Minggu, 27 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 15)

Daniel bodoh! Kenapa harus beralasan sakit dan membiarkan aku berbelanja dengan Noval?

Apa yang direncanakannya? Hingga akhirnya aku dan Noval harus berbelanja.

Bodoh! Daniel bodoh! Aku sangat kesal!

"Sudah siap?" Noval bertanya padaku yang menggerutu karena kesal.

Aku terpaksa duduk di jok motor yang dipinjamkan pada Noval.

"Ya, cepatlah, aku tak betah berlama-lama di pasar nanti" jawabku ketus.

"Pegangan padaku" ujar Noval.

"Dengarkan aku, jangan menganggap motor ini seperti milik mu! Ingat! Jangan, menganggap motor ini seperti milik mu" aku meninggikan nada bicara.

"Kenapa?" Noval mulai menyalakan mesin motor.

"Karena biasanya...Ak!" aku memeluk perut Noval erat saat ia mengambil kecepatan tinggi sebelum aku menyelesaikan kalimat ku.

"Noval! Bodoh!" teriak ku.

Aku berteriak sepanjang jalan dan mengeratkan pelukan, Sementara Noval asik bermain dengan kecepatan motor, menyalip kesana-kemari seakan jalan raya milik sendiri.

Baru sampai tempat parkir pasar aku berhenti berteriak. Aku memukul pundak Noval berulang-ulang dan semakin keras.

"Bodoh! Aku hampir mati! Bodoh! Bodoh!" keluh ku sembari turun dari motor.

"Lebih baik kau tabrak aku daripada kau harus membonceng ku dengan kecepatan tinggi!" ucapku sembari meninggalkan Noval.

Ku dengar Noval tertawa puas, aku hanya menggerutu hingga masuk ke dalam pasar.

Noval berjalan disamping ku dan menggandeng tangan ku, lalu digenggamnya erat. Ia menuntun ku menjauhi tanah yang basah dan menjaga ku agar tidak bersenggolan dengan orang lain.

Terkadang Noval merangkul ku, dan tidak membiarkan aku berbelanja sendirian.

Ada sedikit rasa risih, namun ada sedikit rasa terlindungi saat seperti ini.

Noval melindungi ku, benar-benar menjaga ku.

"Noval, sepertinya ingin hujan... Lebih baik kita pulang" ajak ku.

"Barang belanja sudah lengkap?"

"Belum, tinggal beberapa sayuran dan bumbu dapur"

"Cari lagi ya, baru kita pulang" aku mengangguk.

Aku dan Noval berputar mengelilingi pasar, mencari bumbu dapur dan sayuran yang belum aku dapat.

Angin berhembus kencang, menyebarkan bau basah. Aku sangat yakin, sebentar lagi hujan akan turun.

Aku cemas. Aku tak ingin tubuhku basah karena hujan.

Aku berusaha merayu Noval agar segera pulang. Namun, Noval tetap memaksa ku untuk mencari bahan masakan yang kurang.

Suara petir terdengar dimana-mana, kilauan cahaya kilat pula terlihat di depan mataku. Aku terdiam.

Aku menarik baju Noval dan membujuk Noval untuk menyudahi belanja, aku takut.

"Ku mohon, aku ingin pulang..." ujarku lemas.

Noval menatap wajahku.

"Sebentar lagi ya, lagipula masih pagi, jikalau hujan pun, tak akan mungkin sampai siang"

"Lalu, kau akan mengajakku berteduh hingga siang nanti?" Noval diam.

"Aku pulang sendiri!" tangan ku ditarik Noval.

"Baiklah kita pulang" Noval menatap ku dalam-dalam. Aku membalas tatapan Noval sendu.

Lagi, aku melihat kilauan cahaya kilat. Aku memejamkan mata, dan menutup kedua telingaku. Aku yakin hujan akan turun deras.

Dugaan ku benar, terdengar suara petir yang menggelegar sebelum hujan turun.

"Ku mohon, aku ingin pulang" ucap ku lemas.

Angin dingin menusuk tulang, rintik hujan membasahi tubuhku. Lagi, suara petir terdengar kencang.

Aku berteriak.

"Tenang... Hey tenang, ada kakak disini" bisiknya lembut sembari memelukku erat.

Dibawah guyuran hujan, Noval memeluk tubuhku yang basah.

"Kak, ku mohon... Pulang..." aku memandang wajah Noval, aku menangis.

Jari Noval mengusap aliran air mataku, lalu memeluk ku lagi.

"Ya, kita pulang... Tenang, ada kakak disini... Jangan takut, kakakmu ada disini"

Hujan turun semakin deras. Aku memeluk Noval. Menyembunyikan wajahku di dadanya.

Kak, aku ingin pulang.

-***-

Aku dibangunkan Daniel saat menjelang malam. Tubuhku lemas, aku sulit membangunkan diri.

Daniel membantu ku, lalu meminta maaf padaku.

"Aku kesal padamu..." ujarku lesu.

"Maaf..." Daniel memeluk ku.

"Lepas, aku ingin beristirahat"

"Makan dulu, aku membuatkan bubur untukmu" bisiknya. Daniel belum melepaskan pelukannya.

"Ya, aku makan dulu baru beristirahat"

"Jangan istirahat dulu, kita belum bermesraan beberapa hari ini"

"Mesum!" aku mendorong tubuh Daniel hingga pelukannya terlepas.

"Bisa-bisanya kau memikirkan hal mesum disaat aku seperti ini, lama-lama ku potong adik kecil kebanggan mu, bodoh" bentak ku dengan suara parau.

Daniel terkekeh.

Aku terdiam.

"Daniel..." aku memandangi Daniel yang sibuk menyiapkan bubur untuk ku.

"Ya?" Daniel menatap ku. Mata kecilnya menusuk hatiku. Seakan menelanjangi ku.

"Kau benar-benar menyukai ku?" Daniel tersenyum. Mata kecilnya ikut tersenyumㅡmembentuk setengah lingkaran seperti film animasi.

"Sudahlah, jangan pertanyakan hal itu, lebih baik kau makan dahulu" jawabnya.

Aku menolak suapan Daniel untuk pertama kalinya.

"Kenapa? Tenang saja, aku tidak meracunimu..."

"Aku tidak ingin makan sebelum kau menjawab" Daniel kembali tersenyum.

"Jika ku jawab, apa kau akan meninggalkan ku?" aku terdiam.

Apa maksudnya?

"Dengar, aku yakin kau begitu kehilangan ku saat aku pergi dari mu... Sekarang, jika aku menyukai mu dan benar-benar menyayangi mu, aku takut sakit hati... Seperti mu... Aku belum sukses mendapatkan hati mu... Maksud ku hatimu yang seutuhnya..." aku diam.

"Aku takut kau akan membalas ku, saat aku sudah menyatakan perasaan ku dan kau akan meninggalkan ku... Hanya itu..." aku tetap diam.

"Sudahlah, ayo makan" Daniel tersenyum.

Aku membuka mulut dan menerima suapan Daniel.

Daniel, hanya itu yang kau takutkan?

Apa pantas ku sebut kau kekasih ku?

-To Be Continue-

Angga, is My Name (Ep. 14)

"Apa yang kau lakukan semalam?" Noval menegur ku yang terduduk di kusen jendela kamar.

Aku terdiam, melanjutkan kebiasaan ku yang belum ingin ku hilangkanㅡmerokok.

"Aku yakin, adik Daniel akan puas memerankan peran yang ada di dalam naskah drama itu" lanjut Noval.

Noval mendekati ku, lalu memandang ku. Aku menatap wajah Noval sesaat dan melanjutkan menghisap rokok.

"Suruh siapa kau masuk? Daniel mengijinkan mu masuk ke dalam kamarnya?" tanyaku ketus.

"Tidak, tapi ibu mengijinkan ku"

Aku menoleh, ku lihat Noval tersenyum.

Agak sedikit lega melihat Noval dapat kembali tersenyum. Jambang, kumis dan janggut yang pernah menumbuh sudah hilang.

Noval kembali menjadi Noval yang tampan, dengan senyum yang menawan.

"Dengar, aku sudah sadar kenapa kau menampar ku saat itu, aku paham semua itu maka dari itu aku memaksa mu pulang" jelas Noval.

Aku mendengarkan Noval tanpa memandang wajahnya.

"Saat itu, aku hanya emosi dan khawatir kau terluka karena pria yang ingin memperkosa mu... Jadi, aku memaki mu"

"Ya, makian yang berasal dari semua kesalahan yang kau pendam"

Noval terdiam.

"Aku menyesal sungguh, sungguh menyesal, jadi ku mohon, berhenti membenci ku"

"Tidak, maaf... Aku belum bisa untuk tidak membenci mu... Selama ini, kau menyimpan semua kesalahan ku dan disaat aku membutuhkan nasihat seperti yang kau dulu beri, kau memilih memaki ku dan menyebut nama asli ku"

"Dimas..."

"Berhenti memanggil nama Dimas, nama ku Angga, bukan Dimas!" Noval membisu saat aku meninggikan nada bicara ku.

