berdiri, menangisi aku.

-***-

Pagi ini tak seperti pagi biasanya, Matahari kurang bersemangat menyinari bumi, akan tetapi jalan raya tetap bising dengan suara klakson dan teriakan kernet angkutan umum.

Aku masih melangkah, walau sebenarnya aku sudah merasa lelah. Aku tak sanggup lagi berjalan.

Pikiran ku melayang jauh. Aku membayangkan jika aku terpaksa pulang ke kampung halaman dengan sisa tabungan yang ku punya, tetapi apa yang akan ku lakukan disana.

Aku tak memiliki keahlian. Aku hanya dapat menari, hanya itu. Sedangkan di kampung halaman ku, tak akan mungkin ada bar malam yang menyajikan tarian striptease khusus para laki-laki menyimpang.

Lagipula, jikapun ya aku pulang, aku tak memiliki tempat tinggal. Aku tak punya siapa-siapa, dan apa-apa.

Aku menghentikan langkah, ku putuskan untuk beristirahat di sebuah warung rokok tepi jalan. Aku membeli sebungkus rokok dan meminta air putih hangat.

Aku begitu kelelahan. Ingin rasanya aku merebahkan diri meluruskan laki di atas kasus yang empuk dan nyaman.

Terlintas sejenak kalimat Noval yang menjadi pertanyaan besar untukku.

Siapa 'ibu' yang Noval maksud? Ibuku? Atau ibunya?

Selama ini aku tak pernah dikenalkan Noval pada keluarganya, dirumahnya pun tak ada foto keluarga Noval.

Siapa yang dia maksud? Kenapa ia harus berjanji pada 'ibu' itu? Apa yang Noval dapatkan setelah berjanji pada orang itu?

Astaga, aku pusing.

"Akhirnya!" aku menoleh sesaat mendengar seseorang berbicara disamping ku.

Terlihat seseorang yang seumuran denganku, tersenyum dan tertawa berbincang di telepon.

Aku mengamati orang itu, aku merasa kenal dengan orang yang berdiri di sampingku.

Rambut ikal orang itu mengingatkan ku pada seseorang. Gaya bicara dan gesture orang itu sama seperti orang yang dulu pernah menemani hidupku.

Mataku tak berkedip mengamati orang yang berdiri di samping ku.

Ketika ia menyudahi panggilan, orang itu menengok ke arah ku.

Mataku hampir lepas saat melihat orang yang tadi ikut membelalakan matanya memandang ku.

"Angga!"

-To Be Continue Soon-

Kamis, 27 Maret 2014

Angga, is My Name (Ep. 3)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.

Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author

Angga, is My Name (Ep. 3)
-***-

Aku terdiam sembari menyulut sebatang rokok, sedangkan Noval memandangiku geram.

"Sekarang kamu tahu apa sebabnya aku membenci tempat ini" bentaknya.

"Kekhawatiranku benar-benar terjadi malam ini! Ini sebabnya aku menyogokmu pemilik bar dengan barang kesayanganku" lanjutnya.

Aku mendengar ocehannya sembari fokus merokok.

"Dan kau... Semoga kau cepat mati karena rokokmu!" aku menghela nafas, aku mematikan rokokku dan membuangnya jauh dari tempatku duduk.

"Aku paham, semua itu hakmu! Kamu boleh kerja seperti ini, tapi bukan artinya kamu menggoda orang lain seenaknya!"

"Aku..."

"Jangan mengelak! Kalau bukan gara-gara kamu, siapa lagi! Orang tak akan mungkin menjadi liar kalau kamu ga mulai liar ke dia!"

Ku tundukan wajahku, sia-sia jika aku terus membela diri.

"Maaf..."

"Beresin perlengkapan kamu, kita pulang!"

-***-

Aku menarik nafas panjang. Untuk sekarang Noval terdiam, dan fokus menyetir.

Aku ikut terdiam, pikiranku melayang jauh membayangi wajah Daniel.

Daniel, aku merindukannya.

Daniel tak akan membentakku meski aku melakukan kesalahan besar, Daniel berbeda dengan Noval.

Daniel penuh dengan sikap kebapakan, Daniel benar-benar melindungiku.

"Dasar, trouble maker"

Aku terbangun dari lamunanku, dan menoleh pada wajah Noval.

"Aku?"

"Ya! Kau pembuat masalah, jika bukan aku yang mengawasi mungkin kau sudah menjadi buronan karena masalah yang kau buat!"

Aku terdiam. Aku menarik nafas, ku biarkan Noval mengoceh sesukanyaㅡseperti biasa.

"Entah apa jadinya, jika kau hidup tanpaku! Kau mungkin sudah tak hidup sekarang"

Telingaku panas mendengarkan ocehan Noval, ingin rasanya aku membela diri.

"Kau benar-benar seperti keledai! Bodohnya minta ampun!"

"Ya aku memang keledai, aku memang pembuat masalah, dan jikapun aku mati, seharusnya kakak bersyukur tidak direpoti olehku" ucapku pelan.