"Bahkan di kartu tanda penduduk milik ku, tertulis Angga, bukan Dimas..." Noval masih terdiam.

"Kau mengetahui apa sebabnya aku membenci nama itu, kenapa kau tetap memanggil ku dengan nama itu!" aku membuang batangan rokok, dan turun dari jendela.

"Sampai kapanpun aku akan membenci mu, hingga akhirnya kau benar-benar sadar apa yang telah kau perbuat sampai aku membenci mu  seperti ini" ucapku, aku berlalu keluar dari kamar tanpa memperdulikan Noval yang mematung.

Aku mengusap mataku perlahan setelah duduk dilantai teras rumah. Aku tak sanggup menahan air mataku.

Ingin aku memaafkan Noval, namun aku masih membencinya.

Semakin ia berusaha meminta maaf, semakin besar rasa benci ku padanya. Walau sejujurnya, aku ingin memeluknya dan berterima kasih padanya.

Tanpa bisikan Noval tadi malam, mungkin hingga sekarang aku tak akan menyelesaikan drama untuk Ressa.

-***-

Aku terpingkal di lantai teras rumah melihat Johan yang sedang bermain dengan Daniel di halaman. Daniel seperti anak-anak jika sudah bersama Johan, mereka tertawa, saling mengerjai, saling meledek dan aku senang melihat mereka.

Walau sebenarnya aku iri pada Johan. Johan memiliki keluarga, dia pula memiliki kakak yang penyayang, dan dia memiliki kualitas waktu yang sangat berharga dengan keluarganya.

Berbeda dengan ku.

Aku hidup sendiri, tanpa keluarga. Aku tak pernah memiliki kualitas waktu yang sama seperti Johan.

Meskipun aku mengetahui jika aku masih memiliki keluarga, tapi aku menganggap kalau aku hanya hidup sendiri. Aku tak ingin menggantungkan hidup ku pada satu kelompok yang orang lain sebut keluarga.

Aku sadar aku egois, tetapi keegoisan ku karena satu hal yang membuat ku benci akan diriku sendiri.

Aku benci akan diriku yang sebenarnya.

"Hey" aku terbangun dari lamunan ku, dan menggoyangkan sedikit tubuhku ketika kurasakan telapak tangan menggelitik pinggang ku.

Aku menengok ke samping ku, ku lihat Noval menahan tawanya saat aku sedikit menjauh.

"Jangan sentuh aku" ancam ku.

Aku kembali fokus memandang Daniel dan Johan, sebelum tangan Noval kembali menggelitiki ku.

Aku menahan tawa, dan berusaha untuk tidak meladeni Noval.

Kelitikan tangan Noval semakin kencang dan keras, aku tak mampu lagi menahan tawaku. Aku terbahak-bahak ketika Noval menggelitiki aku dengan jahil.

Aku berusaha membalas namun aku tak kuasa dan hanya dapat tertawa keras.

"Hentikan! Kakak curang!" ujarku di tengah tawa.

Noval terdiam. Aku juga mulai diam.

"Kakak?" Noval mengerenyitkan dahi.

"Kakak? Apa?" tanyaku dengan rasa heran.

"Kau memanggil ku kakak" aku diam. Wajah ku memanas.

Benarkah? Aku tak sadar, jika aku memanggilnya kakak.

"Mu... mungkin..." aku diam. Aku kembali memandang Daniel dan Johan yang masih bermain.

"Kau tidak mengaku?" tanya Noval yang sembari mendekatkan diri dengan mimik yang kulihat sangat menyebalkan.

"Kau tidak mengaku? Baiklah" Noval kembali menggelitiki aku, aku tak dapat menahan tawa.

Aku kembali tertawa dan berusaha menjauhkan tangannya dari tubuhku. Aku berhasil melepaskan tangannya dan membalas menggelitiki Noval.

Noval terpingkal-pingkal dan melakukan apa yang tadi ku lakukanㅡmenjauhkan tangan ku dari tubuhnya.

-To Be Continue-

Jumat, 25 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 13)

Aku terdiam memandangi lembaran kertas kosong dari buku yang diberikan salah satu adikㅡasuh perempuan Daniel, Ressaㅡadik Daniel yang tertua, memintaku menolongnya membuat cerita untuk tugas praktek sekolah.

Entah apa yang harus ku tulis di lembaran itu. Aku bingung.

Pikiran ku masih melambung tinggi membayangkan Noval yang menangis di hadapan ku. Noval begitu menginginkan aku pulang ke rumahnya, walau aku tak ingin dan tak akan mungkin aku kembali.

Ditambah dengan desakan Daniel yang menyuruhku memaafkan Noval, juga ibu Daniel yang membuatku berpikir seperti Einstein.

Astaga, aku merasa kepalaku begitu sesak.

Sementara, Ressa meminta pertolongan ku. Astaga, Semakin sesak kepalaku.

"Hey, tidurlah..." terdengar teguran Daniel dibelakangku.

"Nanti, mungkin..."

"Apa yang sedang kau kerjakan?"

"Membuat drama untuk Ressa"

"Sudahlah, lanjutkan besok, aku risih melihat mu seperti ini" aku menoleh ke arah Daniel yang pulas terlentang.

Aku mendekatkan wajah pada Daniel hingga matanya terbuka.

"Kenapa? Kau ingin meminta jatah?" aku mengerenyitkan dahi.

"Kepala mu jatah!" aku menutup muka Daniel dengan bantal yang ada di samping ku.

"Dasar mesum!"

Aku berdiri dan keluar dari kamar meninggalkan Daniel yang terkekeh.

Ku putuskan untuk mencari ide di ruang makan, ditemani sebatang rokok.

Otakku belum menemukan ide cerita untuk ku tulis, aku masih memikirkan Noval.

Meski sejujurnya aku merindukan Noval, tapi aku tetap membencinya.

Biasanya, Noval akan membantu ku tanpa di minta dan biasanya kalimat Noval akan membuat otak ku berputar mencari ide.

"Kau cerdas, untuk apa kau memiliki kecerdasan jika tak di manfaat kan?" aku terdiam. Ku dengar suara Noval di telingaku.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Tak ada siapapun.

Aku menengok ke jam dinding yang berada di depan ku, ternyata sudah dini hari dan aku belum menuliskan satu huruf di lembaran buku.

"Tulis apa yang ingin kau tulis, yakin dengan apa yang ada di hatimu, jika kau ingin menulis keseharian mu, tulislah, jika kau ingin menuliskan kekesalan mu, tulislah, tidak selamanya kau mampu memendam apa yang ada di dalam hatimu tanpa mengeluarkan emosi melalui media tertentu" suara Noval kembali terdengar, aku yakin Noval ada di samping ku.

Tapi, aku tak melihat siapapun di sekitar ku.

Aku sedikit tersenyum, aku mengetahui apa yang harus ku tulis.

Terima kasih kak. Sungguh, aku berterima kasih.

-***-

"Angga... Angga, bangun" aku membuka mataku perlahan.

Kulihat ibu Daniel disamping ku, tersenyum ke arah ku.

"Cuci muka dulu sana, lalu kembali kesini dan sarapan"

Sarapan?

Aku mengusap mataku perlahan, mencoba mengembalikan pandanganku yang sedikit kabur.

"Maaf ya kak, aku merepotkan kakak" terdengar suara Ressa yang membuat ku terkesiap.

Aku terkejut saat pandangan ku sudah kembali. Seluruh keluarga Daniel dan Noval sudah duduk di kursi dengan piring dan perlengkapan sarapan yang tersedia di meja makan.

Astaga, aku tertidur.

"Kakak, kakak bobonya lucu" celoteh Johanㅡadik asuh Daniel yang termuda.

"Kakak bobo di meja makan, terus gaya bobo kakak kaya begini" lanjut Johan menirukan gaya ku yang tertidurㅡkepala menunduk, dengan tangan yang menggenggam pensil.

Anggota keluarga yang lain tertawa.

Astaga, aku malu.

"Sudah, jangan meledek kak Angga" ibu Daniel tersenyum ke arah ku.

"Sudah, cuci muka dulu" aku mengangguk dan pergi ke kamar mandi lalu kembali ke ruang makan.

Pagi itu, merupakan pagi spesial menurut ku. Aku seperti memiliki keluarga.

Aku merasa aku terlahir kembali. Aku merasa kembali memiliki ibu.

Canda tawa di ruang makan kini aku rasakan lagi.

"Dengarlah, ibu tadi malam berbicara dengan Ressa, akhir minggu nanti kita semua diundang ke sekolahannya" ucap ibu disambut sorakan girang anak-anaknya.

"Setelah itu, kita langsung jalan-jalan ke puncak!" lanjut ibu.

"Tapi, kak Noval, kak Angga sama kak Daniel ikut ga?" celetuk Johan.

Ibu Daniel terdiam, begitupun aku, Noval dan Daniel.

"Kalau ke sekolah, kak Angga, kak Noval sama kak Daniel ikut, tapi..."

"Harus ikut! Masa dede ke puncak kakaknya dede ga ikut" Johan berteriak memotong kalimat ibu.

"Liat nanti aja ya sayang" ujar Daniel.

Daniel menatap ku lalu memandang Noval.

"Sudah, selesaikan sarapan, terus semuanya berangkat sekolah" ujar ibu sebelum kami melanjutkan sarapan tanpa bersuara.

-To Be Continue-

Angga, is My Name (Ep. 12)

Noval memandang ku dengan tatapan sendu, matanya begitu merah. Wajah Noval terlihat begitu lemas.

Sebenarnya aku tak tega, tapi hatiku belum bisa memaafkan Noval.

"Maafkan kakakmu Angga..." terdengar suara Daniel dibelakangku.

"Aku tak bisa..." ucapku dengan nada yang lemah.

Aku begitu terharu, Noval menangis dihadapanku.

"Dimas... Maaf..." Noval berdiri lalu mendekatiku.

"Aku... Aku belum bisa..." suaraku bergetar.

"Separah itukah kesalahanku? Separah itukah kau membenciku?" aku diam.

"Apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkan ku?" Noval tetap memandangku. Air matanya masih menetes.

"Dengarlah, aku berjanji padamu... Jika kau pulang, aku tak akan mengganggumu lagi... Sungguh..." Noval sedikit mendorong tubuhku, membuat tubuhku menjadi semakin dekat dengan Noval.

"Aku... Aku sudah sadar, aku sadar aku gagal... Maaf..." aku benar-benar tak dapat berkata apa-apa.

Tubuhku mematung, namun sedikit bergetar.

"Ku mohon, maaf..."

Tangan Noval memelukku erat. Tercium aroma khas tubuhnya ketika kepalaku bersembunyi didadanya. Aroma khas yang membawaku kembali ke masa-masa bahagia saat pertama bertemu Noval.

"Ku mohon... Maafkan aku..."

Tangan kekarnya memelukku sembari mengusap kepalaku.

-***-

Ibu Daniel tersenyum memandangku yang duduk disampingnya, kami menghabiskan malam di teras. Berbicara mengenai apa yang aku rencanakan selanjutnya.

Aku dan ibu saling berbagi cerita mengenai masa sekolah, dan bercerita tentang Noval yang gelisah tadi siang.

Ibu berkata, jika Noval begitu sangat menyesal. Saat ibu menyuruh Noval beristirahat, Noval tetap memaksakan diri untuk bertemu dengan ku dan meminta maaf.

"Legakah?" tanya ibu. Aku menggelengkan kepala.

"Kenapa? Bukankah Noval sudah meminta maaf?" aku terdiam.

"Tak apa bu, hanya saja aku tak suka melihat Noval... Jika bukan Daniel yang memaksa, aku tak akan memaafkan Noval"

"Hanya itu?"

"Ya... Aku membenci Noval bu"

"Benci? Sebabnya?"

"Banyak..."

Ibu terdiam.

"Dengar, dulu ibu benci sekali pada ayah Daniel, sebabnya banyak, tapi... Ibu merasa ibu sudah dewasa, ibu juga harus bersikap dewasa, sampai akhirnya ibu mampu menghilangkan rasa benci ibu pada ayah Daniel" aku memandang wajah ibu.

"Suatu hari ayah Daniel menyarankan ibu untuk mengadopsi anak, tapi ibu tak ingin dan ibu merasa tidak sanggup, jika ibu mampu menyusui, ibu sudah mengadopsi bayi dari panti, lalu kami bertengkar hingga akhirnya ada seseorang yang sengaja meninggalkan Daniel di depan rumah dalam keadaan menangis" aku mendengarkan ibu Daniel, sempat terlihat mata ibu berkaca-kaca.

"Ibu masih ingat Daniel menangis di tinggal oleh orang tuanya yang entah kemana, lalu ayah dan ibu memutuskan untuk mengadopsi Daniel, dan pertengkaran kami selesai saat Daniel datang... Memang berbeda dengan kasus mu, tapi ibu harap, dengan paksaan Daniel juga datangnya Noval kesini meminta maaf padamu, pertengkaran kalian selesai, tak baik bertengkar dengan saudara sendiri"

"Tapi bu, aku dan Noval bukan saudara... Aku memang menganggap Noval sebagai kakak, tapi kami bukan saudara kandung" ibu terdiam.

"Kau harus buka matamu, agar kau dapat melihat apa yang ada disekitar mu, jangan berpura-pura buta..." aku diam.

Apa maksudnya?

"Ibu selalu membuka mata ibu, dan karena itu, ibu sadar, apa yang ada di hadapan ibu, hingga banyak kawan-kawan ibu yang meminta ibu mengasuh anak-anak mereka, hingga akhirnya ibu memiliki hak asuh resmi dari pengadilan... Lihat semua adik Daniel, mereka berbeda wajah, tapi mereka sanggup menerima satu dengan yang lain, karena ibu mengajarkan pada mereka untuk membuka mata..."

Aku membisu.

Angin malam menerpa wajah kami. Rambut ibu yang tergerai, melayang-layang mengikuti hembusan angin.

Apa yang dimaksud ibu? Aku belum paham.

"Bu, sudah malam, masuklah, nanti ibu sakit..." aku menoleh saat mendengar Daniel menegur.

"Ah ya, baiklah, ibu tinggal ya..." ibu Daniel bangkit lalu meninggalkan ku yang termenung.

"Apa yang kalian bicarakan?" Daniel bertanya, aku memandang wajah Daniel.

Aku tersenyum kecil.

"Banyak, sudahlah, aku ingin tidur"

Aku berdiri, lalu melangkah masuk ke dalam.

Ibu, apa yang ibu maksud?

-To Be Continue-

Senin, 21 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 10.5)

"Warning! Melewati bagian ini tidak berpengaruh dalam cerita keseluruhan.

Bagian ini mengandung unsur sex eksplisit.

Regards.
Author"

-Ep. 10.5-

"Angga... Aku tak dapat tertidur..." bisiknya di telinga ku, aku tak meladeni Daniel dan berpura-pura sudah terlelap.

Daniel mendekap ku lebih erat, kurasakan dadanya menempel pada punggung ku.

"Angga... Aku terbayang akan kalimat mu..." bisiknya lagi. Aku masih belum meladeni Daniel.

"Dengarlah, kau berkata jika aku hanya berani mengemis tanpa berani akan resikonya... Memang apa resikonya jika aku menyukai mu" lanjutnya.

"Jujur saja, aku masih ingat saat pertama kali aku mengenal mu, aku yakin ada sesuatu yang istimewa dari dirimu"

"Tak dapatkah aku mencintai mu? Aku ingin seperti ayah dan ibu, saling mencintai hingga tua"

Aku mulai risih, aku membuka mataku, melepaskan dekapannya dan membalikan tubuhku.

"Tidurlah, cukup ibu mu yang membuat ku berpikir layaknya seorang ilmuwan, jadi ku harap kau tidur" ujarku dengan nada ketus.

"Aku tak dapat tidur... Aku... Adikku..."

Aku menarik nafas.

"Adik mu bangun? Lalu apa susahnya jika sekarang kau keluar dan meniduri adikmu?" Daniel terdiam.

"Kenapa? Kau punya tangan bukan?" Daniel masih diam.

"Sekarang kau keluar, lalu tiduri adikmu, lagipula apa yang adikmu lakukan di tengah malam seperti ini?" Daniel menahan tawa.

"Angga..."

"Apa?" ia meraih tanganku lalu dituntunnya ke selangkangannya.

Mataku terbuka lebar saat tanganku merasakan kemaluan Daniel mengeras.

"Adik ku yang ini sulit tertidur..." aku terdiam.

Mulutku membentuk lingkaran kecil. Aku baru paham adik yang Daniel maksud.

"Dengarlah, kawan ku berbicara mengenai melakukan hal itu padaku, dan... Aku ingin merasakannya..." kini, giliran ku yang menahan tawa.

"Bodoh, ku pikir adik mu yang lain, sudahlah kau harus tidur, jangan lakukan apapun pada adik mu yang sulit tertidur" ucapku sembari menarik tangan ku.

Daniel terdiam. Aku memejamkan mataku, dan berusaha tertidur. Entah apa yang Daniel lakukan, aku hanya ingin fokus tertidur.

"Angga..." Daniel merayu ku. Aku mengacuhkan Daniel.

Aku mengintip Daniel, ku lihat ia meremas-remas kemaluannya. Aku ingin tertawa. Sungguh konyol.

"Astaga, bagaimana ini..." keluh Daniel pelan.

Daniel berdiri lalu mematikan lampu kamar, dan ia kembali berbaring disampingku.

Terdengar suara berasal dari Daniel, aku membayangkan Daniel melepas kolor dan memainkan adik kecilnya, lalu aku mendengar seperti suara desahan yang tertahan.

"Kau jahat, Angga... Aku sudah menyatakan perasaaan ku padamu tapi kau tak ada respon, dan kini kau membiarkan aku sengsara dengan kemaluan yang menegang" keluhnya lagi.

"Aku sangat bersyukur saat bertemu dengan mu lagi, dan kini aku bersama mu lebih dari 1 bulan tapi kau belum menjawab pertanyaan ku" lanjutnya di selingi desahan yang tertahan.