Noval mengerem secara mendadak. Aku memandanginya yang menatap tajam wajahku.

"Apa maksudnya?"

"Kau lima tahun lebih tua dariku, pahamilah kalimatku"

"Shit!" Noval kembali menjalankan mobil namun kali ini ia menyetir dengan kecepatan penuh.

-***-

Sesampainya dirumah aku bergegas melangkah masuk ke dalam kamar, aku merapihkan dan memasukan barang-barangkuㅡhanya milikku ke dalam tas ransel.

Selama bertahun-tahun aku tinggal bersama Noval, baru kali ini aku merasakan sakit hati yang begitu perih.

Ternyata Noval memendam semua kesalahanku dan tadi ia membeberkan semua yang telah kulakukan.

Konyol. Sangat konyol.

Noval memang orang yang sangat baik, ia mengizinkanku tinggal bersama, ia selalu memberi solusi untukku. Tapi, aku tak pernah menyangka jika Novalpun memiliki sikap kekanakan seperti ini.

Noval mengetahui semua tentangku, mengetahui aku yang memiliki kelainan orientasi seksual, memiliki sikap feminim yang lebih banyak dari laki-laki biasanya, mengetahui aku yang tidak memiliki keluarga dan mengetahui identitas asliku.

Aku percaya padanya, tapi aku tak pernah menyangka jika ia akan menjadi seperti ini.

Aku yang terlalu kekanak-kanakan atau aku yang terlalu perfeksionis.

Aku siap meninggalkan rumah Noval dan kembali hidup sendiri. Aku ingin hidupku tanpa adanya ocehan-ocehan Noval.

Aku harus meninggalkan tempat ini, secepatnya.

Aku keluar kamar setelah barang-barangku berada dalam tas ransel. Mengendap-endap hingga pintu.

Aku mengedarkan pandanganku, memastikan diri jika memang Noval sudah tertidur.

Aku membuka pintu, dan keluar rumah lalu menutup pintu perlahan.

"Mau kemana kamu pagi-pagi buta begini?" jantungku hampir lepas mendengar seseorang menegurku. Saat aku menoleh kebelakangku, kulihat Noval duduk diteras sembari menikmati secangkir kopi.

Aku terdiam. Segera aku melangkah pergi meninggalkan Noval.

"Mau kemana kamu?" tanganku ditariknya lalu digenggamnya erat. Aku membalikan tubuh.

"Lepas"

"Jawab, mau kemana kamu?"

"Bukan urusan kakak" jawabku, ku tatap matanya. Aku masih kesal padanya.

"Lepasin tangan aku" lanjutku sembari berusaha melepaskan genggaman tangannya.

"Masuk"

"Engga"

"Masuk!" nadanya naik, genggamannya ditanganku mengencang.

"Ga! Aku mau pergi dari sini!" aku terus meronta dan berusaha melepaskan tanganku.

Aku berhasil melepas genggamanya dan langsung berlari menjauh dari Noval.

Ranselku ditarik Noval hingga aku terjatuh. Ku lihat wajahnya, Noval begitu marah.

"Masuk!" bentaknya.

Aku terdiam, aku bangkit lalu berusaha berlari. Tapi, tanganku ditariknya lagi.

Tubuhku dihempaskannya ke sofa, ketika Noval berhasil menarikku masuk ke dalam rumah.

"Kamu mau kemana? Jangan bikin aku marah lagi sama kamu"

"Seharusnya kakak jangan tahan aku, biar kakak ga emosi terus"

"Maksud kamu?"

"Aku mau pergi dari sini" aku berdiri lalu melangkah keluar pintu.

"Sampai kamu berani keluar pintu, jangan salahin aku kalau kamu nanti kenapa-kenapa" ujar Noval.

Aku berhenti tepat didepan pintu.

"Aku sudah dewasa, tak perlu pengawasan mu lagi, disamping itu... Aku tak tega melihatmu terus-terusan emosi padaku, barangkali kau mati muda karena ku" ku buka pintu lalu melangkah keluar.

"Dimas Yogi Pratama! Ku hitung sampai tiga, kembali kesini!" aku terdiam.

Aku menghela nafas, lalu kembali melangkah dan berdiri dihadapannya.

Ku pandangi wajahnya.

"Kau panggil aku, siapa?" Noval diam.

Aku mengangkat tanganku dan menampar pipinya.

Ya, aku menampar Novalㅡorang yang kuanggap sebagai kakak.

"Catat dalam otak mu, namaku Angga, hanya Angga" Noval memegangi pipinya.

"Jangan pernah sebut nama itu..." tangan Noval terangkat, namun aku genggam dan remas pergelangan tangannya.

"Aku, Angga, dan kini aku tak takut dengan gertakanmu..."

Noval membisu.

"Catat dalam otak mu, tentang namaku dan jangan pernah mencariku, karena aku yakin, kau tak benar-benar paham mengapa aku seperti ini padamu"

Aku membalikan tubuhku.

"Selamat tinggal"

-To Be Continue-