"Dan aku sekarang merancap kemaluan ku sendiri, walaupun disamping ku ada kau, kau benar-benar jahat!" aku menahan tawa dengan mata yang masih tertutup.

Aku menahan tawaku, ia benar-benar melepas kolor dan merancap penisnya sendiri.

Keluhannya membuat ku ingin tertawa lepas.

"Tapi... Kenapa aku tetap menyukai bahkan mencintai mu, Angga!" kali ini desahannya terdengar begitu jelas.

"Ah, shit, why I'm so horny tonight!" lanjutnya dengan desahan yang panjang.

Sepertinya, ia sudah mencapai klimaks.

Aku bangkit dan terbangun, mataku mulai terbiasa melihat meski gelap. Terlihat Daniel gelisah dan menutup kemaluannya yang masih menegang.

"Angga..." ia memanggil ku dengan nada yang lemah. Sepertinya ia malu.

"Kau begitu berisik! Aku tak dapat tidur karena mu!" ujarku. Ia terdiam. Lalu ia meraba-raba kasur mencari kolor yang sudah ia lepaskan.

"Mencari apa kau?" ia terdiam.

Aku mendekati Daniel yang berbaring, dengan tangan kiri yang mencari celana dan tangan satunya yang menutup kemaluanㅡwalau masih terlihat bagian batang kemaluan yang tidak tertutup.

Aku terdiam, lalu aku berdiri dan duduk diperutnya.

"Apa yang kau cari?" kedua tangan Daniel diam.

"Kenapa kau begitu berisik! Aku ingin tidur!" bentak ku tapi tetap dengan suara yang pelan.

"Jika kau benar-benar ingin melakukannya denganku, lakukanlah, toh aku tak akan menolak!" ucapku.

Daniel terdiam, lalu ia membangkitkan diri dengan lengan yang menahan tubuhnya.

"Benarkah?"

"Tidak, aku hanya bercanda" canda ku sembari berdiri dari perutnya dan berbaring di sampingnya.

"Ah, candaan mu keterlaluan" ia kembali merebahkan diri.

Aku tertawa kecil.

"Lakukanlah jika kau ingin, karena aku juga menyukai mu" ucapku.

-***-

Daniel menindih tubuhku sembari bibirnya menciumku. Ciumannya ganas, terkadang ia menghisap dan mengigit bibirku.

Lidahnya menyentuh langit-langit mulutku sementara tangannya menggenggam kepalaku, menahan kepalaku agar tidak bergerak.

Aku memeluknya, mengusap punggungnya.

Kemaluannya menekan kemaluanku yang masih terbalut celana dalam.

Puas menciumku, Daniel mengecupi leher dan menghisap leherku seperti drakulaㅡaku yakin, ia sedang membuat tanda merah dileher.

Tangannya masuk ke dalam bajuku, meraba lalu mengusap dadaku. Jarinya memilin, dan mencubit pelan kedua putingku.

Aku mengerang dan mendesah, perlakuannya membuatku ikut bernafsu.

Aku meremas rambutnya saat ia menjilat telinga dan mengecupi pipiku.

"Daniel..." erangku ditelinganya.

-***-

"Kau yakin?" tanyanya sembari mengangkat tinggi kakiku.

"Ya, lakukan dengan cepat!"

Kepala menyusup disela pantatku, membasahi lubang anusku dengan jilatan lidahnya. Terasa geli dan basah di pantatku.

Lidahnya menusuk-nusuk anusku, sementara tangannya meremas kemaluanku dan dikocoknya perlahan. Telunjuk Daniel bermain dilubang kencingku, mengilik dan mengelus precum yang membasahi kepala kemaluanku.

"Kau siap?"

"Ya"

Aku memejamkan mata, menahan rasa sakit pada anusku.

Aku merasa, kemaluan Daniel benar-benar merobek anusku dan mengisi penuh perutku saat kepala kemaluannya masuk.

Aku mengerang menahan sakit.

"Kau tak apa?" aku terus mengerang.

"Aku tak tega..." dicabut kemaluannya lalu kembali menindihku.

"Dengar, aku tak akan melanjutkanya jika itu membuatmu sakit" bisiknya.

Daniel menciumku lagi, kemaluannya menindihku yang sudah benar-benar tegang.

"Lanjutkan... Tak apa, aku hanya belum pernah melakukan ini..." balasku.

Daniel kembali bangkit lalu mencoba lagi, hingga akhirnya ia berhasil menembus anus ku.

Aku mengerang.

Daniel belum bergerak, ia menciumi ku sementara pinggul Daniel berusaha bergerak perlahan.

Kami mendesah bersamaan.

Aku terus-menerus mengusap punggung Daniel, sementara Daniel menggerakan pinggulnya maju-mundur sembari menindihku.

Kemaluanku terjepit oleh perutnya yang terbentuk, membuat sensasi tersendiri yang aku rasakan.

Perlahan namun pasti, Daniel menggenjot tubuhku sembari menciumiku ganas.

Erangan dan desahan kami saling menyahut, ditengah goyangan pinggulnya.

Puas menciumku, ia berdiri sembari meloco penisku dengan tempo lambat.

Entah apa yang Daniel lakukan, aku merasa begitu merangsang walau masih terasa sakit di anusku.

Daniel mengangkat tinggi-tinggi kakiku dan ditaruh di pundaknya, sementara tangannya menggenggam paha ku.

"Aku... Sebentar lagi sampai..."

Aku tak menjawabnya, ia menghentikan goyangan lalu fokus pada kemaluanku.

Aku mendesah, nafasku memberat saat tangan Daniel mengocok kemaluanku dengan cepat.

Mungkin, ia merasa jika kemaluanku menggembung dan mengeras. Kocokan tangannya semakin cepat hingga akhirnya aku mencapai klimaks.

"Giliran ku" ujarnya, setelah aku berhasil mengeluarkan sperma.

Tak memperdulikan aku yang baru saja sampai, Daniel menggoyang pinggulnya cepat dan tak beraturan.

Aku dapat merasa kemaluan Daniel mengembang dan berkedut dalam anusku.

"Ah, aku sampai!" erang Daniel.

Daniel mencabut kemaluannya lalu mengocok di atas perutku, tak berapa lama sperma Daniel keluar dan membasahi dada, dan perutku sebagian mengenai wajah ku.

Daniel menindih tubuhku, sembari menciumku.

"Terima kasih, aku menyayangi mu..."

-To Be Continue-

Angga is My Name (Ep. 11)

"Pulanglah..." aku membalikan tubuhku saat mendengar seseorang berbicara dibelakang ku.

Mataku terbuka lebar melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah kusut, dan kumis juga jambang yang tumbuh lebat diwajahnya berdiri sembari memandang ku sendu.

"Ku mohon... Pulang... Aku memohon padamu..." ucapnya lagi.

Aku berdiri mematung melihat orang yang berdiri dihadapan ku. Mulutku terkunci rapat, tubuhku lemas.

"Dimas... Kakak mohon... Pulang..."

-***-

Mata dan mulutku masih tak dapat menutup, melihat orang iniㅡyang kutemui tadi duduk di hadapan ku, Daniel dan ibunya memohon ku pulang.

Rasa penasaran ku muncul, darimana orang ini mengetahui keberadaan ku.

"De, benar tujuan mu hanya menjemput Angga?" ibu Daniel bertanya pada orang itu, orang itu mengangguk.

"Lalu, darimana kau mengetahui tempat ini?" ia tak menjawab.

"Sebenarnya, ada ikatan apa kamu dengan Angga?" ia terdiam.

"Bu... Sudahlah, biarkan orang ini beristirahat, mungkin ia kelelahan" Daniel berbicara, aku terdiam. Aku masih memandang wajah orang yang juga menatap ke arah ku.

"Ah ya, benar juga, mari de Noval, lebih baik beristirahat dulu..." ibu Daniel mengajak Noval menuju kamar tamu disamping kamar Daniel.

Noval menurut lalu mengikuti ibu Daniel.

"Kau memberitahu siapa saat kau menelepon?" bentak ku pada Daniel setelah Noval pergi.

"Tenangkan dirimu, jangan emosi"

"Jelas aku emosi, darimana Noval mengetahui keberadaan ku!" aku membentak Daniel.

Emosi ku membludak.

"Hey, jangan berteriak, malu jika Noval mendengar"

"Biarkan, aku tak perduli!" aku berdiri lalu melangkah ke kamar.

Aku duduk di atas kusen jendela, dan memutuskan untuk menghisap sebatang rokok.

Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja aku alami. Darimana Noval mengetahui keberadaan ku? Lalu, kenapa ia tetap ngotot menyuruh ku pulang?

Baru 2 hari aku disini, tapi Noval sudah menyusul. Darimana ia mendapat info keberadaan ku?

Astaga, kepalaku sakit memikirkan hal ini.

"Hey, sudahlah" aku menengok kearah Daniel  yang mendekat.

"Sudahlah apa?" tanyaku ketus, aku kembali memandang halaman samping sembari merokok.

"Sudahlah... Jangan terlalu pusing memikirkan hal ini" ujar Daniel.

Kami terdiam.

Aku memainkan kaki ku yang keluar jendela, dengan posisi duduk membelakangi Daniel.

Kurasakan tangan Daniel melingkar dipinggang ku, dan pundak kiri ku terasa berat saat kepala Daniel menyandar.

"Marahkah kau padaku?" tanyanya lembut.

"Tidak, aku hanya kesal"

"Kenapa?"

"Pada siapa kau menelepon saat dibus? Kenapa harus menggunakan bahasa cina?"

"Kawanku, hanya kawanku"

"Lalu jika benar kawanmu, kenapa harus menggunakan bahasa asing?"

"Angga, hentikanlah, kenapa kau begitu curiga padaku?"

"Aku tidak curiga padamu, aku hanya penasaran apa yang membuat Noval mengetahui tempat ini. Kau bilang rumah mu aman, dan tak ada orang yang akan mencari ku, tapi kenyataannya?" Daniel diam.

Aku membuang batangan rokok dan melepaskan pelukan Daniel.

"Sudahlah, aku tak ingin membahas ini" aku menuruni jendela lalu melangkah ke luar rumah.

Aku duduk di kursi teras rumah, yang menghadap jalanan.

"Dimas..." aku menoleh sesaat mendengar namaku dipanggil, lalu kembali membuang muka ke hadapan ku.

"Cari siapa?" tanyaku ketus.

Kami terdiam.

Aku lupa jika Noval masih berada di sini.

"Dimas, ku mohon, pulang" aku membisu, aku tak ingin meladeni Noval.

"Maafkan aku yang berkata seenaknya padamu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu..." aku tetap diam.

"Dimas..." aku membuka mata lebar-lebar. Noval bersujud di depan ku.

"Sedang apa kau? Menjijikan!" aku bangkit dari duduk lalu meninggalkan Noval yang masih bersujud.

"Hey, kau tak boleh seperti itu" aku menghentikan langkah saat Daniel menegur ku dari dalam ruang tamu.

Aku tak sadar jika Daniel mengikuti ku.

"Kau membela orang itu?"

"Tidak, hanya saja, maafkan dia"

"Tidak, tidak ingin!"

"Ada sesuatu yang kau sulit maafkan darinya?" aku mengangguk.

"Lalu, bagaimana jika kau melakukan hal yang membuat ku sakit hati? Apa kau akan melakukan hal yang sama dengan orang itu? Bersujud di hadapan ku, sembari memohon maaf, dan aku tidak memaafkan mu, apa kau tetap bersujud seperti orang itu?" aku diam.

Aku menengok ke arah teras, ku lihat Noval masih bersujud.

"Berikanlah apa yang dia inginkan, aku yakin kaupun berharap kata maaf keluar dari mulutku jika kau melakukan hal yang sama seperti Noval" aku menarik nafas panjang.

Daniel, kenapa kau sangat mengesalkan!

"Aku memaafkan orang itu karena mu, ingat itu"

"Karena ku? Lebih baik tak usah, kau memaksakan diri" Daniel berdiri, lalu mendekati ku.

"Dengarlah, Angga... Bayangkan jika kau atau aku ada di posisi orang itu, pasti sangat tidak nyaman... Jadi, buka hati mu, maafkan orang itu" aku menatap mata Daniel.

"Maafkan dia, agar dia tenang... Menurutku cukup balasan dari mu yang menampar pipi orang itu"

Aku menghela nafas ku.

"Maafkanlah..." ku tatap mata Daniel sekali lagi.

Daniel tersenyum, lalu ia mengusap kepalaku pelan.

"Sana, berikan kesempatan untuknya" aku melangkah lesu mendekati Noval.

"Bangunlah!" ucapku ketus.

"Hey, berdiri! Jangan seperti ini!" lanjutku.

Noval diam.

"Hey! Bangun!" aku menendang Noval.

Noval tetap diam.

"Jangan begitu..." terdengar Daniel menegur ku dari arah belakang.

"Dia tidak ingin berdiri, mencari perhatian sekali! Aku benci!"

"Tidak perlu kasar..."

Argh! Daniel kau benar-benar menyebalkan.

"Kak..." panggil ku dengan lembut. Aku terpaksa melakukan hal ini.

Jika bukan Daniel yang memaksa ku, akan ku tendang hingga mati orang yang bersujud di hadapan ku.

"Kak, bangunlah..." Noval mengangkat kepalanya dan memandang ku.

Matanya memerah, terlihat jelas air matanya membasahi pipi.

Aku tak dapat berkata-kata, aku sedikit terharu melihat Noval seperti ini.

Wajah tampannya hilang termakan tangisannya sendiri. Jambang, kumis dan janggut Noval basah. Noval tersenyum ke arahku, di tengah tangisan.

"Dimas... Maafkan kakak..."

-To Be Continue Soon-

Kamis, 17 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 10)

Aku mengejapkan mata dengan posisi tubuh yang masih berbaring. Aku mencium aroma khas yang membuatku terbangun.

"Kau sudah sadar?" aku bangkit dari tidur ku, sambil mengusap mata.

Ku lihat Daniel sedang berkaca dan membenahi diri.

"Aku pingsan?" tanyaku.

Daniel tertawa.

"Kau tertidur lebih lama dariku, dan kau melewati makan malam" mataku terbuka lebar mendengar Daniel berbicara.

Astaga. Aku baru ingat, aku memiliki janji dengan ibu Daniel.

"Bagaimana ini? Aku sudah berjanji dengan ibu mu" ucap ku sedikit panik.

"Ibu menunggu mu di kamar, datang saja ke kamarnya jika kau merasa bersalah" ejek Daniel.

Daniel melanjutkan berkaca lalu memandang ke arah ku.

"Dengar, lebih baik kau mandi lalu setelah itu langsung ke kamar ibu, aku harus mengantar adik ku berjalan-jalan" lanjut Daniel sebelum pergi meninggalkanku.

-***-

Aku mengetuk pintu kamar ibu Daniel setelah membilas diri. Ibu Daniel tersenyum menatap ku, lalu menyuruh ku masuk.

"Ibu maaf, tadi..."

"Sudahlah, jangan bahas itu, ibu paham" ibu Daniel memotong kalimat ku, tangannya menarik tanganku dan menyuruh ku duduk di sampingnya.

"Angga, kau suka dengan Daniel?" aku diam.

Sebenarnya aku ingin tertawa mendengar pertanyaan ibu Daniel, pertanyaan konyolㅡmenurut ku.

"Jujurlah..."

"Hm... Bagaimana ya aku menjawabnya..." ku lihat sang ibu tersenyum.

"Jangan malu, tadi Daniel cerita kalau dia sudah menyatakan perasaannya" wajah ku memanas, aku malu.

"Daniel bercerita banyak tentang kamu, sepertinya Daniel memang benar-benar menyukai mu" aku tersenyum.

"Lalu Daniel memarahi ibu, katanya karena ibu, Angga benci pada Daniel, benar begitu?" aku mengerenyitkan dahi.

"Kata Daniel, andaikan Daniel tidak pulang kesini setelah lulus sekolah mungkin ia akan bersamamu di ibukota"

"Memang sebenarnya apa yang terjadi bu? Sampai Daniel harus pulang ke sini sesudah kelulusan" ibu Daniel menarik nafas.

"Ayahnya, meninggal dunia... Daniel membantu ibu mengurus semua urusan yang menyangkut ayahnya..." aku terdiam.

Ibu Daniel memandang sebuah portrait keluarga yang terpajang di tembok, aku baru menyadari jika ada foto disana.

"Daniel anak yang baik... Walau Daniel bukan anak kandung ibu dan suami ibu, Daniel anak yang sangat berbakti..." aku mengusap pundak ibu Daniel.

"Yang sabar ya bu..."

"Rasanya baru kemarin ibu nikah, dan memutuskan mengadopsi Daniel... Tapi..." nada suara ibu bergetar, ibu memandang ku.

"Entah kenapa, ibu bahagia melihat kamu, Angga... Seakan ibu bercermin... Ibu harap, Daniel dapat membahagiakan kamu..."

Aku membisu, dengan tangan yang masih mengusap pelan pundak ibu dan memandang wajahnya.

-***-

Aku duduk termenung di dalam kamar, menanti kedatangan Daniel.

Masih terdengar jelas kalimat-kalimat ibu Daniel di telingaku, membuat pikiran ku melayang jauh.

Pikiran ku semakin bercabang, ada sebuah kenyataan yang sulit diterima dengan logika ku dan aku tidak pernah menyangka hal yang baru saja ku dengar.

Daniel merupakan anak asuh satu-satunya yang ditemukan di depan pintu rumah ini, dan ibu Daniel adalah orang pertamaㅡyang ku temui berhasil menikah setelah operasi kelamin.

Aku benar-benar tak menduga jika ibu Daniel seorang transgender.

Pantas saja ia mengatakan seperti bercermin melihatku.

Lalu, apa yang membuat Daniel menjadi suka dengan ku? Bukankah dulu ia bersumpah agar tidak menjadi seorang homo?

Berjuta pertanyaan mengisi otakku.

"Hey, aku pulang" terdengar suara Daniel di depan pintu kamar.

"Masuklah, aku tidak mengunci pintu kamar"

Daniel masuk ke dalam kamar sembari tersenyum.

"Ada apa dengan mu? Bahagia sekali"

"Tak apa, tak bolehkah aku bahagia?" tanyanya, ia berjalan ke arahku setelah mengunci pintu kamar.

"Darimana saja kau?" ujar ku sembari memandangnya yang melepas baju.

Seperti biasa, ia pasti ingin langsung beristirahat jika sudah membuka bajunya.

Hanya mengenakan kolor kebanggaannya, ia berbaring di samping ku.

"Hanya berkeliling kota, lalu berhenti di sebuah tempat dan membeli sesuatu"

"Kenapa? Kau mencari ku? Rindukah?" lanjutnya sembari terkekeh.

Aku terdiam. Konyol, pasti ia akan mengatakan sesuatu yang garing dan berharap aku akan tertawa karena candaan anehnya.

"Diamlah, aku hanya ingin bertanya padamu" aku merebahkan diri di sampingnya, lalu berhadapan dengannya yang tersenyum.

"Apa?"

"Ibu... Ibumu melakukan operasi?" Daniel menahan tawa.

"Jangan tertawa, aku serius" Daniel terdiam.

"Kalau ya, kenapa? Kalaupun tidak, kenapa? Apa itu mengganggu mu?" aku menggelengkan kepala.

"Tidak, hanya saja... Ibu mu adalah orang pertama yang ku temui melakukan operasi kelamin..."

"Lalu?"

"Aneh, tapi aku kagum pada ibu... Bagaimana orang tuanya jika mengetahui anaknya melakukan operasi?"

"Ibu ku, sama seperti mu, ia yatim piatu... Maka dari itu, ibu berharap segera menemui mu dan berbicara banyak pada mu" aku terdiam.

Daniel bercerita tentang ibu dan ayahnya. Mereka bertemu saat sang ibu menjadi penari latar di sebuah konser, lalu mereka berpacaran setelah kenal dekat.

Orang tua ayah Daniel melarang sang ibu untuk berdekatan dengan ayah Daniel, namun ayah Daniel memaksa orang tuanya merestui hubungan mereka sampai akhirnya mereka menikah.

Hingga ayah Daniel meninggal, mertua ibu kini sudah menerima ibu bahkan menyuruh ibu menikah lagi, tetapi ibu tidak ingin.

Setiap malamnya, pasca ayah Daniel meninggal, Daniel selalu menemani ibunya yang menangis hingga tertidur.

Daniel merasa bersalah pada ibunya, karena ia belum dapat membahagiakan ibu. Maka, Daniel berpikir jika aku ditemukan dengan ibunya, mungkin ibu akan menemukan semangat hidup yang dulu pernah hilang.

"Angga... Maka dari itu, ku mohon, jawab pertanyaan ku, apakah kau menyukai ku juga?" aku terdiam.

"Dengarlah, aku sedang membahas ibu, bukan membahas tentang perasaan ku padamu"

"Perasaan mu merupakan faktor penting agar ibu bahagia" aku kembali terdiam.

Aku membalikan tubuhku.

"Sudahlah, mari kita beristirahat... Kita harus tidur..."

Daniel memelukku dan mengecup pipiku sebelum ia tertidur.

Aku menumpukan tanganku di atas tangannya. Aku semakin bingung.

Benarkah ini jalan ku hidup? Aku butuh seseorang untuk memberikan solusi, aku butuh Noval.

Noval, bagaimana kabar mu?

-To Be Continue-

Rabu, 16 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 9)

"Kak Daniel!" terdengar teriakan yang memanggil Daniel.

Aku tersenyum kecil melihat sekumpulan remaja yang berlari-lari mendekati aku dan Daniel yang berjalan kaki dari jalan raya.

Kami sampai di terminal pagi tadi, dan Daniel langsung mengajakku menaiki taksi yang tersedia di sana lalu turun tepat di depan kediaman orang tua asuh Daniel. Sejak tadi malam, aku dan Daniel belum berbicara sama sekali.

Aku masih canggung membuka percakapan dengannya, Daniel membuatku terdiam selama perjalanan.

Kumpulan remaja itu langsung memeluk Daniel, dan ada beberapa diantaranya tersenyum, menjabat tanganku, dan memelukku.

"Kakak! Aku kangen!" aku terbangun dari lamunan sesaat ku ketika mendengar rengekan bocah yang meminta dipelukㅡyang paling kecil dikumpulan itu.

Daniel merunduk lalu memeluk tubuh anak itu dan mencium pipinya.

"Kangen ya sama kakak? Kangen banget atau kangen aja?" canda Daniel yang sembari menggendong adik bungsunya.

Kami bersama-sama berjalan menuju sebuah rumah besar yang berada didepanku. Aku berjalan di belakang Daniel dan adik-adiknya, terlihat mereka begitu bahagia.

Aku menghentikan langkah sebentar, mengedarkan pandangan ku setelah memasuki pagar rumah.

Rumah besar yang sangat sederhana. Tanaman hias tertata rapih dalam pot di teras rumah, tanaman-tanaman yang lain pula terawat di halaman.

Rumah yang luas.

Ku lihat ada beberapa mobilㅡkeluaran terbaru yang terparkir disebelah timur, dan motor yang berjejer rapih disampingnya.

"Welcome home" terdengar nada rendah seseorang yang menyambut kedatangan kami.

Adik-adik Daniel yang tadi mengerubungi kami, berlari masuk ke dalam rumah.

Kulihat seorang wanita paruh baya yang mengenakan baju berlengan panjang dan rok panjang berwarna gelap, berjalan ke arah kami.

Daniel langsung memeluk wanita itu dan mencium pipinya.

Ternyata orang itu, ibu asuhnya.

Ibu Daniel sangat cantik, rambutnya tergerai indah terhembus angin. Wajahnya mirip dengan Daniel, disaat tersenyum matanya juga akan ikut tersenyumㅡsama seperti Daniel. Muncul rasa tak percaya jika Daniel adalah anak asuh dari ibunya.

"Kenalkan bu, orang ini Angga"  ujar Daniel.

Ibu Daniel mendekatiku yang merunduk sedikit, tersenyum dan bersalaman.

"Akhirnya, aku bertemu dengan mu, nak" ucap ibu Daniel lembut, aku masih tersenyum kaku.

"Mari masuk, anggap ini rumah sendiri" lanjutnya.

"Ah, iya bu" ucapku.

Aku membiarkan mereka berbincang-bincang sembari berlalu meninggalkan aku. Aku masih terpesona dengan rumah besar namun sederhana yang ada dihadapan ku.

Rumah yang masih menggunakan arsitektur jaman dahulu dengan koridor panjang dan teras halaman yang sangat luas, membuat ku tak dapat menutup mata.

Pilar-pilar pondasi yang tinggi, membuat bangunan ini terlihat sangat kokoh. Dipadu dengan cat tembok yang berwarna kalem, dan gradasi warna glamor semakin membuat rumah ini terlihat mewah.

Aku berjalan sedikit berlari, mengejar Daniel dan ibunya. Sesaat aku melangkah masuk ke dalam ruang keluarga, adik-adik Daniel langsung bersorak, berteriak mengejek Daniel.

Daniel membalas ejekan adiknya lalu bersenda-gurau tanpa memperdulikan aku. Puas melepas rindu dengan adik-adiknya, Daniel mengenalkan aku pada semua adiknyaㅡyang ku hitung berjumlah 6.

"Ini ya, ini pacarnya kakak?" aku membelalakan mataku.

Adik bungsu Daniel membuat aku berdiri mematung.

"Ya sayang, jadi nanti kasih tau yang lain jangan nakal sama pacarnya kakak!" jawab Daniel dengan sedikit bercanda.

Astaga. Aku berharap, telingaku sudah tak berfungsi dengan benar.

Semoga aku salah dengar.

Ibu Daniel memanggil ku dan Daniel yang bercanda di ruang keluarga, dan menyuruh kami bergegas masuk ke dalam kamar.

Aku sangat yakin, kamar ini adalah kamar Daniel. Tercium aroma khas keringat tubuh Daniel.

"Bagaimana pekerjaanmu? Apa kau keluar?" aku terdiam saat ibunya menginterogasi ku dikamar Danielㅡhanya aku, Daniel dan ibunya.

Aku memandang wajah Daniel yang menahan senyum.

"Kamu penari, kan?" aku mengangguk pelan.

Ibu Daniel duduk di depanku, lalu meraih tanganku untuk duduk disampingnya. Sedangkan Daniel merapihkan sisi lain kamar.

"Jangan malu, ibu juga dulu seperti kamu, sudah berapa lama jadi penari striptease?" aku semakin membisu, tubuhku kaku.

"Sudahlah ibu, jangan tanya Angga yang tidak-tidak..." ucap Daniel yang sibuk membenahi kamar.

"Ah ya, maaf maaf... Ibu cuma terlalu senang melihat Angga ada di depan ibu" ibu Daniel tersenyum.

"Sudahlah, kalian harus beristirahat, nanti kita makan malam bersama" lanjutnya sebelum sang ibu melangkah pergi meninggalkan aku dan Daniel.

-***-

"Boleh aku merokok?" tanyaku memandangi Daniel yang duduk di jendela kamarnya. Daniel tersenyum pelan.

"Kalimat pertama yang kau ucapkan padaku setelah aku menyatakan perasaan ku..." Daniel terkekeh.

Aku terdiam.

Aku berusaha tak memperdulikan kalimat Daniel, aku mengambil rokok dan menyulut perlahan.

"Dimas yang dulu aku kenal belum berubah, walau ia sudah berganti nama dengan nama yang aku berikan" aku masih terdiam.

"Konyol, aku seperti mengemis... Tapi, aku menikmatinya... Dan kau, seperti membalas dendam padaku karena aku meninggalkan mu" lanjut Daniel.

"Andai kau mengetahui alasan ku..."

"Berhentilah berbicara, dan cium aku sekarang jika kau memang mencintai ku" aku memotong kalimatnya tanpa memandang wajah Daniel.

Daniel diam tak bersuara.

"Lihat, kau berani mengemis tapi kau tak berani akan resikonya..." ucap ku.

Daniel membisu.

Siang itu, sinar matahari masuk ke dalam kamar yang redup. Walau aku tak memandang wajah Daniel secara langsung, aku dapat melihat jelas wajah Daniel yang memandang ku penuh rasa penasaran.

"Apa yang kau lihat?" tanyaku ketus.

"Dirimu" aku meringis, sembari masih menikmati batangan rokok yang ku hisap.

"Sudahlah, kau harus beristirahat... Tidurlah, jika sudah waktunya makan malam, aku akan membangunkan mu" ujar ku.

Daniel turun dari jendela, menutup kedua daun jendelaㅡnamun sengaja dibiarkan terbuka sedikit dan berjalan ke arahku.

Ia membuka bajunya, lalu merebahkan diri disampingku.

"Baiklah, aku tidur... Jangan mengangguku atau mengerjaiku" ucapnya sebelum memejamkan mata.

Aku terdiam.

Sembari menghisap rokok, aku memandangi wajah Daniel yang terlelap. Daniel terlihat seperti malaikatㅡmenurut ku jika ia terlelap seperti ini.

Wajah oriental kental membuatnya semakin menarik disaat ia memejamkan mata.

Daniel begitu tampan.

Aku berdiam diri selama setengah jam, membayangkan hal yang seharusnya tak aku bayangkan. Rokok yang ku hisap pula sudah habis dari beberapa menit yang lalu.

Ku putuskan untuk ikut beristirahat, aku mengambil ancang-ancang untuk tidur.

Aku merebahkan diri disamping Daniel, dengan posisi memandangi wajah Daniel.

Aku tersenyum kecil. Tanganku menyentuh hidung Daniel dan mengusap pelan pipinya.

Ada rasa bahagia mendengar pengakuan Daniel. Rasa yang dulu ku pendam, terjawab sudah.

Tanganku berhenti mengusap ketika telapak tangan Daniel menggenggam tanganku. Aku terkejut melihat Daniel membuka matanya lalu tersenyum ke arah ku.

Wajahnya mendekat, hembusan nafasnya mengenai philtrum dan bibir ku.

Tangannya menuntun tanganku ke bibirnya. Reflek, jemari ku mengusap bibirnya yang tipis.

Aku tersenyum, ia pula ikut tersenyum.

Wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Aku memejamkan mata, ketika tangannya tak lagi menggenggam tangan ku.

Jemari Daniel mengusap pipi dan kepalaku, lalu kurasakan telunjuknya menyentuh bibir ku.

"Aku mencintai mu..." ucapnya perlahan sebelum ia mencium bibir ku mesra.

Ya, Bibir ku dicium Daniel dengan begitu lembut.

-To Be Continue Soon-

Angga, is My Name (Ep. 8)

"Kita harus berangkat malam ini!" mataku tak dapat menutup saat mendengar kalimat Daniel yang mengajak ku pergi.

"Malam ini? Kemana?"

"Kota Kembang, benahi pakaian mu, kita berangkat naik bus" ucap Daniel yang tergesa-gesa.

Aku baru melihat Daniel seperti ini, ia panik dan seakan tak ada hari esok.

Awalnya Daniel tak sepanik ini, aku dan Daniel menjalani hari seperti biasaㅡdi bulan pertama aku tinggal bersamanya. Tetapi, ia kalap langsung menutup usahanya dan mengajakku bergegas pulang.

Saat aku bertanya apa alasan ia menghentikan penjualan hari ini, ia hanya menjawab akulah penyebabnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku.

Daniel yang sibuk merapikan barang-barang sembari menelepon, menghentikan kegiatannya lalu memandang ku.

"Dengar, kau sudah tak aman lagi disini, aku harus membawa mu ketempat yang lebih aman" aku terdiam.

"Kau paham apa maksud ku?"

"Tidak, kau tidak menjelaskan secara detailnya"

"Angga... Noval mencari mu! Dia membuat selembaran info orang hilang!" mataku terbuka lebar, aku sangat terkejut.

"Benarkah?"

Daniel menghela nafas, lalu menunjuk selembaran kertas yang ada di atas koper pakaian miliknya.

"Jika aku bohong, untuk apa aku panik sampai seperti ini"

Aku terdiam, memang benar ucapan Daniel. Daniel tak akan sepanik ini jika tak ada hal yang membuatnya gelisah.

Tapi, kenapa harus ia yang panik?

-***-

Aku duduk dekat jendela sembari memeluk tas ransel, sementara Daniel disamping ku sembari menelepon.

Daniel meminta bantuan kawannya untuk melanjutkan usaha kecilnya sampai Daniel benar-benar siap kembali ke ibukota. Aku hanya terdiam mendengarkan Daniel berbicara dalam cantonese.

Setelah selesai, tangannya mengusap lembut punggung tanganku.

"Dengarkan aku, disana kau akan bebas melakukan apapun" aku tersenyum memandangnya yang ikut tersenyum.

Pikiran ku melayang jauh. Masih menjadi sebuah pertanyaan bagiku, kenapa Daniel panik saat Noval mencari ku.

Lalu, darimana Daniel mengetahui jika Noval mencari ku? untuk apa ia membawa ku ke jawa barat? Dan kenapa harus malam hari?

"Beristirahatlah, aku akan membangunkan mu jika sudah sampai" lagi, ia tersenyum.

Pikirnya, ia akan membuatku tenang dengan senyumannya, tetapi hal itu yang membuatku semakin gelisah.

Ada apa dengan Daniel sehingga ia membawa ku pergi dari ibu kota.

Aku butuh jawaban.

Perjalanan akan memakan waktu yang lama. Daniel sibuk memainkan ponsel, sementara aku memandangi jalanan melalui jendela.

Aku menengok sesaat mendengar Daniel berbicara, aku menebak ia kembali menelepon kawannya. Karena cantonese yang kental terdengar dari ujung telepon.

Aku merasa lelah dan bosan, ku putuskan untuk membenarkan posisi duduk ku dan memejamkan mata.

-***-

"Ada apa?" tanyanya saat aku terbangun dari tidur, aku memandangnya yang kelelahan. Matanya sedikit memerah, air mukanya terlihat begitu letih.

Sesaat aku melihat keadaan di luar bus, langit masih gelap.

"Sebentar lagi kita sampai" aku memalingkan muka dan kembali memandang wajah Daniel.

"Kau tidak beristirahat?" ia menggeleng.

"Kenapa?" tanyaku, aku menyandarkan kepala di pundaknya.

Tangannya merangkul ku, lalu mengusap kepalaku lembut.

"Seperti janji ku, aku akan menjaga mu" jawabnya, ia mengecup kening dengan tangan yang terus mengusap kepalaku.

"Daniel..."

"Ya?"

"Boleh aku bertanya sesuatu?" ia hanya menggumam

"Kenapa kau panik? Lalu, kenapa harus kota kembang tujuan kita?" Daniel terkekeh.

"Disana ada ibu asuh ku, dan adik-adik ku"

"Lalu, apa yang ingin kau lakukan disana?"

"Berlibur, menjauhkan mu dari Noval..." aku terdiam.

Menjauhkan aku? Untuk apa?

"Angga... Ibu asuh ku ini ingin segera melihat mu, tadinya bukan hari ini aku ingin mengajak mu ke sana, namun, sangat kebetulan posisi mu sekarang menjadi target pencarian orang dan ku putuskan untuk membawa sekarang" aku masih diam.

Benarkah itu alasannya?

"Lagipula, aku yakin kau akan senang disana" Daniel tersenyum, ia menunjukan wajah bahagianya meski masih terlihat jelas wajah lelahnya.

"Semoga..." jawab ku perlahan.

"Kenapa? Sepertinya ada yang kau sembunyikan"

"Aku?"

"Ya, kau tidak senang?"

"Ah, tidak... Aku hanya, bingung" aku menarik nafas.

"Kau... Kenapa kau begitu panik saat Noval membuat selembaran itu, dan kenapa kau membawa ku pergi dari ibukota, seakan kau memaksa ku dan tak ingin kehilangan aku" lanjutku.

Daniel terdiam.

"Ku pikir, kau belum berubah namun ternyata kau berubah, kau menjadi pemaksa... Daniel yang ku kenal dulu menjadi bayangan Noval yang pemaksa dan perfeksionis"

Daniel melepas rangkulannya lalu mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya. Aku menjauhkan diri, menatap Daniel.

Ku lihat Daniel mengeluarkan lembaran kertas yang usang dan berlipat-lipat.

Daniel membaca isi kertas itu dengan nada yang begitu lembut hampir tak terdengar, sembari memandang ku. Wajahku memanas mendengar kalimat-kalimat Daniel.

Mataku berkaca-kaca memandangi Daniel.

Daniel membaca setiap kata penuh dengan penghayatan, seakan ada makna yang sangat berarti untuknya.

Daniel terdiam sesaat sembari menghela nafas, ia memandang wajahkuㅡyang aku yakin sudah memerah karena malu.

Raut wajahnya yang lelah terlihat begitu bersemangat membaca isi dari kertas itu, terkadang ia tersenyum dan terkekeh saat membacanya.

"Isi kertas ini yang membuat ku sadar... Isi kertas ini yang membuat ku berubah... Aku menyukai, menyayangi dan mencintai orang yang menulis di kertas ini" ucapnya setelah membaca isi kertas itu, aku terdiam.

Aku tak dapat menahan air mataku, pipiku kanan ku basah karena tetesan air mata yang mengalir.

"Aku... Tak ingin kehilangan orang yang menulis di kertas ini... Aku tak ingin kehilangan orang yang telah menulis kalimat penyemangat hidupku di kertas ini... Aku menyukai laki-laki yang kini setia menggunakan nama pemberianku..."

Walau aku tak tersedu, air mataku tetap mengalir deras.

"Dulu, aku bodoh dan aku mengakui jika aku malu harus menyatakan perasaan ku pada orang itu... Tapi, dari tulisannya aku mulai sadar, aku harus menjadi pemaksa agar orang itu tetap milik ku" aku mulai tersedu dan terisak.

"Aku menyukai Dimas Yogi Pratama..." aku menunduk, aku mengusap mataku perlahan.

"Aku menyesal pernah meninggalkan Dimas setelah lulus sekolah, dan aku menyesal tak pernah mengutarakan perasaan ku pada Dimas... Akan ku kenalkan Dimas pada keluarga ku" suaranya bergetar, seperti orang menangis sementara aku sudah terisak.

"Aku hanya ingin menepati janji pada diriku, dan aku harus sukses... Sukses mengejar Dimas dan menjadikan dia milik ku... Aku menyukainya... Aku menyukai Dimas yang setia menggunakan nama pemberian ku, aku menyukai mu... Angga"

-To Be Continue Soon-

Angga, is My Name (Ep. 7)

Daniel sama sekali belum berubah, ia masih tetap Daniel yang dulu ku kenal. Sikap dan sifatnya masih sama sebelum ia menghilang, akupun berharap perasaannya masih sama padaku.

Meski aku dan Daniel tak pernah ada ikatan hubungan, ia memperlakukanku layaknya seorang kekasihㅡwalau ia mengaku memperlakukan ku seperti adiknya sendiri.

Sejauh aku dekat dengannya selama ini, Daniel memang begitu baik. Bahkan lebih baik dari Noval.

Daniel memang orang yang sangat open minded dan mudah bergaul, ia berteman dengan siapa saja dari kaum manapun.

Daniel menerima semua orang yang dekat dengannya dan memaklumi mereka yang telah memilih jalannya masing-masing.

Aku teringat ketika ia mengajakku berkumpul bersama kawan-kawannya yang normal dan straight, bahkan aku mengetahui salah satu dari kawan-kawannya phobia dengan kaum menyimpang.

Tapi, Daniel memberikan pengertian pada kawan-kawannya walau diantara mereka masih tetap belum bisa menerima kehadiran kaum menyimpang.

Aku pula terkadang sakit hati dengannya yang suka berbicara asal. Ia pernah bersumpah jika ia tak akan menjadi homoseksual, dan jika ia menjadi salah satu dari kaum itu, Daniel akan mengejarku hingga aku menerimanya.

Sumpahannya memang sangat menjanjikan untukku yang terlahir sebagai kaum homo, tapi aku berharap ia tak menjadi salah satu dari kaumku dan tetap normal.

Pernah ia bertanya padaku kenapa aku menjadi seperti ini, aku menjawabnya dengan penjelasan yang mendetail.

Ia hanya mengangguk dan mengiyakan semua kalimat ku.

Namun aku tetap bangga padanya, Daniel kini sudah dapat berdiri di atas kakinya sendiri dengan penghasilan di atas pegawai negeri.

"Jangan melamun, kau harus membantu ku mengantar pesanan" aku terbangun dari lamunan ku ketika ia menepuk pundak ku.

"Apa yang kau bayangkan?" aku menggelengkan kepala.

Ku lihat ia mengambil posisi menyetir dan mulai menyalakan mesin mobil.

"Sekarang kita kemana?" tanyaku.

"Kita harus ke pusat kota, lalu kembali berjualan di monumen nasional" ujarnya tetap fokus menyetir.

"Kenapa?" lanjutnya.

"Tidak, hanya saja kau sukses sekarang" ia terkekeh.

"Kau memiliki usaha sendiri, kendaraan pribadi dan penghasilan yang melebihi dari cukup"

"Jangan memuji ku, aku belum sukses, aku masih menyewa rumah kecil di kota ini"

"Tapi, walau kau menyewa rumah, sebenarnya kau bisa membeli rumah dan kau dapat menempati rumah itu sendirian"

"Hentikan pujian mu, menurut ku aku masih belum sukses..." ucapnya, dan tetap fokus menyetir.

Kami berdua terdiam, hingga akhirnya sampai ke sebuah komplek perumahan untuk mengantarkan jajanan yang dipesan oleh pelanggan.

Setelah transaksi selesai, Daniel kembali menjalankan mobil ke tujuan selanjutnya. Monumen nasional.

Daniel berhenti di tepi jalan yang dekat pintu masuk monumen nasional, dan kembali membuka usahanya.

Usaha kecil yang sangat menguntungkan menurutku.

Daniel menjual jajanan dari berbagai negara yang dibuat secara mendadak, dan ia juga menjual beberapa fast food.

Tetapi peminat jajanan yang dijual Daniel begitu banyak, aku kebingungan saat melayani pembeli. Untungnya, Daniel berjualan menggunakan mobil yang sudah di modifikasi sedemikian rupa, agar memudahkan aku melayani pelanggan.

"Sayang!" aku menengok sesaat mendengar teriakan seseorang. Mataku terbelalak melihat seorang transgenderㅡlengkap dengan make up tebal dan pakaian modis untuk para remaja, berjalan mendekati Daniel yang kebetulan berada di luar mobil.

Aku hanya dapat menahan tawa, agar tak terlihat mengejeknya. Orang itu memiliki kepercayaan diri yang sangat dahsyat.

"Sayang, kamu kemarin ga jualan disini ya?" ujar orang itu manja.

"Ya, kebetulan ketemu cem-ceman waktu sekolah dulu" jawab Daniel santai.

"Mana? Cantik siapa? Aku atau dia"

Astaga, orang itu membuatku ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi, ku acungi jempol untuknya. Ia berani menunjukan ke-eksistensi-an dirinya di hadapan publik, sedangkan beberapa kawanku yang seperti dia memilih sembunyi dan menjauh dari keramaian.

-***-

Hari mulai gelap, dan angin malam berhembus kencang. Daniel memutuskan untuk menutup usahanya dan pulang.

Aku menurutinya, karena itu yang bisa ku lakukan.

Sesampainya di rumah, ia langsung bergegas mandi. Sedangkan aku menata kembali barang-barang yang berantakan di dalam mobil.

Aku keluar dari mobil setelah selesai membereskan kotoran dari dalam mobil.

Ku putuskan untuk beristirahat di teras rumah, menikmati semilir angin malam yang berhembus menerpa wajahku.

Sembari memandangi langit malam yang cerah dengan kerlipan bintang, aku terduduk mensilakan kaki sambil merokok.

Malam yang indah.

"Angga..."

Terdengar suara yang memanggil namaku, aku menoleh mencari sumber suara ke arah kanan dan kiri ku.

"Angga..."

Suara itu kembali terdengar, suara yang ku kenal dan aku yakin itu bukan suara Daniel.

Terlintas bayangan wajah Noval di langit malam ketika aku menengadahkan muka ke langit. Terlukis jelas wajah tampannya yang menangis mencariku.

Aku terdiam, aku sedikit menyesal dan kasihan padanya. Namun, keputusan ku sudah bulat dan aku tak ingin kembali lagi ke tempat ituㅡtempat tinggal Noval.

-To Be Continue Soon-